TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Pulang


__ADS_3

Tuan Antonio merasa kesal dan menatap sinis pada Anindita karena baginya hal itu sama saja dengan sebuah ciuman yang tidak langsung tetapi Anindita sama sekali tidak menyadari hal itu dan malah menyepelekannya begitu mudah.


Anindita yang terus saja merasa tidak sadar dia terus menatap film yang berlangsung di depan sana, terus saja menikmati semuanya sampai tidak sengaja ketika dia hendak mengambil popcorn, justru malah hantunya muncul secara tiba-tiba dan dia justru malah menarik tangan tuan Antonio dengan erat sambil terus saja dia pejamkan matanya saking kagetnya saat itu.


"Astaga .....wahh..kenapa hantunya muncul tiba-tiba seperti itu, hampir saja aku jantungan," gerutu Anindita yang masih tidak sadar juga bahwa yang dia pegang dengan erat saat itu adalah tangan tuan Antonio, sampai filmnya selesai barulah Anindita tersadar akan hal tersebut dan dia segera bangkit berdiri pergi dari sana secepatnya, kini Anindita sudah merasa sangat senang dan dia sudah tidak merasa penasaran lagi dengan film di bioskop karena sudah mencobanya saat ini.


"Aahhh..ayo kita pulang aku sudah lelah," ucap Anindita kepada tuan Antonio yang terus saja mengerutkan wajahnya memasang wajah yang cukup menyebalkan saat itu.


Karena pada dasarnya mau bagaimana pun tuan Antonio tetap saja kesal sebab Anindita yang dia rasa tidak pernah peka terhadap dirinya selama ini, selalu saja seperti itu dan membuat dia semakin jengkel dari waktu ke waktu.


Kalo ini saja tuan Antonio menghembuskan nafas dengan kesal dan melihat Anindita yang berjalan lebih dulu meninggalkan dia begitu saja.


"Heh ..Antonio kenapa kau lambat sekali, ayo cepat ini sudah malam aku sudah mengantuk sekali," teriak Anindita kepada tuan Antonio saat itu.


"CK....dasar menjengkelkan, kenapa aku harus menuruti semua keinginan bocah sialan ini." Gerutu tuan Antonio merasa heran dengan dirinya sendiri.


Dia pun segera berjalan dengan langkah yang besar menghampiri Anindita secepatnya namun ada yang membuatnya heran sebab kali ini Anindita bisa naik ke eskalator seorang diri padahal sebelumnya dia bilang bahwa dia takut untuk menaiki eskalator tersebut, dan saat melihat Anindita hendak melangkahkan kakinya tuan Antonio sempat menahan tangannya saat itu karena dia pikir Anindita memang benar-benar takut untuk menaiki eskalator tapi nyatanya Anindita malah keceplosan saat itu dan dia juga melupakan hal tersebut.


"Ehh...tunggu, bukannya kau takut naik eskalator ya, kenapa sekarang kau tiba-tiba saja menjadi sangat berani?" Tanya tuan Antonio dengan kedua alis yang dia kerutkan cukup tajam saat itu.


Anindita yang baru tersadar dia langsung membuka matanya cukup lebar dan baru saja mengingat akan hal tersebut, kini dia bingung harus menjawab apa kepada tuan Antonio dan tidak tahu harus melakukan apa lagi saat itu, dia hanya bisa menunduk kebingungan dan terus saja berusaha untuk mencari alasan saat itu padanya.


"AA...a..anu itu sebenarnya kalau eskalator yang menurun aku tidak takut, begitu terlebih aku kan sudah pernah menaikinya jadi aku sudah tahu bagaimana caranya, makanya aku tidak setakut sebelumnya, begitu ahaha," ucap Anindita beralasan kepadanya saat itu.


"Apa itu benar, atau apa kau mencoba membohongi aku sebelumnya ya?" ucap tuan Antonio mulai mencurigai Anindita saat itu.


Tuan Antonio terus saja menatap tajam dan mendekatkan wajahnya menatap ke arah wajah Anindita saat itu, dia mencoba untuk menyelidiki dan mencari tahu kebenaran saat itu namun untung saja Anindita bisa beralasan dengan baik dia langsung berpura-pura kehilangan keseimbangan dan langsung memegang tangan tuan Antonio dengan cepat saat itu juga.


"Aaahhh...." Ucap Anindita dengan berlagak hendak jatuh padahal dia hanya berpura-pura saja saat itu.


"Eehh...apa kau baik-baik saja?" Tanya tuan Antonio yang langsung mencemaskannya saat itu, dia juga segera menatap penuh kecemasan kepada Anindita saat itu, hal tersebut membuat Anindita merasa nyaman karena dia tahu bahwa tuan Antonio sudah masuk ke dalam perangkapnya saat ini.


"Ahah...dia sepertinya akan mempercayai aku, aman...aman," batin Anindita memikirkan saat itu.

__ADS_1


"Antonio aku rasa aku belum seberani itu, bisakah kau membiarkan aku berpegangan padamu?" Tanya Anindita berpura-pura meminta izin padanya.


"Bodoh kenapa dia malah meminta izin padaku seperti ini? Bagaimana aku menjawabnya, jika aku menolak apa dia akan merajuk tapi jika aku membolehkan apa dia akan merasa


Dan saat itu juga tuan Antonio justru malah menjadi gugup dan terlihat memalingkan pandangannya ke arah lain saat itu, Anindita langsung saja menggandeng tangan tuan Antonio meskipun saat itu tuan Antonio sendiri belum memberikan izin untuk hal tersebut, tapi Anindita sudah lebih dulu memeluk tangannya begitu saja.


"Sudahlah Antonio jangan banyak berpikir, begini saja lebih baik bukan, aku tidak akan melepaskan tanganmu sampai kita sampai ke bawah oke." Ucap Anindita sambil tersenyum kepadanya saat itu.


Merasakan hal tersebut, tuan Antonio langsung menatap sambil membelalakkan matanya kepada Anindita dia sangat kaget dan tidak menduga bahwa Anindita bisa bersikap seperti itu kepadanya, dan tentu hal tersebut sedikit membuat gugup seorang tuan Antonio saat itu.


"KA....KA..kau?" Ujar tuan Antonio dengan nada bicaranya yang terbata-bata saat itu.


"Apa, ayo kita hampir sampai," balas Anindita dengan wajah polosnya itu.


Hingga setengah sampai di lantai bawah Anindita segera pergi berjalan lagi lebih dulu dan tuan Antonio berusaha untuk mengontrol deru nafasnya sendiri yang terus saja menggebu saat itu, dia merasa detak jantungnya terus saja semakin kencang dia terus menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan karena hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan dirinya sendiri dan menyembunyikan perasaan gugup seperti ini dari hadapan Anindita saat itu.


"Huuhh... Astaga kenapa dia bisa bersikap seperti itu dengan wajah yang santai tanpa terganggu sedikitpun, apa dia sudah terbiasa sedekat itu dengan pria dan melakukan semua hal tadi, aaahhh...sangat menjengkelkan bagaimana bisa aku merasa baper dengan gadis penyakitan dan sangat keras kepala sepertinya, ini tidak bisa di biarkan," gerutu tuan Antonio sambil terus berusaha untuk menghempaskan perasaan aneh yang dia rasakan saat itu.


"Antonio ayo cepat kenapa kau masih disana!" Teriak Anindita kepadanya saat itu.


"Ee....ee..ehhh.. Antonio apa yang kau lakukan, Antonio lepaskan tanganku aishh aku bisa berjalan sendiri tahu," gerutu Anindita sambil terus saja berusaha melepaskan tangannya dari Antonio saat itu.


Namun sayangnya tuan Antonio sama sekali tidak bisa melepaskan Anindita meski Anindita sudah berusaha dengan keras untuk melepaskan diri darinya, dia sudah melakukan dengan sekuat tenaganya, sampai tidak lama akhirnya tuan Antonio membukakan pintu mobil untuknya dan Anindita segera masuk ke dalam dengan cepat.


Sampai ketika tengah di perjalanan, Anindita mulai merasakan perutnya yang lapar, dia terus saja merasakan perutnya yang terus bergemuruh saat itu dia benar-benar merasa sangat lapar sekali dan tidak bisa menahan diri dia juga sudah melewatkan makan siang karena sebelumnya terlalu asik bermain di dalam mall tersebut saat itu.


"Antonio, aku lapar, boleh kita pergi makan di luar lagi, aku sudah tidak tahan lagi sekarang ini sangat lapar," ujar Anindita sambil memberikan tatapan yang menyedihkan kepada tuan Antonio saat itu.


Dia sengaja memasang wajah seperti itu supaya bisa membuat tuan Antonio merasa iba dan kasihan dengannya dan hanya dengan cara seperti itu bisa membuat dia kembali merasakan makan di luar lagi, dia terus saja memasang wajah seperti itu sampai tuan Antonio sudah tidak tahan lagi untuk melihat kelakuannya itu.


"Aahhh..baiklah baiklah kita akan pergi ke restoran yang ada di depan sana, berhenti memasang wajah menyedihkan seperti itu!" Ujar tuan Antonio yang pada akhirnya dia menyetujui permintaan dari Anindita saat itu.


Anindita benar-benar merasa sangat senang sekali dia terus saja tersenyum senang dan sudah sangat tidak sabar lagi untuk cepat sampai di restoran tersebut secepatnya.

__ADS_1


Hingga sesampainya disana, Anindita langsung turun lebih dulu dan dia memiliki tempat duduknya sendiri sampai membuat tuan Antonio tidak bisa berkata-kata lagi dia hanya bisa membiarkan Anindita melakukan apapun yang dia inginkan saat itu.


Karena disisi lain tuan Antonio sendiri sudah mengetahui bahwa ini mungkin adalah hal yang tidak pernah di lakukan oleh Anindita sebelumnya sehingga dia tidak bisa menahan kebahagiaan di dalam dirinya ketika bisa mendapatkan kesempatan seperti ini untuk bisa menikmati dunia luar dan makan makanan di restoran dengan sepuasnya saat itu.


Namun kali ini tidak sama dengan saat sarapan sebelumnya Anindita hanya memesan beberapa jenis menu saja, dan dia juga menikmati dengan biasa saja, terlihat anggun dan begitu santai, hal tersebut membuat tuan Antonio sedikit aneh dia mulai menaikkan kedua alisnya saking merasa herannya dengan perubahan yang diperlihatkan oleh Anindita padanya saat ini.


"Eehh..ada apa denganmua apa kau sehat?" Tanya tuan Antonio kepada Anindita saat itu.


"Kenapa kau bertanya begitu, tentu saja aku sehat kalau aku sakit pasti sekarang akan berbaring di rumah sakit, bukan disini tahu!" Balas Anindita sambil terus menikmati makanannya dengan begitu lahap dan nikmat saat itu.


"Tentu saja aku bertanya begitu, kau terlihat begitu lahap menikmati makanan saat sarapan tadi seharusnya kau lahap juga sekarang ini karena sudah melewatkan makan siang sebelumnya, kenapa kau malah makan dengan cara yang anggun begitu, apa kau sudah sadar sekarang hah?" Balas tuan Antonio mengatakan keheranannya saat itu.


Anindita sempat menatap dengan membuka matanya cukup lebar saat itu dan dia langsung saja tertawa kecil dan pelan menanggapi ucapan dari tuan Antonio mengenai dirinya saat itu.


"Ahaha....Antonio kau itu lucu sekali, tadi pagi aku benar-benar sangat sangat sangat lapar sekali, kalau sekarang tidak terlalu lapar aku takut tidak bisa menghabiskan semuanya jika aku memesan banyak makanan, nantikan sayang jika tidak bisa masuk ke dalam perutku," balas Anindita sambil terus menikmati makanannya saat itu.


Tuan Antonio hanya bisa menanggapinya dengan tatapan yang kebingungan sekilas lalu dia hanya bisa menggelengkan kepala saja dengan pelan saat itu.


"Aahhh ..aku tidak perduli apapun yang kau katakan, terserah kau saja lah," balas tuan Antonio saat itu.


Anindita terus menikmati lagi makanannya dengan lahap, dia terus saja menikmati semua makanan disana, dan begitu juga dengan tuan Antonio, setelah mereka selesai makan tentu saja mereka berdua kembali ke mobil untuk segera melanjutkan perjalanannya lagi saat itu, Anindita yang sudah makan dengan lahap dan kini perutnya sudah terisi penuh dia pun mulai merasa mengantuk dan tidak membutuhkan waktu lama, baru saja dia melanjutkan perjalanan beberapa saat Anindita sekarang sudah tertidur dengan lelap, dan tuan Antonio yang melihat itu dengan ujung matanya dia hanya bisa tersenyum kecil melihat Anindita yang tertidur dengan sangat lelap di sampingnya saat itu, di tambah wajahnya juga terlihat begitu menggemaskan sekaligus menenangkan disaat dia tertidur dengan cara seperti itu.


"Dia cantik dan menenangkan jika tertidur seperti itu, seharusnya dia tidak banyak bicara dan merengek ketika bangun, itu mungkin bisa membuat aku semakin luluh padanya, ya hanya dia yang bisa membuat aku patuh dengan perintah dan keinginan orang lain terlebih pada seorang wanita, aahhh .... Aku bahkan merasa saat ini aku bukan Antonio yang dulu lagi semenjak bertemu wanita ini," gerutu tuan Antonio terus memikirkan itu.


Saat ini sepertinya sosok tuan Antonio yang terkenal berdarah dingin tidak kenal ampun dan selalu menjadi sosok yang kejam sudah mulai memudar dalam dirinya, berkat hadirnya sosok Anindita yang ceria dan selalu berani mengambil keputusan apapun, dan dia adalah wanita yang sangat berani dalam segala hal selama ini.


Hingga sesampainya di kediaman tuan Antonio dia segera menyuruh pengawal disana agar segera membantu dia membukakan pintu mobilnya sebab tuan Antonio sendiri langsung menggendong Anindita dengan kekuatan dia sendiri, namun Anindita justru malah mengigau disaat tuan Antonio tengah menggendong dia dan mulai menaiki tangga saat itu.


"Aku ingin hidup...aku juga ingin sehat, aku ingin bertemu mereka dulu, aku tidak mau mati hiks..hiks..hiks.." ucap Anindita yang mengigau dengan menangis tersedu-sedu sambil terus saja dia berpegangan begitu erat melingkarkan kedua tangannya pada leher tuan Antonio saat itu.


"Jangan tinggalkan aku, aku ingin disini saja, aku tidak papa kok," ucap Anindita lagi yang membuat tuan Antonio terus mengerutkan kedua alisnya dengan kuat saat itu.


Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan kepada Anindita dan cara untuk menyadarkan dia dalam tidurnya tersebut, sebab tuan Antonio tahu bahwa mungkin saja saat itu Anindita tengah bermimpi buruk di dalam tidurnya.

__ADS_1


"Anindita....hei... Anindita bangunlah kenapa kau menangis seperti ini, aku tidak akan meninggalkanmu, kau akan hidup kau tidak akan mati dengan mudah tanpa izin dariku apa kau dengar aku, berhentilah menangis," ucap tuan Antonio berusaha untuk membuat Anindita agar dia bisa berhenti menangis saat itu.


__ADS_2