TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Cegukan


__ADS_3

"Aish .. ya sudah ayo cepat ikut aku, kau benar-benar aaaahhh" balas tuan Antonio dengan emosi yang sangat kesal dan dia kembali harus mengacak rambutnya dengan penuh emosi.


Dia langsung saja menarik tangan Anindita hingga mereka keluar dari rumahnya tersebut dan langsung saja menyuruh Anindita untuk segera masuk ke dalam mobilnya dengan cepat.


Sehingga Anindita hanya bisa menurutinya dan dia segera masuk ke dalam mobil dengan menggerutu merutuki tuan Antonio sepuas dirinya.


"Aishh... Sangat menjengkelkan dia benar-benar membuat aku kesal dan geram dalam setiap saat!" Gerutu Anindita dengan wajahnya yang terlihat sangat kesal dan terus saja mengerutkan kedua alisnya dengan kuat.


Hingga ketika dia sudah duduk di dalam mobil dan hendak memakai sabuk pengaman namun sayangnya Anindita justru kesulitan untuk memakai sabuk pengaman tersebut dan dia terus saja berusaha untuk menarik sabuk pengaman tersebut sekuat tenaganya namun dia tetap saja merasa kesulitan sendiri saat berusaha menariknya kala itu.


"Aaaahhh... Kenapa sih ini sulit sekali, aishh bagaimana cara menarik ya sih" gerutu Anindita dengan kesal karena dia tidak kunjung bisa menarik sabuk pengaman tersebut.


"Apa dia sebodoh itu sampai menarik sebuah sabuk pengaman saja tidak bisa dia lakukan dengan cepat, aahhh... aku harus menolong dia agar bisa pergi lebih cepat" batin tuan Antonio saat itu.


Sampai akhirnya tuan Antonio yang melihat Anindita begitu kesulitan dan sangat lama untuk memakai sabuk pengaman akhirnya dia pun turun tangan dan langsung melepaskan sabuk pengaman miliknya lalu segera menari sabuk pengaman milik Anindita yang menyebabkan wajah mereka begitu sangat dekat satu sama lain.


Anindita juga merasa kaget dan dia refleks langsung saja membelalakkan kedua matanya dengan sangat lebar saat itu, dia bahkan sampai berusaha menahan nafasnya sendiri saking kagetnya melihat tuan Antonio yang tiba-tiba saja mendekati dia dan wajahnya menatap ke arah wajah dia dengan sedekat itu sampai akhirnya dia berhasil memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Anindita dan Anindita sendiri justru malah langsung saja cegukan saking kaget dan tersentak melihat tingkah tuan Antonio kepadanya saat itu.


"Astaga kenapa dia sangat dekat seperti ini kepadaku dan kenapa tatapannya seperti itu?" batin Anindita merasa mulai gugup dan tidak menentu.


Hingga akhirnya dia justru malah cegukan cukup keras dan tidak berhenti meski dia sudah berusaha kembali menahan nafas cukup lama bahkan sampai dia berusaha menutup mulutnya yang terus berbunyi tersebut.


"Eukk....euk....euk....." Suara Anindita yang cegukan saat itu,


"Hey.. kenapa kau malah cegukan seperti itu? Apa kau sakit hah?" Tanya tuan Antonio kepada Anindita saat itu.


Anindita masih tidak bisa menjawabnya dengan benar dan dia hanya menatap dengan kedua matanya yang terbelalak sangat lebar saat itu, dan dia hanya bisa kebingungan sendiri dengan cegukan yang juga tidak berhenti kepadanya.


Sampai tiba-tiba tuan Antonio membentak dia cukup keras untuk yang ke sekian kalinya, barulah dia langsung tersadar dengan cepat saat itu juga.


"Heh... Apa kau tuli atau memang bodoh hah?" Bentak tuan Antonio yang langsung saja menyadarkan Anindita dengan cepat.


"AA..a..ahh... Tidak...tidak aku hanya perlu minum aku cegukan mungkin karena kurang minum dan disini terlalu dingin eukk...." Balas Anindita sambil terus saja merasakan cegukannya yang tidak berhenti juga.


Tuan Antonio yang mihat itu dia segera membuka jas yang dia kenakan dan menyuruh Anindita untuk segera memakai jas miliknya itu, bahkan tuan Antonio sendiri juga langsung memberikan air yang ada di mobilnya dengan cepat untuk Anindita bahkan tuan Antonio membukakan botol tersebut dan mengurusi Anindita dengan baik.

__ADS_1


"Ini minumlah dan pakai cepat jas milikku itu, agar kau bisa berhenti cegukan seperti itu" ucap tuan Antonio kepadanya begitu saja.


Anindita meski merasa heran dan aneh dia masih tetap segera menerima semua itu dia memakai jas milik tuan Antonio dan segera menerima air yang dia berikan lalu meminumnya dengan beberapa tegukan sampai akhirnya dia berhenti cegukan dan bisa merasa tenang sekarang, Anindita langsung saja tersenyum kepada tuan Antonio dan tidak lupa berterima kasih kepadanya karena sudah memperlakukan dirinya dengan sangat baik.


"Eummm....tuan terimakasih banyak kau sudah memperlakukan aku dengan baik dan terimakasih juga untuk jaket juga air minumnya itu sangat membantu aku untuk sembuh" ujar Anindita terhadapnya dengan sedikit malu karena dia sebelumnya tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepada siapapun.


Tuan Antonio sendiri justru malah terlihat acuh tidak acuh dia hanya memalingkan pandangannya menatap ke depan tanpa menjawab ucapan terimakasih dari Anindita sedikitpun bahkan dia malah terus saja menyetir dengan fokus hingga hal tersebut membuat seorang Anindita merasa sangat kesal dan geram.


Bukan hanya itu dia juga merasa menyesal sudah memberanikan diri untuk berterimakasih kepada tuan Antonio yang seperti itu, padahal baginya sulit sekali untuk bisa berbicara seperti itu kepada orang lain karena dia tidak pernah makukannya kepada orang lain apalagi orang asing yang baru saja dia temui seperti itu, rasanya sedikit canggung dan cukup menyebalkan terlebih ketika tidak mendapatkan balasan sama sekali dari orang yang kita ucapkan terima kasih saat itu.


"Aishh... Dia sangat menyebalkan sekali, aku di abaikan begitu saja olehnya padahal aku sudah bersikap baik kepadanya saat ini" gerutu Anindita dengan pelan saat itu.


Tanpa Anindita sadar bahwa saat itu diam-diam tuan Antonio sebenarnya mengetahui apa yang dia katakan dalam gerutuannya saat itu hanya saja tuan Antonio berusaha untuk menahan emosi di dalam dirinya karena dia sendiri tahu bahwa Anindita sampai menggerutu begitu karena kesalahan dirinya sendiri yang tidak bisa membalas ucapan terimakasih kepada Anindita saat itu.


"Aaahh... Dia sangat menguji kesabaranku, aku tidak mungkin bersikap lembut dan baik kepadanya, bagaimana bisa aku malah terjajah oleh wanita penyakitan seperti dia, aku harus fokus dengan niatku bahwa aku hanya membutuhkan dia untuk memperkuat dirimu dan agar tidak banyak wanita sialan yang mendekati aku di luar sana" batin tuan Antonio berusaha bersikap sabar menghadapi Anindita saat itu.


Padahal disisi lain Anindita sendiri juga sama sekali tidak menyukai tuan Antonio, baginya mengucapkan terimakasih kepada orang yang sudah membantu dia dan bersikap baik kepadanya itu hanyalah hal yang wajah dan merupakan sebuah sopan santun biasa yang memang sudah sepantasnya di lakukan oleh semua orang untuk saling menghargai satu sama lain atas semua kebaikan yang dilakukan oleh orang tersebut.


Hanya saja mungkin pemikiran tuan Antonio dengan dirinya memang sedikit berbeda sehingga mereka menjadi salah mengartikan hal tersebut sesuai dengan otak dan pikiran mereka masing-masing saat itu.


Hingga terjadilah hal seperti saat ini yang membuat mereka justru malah menjadi saling membenci satu sama lain, terutama Anindita yang merasa sangat di rugikan dan kesal saat itu kepadanya.


Hingga ketika sampai di depan rumah Doni, Anindita langsung saja melepaskan jas milik Antoni dan dia segera keluar dari mobilnya dengan cepat bahkan Anindita sendiri langsung membanting pintu mobil Antonio dengan keras saat itu, sebab dia sangat emosi kepadanya.


"Terimakasih atas tumpangannya tuan Antonio yang dermawan... Brakkk...." Suara pintu yang di bantin oleh Anindita dengan sekuat tenaganya setelah dia berbicara mengucapkan terimakasih dengan sinis kepada tuan Antonio saat itu.


Antonio sendiri merasa kaget dan hanya bisa membelalakkan matanya dengan heran dan kebingungan melihat Anindita marah dan membanting pintu mobilnya sekeras itu.


Bahkan saking kagetnya tuan Antonio bahkan sampai tersentak sejenak ke belakang, dan dia langsung memeriksa pintu mobilnya yang sangat mahal dan luar biasa tersebut.


"Astaga.. apakah dia tidak tahu seberapa mahalnya mobil ini, bisa bisanya dia membanting pintu mobilku sekeras itu, aishh apa anak itu cari mati denganku?" Ucap tuan Antonio yang menggerutu dengan kesal.


Dia langsung saja turun dari mobilnya lalu memeriksa pintu mobilnya beberapa saat, hingga setelah memastikan bahwa mobilnya sudah baik-baik saja, barulah dia segera pergi ke rumah Anindita untuk pergi menemui Doni.


Yang dimana saat tuan Antonio tiba di kediaman Doni dia melihat Doni yang tengah memeluk Anindita dengan erat saat itu sebab dia sangat mencemaskan putri tercintanya sebab tidak pulang semalaman.

__ADS_1


"Sayang akhirnya kamu pulang juga, kau tidur dimana semalam apakah kau baik-baik saja, ayah sangat mencemaskanmu sayang" ucap Doni sambil memeluk Anindita dengan erat.


Sampai tuan Antonio datang dan mengetuk pintu sambil mengeluarkan suara untuk membuat kedua ayah dan anak itu segera melepaskan pelukan mereka di hadapan tuan Antonio yang baru masuk ke dalam rumah tersebut.


"Tok...tok...tok..ekhmmm..." Suara tuan Antonio yang membuat Doni dan Anindita langsung melepaskan pelukan mereka dan menatap menghadap ke arah tuan Antonio.


Doni yang sudah benar-benar lupa dengan kejadian semalam dia hanya menatap dengan heran kepada tuan Antonio karena tiba-tiba muncul di depan pintu masuk rumahnya yang terbuka saat itu.


"Tuan Antonio kenapa kau datang ke rumahku sepagi ini, apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku?" Ucap Doni menyapa kehadiran tuan Antonio dan langsung saja bertanya kepadanya.


Anindita sendiri justru malah malas saat melihatnya dan dia sangat muak ketika melihat wajah tuan Antonio yang memiliki wajah datar tanpa ekspresi apapun juga terlihat sangat santai saat berbicara dengan sang ayah saat itu.


Anindita yang tidak ingin mihat wajahnya dia langsung saja berpamitan kepada sang ayah untuk pergi ke kamarnya dengan alasan ingin beristirahat.


"Ayah... Aku lelah aku ke kamar duluan ya" ucap Anindita yang di pikir oleh Doni adalah putrinya Anindya karena wajah mereka sangatlah mirip sekali hingga sulit untuk membedakannya.


"Baiklah sayang pergilah" balas sang ayah Doni mempersilahkan saat itu.


Namun sayangnya disaat Anindita baru saja hendak melangkahkan kakinya pergi ke belakang untuk masuk ke dalam kamarnya tuan Antonio langsung saja memanggil Anindita dengan keras dan menahan dia untuk berhenti dan tidak pergi dari tempat tersebut, hal tersebut juga membuat Doni merasa heran dan kaget mendengar tuan Antonio yang menahan langkah putrinya saat hendak pergi dari sana.


"Berhenti!" Ucap Antonio dengan tegas saat itu, dan matanya yang terlihat sangat tajam melihatnya.


Anindita langsung saja berbalik ke arah tuan Antonio dengan wajahnya yang menahan kekesalan dan emosi, sehingga terlihat dengan jelas gigi yang dia keratkan dengan kuat serta matanya yang sangat menatap tajam pada tuan Antonio penuh dengan kebencian saat itu.


"Aish... Ada apa lagi manusia menyebalkan ini malah menghentikan langkahku, dia benar-benar sangat mengganggu sekali" batin Anindita saat itu.


Dia merasa sangat jengkel dan kesal tapi dia harus menahan semua emosi di dalam dirinya karena saat itu ada sang ayah Doni disana sehingga dia tidak bisa memperlihatkan emosi dia di depan Doni yang mengetahui bahwa putrinya adalah seorang wanita yang baik hati dan lemah lembut seperti wanita bernama Anindya sebelumnya.


"Iya...ada apa tuan, apa kau memanggilku barusan?" Tanya Anindita yang langsung saja mengubah sikapnya seratus persen.


Di depan sang ayah Anindita memang terpaksa harus melakukan semua itu, dia harus berpura-pura untuk menjadi Anindya secara menyeluruh dan sesungguhnya agar penyamarannya tidak terbongkar oleh Doni sebab dia tahu bahwa hanya Doni yang kemungkinan akan bisa mencurigai perbedaan antara dirinya dengan putri aslinya Anindya yang memang memiliki kepribadian lembut dan baik hati sama seperti apa yang dikatakan oleh orang tersebut sebelumnya kepada Anindita saat mereka memutuskan untuk bertukar tempat satu sama lain saat itu.


Harus meyakinkan Doni bahwa dirinya memang Anindya yang benar dan nyata meski pada kenyataannya dia sangat muak sekali untuk bicara dengan bahasa seperti itu karena dia tidak bisa berbicara seperti itu, dan dia sama sekali bukanlah wanita yang feminim sehingga cukup sulit untuk dia berpura-pura menjadi seperti Anindya yang lemah gemulai.


"Tuan ada apa dengan anda, apa benar anda memanggil putri saya Anindya?" Tanya Doni kepada tuan Antonio dengan wajahnya yang di penuhi keheranan,

__ADS_1


"Tentu saja aku berbicara dengannya, dan kau Doni coba kau lihat apa yang ada di jari manis putrimu, semalam dia tidur di kediamanku dan dia tidur di kamarku, kau tahu sendiri apa yang bisa aku lakukan kepadanya malam tadi bukan?" Balas tuan Antonio yang mengatakan semuanya kepada Doni dengan cara bicara dia yang membuat Doni langsung menarik tangan Anindita dengan keras.


Dia mihat ada sebuah cincin berlian merah yang tersemat di jari manis putrinya tersebut di tambah dia sudah mendengar dari mulut tuan Antonio sendiri bahwa putrinya tidur di kediaman tuan Antonio sekaligus tidur di kamarnya, tentu saja Doni langsung berpikir macam-macam tentang apa yang dilakukan oleh tuan Antonio kepada putrinya sendiri, dia sangat kaget dan menatap tajam dengan membelalakkan matanya melihat ke arah Anindita yang dia kira sebagai putrinya Anindya saat itu.


__ADS_2