TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Kandang Macam


__ADS_3

"A..a..aaakk...tuan...maafkan saya tuan, nona tolong saya maafkan saya, tolong jangan masukkan saya ke kandang macam itu, tolong saya nona maafkan saya!" Teriak pria tersebut ketakutan tidak menentu.


"CK... Memangnya sungguh ada kandang macam di dalam rumahnya, tidak mungkin juga kan" batin Anindita berpikir.


Anindita hanya menatapnya dengan tatapan yang kebingungan dan sedikit aneh melihat pria bertubuh kekar dan sangat tinggi itu bisa sampai ketakutan seperti itu dengan ucapan dari tuan Antonio dan dia bahkan terlihat panik sekali.


"KA..KA..kau, ahhh akhirnya kau datang juga, ini aku sudah berhasil mengambilnya sekarang tugasku selesai" ucap Anindita sambil menunjukkan jari tangannya itu kepada tuan Antonio,


Antonio hanya tersenyum kecil saat melihat cincin dengan berlian merah miliknya sudah benar-benar berada di jari manis milik Anindita saat itu.


"Ehh... Kenapa kau tidak mengambilnya, cepat ambil jangan malah tersenyum seperti itu, kau sangat menyeramkan jika begitu, ayo cepat ambil" ucap Anindita sambil mengulurkan tangannya terus ke depan wajah Antonio saat itu.


"Bagus, cincinnya terlihat cocok di tanganmu, kenapa aku harus mengambilnya" balas dia begitu saja membuat Anindita langsung terperangah kaget dan membuka matanya sangat lebar.


"A...a...AA..apa maksudmu? Bukankah kau menginginkan cincin ini, kenapa kau tidak cepat mengambilnya" balas Anindita sedikit kaget dan kebingungan,


"Kata siapa aku menginginkan cincin itu, ya meskipun itu sangat mahal ketika aku mendapatkannya, tapi aku jauh lebih kaya dari bayangan siapapun sehingga cincin itu tidak ada apa-apanya bagiku, namun karena itu cincin peninggalan ibuku jadi aku ingin mengambilnya kembali dan memberikannya kepada calon istriku nanti, sekarang cincin itu sudah ada di tanganmu jadi apalagi yang harus aku lakukan, aku sudah menemukan keduanya, calon istri dan cincinku" ucapnya membuat Anindita langsung terbatuk saking kagetnya.


"AA..apa...ohok...ohok ..ohok....astaga kau membuat aku tersedak salivaku sendiri, aishh ya sudah jika kau tidak mau mengambilnya sendiri, aku akan melepaskannya, eughhh...." Ucap Anindita yang segera berusaha melepaskan cincin itu dari tanganku secepatnya.


Sayangnya cincin itu sangat sulit untuk dia lepaskan dari jari manisnya, seakan cincin itu melekat dengan kuat di sana dan Anindita sangat sulit sekali untuk melepaskannya bahkan dia sudah mengeluarkan seluruh kekuatan yang dia bisa saat itu, tapi tetap saja cincin itu tidak bisa dia lepaskan dari jari manisnya sendiri.

__ADS_1


"Eughh....aahh...eughhh.....aaaihh, kenapa ini sulit sekali" ucap Anindita mendengus kesal,


"Jika cincin itu tidak bisa lepas dari jarimu, artinya kau memang harus menjadi istriku, ayo bawa dia ke dalam" ucap Antonio memerintah para bodyguard tersebut.


"Apa? Tidak ....hey aku tidak mau menjadi istrimu aishh sialan kau!" bentak Anindita dengan keras.


Dengan cepat mereka langsung menarik tangan Anindita dengan kuat dan membawanya masuk ke dalam dengan paksa meski Anindita sendiri sudah berontak dan tidak mau untuk masuk ke dalam kediaman Antonio tersebut.


"Ahhh ...tidak lepaskan aku, aku ingin pulang aku tidak akan menikah dengan pria kejam dan menyebalkan sepertinya, lepaskan aku aishh...lepaskan" ucap Anindita yang terus berusaha berontak dan terus saja berusaha melepaskan diri dari kedua bodyguard yang memegangi tangannya itu.


Sayangnya tenaga dia memang tidak sebanding dan yang lebih mengagetkan adalah Antonio justru malah membawa Anindita ke belakang rumahnya dimana disitu terdapat seekor macan dan ada beberapa anjing yang cukup besar, kandang macam itu cukup besar dan luas lalu seorang bodyguard yang sebelumnya hampir menamparku dia di pakaian sebuah kain berwarna hitam di kepalanya dan siap untuk di masukkan ke dalam kandang macam tersebut.


"Astaga... Kenapa kau malah menyeretku ke tempat seperti ini, dan dia apa kalian benar-benar akan memberikan dia ke dalam kandang macam itu?" Ucap Anindita sambil menatap tajam dan menekan salivanya susah payah pada Antonio yang masih berdiri santai menatap ke depan dengan lurus.


"Antonio cepat jawab aku apakah kau benar-benar akan memberikan bodyguard mu sebagai makanan peliharanmu hah?" Bentak Anindita yang sudah sangat panik tidak karuan,


"Tentu saja, dan kau juga akan mengalami nasib yang sama sepertinya jika kau menolak untuk menjadi pendampingku" balas Antonio dengan wajahnya yang memperlihatkan senyum tipis yang membuat Anindita semakin membencinya.


"Kau benar-benar bukan manusia Antonio, lepaskan pria itu dia adalah bodyguard mu dia sudah setia padamu dan dia juga bukan penjahat atau orang yang mengkhianati dirimu, kenapa kau sangat tega melakukan itu kepada anak buahmu sendiri?" Ucap Anindita dengan kedua alis yang dia kerutkan.


Kini Anindita tahu mengapa bodyguard tersebut meminta tolong kepadanya dengan wajah ketakutan seperti itu, Anindita sungguh tidak tega melihatnya terus berontak dan ketakutan karena akan di masukkan ke dalam kandang macam yang ada disana.

__ADS_1


Bahkan Anindita sudah bisa melihat seekor macan yang ada di dalam kandang tersebut terlihat begitu kelaparan dan sangat menakutkan.


Antonio yang mendapatkan perkataan kasar lagi dari Anindita dia segera berjalan mendekati Anindita dan menyuruh kedua penjaganya untuk melepaskan tangan Anindita.


"Lepaskan dia" ucap Antonio memerintah.


"Eughh...beraninya kalian menyeretku seperti tadi awas kalian berdua aku akan membuat perhitungan pada kian nanti, lihat saja!" ancam Anindita sambil menunjuk kepada dua bodyguard Antonio yang sebelumnya menyeret dia dan memegangi kedua tangannya cukup kuat.


Dengan cepat Anindita langsung menghampiri Antonio dan berbicara keras kepadanya meminta agar Antonio mau melepaskan pria tersebut.


"Antonio lepaskan pria itu, dia sama sekali tidak bersalah, kau melakukan hal seperti ini kepadanya itu sangat tidak adil Antonio" ucap Anindita membentaknya lagi,


"Lalu hukuman seperti apa yang menurutmu adil bagi seorang penjaga yang mengkhianati tuannya? Apakah aku harus membunuh dia dengan tanganku sendiri agar itu terasa lebih baik?" Balas Antonio kepada Anindita dengan wajahnya yang tetap terlihat santai namun mengancam.


Anindita mengerutkan kedua alisnya dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Antonio kepadanya.


Anindita sama sekali tidak melihat sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh bodyguard tersebut, dia hanya tahu Antonio langsung menghukumnya seperti itu ketika bodyguard tersebut hampir menampar pipinya saat di gerbang depan sebelumnya, dan itupun juga tidak mengenai wajahnya sedikitpun sebab Antonio berhasil menahannya tepat waktu.


"Apa yang dia katakan?" Batin Anindita merasa kebingungan sendiri.


Hingga tidak lama Antonio langsung saja memerintahkan para penjaganya untuk membawa masuk salah satu bodyguard nya tersebut masuk ke dalam kandang macam tersebut.

__ADS_1


__ADS_2