
Sedangkan Anindya yang asli dia terus saja menggenggam tangannya dengan kuat dan terus merasa cemas sangat tidak karuan sebab dia tahu bahwa wanita tuan tanah itu adalah rentenir yang selalu ingin mencekik mangsanya hingga habis sedangkan Anindya sendiri tidak tahu apa yang di lakukan oleh Anindita saat itu.
"Aahhh.... Seharusnya tadi aku menahan dia dengan kuat, sekarang bagaimana dia bisa membeli rumah itu, harganya sangat mahal, tidak mungkin dia membawa banyak uang saat ini meski dia seorang putri kaya raya" gerutu Anindya yang terus merasa cemas dan takut.
Dia ingin keluar dan menghentikan Anindita saat itu, namun sayangnya dia tidak bisa melakukan hal itu karena dia takut ayah dan wanita tuan tanah itu mengetahui bahwa ada dua Anindya disana, sehingga dia tetap berusaha menahan dirinya sendiri bersembunyi disana dan hanya memperhatikan dengan berdoa penuh harap untuk keselamatan Anindita.
"Anindita semoga kau mendapatkan keberuntungan, semoga kau baik-baik saja, aku mohon" ucap Anindya yang terus merasa khawatir.
Sedangkan di sisi lain Anindita sama sekali tidak cemas karena dia membawa banyak kartu ATM milik dia ataupun pemberian dari ibunya, dia akan selalu bisa menggunakan semua kartu itu kapanpun dia mau, bahkan kartu ATM tabungannya sendiri pun yang tidak di ketahui ibunya itu adalah kartu ATM gold tanpa limit, sehingga tentu saja dia sangat berani untuk melawan seorang wanita tuan tanah rendahan seperti itu.
"Haha... Jangan meremehkan orang lebih dulu kepala sarang tawon, berapa harga rumah ini sampai aku bisa memilikinya untuk selama lamanya?" Ucap Anindita menantang wanita tuan tanah itu,
"Kau... Beraninya kau terus menghina aku!" Bentak wanita itu terlihat semakin marah dan emosi.
Doni semakin takut dan dia hanya bisa tertunduk lemas serta tidak memiliki harapan apapun lagi untuk rumahnya itu.
"Aahhh... Bocah ini, aku akan benar-benar kehilangan rumahku sekarang ouuhh tuhan ada apa dengan anak ini" gerutu Doni sangat pasrah sekarang,
__ADS_1
"Sudah jangan banyak bicara lagi katakan saja berapa banyak uang yang kau butuhkan hah?" Tambah Anindita semakin menantangnya.
Melihat logat Anindita yang terus berbicara menantang kepada dirinya, tuan tanah itu pun langsung saja mengatakan harga rumah itu dimana dia menambahkannya satu juta rupiah lagi.
"Harganya dua puluh satu juta, bagaimana hah... Kau tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu saat ini bukan?" Ucap tuan tanah itu kembali menyepelekan,
"CK.... Kau pikir aku miskin sepertimu, jika hanya dua puluh satu juta itu aku ada uang ces, bahkan di dalam tas ku ini ada lebih dari dua puluh satu juta, kau bisa ambil sendiri dan menghitung jumlahnya sendiri sesuai dengan yang kau inginkan bahkan kalau kau mau menambahkannya satu atau dua juta lagi aku tidak akan keberatan" balas Anindita sambil langsung melempar tas jinjing yang dia bawa sedari tadi.
Saat tas itu di lemparkan tepat ke depan wanita tuan tanah tersebut, dia masih tidak percaya dan menyelapelekan Anindya lagi, sebab dia tahu siapa putri dan ayah yang tinggal di rumah itu.
"Jangan berani-beraninya kau menipuku Anindya, aku bisa memenjarakan kau kapanpun aku mau!" Ancam wanita tersebut,
Wanita tuan tanah tersebut pun segera menyuruh dia bodyguard tersebut untuk memeriksa dan betapa kagetnya mereka bertiga saat melihat di dalam tas jinjing itu memang berisi uang yang sangat banyak bahkan semuanya adalah uang baru yang masih bersegel bank.
"Wahhhh.... Nyonya semua ini uang dan ini uang asli segelnya menandakan yang ini baru keluar dari bank lihatlah tanggal penarikannya" ucap salah satu bodyguard membuat nyonya tanah itu langsung kaget dan membelalakkan matanya.
Dia langsung berlari menghampiri tas itu dan memeriksanya sendiri.
__ADS_1
"Tidak... Tidak mungkin wanita lemah seperti dia bisa menghasilkan uang sebanyak ini, darimana kau mendapatkan uang ini?" Ucap wanita itu dengan menatap heran pada Anindita,
"Tentu saja aku mendapatkannya dengan caraku sendiri, kau tidak perlu tahu tentang itu bukan, dan kau hanya membutuhkan uangnya, jadi cepat hitung dan ambil uang dua puluh satu jutamu itu, yang tidak seberapa untukku lalu sisa uangnya kau harus kembalikan lagi padaku!" Balas Anindita dengan santai.
"Ba..ba..baik.... Kalian berdua cepat hitung uangnya, ayo cepat tunggu apa lagi!" Ucap sang wanita tuan tanah terlihat sangat bahagia ketika melihat uang yang begitu banyak.
Memang dasarnya dia adalah wanita sialan yang bodoh, rumah jelek, kumuh dan kecil bisa dia hargai semahal itu, tapi Anindita sama sekali tidak keberatan sebab baginya uang sejumlah itu tidak ada apa-apanya dengan semua biaya pengobatan yang dia buang-buang selama ini.
Hingga akhirnya permasalahan dengan wanita tuan tanah itu selesai dan dengan cepat Doni langsung memeluk putrinya Anindya dengan penuh ke bahagian.
"Aaahhh... Anindya kesayangan ayah kau hebat sekali, kenapa kau tidak mengatakan lebih dulu pada ayah kalau kau pergi untuk mengambil uang sebelumnya, tahu begitu ayah kan tidak perlu bersujud di kaki wanita bodoh itu" ucap Doni pada Anindita.
Saat mendapatkan pelukan hangat dari Doni Anindita merasa dia sangat nyaman dan merasakan kasih saya dari pria tua pemabuk itu, dia merasa sangat senang karena bisa merasakan kasih sayang dari seorang ayah yang sudah dia dambakan sejak dia kecil.
"Ayah apa kau sakit, kau seharusnya tidak perlu merendahkan dirimu pada siapapun, mulai sekarang kau juga tidak usah melakukan pencurian apapun aku akan membiayai hidup kita" ucap Anindita dengan tersenyum.
Doni langsung melepaskan pegangan tangannya pada Anindya palsu itu.
__ADS_1
"Anindya apa yang kamu katakan sayang, ayah bekerja karena ayah suka melakukannya dan ayah juga tidak benar-benar mencuri ayah hanya membantu mereka yang kehilangan barangnya untuk kembali pada pemilik aslinya jadi ayah mencuri barang yang di curi itu tidak salah sayang, biarkan ayah terus melakukan pekerjaan menyenangkan ini untuk memberi pelajaran pada pencuri sesungguhnya, kau juga tidak perlu menghidupi ayah, ayah yang akan menghidupimu ayah akan mengembalikan uang yang sudah kau keluarkan, itu pasti tabunganmu kan ayah tahu itu pasti tabunganmu sejak kecil, maafkan ayah karena menghabiskannya hanya dalam sekejam" ucap Doni membuat Anindita semakin terharu.
Dia langsung menyayangi Doni begitu saja dan dia sangat ingin memiliki ayah seperti Doni, walaupun dia pemabuk dan pekerjaannya seperti itu, tapi Anindita sangat senang sebab Doni masih pria bertanggung jawab yang tetap mau membesarkan anaknya dan menghidupi keluarga kecilnya itu.