TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Membuat Jengkel Tuan Antonio


__ADS_3

"Atau apakah aku harus berusaha untuk mengambil rambutnya disaat dia tidur ya? Tetapi bagaimana jika dia bangun nantinya? Ahhh aku harus bagaimana yah" tambah Anindya memikirkannya lagi.


Dia terus berguling di ranjangnya dan terus memikirkan cara untuk mengambil rambut dari ibu Kasih supaya dia bisa mendapatkan rambutnya tersebut dan agar dia bisa menemukan cara yang lebih baik juga tidak ekspresi yang bisa membahayakan identitas dirinya saat ini.


Sedangkan disisi lain pagi-pagi sekali saat itu Anindita bangun lebih awal dan dia keluar dari kamarnya berbarengan dengan tuan Antonio yang juga baru saja keluar dari kamarnya saat itu, lalu Anindita yang mihat keberadaan tuan Antoni di sampingnya dia langsung sama membalikkan badan dan berniat untuk menghindarinya dengan cepat saat itu, dia berniat untuk kembali masuk ke dalam kamar dan meninggalkan tuan Antonio karena dia takut tuan Antonio akan memaksanya lagi untuk melakukan semua hal-hal yang selalu saja tidak dia sukai dan hal yang sangat tidak dia inginkan setiap saat.


"Aishhh...sial sekali bangun tidur sudah harus melihat wajahnya yang sangat menyebalkan itu lebih baik pergi saja menghindarinya sebelum dia membawa aku kembali seperti sebelumnya ahh itu sangat menyebalkan sekali" gerutu Anindita saat itu.


Namun sayangnya baru saja saat itu dia hendak melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya lagi namun dia langsung saja di panggil oleh tuan Antonio dengan lantang saat itu sehingga membuat dia terpaksa harus menghentikan langkahnya meskinsebelumnya dia berniat mengabaikannya sekalipun tuan Antoni memanggilnya sampai beberapa kali saat itu.


"Heh.... Anindya mau kemana kau kemari" ucap tuan Antonio yang mengetahui keberadaan Anindita disana.


Sayangnya untuk yang pertama tentu Anindita tidak mendengarkan ucapan dari tuan Antonio dia tetap saja melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar tetapi tuan Antonio tetap tidak mau mengalah dengan seorang wanita sekalipun sehingga dia yang merasa ucapannya di abaikan seperti itu orang wanita tersebut sehingga dia terus saja mendesaknya dengan memanggil nama Anindya berkali kali saat itu sampai membuat Anindita tidak bisa melanjutkan langkahnya lagi ketika dia sudah hampir membuka pintu kamarnya sendiri saat itu, karena kupingnya sudah hampir tuli sebab tuan Antonio yang terus berteriak memanggil dia padahal jarak mereka berdiri satu sama lain saat itu sangatlah dekat bahkan tidak sampai berjarak hingga dua meter saja.


"Anindya....Anindya... Anindya berhenti kau atau aku akan memberikan dagingmi sebagai makan siang macanku!" Ucap tuan Antonio langsung saja melontarkan ancaman paling ampuh yang dia milikku sehingga bisa dengan cepat langsung membuat seorang seperti Anindita saja yang tidak takutbdengan apapun bahkan sebuah kematian biasa dia menjadi menghentikan langkahnya dan menuruti ucapannya meski dengan menggerutu kesal dan penuh ke tidak ikhlas san dalam melakukan apapun yang harus dia lakukan dan apa yang di perintahkan oleh tuan Antonio kepadanya setiap saat.


"Heh...kemari kau dan bantunaku memasangkan dasi ini, cepat!" Bentak tuan Antonio yang memerintah Anindita dan membentaknya juga.


Anindita menatap geram ke wajahnya dan dia langsung saja berjalan menghampiri tuan Antonio sambil terus saja menggerutu sangat kesal juga dirinya yang terus saja di penuhi dengan emosi yang sangat membara di dalam dirinya saat itu tiasa henti sedikitpun.


"Aishh..dasar manusia yang sangat merepotkan, dia terus saja menyuruh-nyuruh aku dalam berbagai hal yang dia butuhkan padahal aku ini kan bukan asistennya apalagi pelayannya, aishhh dia sangat menjengkelkan sekali oh tuhan!" Gerutu Anindita yang sudah sangat tidak tahan lagi dalam menghadapi orang sepertinya yang begitu keras kepala dan memiliki pemikiran yang sulit untuk di ubah sehingga ketika dia menginginkan sesuatu dia harus mendapatkannya meski bagian manapun caranya dia tetap akan melakukannya saat itu, bukan karena itu bagus atau tidak tetapi hanya karena dia menyukai hal tersebut, maka dari itu dia mengusahakan segalanya hingga akhir.


Tetapi tuan Antonio sama sekali tidak seperti Anindita yang selalu memperjuangkan segalanya dengan kedua tangan dan kakinya sendiri dan selalu menolak bantuan dari orang lain sebab dia terus saja merasa bahwa dirinya mampu walau terkadang dia sendiri merasa sangat kewalahan dengan hal tersebut dan terkadang dia sendiri sering sekali merasa sangat kelelahan sepanjang hari tanpa melakukan apapun hanya karena penyakit yang dia idap tengah kambuh.


Tetapi sekarang semenjak Anindita tinggal dengan tuan Antonio dan dia bisa terus meminum obatnya dengan teratur tanpa terlupakan sedikit pun dia merasa bahwa dirinya seperti hendak membaik saat itu, walau pun dia tahu bahwa pada kenyataannya penyakit kanker hatinya tersebut sulit sekali untuk di sembuhkan dan sampai saat ini dokter Gavin sendiri belum bisa menemukan seorang pendonor yang cocok untuk dia yang mau untuk mencangkok kan hatinya kepada dia sampai sejauh ini.


Saat Anindita menatap ke arah tuan Antonio dengan tatapan matanya yang sangat tajam dan terlihat sangat kesal juga tidak ingin melakukan perintah yang di katakan oleh tuan Antonio saat itu, tuan Antonio sendiri yang berjalan dengan cepat ke arahnya dan langsung menarik tangan Anindita yang terkesan sangat lambat sekali untuk bertindak di mata tuan Antonio saat itu, karena dia melihat Anindita yang dia kira sebagai Anindya tersebut malah terus saja berdiri mematung dengan tatapan yang tidak fokus ke arahnya saat itu.


Sehingga dia pikir mungkin dia harus bisa lebih mendekatkan diri dengan Anindita agar bisa lebih memahami karakter dari wanita yang dia kenal supaya dia bisa menjadi lebih dekat lagi pada Anindita dan berharap agar Anindita bisa sedikit patuh kepada dirinya.


"Heh...ayo cepat bantu aku pasangkan kenapa kau sangat lambat seperti siput sih?" Ucap tuan Antonio yang langsung saja menarik tangan Anindita lalu dia menaruh tangan Anindita tersebut pada lehernya yang saat itu sudah mengalungkan sebuah dasi berwarna hitam pada keras kemeja putihnya saat itu.


Anindita sendiri yang mendapatkan perlakuan seperti itu, dia yang tadinya merasa sangat kesal dan emosi kini dia justru malah merasa sangat kaget ketika mendengarnya dan dia langsung saja melihat ke arah wajahnya yang terlihat sangat datar juga begitu serius menatap ke arah Anindita.


Sedangkan Anindita sendiri juga tidak mengetahui bagaimana cara untuk memakai dasi seperti itu, Anindita memang sangat tidak mengetahui hal tersebut sehingga dia juga merasa sangat kaget dan membuka matanya dengan lebar ketika tuan Antonio justru malah menyuruh dia untuk memakaikan dasi pada lehernya saat itu.

__ADS_1


Itu sama saja dengan tuan Antonio mencari kematiannya sendiri sebab Anindita benar-benar sama sekali tidak mengetahui caranya dan itu bahkan pertama kalinya dia memakaikan kepada seseorang dasi seperti itu dalam seumur hidupnya.


Karena di keluarganya tidak ada seorang pria satu pun sehingga dia tidak pernah memakaikan dasi kepada pria manapun dan maka dari itu Anindita sendiri tidak tahu bagaimana.


"Ehhhh...apa kau gila atau sakit yah? Aku mana bisa memakaikan dasi seperti ini kepadamu aku sendiri sama sekali tidak tahu bagaimana cara memasangkannya, aishhh dasar kau konyol malah menyuruh ke orang yang sama sekali tidak pernah memakai dasi seperti aku, bahkan sekolah pun aku selalu tidak memakai dasi seperti itu, bagaimana agar aku bisa melakukannya" ucap Anindita dengan lantang kepada tuan Antonio saat itu.


Sampai membuat tuan Antonio langsung saja membelalakkan matanya sebentar saat itu hingga dia langsung menjawabnya, bahwa hal tersebut rupanya sama sekali tidak pernah menduga mengenai hal tersebut.


"Kau... benar-benar tidak bisa memasangkannya ya?" Ucap tuan Antonio


Saat itu juga dia kembali bertanya kepada Anindita dengan nada bicara yang cukup tinggi dan terlihat sangat ingin marah ketika mendengar jawaban dari Vivian karena jawaban darinya itu sangatlah konyol, membuat semua orang yang mendengarnya pasti akan tertawa menertawakan dirimu atau menertawakan hal yang lainnya yang ada pada dirimu.


Karena mendapati Anindita yang ternyata tidak bisa memasangkannya dasi dia pun langsung saja merasa sangat kesal dan langsung saja menyuruh Anindita untuk sarapan lebih dulu kala itu, Anindita juga segera mengangguk kepadanya dengan cepat agar dia juga bisa segera terbebas dari perintah tuan Antonio yang selalu saja bisa menyuruh dia dengan seenaknya juga dengan suruhan yang terkadang tidak masuk akal bagi dirinya.


"Aishh...sudahlah jika kau tidak bisa memasangkan dasinya, biar aku sendiri saja sana kau pergi ke bawah lebih dulu" ucap tuan Antonio yang terlihat cukup kesal kepadaku.


Terlihat dengan jelas juga bahwa tuan Antonio menahan emosi juga dalam dirinya karena melihat Anindya yang sangat menjengkelkan dan membuat dia harus terus bersabar dalam menghadapi orang seperti dia sebanyak-banyaknya.


"Astaga....dia itu benar-benar ya, apa aku harus memasukkannya ke dalam kelas melayani suami agar dia tahu bagaimana cara melayani aku dengan baik termasuk pelajaran untuk memakaikan dasi dengan rapih dan bagus kepada suaminya bukannya malah pasrah saja dengan cepat ketika mengatakan bahwa dia memang tidak bisa melakukan hal tersebut" gerutu tuan Antonio yang terlihat begitu kesal menahan emosinya sambil melihat punggung Anindita yang pergi menuruni tangga saat itu.


Saat sampai di dapur tuan Antonio melihat Anindita yang tengah menikmati sarapannya sendiri tanpa memperdulikan dirinya atau menunggu kedatangan dirinya terlebih dulu sebelum menghabiskan sarapannya seorang diri seperti itu.


"Hah....kau sudah selesai sarapan?" Ucap tuan Antonio menatap dengan kaget dan kebingungan saat itu melihatnya yang sarapan dengan begitu cepat.


"Iya..memangnya kenapa sih" balas Anindita yang sama sekali tidak mengerti apapun dan dia tidak perduli dengan aturan yang ada disana saat itu, karena yang ada di otaknya hanyalah sebuah kebebasan juga dia yang selalu sulit di atur oleh siapapun di dunia ini bahkan kepada seorang yang sangat kejam seperti tuan Antonio saja dia sangat berani melawannya tanpa rasa takut sedikitpun saat itu.


Dan masih bisa meminum jusnya yang sangat segar pagi itu.


"Aishh...kenapa kau tidak menunggu aku dulu untuk sarapan atau kau kan bisa memanggilku agar kita bisa menikmati sarapannya bersama apa kau ini sudah bosan hidup yah?" Ucap tuan Antonio yang benar-benar di buat jengkel.oleh Anindita selama dia tinggal di tempatnya tersebut saat itu.


"Memangnya kenapa sih jika aku memakan sarapanku lebih dulu, aku kan lapar jadi aku bebas untuk makan kapan saja dong, lagi pula kau sendiri yang sebelumnya menguruh aku untuk pergi ke bawah dan sarapan bukan, jika bukan untuk menyuruhku sarapan lebih dulu memangnya kau tadi menyuruh aku ke sini lebih dulu untuk apa?" Balas Anindita yang seperti menantang kesabaran tuan Antonio saat itu.


Tuan Antonio sudah terlihat mengeratkan kedua giginya dan dia ingin sekali memberikan sedikit pelajaran kepada Anindita saat itu, dia sendiri bahkan sudah melayangkan tangannya ke udara dan hampir saja dia akan menampar pipi Anindita saat itu, namun untungnya Antonio segera sadar dengan cepat sehingga dia pun bisa menjaga dirinya saat itu dan menahan emosi di dalam dada juga pikirannya.


Dia langsung menghempaskan tangannya sendiri ke tempat yang kosong juga segera duduk di samping Anindita lalu menikmati sarapannya dengan cepat.

__ADS_1


"Kau aahh sudahlah, diam disini sampai aku selesai sarapan nanti aku akan membawamu ke kantor untuk urusan yang sangat penting" balasku tuan Antonio kepadaku Anindita saat itu.


Anindita yang memang sangat cuek jika kepada orang yang tidak dia sukai apalagi dengan tuan Antonio yang sangat dia benci saat itu sehingga dia langsung saja meminta minum lagi kepada pelayan disana agar dia bisa mengesampingkan rasa kantuk di matanya saat itu dan dia tidak perlu takut lagi dengan hal yang lainnya saat itu.


Padahal saat itu dia baru saja bangun dari tidur tetapi entah kepada Anindita masih tetap saja merasa mengantuk pagi itu, sampai membuat tuan Antonio sendiri yang tengah menikmati sarapan di sampingnya dia merasa sangat heran melihat Anindya yang sudah menguap beberapa kali, terlihat dengan jelas bawah saat itu mungkin saja saat itu dia sangat mengantuk dan itu sudah lebih baik daripada dia harus pergi mengobrol dan berbicara dengan tuan Antoni yang ada di sampingnya.


Sampai ketika tuan Antonio sudah selesai menyantap sarapan yang dia makan saat itu dia melirik ke samping melihat Anindita yang mengantuk sambil meminum minuman dengan menempelkan gelas tinggi tersebut di mulutnya bukan dia mengangkat gelas tersebut justru malah kepala dan wajahnya yang datang mendekati gelas tersebut yang ada diatas meja saat itu.


Sehingga melihat hal tersebut tuan Antonio tentu saja membekalkan kepalanya dia merasa sangat kaget dan tidak menyangka bahwa Anindya yang terkenal oleh semua orang bahwa dia gadis yang lemah lembut dan baik, justru malah memiliki kelakuan sangat bertolak belakang dengan apa yang banyak di bicarakan oleh orang-orang di sekitar dia sebelumnya.


"Astaga...apa yang terjadi dengan anak ini bagaimana bisa dia malah minum dengan cara mengigit gelasnya saja seperti itu, dan bagaimana bisa dia malah terlihat mengantuk di pagi-pagi seperti ini" gerutu tuan Antonio yang terlihat sangat tertekan dengan tingkah Anindita saat itu.


Sebenarnya Anindita sengaja melakukan semua hal-hal aneh seperti itu agar membuat tuan Antonio semakin jengkel dan menyerah dalam menjadikan dia sebagai istrinya sebab Anindita sama sekali tidak mungkin menjadi tuan Antonio dimana usianya saja sudah akan habis hanya dalam beberapa bulan lagi.


Dia tidak memiliki banyak waktu untuk menikah seorang pria dan menjalani sebuah pernikahan ataupun sebuah rumah tangga dengan pria manapun termasuk seorang tuan Antonio saat itu.


Tetapi sayangnya semua itu di luar dugaan Anindita sebab meski sudah melihat tingkah Anindita yang terlihat sangat memalukan seperti itu tuan Antonio sama sekali tidak menyerah dengannya walaupun sebenarnya dia sudah di buat sangat stress dalam menghadapi Anindita setiap hari sementara membawa dia pulang ke mension saat itu.


Kini tuan Antonio sendiri langsung saja terlihat menghembuskan nafas yang sangat berat dan dia langsung saja menggebrak meja dengan sangat keras dan membentak Anindita dengan sangat keras hingga membuat Anindita kaget terperangah dan langsung saja dia terduduk dengan benar dan menatap sambil menelan salivanya sendiri susah payah sebab kaget melihat tuan Antonio yang menatapnya dengan tatapan sangat serius juga begitu tajam sekali.


"Brak.... Anindita!" Suara gebrakan meja yang di teluk oleh tangan tuan Antonio juga teriakkan dia yang memanggil nama Anindita sangat keras saat itu.


"Ahhh ...iya tuan ada apa kau memanggilku, aahhh kau sudah selesai sarapan yah, ya sudah aku kan pergi bermain dengan bebas sekarang" ucap Anindita sengaja mengesampingkan pembicaraan dari tuan Antonio karena dia sama sekali tidak ingin melihat wajah marah tuan Antonio yang tidak bisa dia sendiri pungkiri bahwa wajah tuan Antonio di saat dia tengah marah besar seperti itu sangatlah menakutkan dan membuat dirinya terasa merinding ketakutan di buatnya.


Tetapi sayangnya saat itu tuan Antonio sudah tidak bisa menahan rasa sabar di dalam dirinya lagi untuk seorang Anindita sehingga dia langsung saja menarik tangan Anindita dengan keras dan secara paksa sambil terus saja menyeret dia membawanya masuk ke dalam mobilnya saat itu juga.


"Ayo ikut aku" ucap tuan Antonio sambil menarik tangan Anindita dengan cepat,


"Ehhh tuan...apa yang akan kau lakukan denganku heh... Antonio lepaskan kepada kau berani sekali menarik tanganku seperti ini, lepaskan aku Antonio lepaskan!" Bentak Anindita dan langsung saja menghempaskan tangan Antonio yang menarik tangannya dengan sangat kuat tepat di depan mobil milik Antonio yang sudah terparkir di depan kediamannya saat itu.


"Apa kau sudah selesai dengan semua drama aneh yang kau buat untuk membuat aku membencimu dan apa kau pikir aku akan melepaskanmu hanya karena kau membuat semua pemberontakan dan membuatku jengkel seperti ini setia hari hah?" Bentak tuan Antonio yang ternyata dia sudah mengetahui apa yang di lakukan dan apa yang di rencanakan oleh Anindita saat itu.


Anindita juga langsung kembali dengan sikapnya yang semula dia juga memang tidak sepenuhnya berakting ketika melakukan semua itu, dia memang bukan Anindya dan nyatanya meski sekuat tenaga dia berusaha untuk bersikap seperti Anindya yang banyak di sebutkan oleh semua orang tetapi dia tetap tidak bisa untuk menjadi orang lain, sebab dia juga memiliki karakter dirinya sendiri dan dia sangat senang juga bangga serta sangat percaya diri dengan karakter yang dia miliki dalam dirinya tersebut.


Dia justru merasa sangat tidak nyaman disaat dia harus menjadi seperti Anindya atau orang lainnya sedangkan dia harus mengubur sikap aslinya.

__ADS_1


Lagi pula Anindita pikir saat ini dia tidak berada dihadapan orang-orang yang dekat dengan Anindya sebelumnya, sehingga dia pikir dirinya bisa bebas untuk bersikap saat itu.


__ADS_2