
Dokter Leo sudah mengupayakan yang terbaik untuk menyembuhkan Anindita saat itu, di luar ruangan tuan Antonio sudah menghubungi sahabat sekaligus sekertaris pribadinya Seno untuk membantu dia membawakan beberapa barang dan pakaian ke rumah sakit karena dia takut bahwa malah ini dirinya dan Anindita tidak akan bisa kembali ke rumah, terlebih lagi melihat kondisi Anindita yang mengkhawatirkan seperti itu, tuan Antonio juga tidak bisa merasa tenang, dia terus saja berjalan mondar mandir kesana kemari di depan pintu ruangan UGD saat itu, dia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak mencemaskan Anindita.
"Ya...tuhan aku mohon tolong selamatkan dia, aku tidak bisa kehilangan dia saat ini, aahhh kenapa Seno lama sekali sih." Gerutu tuan Antonio yang sudah merasa sangat kesal saat itu.
Tuan Antonio terus mengigit ujung kuku ibu jarinya sendiri sambil terus merasa resah dan cemas hingga tidak lama dokter Leo mulai keluar dari ruang UGD beserta suster yang akan seger memindahkan Anindita ke ruang rawat inap saat itu.
"Aahh...Leo bagaimana dengan keadaannya apa dia baik-baik saja? Leo ayo cepat kau jawab aku, kenapa kau malah diam saja, kau tidak bisu bukan?" Bentak tuan Antonio sambil terus saja mengguncang kedua bahu dokter Leo saat itu.
Dokter Leo langsung mengalengkan tangannya pada bahu tuan Antonio dan dia segera membawa tuan Antonio untuk pergi ke ruangannya agar mereka bisa bicara lebih nyaman dan tuan Antonio juga bisa menenangkan dirinya sendiri saat disana nanti.
"Antonio mati bicara di ruanganku, kau berteriak terus seperti itu hanya akan mengganggu pasien lain, kau mengerti maksudku bukan?" Balas dokter Leo yang membuat tuan Antonio merasa cukup kesal saat mendengarnya.
Sebab saat itu tuan Antonio sudah menunggu cukup lama dan hatinya terus merasa cemas memikirkan keadaan Anindita sedangkan dokter Leo justru malah bicara dengan mudahnya seperti itu pada dirinya, lantas tuan Antonio pun langsung saja menolak dengan keras dan dia terus mendesak dokter Leo untuk mengatakan semuanya pada dia saat itu juga.
"Apa kau bilang, aku harus tenang dan akan mengganggu pasien lain, apa kau lupa rumah sakit ini bisa besar dan berkembang seperti ini karena siapa hah? Aku bisa menutup rumah sakit ini sekarang juga jika aku ingin, aku hanya ingin kau mengatakan padaku bagaimana keadaannya dan kau mau membawa dia kemana sekarang?" Balas tuan Antonio dengan matanya yang terbelalak begitu lebar pada dokter Leo.
"Tenang Antonio....tenang... Anindita sudah baik-baik saja dia akan di pindahkan ke ruang rawat dan sebaiknya dia tetap berada di rumah sakit untuk beberapa hari saja dan aku akan terus memantau perkembangan kesehatannya, dia sangat lemah dan kau tahu bahwa dia memiliki riwayat kanker hati seharusnya kau tidak boleh membuatnya terlalu banyak mengeluarkan energi dan aku pikir dia tidak bisa melewatkan sekalipun jadwal obatnya, dia tidak memakan obat yang seharusnya dia makan pada waktu yang tepat sehingga inilah yang terjadi, kau tenangkan dirimu da duduklah dahulu" ucap dokter Leo menenangkan tuan Antonio dan menundukkan dia di sana.
Tuan Antonio langsung terperangah dan dia menatap dengan tatapan yang sendu pada dokter Leo, dia sadar bahwa sejak Anindita tinggal dengannya dia sama sekali tidak memperdulikan mengenai obatnya, obat yang dia pikir pada awalnya itu sebuah vitamin biasa namun nyatanya obat pereda nyeri dan penekan kanker hati yang di derita oleh Anindita selama ini, tuan Antonio sungguh merasa kesal pada dirinya sendiri karena dia merasa bahwa dirinya telah gagal untuk menjaga Anindita dan telah lalai dalam memperhatikan kondisinya selama ini.
"Aaarrkkkkk...bodoh...kenapa aku tidak memikirkan tentang obatnya, sial..." Gerutu tuan Antonio hampir saja dia akan mendaratkan tangannya pada dinding rumah sakit.
Untunya Seno datang tepat waktu dan dia berhasil menahan tangan tuan Antonio dengan secepat. Ketika Seno datang tuan Antonio menatapnya dengan nafas menderu dan tatapan yang sudah semakin sayu, Seno mengerti bahwa tuan Antonio sangat mencemaskan Anindita, meski sebelumnya dia belum pernah mihatntuan Antonio berada dalam kondisi yang sangat kacau dan hampir saja akan bertindak bodoh seperti itu.
"Antonio cukup, kau harus mengendalikan emosimu jika kau mau melihat Anindita sembuh" ucap Seno menahan tangan tuan Antonio.
__ADS_1
Leo yang harus memeriksa kondisi pasien lain dia segera berpamitan dan menyerahkan tuan Antonio kepada Seno karena dia mempercayai bahwa Seno dapat menenangkan tuan Antonio lebih baik daripada dirinya sendiri.
"Seno aku serahkan dia padamu, dan aku harap kau bisa menahannya jangan sampai mengganggu keadaan gadis itu, kalian hanya bisa menjenguknya tapi jangan sampai mengganggu dia" balas dokter Leo memberitahu.
"Ya...aku tahu" balas sekretaris Seno memahaminya.
Setelah dokter Seno pergi tuan Antonio langsung menyuruh pada sekretarias Seno untuk mulai mencari pendonor hati bagi Anindita secepatnya karena dia tidak ingin terus mihat Anindita menahan sakit dalam tubuhnya terus menerus dengan tidak tahan dan harus berakhir di rumah lagi dan lagi seperti ini.
"Seno kau harus cepat menemukan donor hati untuk Anindita, kau harus melakukan itu secepatnya" ucap tuan Antonio keceplosan saat itu.
Dia tidak sengaja malah berbicara pada sekretarias Seno dengan sebutan Anindita bukan Anindya, sehingga hal itu membuat sekretaris Seno langsung mengerutkan kedua alisnya saking merasa heran dan dia terus mencurigai tuan Antonio.
"Tunggu...apa kau bilang tadi, Anindita siapa dia...bukannya yang di rawat di dalam itu adalah Anindya putrinya Doni ya?" Tanya Seno sambil menatap menyelidikinya,
"Aaaahh...itu aku hanya salah ucap karena terlalu panik mencemaskannya" balas tuan Antonio yang sulit di percayai oleh sekretaris Seno.
"Kenapa aku merasa bahwa Antonio seperti menyembunyikan sesuatu dariku ya?" Batin sekretaris Seno merasa curiga saat itu.
Terkadang feeling dari seorang sahabat memang tidak pernah salah, sama dengan apa yang terjadi pada sekretaris Seno saat ini dimana dia sudah bisa merasakan bahwa sahabatnya itu mulai menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
Namun karena keadaan yang tengah tidak memungkinkan seperti ini untuk membahas mengenai hal itu, sekretaris Seno mengabaikan permasalahan tersebut dan dia terus saja berusaha untuk mencari cara agar bisa mendapatkan donor hati yang cocok lebih cepat bagi Anindita saat ini.
Ya meskipun dokter Leo sudah mengatakan bahwa Anindita sudah membaik dan dia hanya membutuhkan banyak istirahat juga infus untuk menambah energi juga cairan di dalam tubuhnya, tetapi tuan Antonio tidak bisa berhenti mencemaskannya dia segera pergi ke ruangan dimana Anindita berada saat itu.
Dia berdiri di depan ranjang Anindita dan terus menatap wajah Anindita yang tengah terlelap entah dia masing pingsan ataukah dia tertidur saat itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepadamu, apapun alasannya nanti, aku akan menyembuhkan dirimu dengan segala cara yang aku bisa!" Ucap tuan Antonio sambil menggenggam tangan Anindita dengan erat.
Sedangkan disisi lain sekretaris Seno pergi mengambil obat yang sudah di tuliskan oleh dokter Leo sebelumnya, dia pergi untuk membeli obat itu di bagian apotek rumah sakit tersebut, tetapi disisi lain saat itu dokter Gavin juga tengah di tugaskan di rumah sakit yang sama dimana Anindita berada saat itu.
Dokter Gavin yang hendak pergi ke salah satu ruangan pasien yang ada di sana, karena ada pasien yang bermasalah dia berlari kecil dengan terburu-buru sehingga tidak melihat jalanan di depan dengan benar.
Dan yang tidak di sangka dokter Gavin justru bertabrakan dengan sekretaris Seno saat itu, sehingga membuat sekretaris Seno menjatuhkan selembar kertas bertuliskan rujukan obat dari dokter Leo sebelumnya dan dokter Gavin yang membantu sekretaris Seno mengambilkan kertas yang jatuh tersebut.
"Aaahh...brukk...ya ampun maafkan saya dokter saya tidak sengaja" ucap sekretaris Seno merasa tidak enak dan sedikit bersalah karena mereka bertabrakan saat itu.
"Ohhh...tidak masalah, apa kamu baik-baik saja?" Tanya dokter Gavin kepada sekretaris Seno saat itu.
Sekretaris Seno pun langsung menggelengkan kepala dengan cepat dan dia sudah meyakinkan dokter Gavin bahwa dirinya baik-baik saja, sampai tidak sengaja dokter Gavin segera mengambil selembar kertas yang berada diatas sepatunya dia mengambil kertas tersebut dan tidak sengaja membaca tulisan yang ada disana.
"Resep obat ini kenapa terasa sangat tidak asing untukku?" Batin dokter Gavin saat itu.
Saat tengah termenung dan memikirkannya sekretaris Seno segera menyadarkan dokter Gavin karena dia harus cepat mengambil obat tersebut sebelum tuan Antonio akan menyemprotkan amarah yang besar kepadanya dan membuat gajinya bisa saja terpangkas untuk bulan ini dan bulan yang akan datang.
"Dokter...permisi...dokter...dokter...apa anda baik-baik saja?" Ucap sekretaris Seno menyadarkannya dengan cepat,
"Aahhh...iya...apa ini resep obat milikmu?" Tanya dokter Gavin pada sekretaris Seno,
"Iya...dokter, terimakasih sudah mengambilkannya, saya harus segera pergi permisi dokter" balas sekretaris Gavin sambil segera pergi meninggalkan dokter Gavin yang masih berdiri di tempat itu sambil mihat punggung sekretaris Seno yang semakin menjauh darinya.
Entah kenapa saat itu dokter Gavin merasa kepalanya sedikit terganggu dan tidak bisa fokus setelah melihat resep obat yang dia baca saat itu, meski awalnya dokter Gavin sudah berpikir bahwa mungkin itu milik seorang pria yang bertabrakan dengannya, namun dia tetap merasa semua itu sangat mirip dengan resep obat yang selalu dia berikan kepada Anindita, pasien dia selama ini.
__ADS_1