
Anindita memang tidak pernah melihat kembang api secara langsung dan sedekat itu sebelumnya, selama ini dia hanya bisa melihat kembang api di layar ponsel canggihnya, walaupun itu terlihat sama bagusnya namun ada satu perasaan yang memang tidak bisa disamakan ketika dia melihat kemeriahan dan kecantikan kembang api di ponselnya dengan dia melihatnya secara langsung saat itu, Anindita tidak bisa berkata-kata lagi dia terus menatap ke atas langit dan melihat berbagai macam warna dari kembang api yang melesat dan itu sangat indah, ada beberapa bentuk yang unik dan dia sangat bahagia hingga tidak sadar bahwa dirinya memegangi tangan tuan Antonio dengan erat secara tidak sengaja saat itu.
"Aahh ..lihatlah Antonio lihat itu berbentuk bintang dan yang itu sangat cantik, haha...kau hebat sekali bisa menyalakan kembang apinya, Antonio ayo lihat kesana ahaha...ini sangat luar biasa" ucap Anindita sambil terus berjinjit seakan dia ingin menjadi lebih dekat dengan kembang api yang menyala diatas sana saat itu.
Antonio yang melihat tingkah Anindita dia hanya terus menatap lekat pada wajah Anindita meski sudah beberapa kali Anindita mengatakan dan menyuruh dia agar melihat ke atas tepat pada kembang api yang menyala diatas sana.
"Cantik...." Ucap Antonio tanpa sadar dengan nada yang pelan.
Namun Anindita mendengarnya dan dia langsung saja menoleh ke arah Antonio dengan wajahnya yang langsung berubah drastis, dia ingin memastikan apa ucapan dari Antonio yang baru saja dia dengar adalah benar atau hanya pendengarannya yang tidak benar.
"Eehh... Antonio apa yang kau katakan, apa barusan kau mengatakan cantik? Apa yang cantik, atau kau berbicara cantik padaku ya?" Ucap Anindita menduganya.
Dengan cepat Antonio langsung saja memalingkan pandangan ke atas sambil memperbaiki posisi berdirinya.
"Ekmm...tidak kau terlalu percaya diri, aku melihat kembang apinya sangat cantik dan terlihat bayangan indah pada danau" balas Antonio langsung membuat alasan.
Padahal sebenarnya dia memang mengatakan cantik kepada Anindita sebab dia jelas sekali menatap pada wajah Anindita dengan begitu lekat ketika mengatakan kalimat tersebut sebelumnya.
Namun lagi dan lagi hanya karena gengsi yang dia miliki dia tidak bisa mengakui hal itu, terlebih dia sendiri merasa heran pada dirinya sebab dia bisa mengatakan hal tersebut di luar kendali dirinya sendiri, sampai membuat dia hampir saja terciduk oleh Anindita saat itu, namun untungnya dia masih bisa menyela ucapannya dan beralasan pada kembang api tersebut, sehingga alasannya bisa dengan mudah di percayai oleh Anindita.
"Aahhh..kau benar kembang apinya sangat cantik, tapi sayang sepertinya sudah habis" balas Anindita menyetujui ucapan dari Antonio,
Hingga ketika hendak berbalik Anindita baru sadar bahwa sedari tadi dia terus memeluk tangan Antonio dengan begitu erat dan ketika baru saja sadar Anindita dengan cepat segera melepaskan tangannya yang memegangi tangan Antonio dengan erat, dia juga segera mundur menjauh dari tuan Antonio karena merasa gugup dan kaget saat itu.
Tetapi sayangnya Anindita sama sekali tidak melihat ke belakang bahwa di belakangnya adalah ujung danau, dimana dia hampir saja jatuh terperosok ke danau saat itu, tapi tuan Antonio dengan cepat menahan tubuh Anindita dan menariknya dengan kuat hingga membuat Anindita begitu sangat dekat padanya dan dia seperti tengah di peluk erat oleh tuan Antonio saat itu.
"Astaga....aaaaahhh" ucap Anindita saat kaget dan hampir terperosok jatuh ke danau,
"Anindita awas!" Teriak tuan Antonio yang berhasil menangkapnya dan segera membawa Anindita ke tengah agar lebih aman.
"Apa kau baik-baik saja, kenapa kau sangat ceroboh, apa kau tidak ingat bahwa di belakangmu itu adalah danau, kau hampir saja jatuh kesana, danau itu cukup dalam bahasa jika kau tenggelam disana" ucap tuan Antonio yang langsung saja memarahi Anindita saat itu.
Sedangkan Anindita sendiri merasa sangat heran dan kebingungan dia tidak mengerti mengapa tuan Antonio harus memarahi dia sampai seperti itu, bak seperti seorang ayah yang tengah memperingati anaknya dengan wajah cemas dan ketakutan, padahal dia sudah selamat dan baik-baik saja.
"Antonio apa kau panik dan mencemaskan aku ya?" Tanya Anindita kepadanya dengan mengerutkan kedua alisnya memberikan tatapan menyelidik kepada tuan Antonio.
Mendengar pertanyaan dari Anindita langsung saja tuan Antonio kembali tersadar dia langsung memalingkan pandangannya lagi ke arah lain dan segera menyangkal hal tersebut, padahal sudah jelas sekali wajahnya terlihat sangat mencemaskan Anindita saat itu, tapi dia masih saja tidak mau mengakuinya.
__ADS_1
"Hah...haha...apa? Aku mencemaskanmu, apa kau pikir orang sepertiku memiki rasa empati pada orang lain, terutama kepada orang sepertimu hah? Aku hanya takut pakaian dan semua barang mahal yang aku berikan padamu akan lenyap atau rusak jika kau membawanya tenggam di danau itu" balas tuan Antonio dengan nada bicaranya yang sangat dingin.
Mendengar itu Anindita langsung saja merasa sedikit kesal tetapi dia juga tidak terlalu perduli dengan hal itu sebab dia juga tidak menyukai tuan Antonio jadi dia tidak mempermasalahkannya lagi.
"CK....dasar manusia kejam, aahh bagaimana bisa otakku mengira kau mencemaskan aku, padahal sudah jas tadi saja kau hampir menjadikan aku menu makan siang peliharaan buasmu itu, aishh otakku pasti sudah eror" gerutu Anindita memikirkannya lagi.
"Hah...baguslah jika kau sadar, dan jangan terlalu percaya diri lagi, ingat semua pakaianmu dan barang-barang itu sangat mahal jangan sampai kau merusaknya dan membuat aku rugi karena harus menggantinya dengan yang baru atau pun hal lain" ucap Antonio yang terdengar sangat pelit.
Anindita hanya memberikan tatapan sinis padanya, dia pikir Antonio sudah sedikit berubah karena dia terlihat cukup baik mau membawanya ke tempat indah tersebut dan memberikan pertunjukan kembang api yang sangat cantik, namun setelah mendengar dia berbicara itu langsung saja membuat Anindita kembali menghempas pemikiran dan dugaan awalnya yang mengira Antonio telah sedikit berubah.
"Aishh...dasar kau manusia kejam dan sekarang sangat perhitungan, sial sekali aku malah harus bertemu denganmu, seharusnya sekarang aku bisa pergi ke mal dan mencoba banyak permainan disana, harusnya sekarang aku bisa pergi berlibur ke tempat wisata, pergi piknik dan menikmati banyak hidangan, bukannya malah harus terjebak dengan orang kejam dan perhitungan sepertimu" balas Anindita merasa sangat kesal.
Dia pun segera pergi kembali berjalan menuju mobil dan segera masuk ke dalam dengan membanting pintu mobil milik Antonio dengan sangat kencang.
"Hey...beraninya kau membanting pintu mobilku, itu mobil apa kau tahu hah!" Bentak tuan Antonio memarahi Anindita lagi.
Tapi Anindita sama sekali tidak perduli bahkan dia dengan sengaja terus mendang bagian depan mobil Antonio dengan kakinya dan dia memukul jok tempat dia duduk juga semua bagian yang bisa dia jangkau dengan tangannya saat itu, berharap dia bisa merusak sesuatu di dalam mobil itu agar bisa membuatnya puas melihat Antonio semakin kesal atas perbuatannya.
"Eugh....eugh...eugh...Antonio sialan rasakan ini aku akan merusak mobil sialanmu itu, Duk...Duk..Duk.." ucap Anindita sambil terus mem*kul bagian mobil disana dengan sekuat tenaganya.
Saat Antonio masuk dan melihat kelakuan dari Anindita secara langsung dia sama sekali tidak bisa memarahinya lagi dan hanya bisa memberikan tatapan tajam dengan menahan emosi yang menggebu di dalam hatinya saat itu, karena tidak bisa dia pungkiri dia sudah merasa sangat jengkel karena Anindita terus berusaha merusak barang miliknya terutama mobil itu adalah mobil kesayangannya di mana pelayan dan para penjaganya saja tidak berani melakukan kesalahan atau menggores sedikit saja mobil kesayangannya itu, tetapi Anindita justru malah ingin merusaknya dengan sengaja sehingga membuat Antonio semakin naik pitam di buatnya.
Antonio yang tadinya hendak marah entah kenapa dia justru malah menjadi iba dan merasa kasihan kepada Anindita sehingga dia pun menghembuskan nafasnya dengan lesu dan cukup kasar untuk menyingkirkan sisa-sisa emosi di dalam dirinya saat itu.
"Huhh .... Sudahlah kau bebas melakukan apapun jika kau ingin merusak mobil kesayanganku ini, maka rusaklah jika itu bisa membuatmu lebah baik" balas tuan Antonio sambil segera menyalakan mobilnya dengan cepat.
"CK ..untuk apa aku melakukannya jika itu sudah tidak membuatmu marah lagi, marahlah terus padaku Antonio, dengan begitu aku bisa merasa masih ada orang yang menganggap keberadaan aku di dunia ini selain ibu dan Oma, yang bahkan aku tidak bersama dengan mereka saat ini" balas Anindita yang membuat tuan Antonio semakin pusing karena sikapnya yang sulit sekali di tebak.
"Aishh..kenapa kau sangat menjengkelkan sekali, terserah kau saja, aku tidak perduli apapun dasar kau manusia menjengkelkan!" Balas tuan Antonio yang sudah tidak tahan lagi dalam menanggapi Anindita.
Sedangkan Anindita sendiri justru malah terlihat tersenyum kecil ketika dia melihat tuan Antonio mengacak rambutnya sendiri saking kesa dan frustasi dalam menghadapi dirinya saat itu, dia tidak bisa menahan tawa lagi dalam melihat wajah tuan Antonio yang di matanya terlihat cukup lucu.
"Ffftt ....hahaha...Antonio wajahmu sangat lucu ketika rambutmu berantakan seperti itu, haha kau seperti macan milikmu itu, kalian majikan dan hewan peliharaan sama saja haha, konyol sekali" ucap Anindita sambil tertawa cukup puas saat itu.
Dan dia terlihat cukup bahagia, sedangkan tuan Antonio sendiri terlihat tersenyum kecil karena entah kenapa di dalam hatinya dia juga merasa cukup tenang dan senang ketika melihat Anindita bisa tertawa dengan selebar dan sepuas itu meskipun dirinya yang harus menjadi korban, dan dijadikan bahan tertawakan oleh Anindita sendiri saat itu.
"Kenapa aku senang ketika melihat wanita menjengkelkan ini tertawa, apa yang salah padaku sekarang?" Batin tuan Antonio merasa heran dengan dirinya sendiri saat itu.
__ADS_1
Anindita sendiri terus saja berusaha untuk berhenti tertawa saat itu karena dia tidak ingin membuat tuan Antonio sampai marah besar kepadanya karena dia ingin sedikit merasakan kedamaian malam ini, walau sebenarnya dia masih ingin tertawa lepas.
"Fffttt...ma..ma..maafkan aku, tadi aku hanya sedikit bercanda saja, dan aku tidak bisa menahan tawaku, aku tidak bermaksud menghinamu kok" ucap Anindita yang lebih dulu meminta maaf atas kelakuan dirinya sendiri yang sudah menertawakan tuan Antonio saat itu.
"Kau tertawakan jika ingin tertawa lagi, aku tidak keberatan jika kau menertawakan ku, daripada kau harus merusak barang kesayanganku" balas tuan Antonio yang membuat Anindita kaget.
Dia langsung saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan tidak menduga seorang tuan Antonio tidak keberatan ketika di tertawakan olehnya, dia justru malah lebih rela di tertawakan oleh dirinya di bandingkan dia yang mencoba merusak mobilnya, itu cukup aneh dengan sikap tuan Antonio pada dasarnya, dan tentu Anindita menatap Antonio dengan menaikkan kedua alisnya saking merasa heran kepadanya saat itu.
"Hah? Antonio apa kau tidak salah bicara, memangnya kau yakin tidak akan marah padaku, jika aku menertawakan mu seperti tadi lagi?" Tanya Anindita untuk memastikan karena dia masih belum bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh Antonio saat itu.
"Ya .... tertawalah sesukamu jika kau ingin" balas tuan Antonio lagi dengan ekspresi wajahnya yang datar dan terus fokus menyetir menatap lurus ke depan.
"Wah ..wah ..wah .. Antonio sepertinya kau sedang tidak sehat ya" ucap Anindita yang tidak habis pikir dengan otak Antonio saat itu.
Dia juga tidak bisa berkata-kata apapun lagi karena Antonio masih tetap mengijinkan dia untuk menertawakan dirinya, namun karena hal itu justru membuat Anindita tidak bisa tertawa lagi meski melihat rambut tuan Antonio yang masih berantakan saat itu, tapi dia tetap sudah tidak bisa tertawa lagi ketika melihatnya, mungkin karena sebelumnya dia sudah tertawa dengan sangat puas dan kencang jadi sekarang dia sudah biasa dalam melihatnya dan tidak tertawakan seperti sebelumnya lagi.
Namun yang membuat Anindita merasa heran, saat itu tuan Antonio justru tidak membawa dia kembali ke rumahnya tetapi malah membawa dia ke sebuah restoran yang cukup mewah tidak jauh dari tempat dia melihat kembang api sebelumnya, sehingga hal itu membuat Anindita menaikkan kedua alisnya dan membulatkan mata merasa sangat heran sekaligus kebingungan.
"Ehhh...Antonio kenapa kita malah kemari?" Tanya Anindita dengan wajah kebingungannya,
"Sudah ayo cepat turun, kita akan makan di luar sebelum kembali, bukankah kau bilang ingin menikmati banyak makanan lezat, ini adalah tempat yang bagus" balas Antonio sambil membuka sabuk pengamannya.
Namun disaat tuan Antonio hendak membuka pintu mobilnya dengan cepat Anindita yang melihat rambut tuan Antonio masih berantakan dia menahan tangan tuan Antonio dengan cepat dan berniat untuk mengingatkannya saat itu.
"Ehhh .. Antonio tunggu" ucap Anindita sambil menahan tangannya.
Antonio yang mendapatkan hal itu dia langsung berbalik menatap pada Anindita dengan matanya yang mulai melirik ke arah tangan Anindita yang memegangi tangannya lagi, dengan cepat Anindita segera melepaskan pegangannya dan mulai menjelaskan kepada Antonio tentang alasan dia menahannya.
"AA..AA..ahh...itu kemarilah dekatkan wajahmu padaku" ucap Anindita saat itu juga.
Antonio mengerutkan kedua alisnya merasa sangat heran dengan maksud dari ucapan Anindita kepadanya, tetapi walau begitu tuan Antonio masih menuruti ucapannya karena Anindita yang terus mendesak menyuruhnya untuk mendekat saat itu.
"Aishh ..ayo cepat mendekat kenapa kau terlihat ragu aku tidak akan menamparmu kok" tambah Anindita lagi.
Tuan Antonio mulai berpikiran kemana-mana dan dia menatap Anindita dengan wajah kebingungan hingga dia mulai mendekatkan wajahnya kepada Anindita sambil menutup kedua matanya karena dia pikir Anindita akan menciumnya saat itu.
"Apa yang dia lakukan apa dia akan menciumku.... Ahh tidak mungkin tapi dia meminta aku mendekatkan wajah kepadanya, apa lagi jika bukan untuk menciumku?" Batin tuan Antonio menduganya saat itu.
__ADS_1
Antonio pun mulai mendekatkan wajahnya perlahan kepada Anindita dengan perasaan yang tidak menentu sedangkan Anindita sendiri merasa aneh dan mulai mengerutkan kedua alisnya sebab melihat Antonio yang mendekatkan wajahnya dengan menutup mata dan mulutnya yang memonyong sedikit membuat Anindita tersenyum kecil dan dia segera menyentuh kepala tuan Antonio, lalu mulai merapihkan rambutnya yang berantakan tersebut dengan pelan hingga ketika Antonio merasakan kepalanya di sentuh dan diusap beberapa kali oleh Anindita dia barulah tersadar dan langsung membuka kedua matanya dengan ekspresi wajah yang terlihat datar juga cukup malu saat itu.
"Nah ...sekarang sudah rapih, kau tidak akan mungkin keluar dengan rambut berantakan seperti itu bukan, bisa-bisa semua orang menertawakan mu" ucap Anindita sambil segera keluar dari mobil begitu saja meninggalkan tuan Antonio yang masih terdiam dan terlihat kecewa.