TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Di Restoran


__ADS_3

"Nah ...sekarang sudah rapih, kau tidak akan mungkin keluar dengan rambut berantakan seperti itu bukan, bisa-bisa semua orang menertawakan mu" ucap Anindita sambil segera keluar dari mobil begitu saja meninggalkan tuan Antonio yang masih terdiam dan terlihat kecewa.


Tuan Antonio sebelumnya justru malah mengira bahwa Anindita akan menciumnya sehingga dia memejamkan mata dalam waktu beberapa saat kala itu, itu namun saat dia sudah tersada kalau ternyata Anindita hanya membereskan rambutnya yang berantakan saja, itu sungguh membuatnya sedikit kecewa dan dia hanya berdesak kesal saja untuk beberapa saat ketika melihat Anindita keluar dari dalam mobilnya.


"CK..... Dia memberikan aku harapan palsu" gerutu tuan Antonio cukup kesal saat itu.


Dia pun segera keluar menyusul Anindita karena saat itu Anindita memanggil namanya dengan keras dan meminta agar dirinya segera cepat keluar dari mobilnya tersebut.


"Hey.... Antonio kau sedang apa di dalam sana kenapa sangat lama sekali sih, Antonio cepatlah kau keluar, aishh" teriak Anindita memanggilnya dengan sangat keras saat itu.


Tuan Antonio segera menghampiri Anindita dan dia mulai berdiri di hadapan Anindita sambil mengajaknya untuk segera masuk ke dalam restoran tersebut, sedangkan Anindita sendiri masih tetap saja terlihat cukup kesal dan geram karena sebelumnya tuan Antonio sulit sekali untuk dia panggil keluar padahal saat itu dia sudah merasa sangat lapar sekali, sebab belum sempat makan sebelumnya.


"Aishh... Antonio kenapa kau lama sekali sih, kau yang mengajak aku kemari tapi kau juga yang bergerak sangat lambat, bagaimana sih kau ini" gerutu Anindita memarahi tuan Antonio di depan banyak pengunjung lain yang hendak masuk ke dalam restoran tersebut.


Tuan Antonio segera membawa Anindita masuk karena dia tidak ingin menanggung malu terus melihat Anindita bersikap sangat berani kepada dia bahkan ketika dia berada di depan banyak orang seperti ini, dan membuatnya merasa cukup mi sebab menjadi pusat perhatian orang-orang yang datang ke restoran tersebut.


Selain itu tuan Antonio sendiri sudah mengetahui dan mengenal dengan jelas pemilik dari restoran tersebut sebab dia adalah salah satu partner bisnisnya dan tuan Antonio sendiri termasuk pemegang saham pada restoran tersebut sehingga ketika dia mulai masuk ke dalam sana dia langsung saja mendapatkan perlakuan dan jamuan yang paling istimewa di bandingkan para pengunjung lainnya.


Dia juga mendapatkan sambutan dari para pelayan disana yang sudah mengenali siapa dirinya dengan sangat baik.


"Selamat datang tuan Antonio, selama menikmati hidangan sambutan dari kami, silahkan memilih menu di restoran kami" ucap salah satu pelayan yang membungkuk dan memberikan buku menu kepada tuan Antonio saat itu.


Anindita sedikit merasa heran karena ada dua pelayan yang melawani ke meja dia sedangkan yang lainnya nampak sibuk dengan para pelanggan lain yang cukup banyak, dan setelah di perhatikan para pelayan itu sama sekali tidak bersikap seramah kepada dirinya juga Antonio disana, bahkan Anindita merasa sangat heran sebab hanya dirinya saja yang mendapatkan makanan sambutan gratis dari restoran tersebut.


Karena terus merasa heran dan sangat penasaran Anindita mulai menanyakan semua kejanggalan yang dia rasakan tersebut kepada Antonio ketika sang pelayan tadi sudah pergi dan Antonio sudah memesankan makanannya.


"Syuutt.....Antonio apa kau merasakan apa yang aku rasakan?" Bisik Anindita kepada tuan Antonio dengan begitu pelan.


Bahkan tuan Antonio sendiri yang mendapatkan bisikan seperti itu dari Anindita dia mulai mengerutkan kedua alisnya dan merasa sangat heran, sampai Anindita terlihat memberikan kode padanya untuk mendekatkan diri, dan Antonio pun segera menunduk sambil mendekatkan telinganya kepada Anindita saat itu.


Hingga Anindita segera saja mengucapkan semua kebingungan yang dia pikirkan dan selalu mengganggu pikirannya sejak lama.


"Aku merasa mereka memperlakukan kita terlalu berbeda dan mencolok, apakah mereka tidak akan rugi atau salah mengenali seseorang, kenapa mereka menyambut kita dan memberikan makanan sambutan seperti ini, aneh bukan?" Bisik Anindita kepada tuan Antonio dengan pelan.


Dengan sekaligus tuan Antonio langsung saja tertawa dan dia terus menahan tawa dengan menutup mulut menggunakan tangannya saat mendengar ucapan dari Anindita barusan, karena dia benar-benar sangat tidak menduga Anindita bisa berkata hal seperti itu kepadanya saat itu, terlebih itu terjadi di tempat umum.


"Ahahah..... Anindita apa kau ini idiot atau memang bodoh sejak lama hah?" Ucap tuan Antonio yang malah menertawakan Anindita saat itu.


Anindita yang mendapatkan tertawaan dari tuan Antonio, dia terus saja mengubah ekspresi di wajahnya menjadi datar dan dia terus saja menatapnya dengan kesal juga kebingungan sendiri karena tuan Antonio malah menertawakan dia sekaligus malah meledeki dia seperti itu.

__ADS_1


Tuan Antonio sama sekali tidak bisa berhenti menertawakan Anindita hingga Anindita terus merasa kesal dan dia tidak bisa membiarkan kelakuan tuan Antonio yang terus saja menertawakan dia dengan sangat puas seperti itu, sampai Anindita langsung saja menggebrak meja cukup keras untuk menghentikan tawa dari tuan Antonio yang terus saja sulit di hentikan meski dia sudah menyuruhnya untuk diam.


"Berhenti, kenapa kau terus menertawakan aku seperti itu, memangnya ada yang lucu apa?" Bentak Anindita dengan kesal saat itu.


Namun sayangnya tuan Antonio tetap saja tidak berhenti tertawa dan terus saja menunduk sambil memegangi jasnya saat itu.


"Brak!..." Suara gebrakan meja yang di tepuk oleh Anindita secara tiba-tiba hingga membuat tuan Antonio langsung saja berhenti tertawa dan menatap dengan kedua alis yang di kerutkan oleh tuan Antonio kepada Anindita.


"Apa sudah cukup kau menertawakan aku hah? Aku bertanya dengan serius karena aku merasa semua ini perlakuan yang sangat aneh dan berbeda sekali dengan perlakuan mereka kepada pelanggan lain, kenapa kau malah menertawakan aku bukannya segera menjelaskan kepadaku?" Balas Anindita dengan kesal pada tuan Antonio saat itu.


Tuan Antonio juga merasa sedikit kaget karena baru pertama kalinya melihat Anindita sampai se kesal itu dan berani marah sampai menggebrak meja dengan cukup keras di tempat umum seperti itu kepadanya.


"Hey ...apa kau tidak bisa tenang sedikit, kenapa kau sangat mudah marah, harusnya akulah yang kejam dan marah denganmu karena kau sangat bodoh!" Balas tuan Antonio membuat Anindita tidak bisa berkata-kata lagi saat itu.


Mendengar ucapan tuan Antonio yang malah balik memarahi dia dan memberikan tatapan tajam kepadanya Anindita sama sekali tidak bisa melawannya dan dia hanya bisa bersikap pasrah atas semua itu, padahal niat awalnya dia sudah berbicara dengan baik-baik kepada tuan Antonio namun justru dia yang malah di tertawakan dan saat dia marah masih tetap saja dia yang di salahkan dan kalah dari tuan Antonio.


Itu membuat Anindita merasa sangat kesal di buatnya dan untuk memalingkan emosinya dia langsung saja menyantap sebuah pudding yang ada di hadapannya saat itu, yang dimana makanan itu adalah makanan sambutan yang di berikan kepada Anindita dan tuan Antonio saat mereka baru masuk ke dalam restoran tersebut kala itu.


"CK....terserah kau saja, jika kau tidak bisa memberitahuku alasannya seharusnya kau juga tidak boleh mengejek aku seperti itu, memangnya aku tidak akan kesal jika kau meledeki aku bodoh dan sebagainya?" Balas Anindita mengatakan semuanya secara gamblang melanda Antonio saat itu.


Anindita terus menyantap puding itu dengan kesal dan terus memakannya dengan suapan yang cukup besar berkali-kali sampai tidak lama tiba-tiba saja tuan Antonio merampas sendok pudding yang dia gunakan saat itu dan tuan Antonio menarik pudding di tangan Anindita lalu menyendok dan memakannya begitu saja.


Anindita merasa sangat kaget bahkan sampai membelalakkan matanya dengan sangat lebar ketika melihat tuan Antonio yang memakai sendok bekas mulutnya saat itu bahkan dia tanpa ragu menyendok pudding bekas colekan Anindita sebelumnya.


Sementara tuan Antonio sama sekali tidak keberatan dengan apapun dan dia malah terus saja terlihat begitu santai, dia terlihat menatap ke arah Anindita sambil menaikkan kedua alisnya dengan perlahan dan sangat memiliki ekspresi yang begitu santai juga tidak perduli dengan apa yang di katakan oleh Anindita barusan.


"Memangnya kenapa jika sendoknya bekas mulutmu?" Balas tuan Antonio dengan wajahnya yang santai.


"Tapi kan itu artinya...aahh sudahlah kau juga tidak akan mengerti karena kau tidak memiliki hati sama sekali," jawab Anindita kepadanya.


Tuan Antonio sendiri terlihat tersenyum kecil sambil menatap lekat ke arah wajah Anindita yang mulai terlihat sedikit merona bagian pipinya, tuan Antonio tahu bahwa saat itu Anindita akan berpikir itu sema seperti sebuah ciuman yang tidak langsung ketika mereka memakai sendok yang sama kala itu.


Tetapi entah kenapa tuan Antonio justru sengaja melakukannya bukan hanya sekedar untuk mengerjai Anindita atau pun menggodanya saja, tetapi dia sendiri tidak dapat menahan dirinya untuk melakukan hal tersebut kepada Anindita, sedangkan dia tidak akan mungkin melakukan semua itu kepada orang lain.


Sebab dirinya yang di kenal semua orang dengan sikap tegas juga sikap kejamnya yang sudah terkenal ke seluruh penjuru kota tepatnya bagi semua pembisnis yang mengetahui namanya, tidak ada satu pun yang berani berhubungan dengan seorang Antonio saking kejamnya dia, Antonio tidak akan pernah merasa segan untuk menghukum siapapun yang membuat kesalahan kepadanya dan dia akan terus memberikan hukuman berupa hal-hal yang sadis dan kejam tanpa ampun seperti membuat bangkrut orang yang mengkhianati kerja sama dengannya, atau pun memecat semua orang yang ketahuan melakukan kecurangan dalam hal apapun meski itu sebuah kecurangan yang kecil.


Dia akan meneliti semuanya terus menerus dan selalu memperhatikan semua orang yang dia temui setiap saat.


Tuan Antonio bukanlah orang yang bisa di tebak kepribadian dan sikapnya dengan mudah, sebab dia bisa menjadi sangat kejam bagi orang yang ikut campur dengan kehidupannya dan dia juga bisa menjadi baik hanya kepada orang-orang tertentu saja.

__ADS_1


Sedangkan Anindita sama sekali belum memahami semua ya tentang tuan Antonio saat itu, dan dia nyatanya hanya mengenal tuan Antonio di luar saja tidak dengan hatinya.


"CK....kau menghabiskan semua makanan pembukanya, benar-benar aku yang lapar tapi kau yang banyak makan lebih dulu" gerutu Anindita merasa sangat kesal melihat pudding yang sangat enak itu malah di habiskan oleh tuan Antonio.


Tuan Antonio sendiri dia tahu bahwa Anindita merasa kesal kepadanya karena pudding yang tanpa sadar malah dia habiskan saking enaknya rasa pudding tersebut, sehingga dia juga sedikit merasa bersalah kepada Anindita aatnitu.


Dia pun dengan cepat mengatakan untuk mengganti puding yang sudah dia makan sampai habis seperti tadi.


"Ouhh....ternyata kau masih mau memakannya ya, aku pikir kau sudah tidak ingin menyentuhnya apalagi memakannya ketika puding lezat ini sudah aku sentuh dan bahkan sendoknya sudah aku pakai mengenai mulutku, apa kau yakin akan memakai sendok ini lagi?" Balas tuan Antonio dengan wajahnya yang sangat menjengkelkan bagi Anindita.


Dan dia dengan cepat mengembalikan semua makanan yang saat itu baru saja diantar ke atas meja oleh beberapa pelayan hingga meja tersebut penuh dengan makanan saat itu, tidak lupa tuan Antonio kembali memesankan pudding yang sama dengan sebelumnya untuk dia berikan sebagai ganti pudding milik Anindita yang sudah dia habiskan tersebut.


Walaupun Antonio tahu bahwa pudding itu sebenarnya di berkata kepada dia bukan benar-benar kepada Anindita sebab semua orang sudah tahu tidak akan ada hadiah apapun yang pernah di terima oleh tuan Antonio apalagi dari lawan jenis.


Sehingga pelayan itu menaruh puding nya di hadapan Anindita karena dia pikir Anindita adalah rekan bisnis dari tuan Antonio sama dengan para rekan bisnisnya yang lain yang sering mengobrol dan membicarakan bisnis di restoran tersebut karena restoran ini yang paling tuan Antonio sukai.


Maka dari itu setiap kali ada partner kerja nya entah yang di dalam negeri atau luar negeri, dia selalu merasa bahwa restoran itu adalah tempat yang tepat karena restoran tersebut memiliki ruang makan VIP di dalam nya dan siapapun bisa menyewa ruangan tersebut agar bisa mengobrol lebih serius bersama klein juga rekan kerjanya yang lain.


"Ini aku belikan puding yang lebih banyak untuk mengganti yang sebelumnya, ayo makan jangan sia-siakan kebaikanku karena aku tidak pernah sebaik ini pada siapapun" ucap tuan Antonio sambil menggeser mangkuk berisi banyak puding tersebut.


Anindita yang mihat puding itu sangat banyak awalnya dia merasa sangat senang dan ingin segera menyantap puding tersebut karena dia sudah tahu rasanya sangat enak dan begitu cocok di lidahnya tetapi dia tidak ingin memakannya lagi sebab yang dia inginkan bukanlah puding baru tersebut dia hanya tidak senang karena tuan Antonio merampas makanan yang tengah dia nikmat sebelumnya dan dia tidak bisa memaafkan hal tersebut dengan mudah.


Apalagi masuk pada bujukan yang dilakukan oleh tuan Antonio saat ini, sehingga Anindita menolak pemberian dari tuan Antonio tersebut dan dia segera menggeser kembali puding tersebut dengan pelan untuk menjauh sedikit darinya.


"Tidak usah, aku sudah tidak menginginkannya lagi" ucap Anindita sambil menggesernya segera.


"Aku sangat ingin puding yang cantik itu" batin Anindita yang menangis karena sebenarnya dia sangat menginginkan puding yang sangat menggugah seleranya tersebut.


Tuan Antonio yang sama sekali tidak memahami Anindita dia justru malah menyuruh pelayan untuk membawa pergi puding tersebut karena Anindita sudah menolaknya, bahkan tuan Antonio sama sekali tidak melihat reaksi yang di keluarkan oleh Anindita ketika pelayan itu kembali mengambil puding tersebut dan benar-benar membawanya pergi dengan cepat saat itu.


"Baiklah jika kau memang tidak menginginkannya, pelayan bawa kembali puding ini aku berikan saja pada kalian atau kalian bisa membuangnya" ucap tuan Antonio kepada pelayan tersebut.


Namun diam-diam tuan Antonio memberikan kode lewat sebuah catatan kecil pada pelayan tersebut yang isinya hanya di ketahui oleh tuan Antonio sendiri juga pelayan itu saja, pelayan tersebut segera pergi membawa puding tersebut setelah tuan Antonio menyuruhnya untuk pergi.


Sedangkan Anindita benar-benar merasa sangat kesal dan membuat mood dalam dirinya seketika menjadi rusak dan sangat hancur, dia benar-benar merasa sangat kesal dan menjadi semakin kesal kepada tuan Antonio karena dia sama sekali tidak mengerti dengan perasaan wanita sedikit pun saat itu.


"Dasar manusia robot yang tidak memiliki hati, aaahhh bodoh sekali aku berharap dia akan memahami wanita, seharusnya tadi aku langsung memakan puding itu saja, sekarang malah aku yang menjadi rugi dan menyesal aishhh...dasar pria sialan ini" gumam Anindita di dalam hatinya dengan perasaan kesal tidak karuan.


Dia pun menikmati makanan lain disana dengan lahap tapi wajahnya terus menunjukkan ekspresi yang datar dan tatapan tajam yang sangat kesal kepada tuan Antonio sebab dia telah gagal mendapatkan puding yang sangat dia impikan tersebut.

__ADS_1


"Eughh....eughh...jika bukan karena aku lapar, aku juga tidak akan tetap berada disini, aku sudah pergi sejak tadi jika aku tidak lapar benar-benar menjengkelkan, aku ingin segera pergi dari sini, malas sekali melihat wajahnya yang datar tanpa merasa bersalah sedikitpun seperti itu" batin Anindita semakin kesal sambil terus saja menusuk daging yang tengah dia nikmat bersama tuan Antonio saat itu.


Anindita melampiaskan emosi yang dia rasakan pada makanan yang tengah dia nikmat saat itu dia juga tidak bisa memalingkan pandangannya ke arah lain, dia terus menatap tajam ke arah tuan Antonio dengan hatinya yang terus bergemuruh penuh dengan emosi, juga tangannya yang sibuk memotong daging dengan kesal dan kasar saat itu.


__ADS_2