TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Rencana Ben dengan Anindya


__ADS_3

Ben juga diam-diam selalu memperhatikan Anindya yang terlihat semakin menjadi-jadi, dia sudah berkali-kali memperingati Anindya agar tidak melakukan hal seperti ini, dan mengkhianati perjanjian dirinya bersama dengan Anindita secara perlahan seperti ini.


Karena Ben saat itu tidak berhasil mencari tahu keberadaan Anindita, dia hanya memiliki satu cara yakni meyakinkan Anindya yang asli agar mau kembali pada tempatnya semula dan mengakhiri semua hal yang tidak masuk akal ini.


Tapi begitulah Anindya yang sudah terlanjur begitu menikmati semua kemewahan dalam hidup yang seharusnya tidak menjadi milik dirinya saat itu, dia tidak bisa menghentikannya dan tidak bisa kembali ke tempat yang dia benci selama hidupnya.


Bahkan hari ini dimana Ben sudah beberapa hari mengusahakan mencari keberadaan Anindita yang asli dia tetap tidak berhasil dan malah menemukan ponsel milik Anindita saja di pinggir jalan tempat terakhir kali yang di lewati oleh Anindita dan dimana tuan Antonio melemparkan ponsel tersebut ke jalanan.


Ben yang merasa cemas dan dia sangat menyayangi Anindya dia tidak bisa terus diam saja seperti ini, sore itu dia kembali mendatangi Anindya ke kediaman Anindita yang sangat besar dan terlihat begitu mewah dia juga menyelidiki mengenai keluarga Anindita yang ternyata ibunya adalah seorang mantan model terkenal di negara tersebut dimana saat ini pada masa tuanya ibu Kasih tersebut memiliki perusahaan yang bergerak dalam bisnis real estate atau perhotelan, bisnisnya sangat berkembang pesan karena identitas dirinya yang sejak remaja memang sudah menjadi seorang model terkenal juga keluarganya yang sudah kaya raya sejak dulu, serta rumah yang di tinggali oleh mereka semua saat itu adalah rumah pemberian khusus dari kakek neneknya Anindita dimana rumah itu selalu di turunkan kepada putra putri mereka secara bertahap dari waktu ke waktu, meski sering mendapatkan banyak renovasi tetapi tata letak dan tempat berdirinya rumah tersebut sama sekali tidak pernah berubah.


Ben berhasil mendapatkan semua informasi tersebut dari internet yang tidak sengaja dia temukan saat itu ketika tengah mencari media sosial milik Anindita.


Kini Ben mengetahui bahwa Anindita bukan putri orang kaya biasa, sehingga dia sangat mencemaskan Anindya jika saja suatu saat nanti semua kebohongan yang dia buat akan terbongkar dan semua orang pasti akan mencari keberadaannya atau bahkan memberikan dia hukuman yang sangat berat.


"Gawat, Anindya harus mengetahui semua ini, dia harus kembali ke tempat yang seharusnya dia berada" gerutu Ben dan segera membawa ponsel miliknya pergi menuju kediaman Anindita untuk menemui Anindya saat itu.


Sesampainya disana Ben sengaja menunggu dulu di luar hingga mobil yang di masuki oleh ibu kasih keluar dari rumah tersebut, setelah melihat sebuah mobil melaju keluar dari gerbang tinggi tersebut dia segera masuk dan mulai menelpon Anindya menggunakan ponsel milik Anindya sendiri dimana Anindya akan mengira bahwa orang yang menghubungi dia saat itu adalah Anindita.


Tapi sayangnya ketika mendapatkan panggilan tersebut Anindya langsung menutup panggilannya dan menaruh kembali ponselnya dengan kesal.


Dia sama sekali tidak ingin berbicara apapun dengan Anindita padahal dia bisa sampai seperti ini berkat kebaikan dari Anindita sendiri, tetapi dengan mudahnya dia melupakan semua itu hanya karena kini sudah bisa menikmati harta dan kebahagiaan yang semu di dalam tempat yang bukan untuknya.


Tetapi Ben tidak kehabisan akal dia mengirimkan banyak sekali pesan spam kepada Anindya dengan beberapa ancaman dan semua hal yang bisa membuat Anindya merasa takut juga panik saat itu.


"Aku ada di bawah keluarlah jika kau masih ingin tinggal di rumahku, atau aku akan membongkar semuanya" isi pesan dari Ben yang di baca oleh Anindya saat itu.


Dia sangat kaget ketika mengetahui Anindita yang asli sudah ada di depan pintu rumahnya di mana Ben juga mengirimkan potret pintu rumah kediaman Anindita tersebut, Anindya benar-benar merasa sangat kesal dan emosi dia menggerutu keras sambil berjalan keluar dari kamarnya dan segera pergi untuk menemui Anindita.


"Sialan bagaimana bisa dia mengancam aku seperti ini, aku harus membuat dia tutup mulut!" Gerutu Anindya merasa sangat emosi saat itu.


Tetapi betapa kagetnya dia ketika membuka pintu rumah tersebut dan yang berdiri di hadapannya adalah Ben, pria yang sangat dia cintai dan orang yang menemani dia sejak kecil selama ini.


"Ben?....kenapa kau ada disini dimana Anindita, apa dia datang bersamamu?" Tanya Anindya dengan wajah paniknya saat itu.


"Ya dia datang denganku tetapi aku sudah menyuruhnya pergi" balas Ben yang sengaja membohongi Anindya saat itu, agar semua rencananya dapat berjalan dengan lancar.


Anindya terlihat sangat lega dan menghembuskan nafas yang begitu besar saat itu, sampai dia segera menarik tangan Ben dan membawanya ke taman yang ada di samping rumah tersebut, dimana tempat itu adalah tempat paling aman untuk mereka berbicara dan tidak akan di ketahui oleh pelayan di rumah tersebut ataupun oleh omanya yang masih tertidur di kamar saat itu.


"Aahhhh...syukurlah kau menyuruhnya pergi aku hampir mati ketakutan saat mengetahui dia datang ke rumah ini, tapi untuk apa kau juga datang menemuiku lagi?" Ucap Anindya yang merasa penasaran saat itu.


"Tentu aku ingin membawamu kembali pada ayahmu Doni" balas Ben yang membuat Anindya sangat kesal.


"Ben ...ayo ikut aku, akan aku jelaskan semuanya kepadamu agar kau mengerti apa yang sebenarnya aku inginkan" ucap Anindya sambil langsung saja menarik tangan Ben dengan kasar dan membawa dia ke taman samping rumah.


"Anindya cukup, kau tidak bisa terus seperti ini lihatlah aku sudah menemukan informasi yang sangat penting mengenai Anindita dan keluarganya, kau akan dalam bahaya seandainya mereka mengetahui apa yang sudah kamu lakukan" ucap Ben kepadanya dengan menunjukkan berita dan informasi yang dia dapatkan dari internet sebelumnya.


Anindya yang melihat Ben menunjukkan semua itu lewat ponselnya dia langsung saja merampas ponsel milik Ben tersebut dan membaca semua informasi yang tertera disana, tidak bisa di pungkiri Anindya sendiri merasa sedikit takut ketika melihat semua informasi tersebut, tetapi dia masih belum bisa menyelesaikan semua ini.


"Ben apakah informasi ini sungguhan?" Tanya Anindya dengan wajahnya yang sedikit cemas saat itu,


"Iya.. Anindya maka dari itu aku sangat mencemaskanmu, kau bisa tinggal denganku daripada tinggal di tempat ini" ucap Ben kepada Anindya dan memegangi tangannya dengan lembut dan mengelusnya.


"Tidak Ben...aku tidak.mungkin pergi denganmu begitu saja, jika aku pergi dari sini, maka keluarga Anindita akan mencarinya kemana-mana, dan itu akan menjadi semua ini semakin rumit, aku juga belum menyelesaikan semua yang seharusnya aku cari tahu dari mereka" balas Anindya yang menolaknya dengan langsung menarik kembali tangannya yang di genggam oleh Ben saat itu.

__ADS_1


Ben langsung mengerutkan kedua alisnya dia tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Anindya terhadapnya dan hal apa lagi yang harus di cari tahu oleh Anindya tentang keluarga Anindita tersebut.


Ben pun segera bertanya kembali pada Anindya karena dia merasa sangat penasaran dengan hal tersebut.


"Anindya hal apa lagi yang perlu kamu cari tahu dari mereka, bukankah aku sudah menunjukkan semua informasi mengenai mereka kepadamu, kau mau mencari apa lagi?" Tanya Ben kepadanya dengan wajah yang di tekuk.


"Ben...bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu, jika aku mencurigai bahwa ibu Kasih adalah ibu kandungku, kau lihat Anindita dan aku memiliki banyak sekali persamaan meski karakter kami sangat bertolak belakang, tetapi ibu Kasih selalu marah saat aku mencoba menanyakan mengenai ayah dari Anindita ibu Kasih selalu terlihat murung dan menatap tajam denganku, dia tidak pernah bisa menceritakan atau memberitahu aku siapa ayah dari Anindita sebenarnya" ujar Anindya sambil terlihat sedih dan murung ketika membicarakannya.


"Begitu juga dengan Oma dan semua orang yang ada di dalam rumah ini, aku sudah mencari tahu di internet tetapi semua hasilnya nihil aku tidak pernah menemukan informasi apapun tentang siapa ayahnya Anindita sebenarnya, dan aku ingat bahwa ayah pernah berkata kepadaku disaat dia mabuk dahulu" tambah Anindya lagi melanjutkan ucapannya.


#FlashBack


"Tok.....tok...tok.... Anindya buka pintunya Anindya...." Teriak Doni kepada putrinya yang saat itu masih duduk di bangku SMP.


Doni selalu pulang larut malah dan terus saja kembali dalam keadaan mabuk seperti itu dengan memeluk dirinya sendiri dan sering kali menangis dalam setiap malam setiap kali dia mabuk berat.


Saat ini Doni kembali pulang dalam keadaan yang kacau setelah dia menyelesaikan pekerjaannya mencuri hasil maha karya orang lain lagi.


Dan Anindya yang selalu harus membukakan pintu untuk ayahnya yang pemabuk berat tersebut, Anindya sangat kesal sekali dan dia sebenarnya sangat tidak ingin membukakan pintu untuk ayahnya saat itu, tetapi karena sang ayah terus menggedor pintu rumahnya dengan keras itu membuat Anindya tidak bisa tertidur dan dengan perasaan kesal juga terpaksa Anindya harus pergi membukakan pintu untuk ayahnya.


Tidak di sangka ketika dia membukakan pintu ayahnya Doni langsung saja memeluk dia dengan tubuh yang bau dengan bir yang sangat menyengat.


Anindya yang tidak tahan dengan bau bir selalu saja harus menutup hidupnya dan memapah ayahnya hingga ke sofa saat itu.


"Ayah ...kenapa kau terus saja minum seperti ini, apakah kau sudah bosan hidup, jika kau tidak mau hidup dengan benar lebih baik kau mati saja dan jangan merepotkan aku lagi!" Bentak Anindya kecil yang saat itu sangat kesal juga emosi terhadap ayahnya.


"Anindya....hahah...kau malah menyuruh ayah mati, jika saja adikmu yang aku bawa saat itu dia mungkin akan lebih menghormati aku tidak seperti dirimu yang tidak tahu diuntung, aishh...anak tidak berguna!" Ucap Doni dalam keadaan mabuk dan masih mau meminum bir di tangannya saat itu.


Anindya yang mendengar itu dia langsung kaget dan membelalakkan matanya dengan sangat lebar, sang ayah yang selama ini tidak pernah memberi tahu dia mengenai siapa ibunya dan dimana ibunya sekarang, tiba-tiba saja membicarakan tentang seorang adik kepadanya, tentu itu membuat seorang Anindya merasa sangat penasaran saat itu.


Doni yang memang tengah mabuk berat dia sama sekali tidak sadar atas apa yang dia ucapankan saat itu sehingga tanpa sengaja dia membongkar masalah putrinya Anindya yang memiliki seorang adik bersama dengan ibunya.


"Iya...kau memiliki seorang adik yang sangat cantik sekali, dia terlihat sama denganmu dan dia adalah gadis yang aktif dia baik tidak sepertimu yang membenciku, sayang sekali aku tidak bisa membawanya denganku karena ibumu yang sialan itu aaaarghhhh" ucap Doni membuat Anindya semakin penasaran.


Dia segera mendekati ayah ya dan memegangi tangan sang ayah berusaha untuk mencari tahu siapa nama adiknya dan dimana mereka tinggal saat itu.


Namun sayangnya saat itu Anindya sudah terlambat ayahnya yang sangat mabuk berat tidak sanggup lagi untuk membuka matanya dan dia terus saja langsung terpejam hingga langsung tertidur dengan lelap saat itu juga.


"Ayah... Siapa adikku siapa namanya dan dimana mereka sekarang? Ayah ayo katakan kenapa kau malah tertidur, bangun ayah!" Teriak Anindya sambil menggoyangkan tangan sang ayah dan berusaha untuk membangunkan ayahnya saat itu.


Tapi sayangnya Doni sudah benar-benar tertidur dengan lelap sehingga semua hal yang di lakukan oleh Anindya tampak seperti sia-sia saat itu, karena ayahnya sudah benar-benar kehilangan kesadaran dan tertidur dengan lelap itu membuat Anindya merasa sangat gemas dan begitu kesal sampai dia hanya bisa memendam semua kekesalan itu hingga saat ini.


#Flashback Off


Semenjak kejadian itu setiap kali Anindya berusaha untuk menanyakan mengenai adiknya sang ayah selalu menyangkalkanya dan mengetakan bahwa ucapan ayahnya saat itu hanyalah sebuah gurauan yang tidak jelas dan selalu saja mengancam Anindya agar tidak mencoba mencari keberadaan ibunya tersebut sebab Doni selalu mengatakan bahwa ibunya sudah mati, padahal jelas sekali dia mengatakan bahwa ibu dan adiknya tersebut masih hidup sampai saat itu, itulah yang membuat Anindya merasa curiga dengan Anindita yang terlihat begitu mirip dengan dirinya dalam bentu fisik maupun segala tentang dirinya.


Ben yang mendengarkan penjelasan dari Anindya dia juga tersentak sedikit kaget ketika mendengarnya dan mereka pun mulai bekerja sama untuk mengungkit semua kecurigaan yang di rasa oleh Anindya.


"Baiklah Anindya jika memang kamu sangat penasaran dengan hal itu aku akan membantumu untuk mencari tahu semuanya, tetapi saat ini sebenarnya Anindita tidak bersama aku, dia di bawa oleh Antonio yang kejam dan aku sama sekali tidak mengetahui dimana mereka berada saat ini, sehingga aku tidak bisa meminta Anindita untuk melakukan tes DNA denganmu untuk memastikan apakah kalian memiliki hubungan darah atau tidak" ucap Ben kepada Anindya saat itu.


"Tidak perlu dengan Anindita, kenapa kita tidak melakukannya dengan ibu Kasih, bukankah jika aku memiliki hubungan darah dengan ibu Kasih maka sudah pasti Anindita juga adikku" balas Anindya saat itu.


Ben termenung memikirkannya dan dia mengira apa yang di ucapkan oleh Anindya benar, dan dia pun segera mengangguk mengerti saat itu.

__ADS_1


"Benar juga, kalau begitu kamu harus mendapatkan rambut dari ibu Kasih tersebut karena tidak mungkin kita akan mengambil darahnya" ucap Ben kepada Anindya.


Anindya langsung mengangguk menyetujui hal tersebut dan persetujuan diantara mereka terbentuk, kini mereka sudah menentukan rencana sendiri untuk mencari tahu tentang hal tersebut, sampai tidak lama suara teriakkan Oma yang memanggil Anindya langsung membuat Ben harus pergi dari sana secepatnya begitu pula dengan Anindya sendiri yang segera masuk kembali ke dalam rumah lalu segera menemui omanya tersebut.


"Sayang....apa kamu ada di kamar?" Teriak Oma saat itu membuat Anindya yang berada di luar sangat kaget mendengarnya.


"Astaga...itu suara Oma, Ben sebaiknya kau pergi dari sini aku akan memberikan rambutnya nanti padamu, ayo cepat pergi dari sini sebelum orang rumah mengetahui keberadaanku," ucap Anindya sambil mendorong pelan tubuh Ben saat itu,


"Anindya jaga dirimu baik-baik, jangan membuat ulah yang bisa membuat dirimu di curigai oleh siapapun," ucap Ben memberikan peringatan kepadanya,


"Iya...kau sana pergi dan temukan Anindita saja aku akan mengurus semuanya disini dengan sangat baik, ayo pergi" ucap Anindya yang merasa cemas sambil berlari masuk ke dalam rumah.


Ben bisa pergi dari sana dengan secepatnya dan kembali masuk ke dalam mobilnya segera meninggalkan tempat itu, sedangkan Anindya sendiri langsung menemui Oma nya yang saat itu baru saja hendak memegangi pintu kamarnya.


"Oma...sedang apa Oma di depan kamarku?" Tanya Anindya sengaja berpura-pura.


Oma langsung berbalik dan melihat Anindya berdiri di belakangnya, meski terlihat agak aneh karena Anindita terlihat seperti lebih tinggi sekarang dan wajahnya tidak pucat seperti biasanya lagi, bahkan dia tidak sering banyak mengeluh mengenai penyakitnya dan sekarang berada di luar kamar di waktu sore seperti ini, itu cukup membuat sang Oma merasa aneh dan heran.


"Sayang kemana kamu pergi sore-sore seperti ini, bukankah biasanya kamu selalu bermain game dan duduk di meja belajar di jam segini?" Tanya Oma dengan menatap sedikit menyelidik saat itu.


Anindya langsung saja mencari alasan yang masuk akal untuk membalas pertanyaan dari sang Oma saat itu, dia berusaha keras untuk menyembunyikan semua yang sebenarnya terjadi kepada dia saat itu.


"Ahhh....itu tadi aku haus dan berniat pergi mengambil minuman tetapi karena mendengar teriakkan Oma aku jadi lupa dengan minumanku jadi langsung pergi kemari dan melihat Oma sudah berdiri di depan kamarku" ucap Anindya yang merasa alasan itu sudah menjadi alasan yang tepat untuk dia ucapankan.


Namun disisi lain Oma semakin merasa curiga dengan jawaban yang di berikan oleh cucuk kesayangannya tersebut, sebab sebelumnya cucuknya tersebut sama sekali tidak pernah mengambil minuman sendiri ke bawah dan dia selalu berteriak sangat kencang memanggil pelayan atau menelpon bibi di dapur untuk membawakannya ke kamar dia.


Tetapi saat itu Oma sama sekali tidak mengatakan kecurigaan yang dia rasakan karena dia masih mengira bahwa wanita Yanga da di hadapannya Aat itu memang sangat mirip sekali dengan Anindita, jadi menurut dirinya tidak mungkin jika itu bukan cucuknya.


"Begitu ya, Oma pikir kamu pergi ke luar" balas omanya saat itu.


"Tidak Oma angin di luar sedang kencang di jam segini aku lebih suka di dalam kamar" balas Anindya sambil tersenyum kepada Oma nya.


Oma yang merasa heran dia justru malah melupakan niat awalnya memanggil Anindita saat itu sehingga dia yang lupa dengan apa yang akan dia katakan kepada cucuknya memituskan untuk pergi saja dari sana dan membiarkan cucuknya tersebut untuk beristirahat atau melanjutkan kembali apa yang tengah dia kerjakan saat itu.


"Ya sudah Oma aku masuk dulu ya" balas Anindya sambil masuk dengan perasaan sedikit cemas ke dalam kamarnya lalu segera menutup pintu kamar secepatnya bahkan disaat Oma nya masih berdiri di luar kamar saat itu.


Oma merasa sangat heran dan semakin mencurigai Anindita yang saat ini, sebab semuanya terlihat cukup aneh untuk omanya tersebut.


"Ehhh...kenapa anak itu menutup pintunya, aku kan belum pergi, apa dia sudah melupakan etika di rumah ini? Ada apa dengannya" gerutu Oma merasa sangat penasaran saat itu dan begitu mencurigainya.


Tetapi Oma tersebut langsung saja menghempaskan semua kecurigaannya tersebut dan memilih untuk pergi dari sana dan berhenti berpikir mengenai hal-hal yang aneh lagi tentang cucuknya tersebut.


"Ahhhh....sudahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja, anak itu memang selalu saja membuat Oma dan ibunya merasa cemas dengan dia, semoga dia selalu di berikan kesehatan oleh semesta" ucap sang Oma sambil segera pergi dari sana.


Di dalam kamar Anindya sendiri terus saja bersandar di balik pintu dan dia berusaha menguping gerutuan yang di ucapkan oleh sang Oma di balik pintu kamarnya tersebut, dia juga baru bisa mengusap dadanya dengan pelan juga menghembuskan nafas dengan lega setelah mendengar suara langkah kakinya yang berjalan pergi dengan perlahan dari depan pintu kamarnya saat itu.


"Aaahhhh....untunglah aku masih sempat pergi dan menghindari Oma, jika tidak matilah aku dia sudah mencurigai aku sekarang, aku harus lebih berhati-hati dengan nenek itu" gerutu Anindya mengusap dadanya.


Dia segera pergi merebahkan diri di ranjang dan mulai memikirkan cara untuk bisa mengambil rambut milik ibu Kasih agar bisa dia berikan dan lakukan tes DNA kepada Ben nantinya.


"Hua.... bagaimana aku bisa mengambil rambutnya? Tidak mungkin jika aku harus berpura-pura kesurupan lalu menjambak rambutnya bukan? Aahhh tidak...tidak...itu terlalu ekstrim dan aneh, mereka mungkin akan semakin mencurigai aku" gerutu Anindya memikirkannya caranya saat itu.


"Atau apakah aku harus berusaha untuk mengambil rambutnya disaat dia tidur ya? Tetapi bagaimana jika dia bangun nantinya? Ahhh aku harus bagaimana yah" tambah Anindya memikirkannya lagi.

__ADS_1


Dia terus berguling di ranjangnya dan terus memikirkan cara untuk mengambil rambut dari ibu Kasih supaya dia bisa mendapatkan rambutnya tersebut dan agar dia bisa menemukan cara yang lebih baik juga tidak ekspresi yang bisa membahayakan identitas dirinya saat ini.


__ADS_2