TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Kabur Diam-diam


__ADS_3

Hingga akhirnya setelah sudah mendapatkan beberapa kali bentakkan dan desakkan dari Anindita penjaga itupun akhirnya mau mengeluarkan suara kepadanya saat itu, walau dia terdengar begitu gugup sekali dan terus bicara dengan tertunduk lesu sekali.


"Ma..ma...maafkan saya nona, tetapi saya tidak bisa mengatakan apapun jika tuan besar tidak memberikan izin, permisi nona," ucap penjaga itu yang ternyata malah tetap saja setia kepada tuan Antonio dan tetap tidak ingin mengatakan apapun kepada Anindita saat itu, dia malah memilih menghindar dari Anindita dengan cepat.


Pada awalnya Anindita pikir panjang itu akan berubah pikiran dan mau memberitahunya tentang apa yang sudah terjadi sebenarnya sampai merasa menatap aneh seperti itu kepada dia, namun rupanya malah jawaban yang mengecewakan seperti itu yang dia dapatkan dan malah membuat Anindita semakin emosi di buatnya.


Hal tersebut tentu saja membuat Anindita merasa semakin kesal dan dipenuhi dengan emosi, dia terus menatap dengan mengerutkan wajahnya dan merasa tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh penjaga pria disana.


"Aishh ...sialan kenapa mereka semua sangat menurut sekali sih dengan si Antonio sialan itu, apa dia se menakutkan itu di mata kalian hah!" Bentak Anindita kepada mereka semua yang ada disana saat itu.


Semua karyawan yang ada disana langsung memalingkan pandangan dari Anindita dan mereka segera menghindari tatapannya dengan berpura-pura sibuk sendiri dengan pekerjaan mereka disana.


Namun sayangnya meski Anindita mengamuk disana tetap saja dia tidak mendapatkan jawaban atas apa yang ingin dia ketahui saat itu dan karena tidak bisa mendapatkan apapun Anindita tidak memiliki pilihan lain lagi selain pergi dari perusahaan itu secepatnya, dia mulai berpikir untuk kabur dari genggaman Antonio, dia melihat keberadaan supir yang mengantar dia ke perusahaan Antonio sebelumnya, dan Anindita dengan cepat keluar sambil mengendap-ngendap berusaha untuk mengelabui supir tersebut agar dia bisa kabur dari sana dan tidak perlu kembali lagi pada Antonio nantinya.


"Haha...bagus dia terlihat lengah ini kesempatan emas untukku," gerutu Anindita merasa bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk dia melarikan diri.


Akhirnya Anindita berhasil melewati supir penjaga yang mengantarkan dia dari rumah tuan Antonio menuju perusahaan, dan kini justru malah tuan Antonio yang menemukan Anindita hendak naik ke sebuah taxi saat itu.


Dia langsung saja menatap sinis dari kejauhan karena merasa kesal melihat Anindita yang berani-beraninya mencoba untuk kabur di belakang dia saat itu, bahkan dengan sengaja tuan Antonio segera menghubungi penjaganya yang sangat ceroboh itu dan langsung saja penjaga tersebut bergegas mencari keberadaan Anindita, namun sayangnya Anindita sudah lebih dulu masuk ke dalam taxi yang dia hentikan sehingga supir itu tidak bisa menahannya dan tuan Antonio segera menahan sang supir tersebut disaat dia hendak mengejar Anindita.


Dia menghentikan mobilnya tepat di hadapan sang supir yang berteriak untuk menghentikan Anindita dengan panik saat itu.


"Eehhh...nona...nona..jangan pergi, nona tunggu nona!" Teriak penjaga itu begitu kencang.


"Hei...jangan kejar dia, kau kembali saja ke rumah aku yang akan mengejarnya," ucap tuan Antonio saat itu.


"Baik tuan," balas supir penjaga tersebut.


Penjaga tersebut mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan oleh tuan Antonio saat itu, dia pun segera pergi dari sana dan membiarkan tuan Antonio saja yang pergi mengejar Anindita saat itu.


"CK...mau kabur kemana manusia itu, apa dia sudah benar-benar bosan tinggal denganku!" Gerutu tuan Antonio yang terus menahan emosi di dalam hatinya.


Sudahlah dia emosi karena Anindita tidak menganggap dirinya, dan sekarang dia malah di buat semakin emosi karena kelakuan Anindita yang malah mencoba melarikan diri darinya seperti itu.

__ADS_1


Saat itu Anindita pergi ke rumahnya dia ingin sekali bertemu dengan Anindya karena sekarang sudah lewat dari waktu yang di tentukan dari perjanjian mereka bertukar tempat selama ini, maka dari itu mendapatkan kesempatan bagus seperti ini Anindita memutuskan untuk kabur sekalian darinya.


Hingga sesampainya di depan kediaman dia yang besar dan mewah, Anindita hanya bisa berdiri di luar gerbang dari jarak yang cukup jauh karena dia tidak ingin ada siapapun yang mengetahui kedatangannya dia juga takut akan di ketahui oleh Oma dan ibunya.


"Hmm....aku sangat merindukan rumah ini, sudah berbulan-bulan lamanya aku tidak datang ke sini, apa saja yang sudah berubah di dalam sana, bagaimana keadaan ibu dan Oma ya?" Gerutu Anindita terlihat sedih dan tertunduk dengan lesu.


Ketika dia melihat kediamannya yang pernah dia tinggali sejak kecil hingga dewasa dan kini dia sendiri tidak bisa masuk ke dalam, rasanya itu sangat menyedihkan bagi Anindita, dia bahkan tidak bisa menghubungi Anindya karena ponsel yang dia pegang sudah hancur di buang begitu saja oleh tuan Antonio saat itu.


Sedangkan disisi lain tuan Antonio juga berada di sana dia terus memperhatikan Anindita yang memandangi rumah besar di sebrang dirinya dalam waktu yang cukup lama, hingga Ben yang hendak menemui Anindya tiba disana dan tidak sengaja dia melihat sosok Anindita berdiri di sebrang jalan saat itu.


Meski awalnya Ben merasa sangat kaget dan sampai membelalakkan mata hingga mengucek matanya sendiri untuk memastikan apakah orang yang dia lihat saat itu sungguh Anindita atau bukan.


"Ehh...apakah itu sungguh Anindita? Kenapa dia bisa tiba-tiba muncul di sini, aku harus menemui dia." Ucap Ben sambil segera menghampiri Anindita dan berhenti tepat di hadapannya saat itu.


Bukan hanya Ben saja yang kaget tetapi Anindita juga merasakan hal yang sama ketika melihat Ben keluar dari dalam mobil selain kaget Anindita juga merasa sangat senang seakan kini dia mendapatkan pencerahan dan jalan keluar dari semua yang yang membuat dia bingung dan merasa sedih karena tidak bisa menemui Anindya juga tidak bisa menemui Oma dan ibunya.


"Ben..... Apa ini sungguh kau?" Tanya Anindita kepadanya.


"Ben jangan bahas masalah itu dulu, tolong bawa aku masuk ke dalam untuk menemui Anindya, kontrak diantara kita sudah benar-benar selesai, ini sudah waktunya dia pergi dari rumahku, dan kembali saja ke rumah ayahnya," ucap Anindita kepada Ben saat itu.


"Tapi Anindita bagaimana dengan masalah tuan Antonio, apa dia sudah mengetahui semua ini?" Tanya Ben kepada Anindita.


"Dia sudah tahu jika aku bukan Anindya, jadi aku rasa dia juga tidak akan mencari Anindya sekalipun dia kembali ke rumahnya yang dulu bersama ayahnya, atau dia juga bisa tinggal denganmu saja, aku yakin Antonio juga tidak akan mempermasalahkan hilangnya aku, aku bukan orang yang penting baginya." Balas Anindita yang langsung terlihat sedih ketika mengatakan bahwa dia bukan orang yang penting bagi tuan Antonio.


Ben pun mengangguk dan dia segera membukakan pintu untuk Anindita, mereka langsung masuk ke dalam rumah itu dan Ben yang sudah di kenal oleh Oma juga ibu Kasih tentu saja dia bisa masuk dengan mudah dan menemui Anindya yang masih di anggap sebagai Anindita saat itu.


Sedangkan disisi lain tuan Antonio yang melihat Anindita malah masuk ke dalam rumah tersebut bersama seorang pria tentu itu membuat dia marah besar dan langsung memotret rumah tersebut lalu mengirimkannya pada sekretaris Seno agar mencari tahu siapa pemilik rumah tersebut dan orang yang tinggal di dalamnya.


Setelah itu baru lah tuan Antonio pergi dari sana meski dengan perasaan yang dipenuhi emosi juga terus menggerutu kesal.


"Anindita awas saja kau, aku tidak akan pernah melepaskanmu dengan mudah, dan tidak ada siapapun yang berhasil melepaskan diri dariku selama ini," gerutu tuan Antonio sangat emosi sekali.


Dia mulai membalikkan mobilnya dan pergi dari sana sangat cepat, sedangkan Ben sendiri yang bisa masuk ke sana dengan mudah karena saat ibu Oma dan ibu Kasih tengah tidak berada di rumah, jadi dia bisa membawa Anindita masuk ke dalam tanpa rasa cemas sedikitpun.

__ADS_1


Dia mulai menekan bel rumah tersebut beberapa kali tetapi Anindita yang memang tinggal disana dia tidak perlu menunggu orang lain membukakan pintu bagi dia dari dalam, hanya tinggal menempelkan tangannya saja ke sensor maka pintu sudah bisa terbuka dengan mudah, dan dia langsung mengajak Ben untuk segara masuk.


"Aishh...lama sekali dia membukakan pintu, sudahlah minggir biar aku saja yang buka," ucap Anindita sambil mulai membukanya dengan sangat mudah.


Bahkan Ben sendiri saja kaget dan terperangah melihatnya, dia sendiri tidak pernah terpikirkan bahwa membuka pintu rumah Anindita bisa secanggih itu bak berada di depan pintu sebuah kantor rahasia atau tempat rapat lainnya.


"Wahhh..hebat sekali, kenapa tadi aku tidak terpikirkan ya?" Ucap Ben sambil tersenyum lebar mengatakannya.


Anindita juga hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis dan dia segera saja masuk ke dalam dengan begitu santai pergi ke kamarnya dan Ben tidak lupa untuk menutup kembali pintunya, saat hendak menaiki tangga kebetulan sekali saat itu Anindya hendak pergi ke lantai bawah jadi mereka bertemu dan saling tatap satu sama lain dimana Anindya berada diatas tangga saat itu sedangkan Anindita berada di lantai bawah dengan Ben. Melihat hal tersebut Anindya sangat kaget dan langsung saja dia berlari menuruni tangga dengan cepat lalu langsung memeluk Anindita sambil memanggilnya adik dan itu membuat Anindita merasa kaget plus heran sampai dia mengerutkan kedua alisnya dengan kuat sekali.


"Adik?....aaahhhh aku sangat merindukanmu, kenapa kamu baru datang sekarang aku sudah menunggu kedatangannya sejak lama," ucap Anindya kepada Anindita sambil memeluknya begitu erat sekali saat itu.


Anindita yang menerima pelukan seperti itu dia jelas sangat tidak nyaman dan dia langsung mendorong Anindya dengan pelan sambil menyuruh dia untuk melepaskan pelukan tersebut dari dirinya yang sangat mengganggu bagi dirinya sendiri.


"Aaa...aaa..ahh..hei..ada apa denganmu, lepaskan aku Anindya apa kau gila jangan memelukku begini hei," ucap Anindita yang memang selalu tidak bisa diajak seperti itu.


"Ohh... Anindita aku sangat merindukan kamu makanya aku tidak bisa menahan diri, bagaimana keadaanmu selama tinggal di rumahku, apa kau sudah bisa pergi ke banyak tempat?" Tanya Anindya yang membuat Anindita merasa sangat emosi untuk membicarakannya.


Dia langsung saja berbalik dan pergi mengambil air dingin di lemari es lalu duduk di meja tamu saat itu sambil merebahkan tubuhnya di sofa merasa sangat lelah entah mental ataupun fisiknya saat ini, yang membuat dia merasa sangat frustasi dan sedih sekali saat ini.


"Huaa...apanya yang pergi kemana saja, aku bahkan tidak bisa menikmati semua waktu yang banyak itu, aku hanya berada di dalam rumah Antonio si manusia kejam tanpa hati nurani itu, bahkan kau tahu aku hampir dijadikan santapan peliharan buasnya, gila bukan?" Ucap Anindita menceritakan hal tersebut kepada Anindya.


"Apa? Memangnya tuan Antonio itu semenyeramkan itu ya? Dan hewan buat seperti apa yang kamu maksud?" Balas Anindya yang kembali balik bertanya pada Anindita saat itu.


Anindita mulai meneguk minuman yang dia ambil sebelumnya lalu dia menaruh botol minum itu dengan cukup keras ke atas meja sampai membuat Ben dan Anindya yang duduk di hadapannya sangat kaget mendengar suara botol yang di hentakkan oleh Anindita dengan sangat kencang sampai airnya sedikit muncrat ke luar.


"Trak......" Suaranya yang kencang sekali.


"Asal kalian tahu dia itu memelihara sebuah macan yang sangat ganas dan memiliki postur tubuh tiga sampai empat kali lipat dari tubuhku ini, macan itu sangat ganas sekali, dia selalu kelaparan dan aku hampir mati di santap oleh macam menyebalkan itu, satu lagi aku tidak pernah bisa pergi ke manapun selama aku tinggal dengannya, walaupun kemarin dia sempat membawa aku bersenang-senang sebentar di luar, tapi pagi ini saat aku pergi ke kantornya untuk meminta dia memberikan aku ponsel yang sempat aku tolak darinya, agar aku bisa menghubungimu, dan yang aku dapatkan justru malah memergoki si Antonio sialan itu dengan wanita seksi di dalam ruang kantornya sendiri, aaarrghhkkk..aku sangat kesal sekali hari ini!" Balas Anindita mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya dengan ekspresi yang di dominasi kekesalan serta kebencian yang mendalam pada tuan Antonio saat itu.


Anindya dan Ben hanya mendengarkannya bersama dengan membuka mata mereka sangat lebar, sebab sangat kaget dan merasa tidak karuan saat mendengar semua cerita yang di ungkapkan oleh Anindita tanpa henti serta melihat ekspresi wajah Anindita yang terus berubah-ubah ketika dia berbicara mengenai tuan Antonio yang menyiksa dia untuk membersihkan rumahnya namun dia tidak menurut dengan semua yang di katakan oleh tuan Antonio itu sendiri, tetapi dia masih saja menerima Anindita untuk menjadi calon istrinya hanya karena sebuah cincin yang melekat di tangannya saat ini.


Dan tidak hanya itu Anindita benar-benar menceritakan semua perjalanan yang dia hadapi ketika dia harus tinggal serumah dengan manusia dingin dan kejam seperti Antonio itu, dia juga mengatakan bahwa orang-orang di kantor tuan Antonio sudah mengenali dirinya sebagai nona tuan Antonio, tetapi mereka masih tetap hanya mendengarkan Antonio seorang saja.

__ADS_1


__ADS_2