
Dia terus saja merasa cemas tidak karuan selama mencari informasi tersebut, karena dia sendiri sudah mengetahui sebegara kejam dan seganas apa seorang Antonio selama ini, dan lebih parahnya dia juga tidak pernah pandang bulu kepada siapapun entah perempuan ataupun laki-laki dia selalu senang untuk memperbudak mereka sesuai dengan apa yang dia inginkan dan selalu melakukannya hingga dirinya puas tanpa memperdulikan perasaan orang lain yang menjadi korbannya.
"Anindita aku mohon bertahanlah aku akan segera menyelamatkan mu aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan kau" ucap Ben sambil terus menganalisis data yang dia dapatkan saat itu.
Ben tidak menyerah begitu saja meski dia pada awalnya kehilangan jejak Anindita dan tidak bisa menemukan mobil yang di kemudikan oleh tuan Antonio tapi saat itu dia segera kembali ke kediamannya dan mulai melacak keberadaan Anindita sebab dia tahu bahwa Anindita masih menggunakan ponsel Anindya yang ternyata ponsel itu adalah hadiah dari Ben ketika Anindya lulus sekolah SMA dengan nilai terbaik kala itu.
Sedangkan disisi lain Anindita sendiri justru malah terlihat tenang dan baik-baik saja tanpa dia ketahui bahwa Ben tengah mengkhawatirkan dirinya sebab dia saat itu dibawa pergi dengan paksa oleh tuan Antonio.
Meski sebenarnya Anindita sangat tidak suka dan membencin Antonio karena gara-gara tertangkap dan harus berurusan dengan pria sepertinya keinginan dia untuk menjalani hidup yang bebas menjadi terhambat, padahal Anindita sendiri tahu waktu hidupnya terus berkurang dalam setiap harinya, dan kini dia menjadi lebih sering merasakan sakit di bagian uluh hatinya saat itu.
Saat ini Anindita duduk dengan perasaan kesal dan tidak menentu di dalam mobilnya dia, melihat ponselnya yang berdering dan menunjukkan panggilan telpon dari Ben saat itu, Anindita langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat senang dan sebuah senyuman lebar terpancar jelas di wajahnya saat melihat panggilan telpon tersebut.
Saat itu Anindita baru saja hendak mengangkat panggilan telpon dari Ben namun sayangnya dengan cepat tuan Antonio justru langsung merampas ponselnya dengan cepat karena secara tidak sengaja rupanya tuan Antonio melihat tulisan kontak yang melakukan panggilan tersebut kepada Anindita saat itu.
Dia langsung saja merampas ponsel Anindita dengan cepat dan kasar lalu dia langsung membuang ponsel tersebut keluar jendela mobilnya begitu saja sampai membuat Anindita merasa sangat kaget saat itu.
Dan tanpa Anindita sadari bahwa saat itu sebenarnya tuan Antonio tidak sengaja melihat sebuah cip kecil yang terlihat seperti alat pelacak berwarna merah berkedip di belakang cas ponsel miliknya, tuan Antonio yang tidak ingin mengambil cip itu dia pun justru malah merampas ponselnya dan tidak ada waktu untuk dia memeriksa hal tersebut karena dia tidak ingin Anindya mengetahui hal tersebut sehingga pada akhirnya tuan Antonio memutuskan untuk melemparkan ponselnya juga keluar jendela begitu saja untuk membuat pelacakan itu tidak berhasil, sebab dia sangat takut jika di ponsel itu benar-benar alat pelacak.
"Ehh ..eh ..ehh...kau mau kemanakan ponselku, hey....aaahhhh...kenapa kau malah membuangnya aishh....ponselku" ucap Anindita sambil melihat ponselnya yang benar-benar sudah di lempar ke luar mobil dengan sembarangan oleh tuan Antonio saat itu.
Anindita merasa sangat kesal dan dia ingin sekali marah kepada Antonio saat itu tapi melihat wajah Antonio yang hanya menatap ke depan tanpa rasa bersalah sedikitpun juga ekspresi wajahnya yang terus saja terlihat datar saja, itu membuat Anindita semakin kesal dan dia merasa sangat jengkel di buatnya.
"CK....kau benar-benar bersikap seenaknya kepadaku, tidak kah kau tahu bahwa ponsel itu satu-satunya benda yang bisa aku pakai untuk berkomunikasi dengan wanita gi...." Ucap Anindita yang saat itu hampir saja keceplosan mengungkapkan masalah Anindya yang sebenarnya.
Karena dia sangat marah dia hampir saja membongkar rahasia besar itu, dia benar-benar buruk dalam menyimpan rahasia dan berbohong, langsung saja Anindita segera memalingkan pandangannya ke arah berlawanan dan bersikap tenang untuk tidak memarahi Antonio lagi karena dia takut dia akan ketahuan sebab menyimpan sebuah rahasia yang sangat besar tentang dirinya dan Anindya yang sesungguhnya.
"Astaga....bodoh....bodoh...kenapa aku bisa mengatakan hal seceroboh itu, aishh....untung saja aku masih sempat mengeremnya, dan ponsel itu aaahhh apa dia akan marah kepadaku ketika dia tahu ponselnya hilang begitu saja" batin Anindita merasa sangat cemas dan tidak karuan.
Sudahlah dia merasa cemas dengan ponsel milik Anindya yang di lemparkan ke luar oleh tuan Antonio begitu saja, di tambah masalah baru sudah muncul lagi karena tuan Antonio ternyata mulai mencurigai Anindita saat itu, dan dia langsung saja menanyakan kepada Anindita mengenai ucapan dia yang sebelumnya tidak selesai.
__ADS_1
"Heh...kenapa tadi kau tidak melanjutkan ucapanmu, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku yah?" Ucap tuan Antonio dengan menatap sekilas kepada Anindita menggunakan kedua matanya yang begitu tajam dan cukup menyeramkan.
Anindita yang melihat itu dia langsung saja merasa sangat gugup dan tidak tahu harus menjawab apa kepada tuan Antonio saat itu, tapi walau begitu dia masih harus menjawab tuan Antonio sebelum tuan Antonio akan benar-benar marah kepadanya dan membentak lagi, sebab saat itu ketika Anindita hanya diam saja dan tidak bisa menjawabnya, tuan Antonio langsung saja mendesak dia untuk menjawab pertanyaan dari ya dengan cepat saat itu, padahal sebenarnya Anindita sendiri bukannya tidak ingin menjawab pertanyaan darinya itu, tetapi Anindita justru merasa sangat kebingungan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada tuan Antonio saat itu, sebab dia tidak mungkin akan mengatakan yang sebenarnya kepada orang yang tidak bisa di percaya seperti Antonio yang begitu kejam seperti ini.
"Aahhh ... bagaimana cara aku menjawabnya, dia benar-benar membuat aku kesulitan saat ini" batin Anindita yang menjadi semakin takut juga sangat gugup saat itu.
"Sudahlah....cepat kau jawab atau aku akan membuang mu sama seperti ponsel milikmu yang aku lempar keluar tadi" ancam tuan Antonio yang terus saja mengancam aku dengan ancaman yang cukup menakutkan saat itu.
Tapi sayangnya tidak bisa melawannya saat ini, meski aku sebenarnya sangat ingin untuk langsung membentak dia dan memarahinya habis-habisan hingga aku bisa benar-benar puas untuk meluapkan emosi yang bergejolak di dalam hati serta pikiranku saat itu.
Aku benar-benar sangat membenci dia dan begitu banyak menyimpan dendam ketika melihat wajahnya yang sangat menguji kesabaran itu, aku berusaha untuk mencari alasan yang paling masuk akal kepadanya agar dia tidak menyimpan kecurigaan lagi kepadaku saat itu.
"Tadi itu aku hanya asal bicara ponsel itu memang sangat berharga bagiku kau tahu aku orang miskin jadi semua hal sangatlah berharga untukku karena aku tidak bisa mendapatkan semua itu semudah dirimu, dan seharusnya kau tidak sampai melemparkan ponselku keluar seperti tadi" ucapku membalasnya dengan menjelaskan sedikit hal kepadanya agar kedepannya dia tidak melakukan hal seenaknya seperti tadi lagi terhadap Anindita.
Anindita pikir ucapan yang dia katakan dengan niat menyindirnya dia akan mengerti maksud diri Anindita sendiri saat itu, namun ternyata dia sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan yang Anindita katakan kepada dia sebelumnya, dia justru malah semakin merendahkan Anindita dengan mengatakan bahwa dia bisa mengganti ponsel untuk Anindita saat itu juga.
"Tenang saja aku bukan seorang pecundang, aku akan mengganti kerugianmu pada ponsel itu, bahkan dengan ponsel yang jauh lebih mahal dan lebih bagus dari ponsel usang yang sudah melewati batas pasar tersebut" ujar ya begitu saja.
Anindita tidak bisa menahan kesabaran dalam dirinya lagi, dia merasa kini tuan Antonio sudah benar-benar di luar batas normal, sehingga Anindita langsung saja membalas dia dan membentaknya sekeras yang dia bisa.
"Cukup Antonio, aku tahu kau memiliki segalanya, uangmu tidak terhitung dan sangat melimpah aku juga tahu kau bisa mendapatkan apapun di dunia ini, apalagi hanya menggantikan ponsel jelek milikku itu, tetapi satu hal yang harus kamu tahu, kenangan dan semua hal berharga yang ada di dalam ponsel itu tidak dapat kamu beli dengan semua uang yang kau miliki karena aku jelas tidak akan pernah memberikan semua kenangan berharga yang ada di dalamnya kepada siapapun!" Bentak Anindita dengan nafas yang menderu dan dia menatap begitu tajam ke arah wajah tuan Antonio saat itu.
Sedangkan Antonio sendiri hanya dia terperangah kecil ketika melihat gadis di sampingnya yang terkenal dengan begitu baik dan lembut justru bisa membentak dia dengan sekeras itu dan berbicara hampir mirip seperti seorang pria di bandingkan seorang wanita yang lembut dan feminim.
Tuan Antonio juga merasa sangat heran sampai dia mengerutkan kedua alisnya sebab dia tidak menduga bahwa seorang Anindya bisa bersikap sekasar itu terhadapnya dan bisa berbicara tanpa rasa takut sedikitpun juga begitu lantang kepadanya begitu mudah.
"Heh.... Berani sekali kau berbicara membentakku sekeras itu, apa kau lupa siapa aku ini hah?" Ucap tuan Antonio yang langsung menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah mall yang sangat besar saat itu.
"Kenapa....kenapa aku harus tidak berani untuk marah dan membentak dirimu, kau juga sama-sama manusia sepertiku, kau tidak akan memakannya atau melemparkan aku ke dalam kandang macanmu itu karena aku calon istrimu, jadi kenapa aku harus takut dengan manusia sepertimu" balas Anindita dengan begitu berani karena dia sangat marah saat itu.
__ADS_1
Memang setiak kali dia emosi dan marah semua rasa takut dan kecemasan di dalam dirinya akan hilang dengan seketika dan dia tidak akan berbikir sedikitpun untuk membentak dan memarahi siapapun yang sudah berani membuatnya marah, sekalipun itu seorang tuan Antonio yang sangat kejam dan memiliki segalanya.
Bukannya marah atau kesal tuan Antonio justru malah terlihat tersenyum kecil dan dia menutup mulutnya dengan salah satu tangan terlihat seperti menahan senyumannya dengan cepat saat itu.
"Heh ..kenapa kau tersenyum seperti itu, apa kau tidak mendengar ucapanku, kau itu sangat kejam dan tidak memiliki hati kau sama sekali tidak akan mengerti betapa banyak hal berharga yang ada di dalam ponsel itu!" Bentak Anindita lagi mengatakannya kepada Antonio sambil melipatkan kedua tangannya di dada.
"Ayolah tentu saja aku tersenyum dan merasa sedikit senang karena akhirnya kau mengakui aku juga sebagai calon suamimu bukan, ayo mengakulah denganku bahwa kau juga setuju aku menikahi dirimu" balas tuan Antonio yang justru malah menggoda Anindita saat itu sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Anindita membuat dia merasa sangat kesal dan langsung saja membelalakkan matanya sangat kaget.
Anindita yang baru sadar bahwa dia pernah mengatakan hal itu sebelumnya dia langsung saja menatap dengan heran dan langsung menyangkal hal tersebut dengan sekuat dirinya.
"Hah...tidak...aku tidak pernah mengatakan bahwa aku setuju untuk menikah denganmu, memangnya kau dengar aku mengatakan semua itu, jangan mengada-ada" balas Anindita menyangkalnya.
Namun Antonio yang memang sangat licik dan begitu cerdik diam-diam dia justru malah merekam semua pembicara yang dikatakan oleh Anindita barusan kepada dirinya, lalu dia mengambil ponselnya tersebut dan menyalakan rekamannya sampai suara Anindita yang mengatakan bahwa dia mengaku sebagai calon istri dari Antonio terdengar begitu jelas dari rekaman ponsel tersebut.
Anindita yang yang mendengarnya dia langsung saja terperangah sangat kaget, namun lebih parahnya dia justru merasa sangat kaget ketika tahu bahwa tuan ternyata Antonio mereka semua ucapannya di dalam mobil tersebut.
"Bagaimana apa bukti ini tidak cukup jelas untukmu, apa kau mau aku memutarnya lagi?" Ujar tuan Antonio sambil menatap dengan senyuman kecil yang begitu membuat Anindita semakin membencinya lebih banyak lagi saat itu.
"Aishhh... bagaimana bisa kau merekam semua itu, apa jangan-jangan kau memang selalu melakukan hal tersebut secara diam-diam ketika berbicara denganku yah?" Ucap Anindita yang merasa sangat tidak terima,
"Itu tidak disengaja dan ini hanya terjadi saat ini saja, tapi kau jangan mencoba mengalihkan pembicaraan dan menyalahkan aku, kau sama sekali belum menjawab pertanyaanku kepadamu yang lebih dulu aku ajukan, sekarang ayo jawab bahwa kau benar-benar mengakui aku sebagai suamimu" ucapnya mendesak Anindita sambil mendekatkan wajahnya ke arah Anindita saat itu.
Anindita yang merasa terdesak dia langsung segera mundur dengan perlahan sampai dia terhantuk ke pintu mobil dan sudah tidak bisa kabur kemana lagi, sedangkan tuan Antonio sudah mendekati dia semakin dengan dengan wajahnya membuat Anindita merasa sangat gugup dan takut, dia bahkan menekan salivanya sendiri dengan susah payah saat itu sampai akhirnya tidak ada pilihan lain selain mengatakannya dan mengakui semuanya kepada tuan Antonio.
"Aahhh....iya iya aku memang mengakuinya tadi tapi itu terjadi karena aku sedang sangat marah dan untuk membalas ucapan darimu juga!" Balas Anindita sambil mendorong tubuh tuan Antonio dengan sekuat tenaganya sampai akhirnya dia kini bisa merasakan lebih banyak ruang di mobil tersebut.
Tuan Antonio juga terlihat tersenyum kecil ketika melihat Anindita akhirnya bisa mengakui semua itu, dan dia segera keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Anindita saat itu.
"Ayo keluar!" Ucap tuan Antonio yang lebih mirip seperti tengah memerintah,
__ADS_1
"Tidak mau, untuk apa aku keluar" balas Anindita yang memang tidak membutuhkan untuk keluar dari mobil, sebab dia merasa tidak ada urusan apapun untuk pergi ke mall di malam hari seperti itu.