TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Merajuk


__ADS_3

Mendengar ucapan dari tuan Antonio yang mengajaknya untuk pergi makan di luar tentu saja Anindita sangat senang bahkan saking senangnya dia langsung mendadak bisa berlari menaiki tangga dengan cepat bak seperti orang yang sudah sangat fit dan sembuh dari sakitnya, padahal semalam dia sangat lemas dan wajahnya masih terlihat agak pucat.


Seorang Anindita memang sering lupa diri jika dia tengah bahagia seperti saat ini, dia bahkan terus mengeluarkan semua pakaian yang ada di dalam lemarinya tapi ujungnya dia tetap memilih sebuah pakaian berwarna hitam yang dipadukan dengan tas hitam kecil yang ada disana, dia segera turun dengan cepat dan menemui tuan Antonio, dimana saat itu Anindita mengenakan gaun hitam pendek diatas lututnya dan tuan Antonio baru pertama kali melihat rambut Anindita di urai dengan ditata rapih olehnya sehingga memberikan kesan yang berbeda dari apa yang biasa dia lihat sebelumnya pada diri Anindita selama tinggal di rumahnya selama ini.


Jadi saat melihat Anindita yang memanggil namanya sambil berjalan menuruni tangga dan melemparkan senyuman manis padanya, tentu saja tuan Antonio sangat terpesona oleh kecantikan Anindita saat itu, bahkan dia sampai tidak bisa mengedipkan matanya dengan mulut terperangah terbuka cukup lebar sampai Anindita berjalan di hadapannya saat itu juga.


"Antonio.." ucap Anindita memanggil namanya.


"Wahhh...ternyata dia bisa jadi cantik juga." Batin tuan Antonio memikirkan saat pertama kali menoleh ke arah Anindita saat itu.


Anindita mempercepat jalannya dan segera saja dia berdiri di hadapan tuan Antonio sambil terus memanggil nama tuan Antonio yang masih saja berdiri termenung tidak melakukan apapun saat itu, yang membuat Anindita sangat gemas dan sedikit kesal kepadanya.


"Antonio bagaimana apakah pakaian ini bagus untukku? Apa cocok di tubuhku? Eehh..Antonio, kau kenapa malah terus menatapku begitu? Antonio apa kau sehat?" Ucap Anindita yang mulai meninggikan suaranya karena merasa kesal dalam menghadapi Antonio saat itu juga, sampai akhirnya tuan Antonio segera tersadar dengan cepat.


"Ohhh...iya...kau tetap jelek meski mengenakan apapun, sudahlah ayo cepat pergi sebelum keburu terlalu siang, aku juga harus ke kantor tidak bisa terus mengurusi manusia ribet sepertimu terus menerus." Ucap tuan Antonio sambil berjalan melewati Anindita secepatnya saat itu.


Dia berjalan melewati Anindita lebih dulu samb.merapihkan jas yang dia kenapa dan berpura-pura memegangi dasi hitamnya itu, sedangkan Anindita sendiri hanya cemberut merasa sangat kesal karena dia yang malah di tanggapi dengan ejekan oleh tuan Antonio disaat dirinya sudah sangat antusias menanyakan mengenai penampilannya malam ini mengenakan gaun hitam yang cantik di matanya tersebut.


"CK...lebih bagus aku yang memakai gaun cantik ini, dari pada dia yang selalu memakai pakaian formal seperti itu pada setiap tempat benar-benar sangat membosankan sekali," gerutu Anindita sambil menatap kepergian punggung tuan Antonio yang mulai keluar dari rumah yang besar nan mewah tersebut.


Anindita segera berjalan cepat menyusulnya dan dia segera masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh tuan Antonio terlebih dahulu sebelumnya, dia juga sangat senang dan sudah bisa menghempaskan kekesalannya saat diberikan ejekan oleh tuan Antonio di dalam rumah beberapa menit yang lalu.


Kini wajah Anindita justru sudah berubah sangat bersemangat bahkan setelah memasang sabuk pengaman di tubuhnya, dia langsung mengacungkan tangan dan berteriak di dalam mobil dengan suara cukup kencang untuk mengatakan agar mobilnya cepat dijalankan oleh tuan Antonio saat itu juga.


"Ayo jalan!" Teriak Anindita membuat tuan Antonio terperanjat kaget mendengar suaranya yang sangat kencang dan agak cempreng itu.


"Aishhh..untuk apa kau berteriak seperti itu, memangnya kau pikir aku ini tuli apa? Mana suaramu seperti kaleng rombeng lagi, aahhh untuk telingaku tidak kebas karenamu." Ucap tuan Antonio sambil mengusap telinganya kala itu.

__ADS_1


Anindita hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan dari tuan Antonio dan dia sama sekali tidak perduli meski tuan Antonio sudah berbicara dengan nada kesal seperti itu padanya, karena bagi Anindita dia sudah mulai terbiasa pada sifat tuan Antonio yang memang selalu berbicara dengan nada menyebalkan seperti ini dan tatapan sinis yang tajam kepada setiap orang, tidak terkecuali kepada dirinya juga.


Jadi kalo ini Anindita sudah tidak mau ambil pusing lagi dengan hal tersebut.


"Ehehe...tidak papa dong, ini adalah hal yang menyenangkan dan yang selalu ingin aku lakukan makanya aku sangat bersemangat, pokonya kau harus sering membawaku pergi ke luar entah berbelanja, main, jalan-jalan ataupun makan seperti yang akan kita lakukan sekarang, aku ingin mengetahui bagaimana rasanya terbebas dan bisa pergi ke tempat manapun yang aku mau dan belum pernah aku datangi selama ini, aku sangat ingin melakukan semua aktivitas layaknya orang sehat Antonio, sekalipun itu hanya bisa aku lakukan satu kali seumur hidupku." Balas Anindita sedikit redup ketika berbicara mengenai hidupnya tersebut.


Namun begitulah Anindita, dia tidak pernah mau menunjukkan rasa sakit dan kesedihan di dalam dirinya sehingga dia bisa menyembunyikan semua rasa pilu itu dengan sangat cepat, hanya dalam beberapa saat saja dia sudah bisa berubah kembali ceria dan sangat bersemangat untuk segera pergi makan di luar bersama tuan Antonio kali ini.


Tuan Antonio segera melajukan mobilnya, dia yang selama ini tidak pernah terlalu bersemangat dan hidupnya hanya disibukkan dengan pekerjaan sana sini dia mulai bisa menikmati hidupnya dengan sedikit santai dan waktu luang yang dia miliki untuk menjaga Anindita seperti hati ini, ketika berada di samping Anindita, tuan Antonio bisa melupakan semua beban yang ada di kepalanya, entah itu masalah pekerjaan ataupun hal di luar lainnya yang bisa mempengaruhi kinerja otaknya tersebut, dia selalu bisa untuk melupakan semua itu setiap kali berada di samping Anindita atau hanya melihat wajah cerianya, dengan begitu tuan Antonio sudah bisa merasa berenergi kembali dan bisa menikmati hidupnya tanpa ada beban yang dia pikirkan saat itu.


Bahkan untuk pertama kalinya tuan Antonio bisa tersenyum meski hanya sedikit saja dan Anindita juga tidak sempat melihat hal tersebut, karena dia terus saja fokus menatap ke depan bahkan sesekali dia menatap ke samping, kelakuannya itu bak seperti anak kecil yang baru akan diajak jalan-jalan.


"Hei... Anindita jangan mengeluarkan kepalamu pada jendela seperti itu, ayo cepat duduk dengan baik, aishh..apa kau mau terserempet kendaraan lain ya." Ucap tuan Antonio sambil menarik tangan Anindita saat itu.


Tapi Anindita terus saja berusaha keras ingin melihat pemandangan jalanan di luar sana, karena dia sama sekali belum pernah diajak berpergian dengan ibu atau omanya sekali pun berpergian dia selalu duduk di belakang dan tidak bisa membuka jendela karena alasan debu juga angin dari luar yang terlalu kuat, sehingga kali ini karena bersama tuan Antonio, Anindita merasa dirinya bisa melakukan semua dengan bebas, sesuai dengan apa yang dia inginkan tanpa harus takut dengan peraturan dan sebagainya.


"Huaa ..tidak! Aku ingin menikmati angin di luar haha..ini sangat menyenangkan." Ucap Anindita yang masih saja keras kepala.


"Ee..ee...eeeh...Antonio turunkan! Ayo cepat turunkan, kepada kau malah menaikkan kaca mobilnya, Antonio!" Teria Anindita dengan kesal menatap dengan wajah cemberut ke arah tuan Antonio saat itu.


Namun tuan Antonio sama sekali tidak menggubris Anindita dan dia terus fokus menatap ke depan tidak menjawab apapun yang diucapkan oleh Anindita yang terus merengek meminta agar dia menirukan kaca mobilnya saat itu.


"Antonio apa kau tuli hah? Kau sengaja melakukan ini bukan, Antonio aku bilang turunkan kacanya, aku ingin melihat ke luar sana dan menikmati angin yang menerpa wajahku, Antonio!" Rengek Anindita terus memintanya namun tuan Antonio tetap saja tidak mendengarkan apalagi menggubris ucapan dan permintaan dari Anindya saat itu.


Tentu saja hal tersebut membuat Anindita merasa sangat kesal dan jengkel karena semua ucapannya sama sekali tidak ditanggapi oleh tuan Antonio yang pada akhirnya dia hanya bisa mengalah, pasrah dan hanya bisa melipat kedua tangannya di depan dada juga memasang wajah kesal dan bibir cemberut yang tebal.


"CK...kau benar-benar tidak menggubrisnya, aku membencimu Antonio!" Bentak Anindita untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Hingga sesampainya di sebuah restoran mewah Anindita bahkan tidak mau bicara lagi pada tuan Antonio karena dia masih merasa sangat kesal atas perlakuan yang diberikan oleh tuan Antonio kepada dirinya saat di perjalanan tadi.


Tuan Antonio yang hendak keluar dari mobil dia mengurungkan niatnya karena melihat Anindita yang masih saja kepala dia terus saja duduk cemberut dan menatap ke depan dengan perasaan sangat kesal. Meski sudah agak lama tapi Anindita masih belum bisa memaafkan tuan Antonio sebab bukan masalah larangannya tetap cara tuan Antonio yang tidak menggubris ucapannya membuat Anindita benci dengan hal itu.


Dia sangat tidak menyukai orang yang selalu mengabaikan ucapan orang lain terutama ucapan darinya, begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh tuan Antonio kepada dia sebelumnya.


"Hei...ayo cepat keluar, bukannya tadi kau sangat senang untuk pergi makan diluar, aku tahu perutmu sudah lapar, ayo kita pergi kesana." Ucap tuan Antonio mengajaknya.


Anindita terus saja diam, bahkan dia sama sekali tidak melirik sedikitpun kepada tuan Antonio yang bicara dengannya mengajak dia untuk keluar dari mobil saat itu.


Anindita sengaja melakukan hal tersebut untuk memberikan pelajaran kepada tuan Antonio bahwa diperlakukan seperti itu tidaklah enak, dan sangat menyebalkan, bukan karena sifat kekanak-kanakan, tetapi hal itu adalah bentuk dari karakter dan attitude yang harus di perlihatkan untuk menghargai orang lain maupun lawan bicaranya.


Tua Antonio menghembuskan nafas dengan pelan dan dia masih mencoba untuk membujuk Anindita lagi dengan cara yang lebih lembut dan suara yang lebih rendah kepadanya, karena dia pikir Anindita tidak merespon ucapannya karena ajakan dan nada suaranya yang terlalu keras.


"Anindita apa yang kau inginkan, aku akan memberikan apapun untukmu, tali sekarang ayo kita keluar dulu, bukan hanya kamu yang lapar tapi aku juga merasakan perutku perlu untuk diisi oleh makanan, jadi tolong mengerti aku, ayo kita turun sekarang." Ucap tuan Antonio yang membuat emosi Anindita semakin memuncak saat itu.


Dengan cepat Anindita langsung membalikkan wajahnya melirik ke arah tuan Antonio dengan tatapan mata yang dia sipitkan dan ucapan yang sangat menohok membalikkan semua perlakuan dan apa yang dilakukan tuan Antonio kepada dia sebelumnya.


"Hah? Apa kau bilang, kau enak sekali meminta agar aku memahami perutmu yang lapar itu, lalu bagaimana denganmu? Kau sama sekali tidak bisa memahami aku ataupun berusaha sedikit saja untuk mengerti posisiku, kau merasa tidak nyaman dan tidak enak ketika aku abaikan bukan? Lalu kenapa kau mengabaikan ucapanku kepadamu saat aku meminta kau untuk tidak menutup jendelanya, padahal kau bisa melarang aku dengan cara lain yang lebih baik bukannya langsung tiba-tiba menutupnya begitu saja, apa kau pikir itu bagus, apa kau pikir kau memahami aku dengan semua itu? Kau jangan pernah berharap aku akan memahami dirimu jika kau sendiri tidak bisa melakukan semua itu untukku." Balas Anindita dengan segala emosi yang sudah dia pendam sejauh ini.


Mendengar balasan dari Anindita membuat tuan Antonio langsung berpikir dan dia mulai mengerti apa yang dikatakan oleh Anindita barusan, dia mulai ingat dengan apa kesalahannya dan menyadari semua hal itu, sehingga meski tuan Antonio memiliki gengsi yang tinggi untuk meminta maaf pada orang lain, tapi kali ini, untuk pertama kalinya dan hanya dia katakan satu kali saja, dia berani meminta maaf pada Anindita dan mengakui kesalahannya sendiri dihadapan Anindita secara langsung, sehingga hal itu cukup membuat Anindita kagum dan menjadi luluh dengannya.


Karena dengan beraninya seseorang meminta maaf dan mengakui kesalahannya sendiri kepada orang lain, maka itu sudah memperlihatkan dan menunjukkan bahwa orang tersebut adalah orang yang bertanggung jawab atas semua yang dia lakukan dan dampak yang dia timbulkan.


"Huuhh..oke... Anindita aku tahu maksudmu, aku juga tahu dan memahaminya jika aku telah salah dalam melakukan hal seperti itu kepadamu, sekarang aku minta maaf aku akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi kepadamu, dan perlu kamu tahu, aku melakukan semua itu karena aku tidak ingin sesuatu terjadi denganmu, aku hanya tidak tahu bagaimana cara untuk mengatakannya, jadi hanya itu yang bisa aku lakukan." Balas tuan Antonio kepadanya.


Anindita langsung tersenyum kecil dan dia dengan segera menahan kebahagiaan di dalam hatinya saat melihat tuan Antonio berani meminta maaf dengan cara yang meren seperti itu, di tambah Anindita juga merasa senang karena secara tidak langsung tuan Antonio sudah mengatakan bahwa dia mencemaskan Anindita saat itu.

__ADS_1


"Ekmm...baiklah aku juga sudah lapar, ayo kita pergi makan." Balas Anindita yang sudah bisa merubah ekspresi dan mood di dalam dirinya dengan begitu cepat.


Tuan Antonio juga langsung tersenyum lebar dan dia mengangguk sambil segera pergi keluar dari mobilnya dengan cepat, sambil membukakan pintu untuk Anindita secepatnya.


__ADS_2