
Anindita juga langsung kembali dengan sikapnya yang semula dia juga memang tidak sepenuhnya berakting ketika melakukan semua itu, dia memang bukan Anindya dan nyatanya meski sekuat tenaga dia berusaha untuk bersikap seperti Anindya yang banyak di sebutkan oleh semua orang tetapi dia tetap tidak bisa untuk menjadi orang lain, sebab dia juga memiliki karakter dirinya sendiri dan dia sangat senang juga bangga serta sangat percaya diri dengan karakter yang dia miliki dalam dirinya tersebut.
Dia justru merasa sangat tidak nyaman disaat dia harus menjadi seperti Anindya atau orang lainnya sedangkan dia harus mengubur sikap aslinya.
Lagi pula Anindita pikir saat ini dia tidak berada dihadapan orang-orang yang dekat dengan Anindya sebelumnya, sehingga dia pikir dirinya bisa bebas untuk bersikap saat itu.
Karena tuan Antonio sudah mengatakan yang sebenarnya dan ternyata tuan Antonio juga mengetahui rencana yang di buat oleh Anindita saat itu sehingga Anindita sendiri langsung hanya bersikap kembali normal walaupun sebenarnya dia sendiri merasa sangat tidak nyaman dengan hal itu tapi pada awalnya dia pikir dengan dia berkipa menjengkelkan dan membuat tuan Antonio membenci dirinya maka dia akan bebas dan bisa kembali ke rumah Doni secepatnya.
Namun nyatanya berhadapan dengan seorang tuan Antoni sama sekali tidak semudah itu bahkan membelabui dia harus dengan cara yang sangat rapih karena sampai sejauh tidak ada yang pernah berhasil dalam mengelabui seorang tuan Antonio dalam segi apapun entah itu dalam bisnis, pertemanan ataupun yang lainnya.
Anindita langsung saja segera masuk ke dalam mobil tuan Antonio dengan cepat dan dia sama sekali tidak memperdulikan hal apapun lagi.
"Baiklah aku menyerah aku tidak akan membuatmu jengkel lagi, tidak perduli apapun ayo cepat aku sudah masuk apa lagi yang kau tunggu" balas Anindita dengan cepat saat itu.
Dengan cepat tuan Antonio langsung saja menutup pintunya dan segera saja dia segera berjalan memutar dengan cepat dan masuk ke dalam kemudi dia yang sebelahnya saat itu.
Mobil mulai hendak di nyalakan oleh tuan Antonio saat itu tetapi melihat Anindita yang masih kesulitan memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya tuan Antonio pun langsung saja membantunya tanpa berkata-kata apapun sedikit pun.
Anindita yang kaget melihat tuan Antonio tiba-tiba saja datang mendekati dia seperti itu tentu saja dia sangat kaget dan langsung saja menahan tubuh tuan Antonio dengan kedua tangannya dengan kuat secepatnya.
"Hey...apa yang mau kau lakukan?" Tanya Anindita kepadanya dengan wajah yang menatap sangat heran dan sedikit takut saat itu.
Dia merasa sangat tegang dan sama sekali tidak bisa berkedip saat itu sebab melihat wajah tuan Antonio yang sangat dekat dengan posisi wajahnya saat itu bahkan Anindita sendiri bisa merasakan hembusan nafas dari tuan Antonio saat itu.
"Diam...aku hanya ingin membantumu dengan sabuk pengamannya" ucap tuan Antonio kepadanya saat itu.
Seketika Anindita pun langsung mengangguk dan dia baru saja bisa mengedipkan matanya dan berusaha untuk tidak bersikap se gugup sebelumnya saat itu.
"AA .AA..ahhh... Baiklah" balas Anindita dengan sedikit gugup.
Tuan Antonio langsung saja memakaikan sabuk pengaman pada Anindita dengan cepat dan dia kembali mulai melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat itu, sejak kejadian barusan Anindita masih merasa cukup canggung untukmbicara dan menatap ke arah wajah tuan Antonio sehingga dia terus saja merasa tegang melihat ke depan dengan wajahnya yang sangat panik dan tidak karuan saat itu.
Dia terus saja merasa jantungnya berdetak cukup kencang saat itu sampai dia mulai merasa tidak enak hati juga tidak tahu harus berbicara apapun kepadanya tuan Antonio untuk menghilangkan rasa gugupnya saat itu.
Sampai tidak lama kemudian tuan Antonio langsung memulai pembicaraan lebih dulu kepada Anindita saat itu.
Dan ternyata dia malah menanyakan kepada Anindita tentang apa yang dia ingin lakukan saat itu, padahal Anindita sendiri sama sekali tidak pernah meminta tuan Antonio untuk melakukan apa yang dia inginkan.
Bahkan pada awalnya Anindita pikir tuan Antonio akan membawanya ke kantor tempat tuan Antonio bekerja namun rupanya tidak seperti itu.
"Kemana tempat yang ingin kau datangi?" Tanya tuan Antonio secara tiba-tiba kepada Anindita saat itu.
Mendengar hal tersebut dari seorang tuan Antonio kepadanya tentu saja Anindita langsung melirik ke arah tuan Antoni dengan membalikan badannya dan menatap ke arah tuan Antonio dengan lurus sambil membelalakkan matanya dengan sangat lebar saat itu, dia sangat kaget dan tidak menduga orang seperti tuan Antonio yang sangat dia benci selama ini justru malah menanyakan hal seperti itu.
Dimana hal sebuah pertanyaan seperti itu adalah hal yang selalu ingin dia dengan dari orang lain untuk bisa menanyakan tentang apa yang dia inginkan, dan sekarang dia baru bisa mendengarkan pertanyaan seperti itu dari tuan Antonio dari orang yang sangat dia tidak sukai bukannya dari orang yang sangat dia cintai.
"Benarkah? Apa tadi aku tidak salah dalam mendengar, apa kau baru saja bertanya kemana tempat yang ingin aku datangi?" Tanya Anindita lagi kepada tuan Antonio untuk memastikan hal yang dia dengar sebelumnya saat itu.
"Iya memangnya kenapa denganmu, ayo jawab tidak mungkin kau tidak memiliki tempat yang ingin kau datangi bukan?" Balas tuan Antonio sambil fokus terus menyetir saat itu.
Anindita terus saja merasa sangat senang dan dia tidak bisa menahan senyuman di wajahnya saat itu sehingga dia langsung saja mengatakan sebuah tempat yang selalu ingin dia datangi selama ini tau belum bisa tersampaikan olehnya sebab penyakit yang dia derita dan kedua keluargaku kesayanganny dia yang selalu saja tidak memberikan izin kepadanya saat itu.
__ADS_1
"Cepat katakan tempat apa itu?" Tanya tuan Antonio kepadanya Anindita lagi saat itu,
"Aahh....itu aku ingin pergi ke sebuah taman hiburan, tapi apakah dalam musim seperti ini ada taman hiburan yang bukan? Ini bukan akhir pekan" balas Anindita sambil tertunduk lesu dan dia terdengar menghembuskan nafas dengan lesu.
Tuan Antonio hanya tersenyum kecil lalu dia langsung saja membelokkan mobilnya menuju sebuah taman hiburan yang dia pikir akan buka hari itu.
Sedangkan Anindita sendiri hanya bisa diam saja dia juga tidak mau berharap terlalu besar sebab sudah mengetahui lebih dulu bahwa taman hiburan biasanya buka hanyapada akhirnya pekan atau hari-hari libur lainnya.
Tuan Antonio sudah berusaha pergi membawa Anindita ke salah satu taman hiburan yang dia tahu tetapi sayangnya ketika sampai disana taman hiburannya sungguh tutup dan ada sebuah jadwal buka di depan gerbangnya tersebut.
"Tuan kenapa kau datang membawaku kemari, aku kan sudah bilang taman hiburan hanya buka saat akhir pekan atau harus libur panjang, di hari senin begini mana ada yang buka, apa kau bodoh ya?" Ucap Anindita yang keceplosan mengatai tuan Antonio bodoh.
Itu terjadi karena dia cukup kesal tuan Antonio masih terus mencoba pergi ke tempat lain yang terdapat taman hiburan padahal sudah beberapa taman hiburan yang dia datangi dan semuanya sama, tidak ada yang buka satupun karena memang itu bukanlah jadwal bukanya dan semua orang juga mengetahui tentang hal tersebut kecuali orang yang benar-benar tidak pernah datang dan tidak mengetahui tentang taman hiburan sedikit pun yang tidak tahu tentang jadwal tersebut.
Termasuk tuan Antonio ini yang masih saja ngeyel dan terus berniat ingin mencarikan taman hiburan untuk Anindita saat itu juga, sampai tidak lama kemudian ketika Anindita sudah membentaknya dan tidak sengaja telah mengatai dirinya bodoh, barulah tuan Antonio tersadar dan dia juga terlihat cukup kesal pada Anindita karena seakan semua perjuangan dia untuk membawa Anindita ke tempat yang ingin dia datangi tersebut sama sekali tidak di hargai oleh Anindita.
"Heh...apa kau seperti ini yah, setidaknya kau harus menghargai usaha yang aku lakukan aku sudah berusaha membawamu pergi ke taman hiburan karena aku merasa bersalah sudah membentakmu sebelumnya kenapa sekarang malah kau yang mengatai aku seperti itu?" Balas tuan Antonio dengan nada bicaranya yang cukup tinggi juga raut wajahnya yang menampakkan kekesalan mendalam saat itu.
Anindita hanya menatapnya dengan menaikkan kedua alisnya merasa sedikit heran pada awalnya karena melihat tuan Antonio terlihat seperti marah dengannya namun lama kelamaan disaat mereka sudah sampai di depan perusahaan milik tuan Antonio, Anindita barulah tersadar bahwa dia memang telah sedikit berlebihan kepada tuan Antonio juga sikapnya tersebut yang terlalu kasar karena sudah berani mengatai seorang tuan Antonio dengan sebutan bodoh seperti sebelumnya saat itu.
Walaupun sebenarnya saat itu Anindita hanya tidak sengaja saat mengatakannya dan dia terdorong untuk mengatakan itu sebab dia merasa sangat kesal dan emosi saat itu, tetapi dengan cepat Anindita sekarang sudah sadar dan dia mulai merasa sangat bersalah kepada tuan Antonio.
Tapi sayangnya terlihat jelas bahwa tuan Antonio sekarang sudah terlanjur kesal juga terlihat marah saat itu, dia terus saja memasang wajah datar yang sangat menyeramkan sambil langsung keluar dari mobil dengan membanting pintu mobilnya dengan keras bahkan tuan Antonio tidak menunggu Anindita yang berjalan tertinggal di belakang olehnya.
Sampai Anindita sendiri yang ketika baru saja turun dari mobil dia berteriak memanggil nama tuan Antonio dengan kentang bahkan tanpa kalimat tuan yang biasa di ucapkan oleh semua orang sebagai nama panggilan kepada tuan Antonio pada umumnya.
"Antonio.....apa kau mau meninggalkan aku, aku akan benar-benar pergi jika kau meninggalkan aku seperti ini!" Teriak Anindita mengancamnya saat itu.
Itu membuat Anindita semakin merasa tertantang dan kesal di buatnya sehingga dia kembali berteriak memanggil tuan Antonio lagi dan sebuah ancaman dia lontarkan kembali saat itu.
"Antonio aku tidak menggertakmu saja aku sungguh akan pergi, walaupun aku tidak tahu jalan aku tetap akan pergi, lihat saja nanti!" Teriak Anindita lagi.
Memang awalnya Anindita berniat untuk menggertak dan menakuti tuan Antonio saja tetapi sayangnya karena melihat tuan Antonio yang sungguh mengabaikan dia seperti itu, Anindita pun marah semakin besar dan dia benar-benar tidak perduli lagi dengan apapun sehingga dia langsung saja pergi dari sana.
Melakukan apa yang sudah dia katakan kepada tuan Antonio untuk menggertak tuan Antonio sebelumnya.
Anindita be benar-benar berjalan pergi meninggalkan wilayah kantor tersebut dan dia juga melihat Antonio sama sekali tidak datang untuk mengejar dirinya, dia sudah tidak memiliki ponsel dan dia tidak tahu jalan sama sekali karena jalanan disana sangatlah rumit sulit untuk Anindita mengingat jalan mana yang menuju rumah Doni atau rumah Antonio saat itu.
Dia seperti seseorang yang luntang lantung di jalanan tidak jelas, seperti seorang wanita yang tersesat tidak tahu arah jalan pulang, Anindita terus berjalan dengan kesal sambil terus menggerutu merutuki tuan Antonio dengan semua ucapan kasar yang bisa dia katakan agar emosi di dalam dirinya bisa tersalurkan dan dia bisa kembali bersikap tenang lagi tanpa adanya emosi yang menguasai dirinya saat itu.
"Aarrghhhh... Antonio sialan, sudah aku duga dia memang tidak benar-benar menyukai aku dia pasti hanya akan memanfaatkan aku untuk kepentingan dirinya saja, dan cincin ini eughhh kenapa cincinnya tidak mau lepas dari jariku ini cincin yang sangat menyebalkan!" Gerutu Anindita sangat keras dan begitu kesal saat itu.
Dia terus berusaha melepaskan cincin tersebut dari tangannya tetapi sayangnya dia sama sekali tidak bisa melepaskannya dan yang ada justru malah jari tangan dia yang lecet dan terasa sakit hingga tidak lama Doni yang saat itu tengah berada di dalam taxi dia tidak sengaja melihat putrinya Anindya berjalan di jalanan dengan wajah yang kusut sehingga dengan cepat Doni langsung.engehntikan taxi tersebut dan menghampiri Anindita secepatnya.
"Anindya sedang apa kau berjalan di jalanan seperti ini seorang diri, dimana tuan Antonio apa kau bersama dia atau hanya dengan bodyguardnya saja?" Tanya Doni samb terus mirip ke sekeliling saat itu.
Anindita yang melihat keberadaan sang ayah disana dia langsung saja memeluk tubuh Doni dengan erat begitu juga sebaliknya, Anindya merasa sangat senang karena akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan doniydan dengan begitu dia tidak perlu lagi mencari jalan untuk kembali ke kediamannya saat itu.
"Ayah akhirnya kau tiba aku sangat merindukan kamu ayah aku sangat....sangat merindukan dirimu" ucap Anindy sengaja memuji ayahnya dan berputar-putar bahwa dia memang sangat merindukan sosok ayahnya tersebut padahal di kenyataannya Anindita sama sekali tidak perduli sedikitpun tentang Doni dan apapun yang terjadi dengannya.
Hanya saja saat itu Anindita memang tengah membutuhkan bantuan dari sang ayah, dia harus bersikap baik kepada Doni agar Doni mau membawa dia kembali ke rumah saat itu.
__ADS_1
"Ayah....aku ingin pulang, ayo kita pulang saja kau jangan memikirkan tentang Antonio yang sangat menyebalkan itu aku benar-benar ingin pulang ayah" ucap Anindita kepada Doni dan terus mendesaknya dengan keras saat itu.
Sampai akhirnya Doni sendiri tidak memiliki pilihan lain lagi sehingga dia langsung saja mengajak Anindya masuk ke dalam taxi yang sudah dia pakai sedari tadi.
"Ahhhh..ya sudah....iya baiklah ayo cepat kau masuk jangan buat sulit tadinya menunggu lama" balas Doni kepada Anindita yang pada akhirnya mau mengajaknya pulang bersama saat itu.
Anindita merasa sangat senang dan puas setidaknya saat itu Anindita tidak perlu tersesat atau tidur di jalanan jika dia tidak bertemu dengan Doni saat itu, sudah bisa di pastikan bahwa dirinya akan benar-benar menjadi gembel jalanan disana.
Saking senangnya Anindita langsung saja masuk ke dalam taxi yang sudah di pesan oleh ayahnya Doni saat itu dan segera pergi dari sana menuju rumah mereka dengan cepat.
Walaupun sebenarnya saat itu Doni mengerti dan dia tahu bahwa putrinya tersebut tengah tidak baik-baik saja hubungannya dengan tuan Antonio sehingga Doni hanya bisa membawa putrinya tersebut pulang terlebih dahulu dan nantinya dia berniat untuk kembali memberi tahu tuan Antonio bahwa calon istrinya ada di rumah ini sehingga tuan Antonio tidak perlu mengkhawatirkan Anindya lagi.
Disaat mereka sudah benar-benar sampai di depan rumah, Doni dengan cepat mempersilahkan Anindya untuk masuk dan terlihat rumah berantakan seperti biasanya hingga Anindita yang sudah sangat lelah dia langsung saja masuk ke dalam kamarnya karena dia tidak ingin mihat semua kekacauan di ruang tamu yang hanya bisa membuat dia merasa sangat pusing melihat semua barang berserakan tidak jelas di lantai seperti itu. Bahkan Anindita sampai menghembuskan nafas kasar lagi ketika melihatnya.
"Huuhh..ayah apa saja yang sudah kau lakukan di rumah ini selama aku tidak ada? Apa perbuatan selalu seperti ini?" Ucap Anindita bertanya kepada ayahnya Anindya saat itu.
"Aahhh...tentu saja tidak ini hanya terjadi sesekali saja kok, kamu kan tahu sendiri, ayah sangat sulit menghentikan hobi minum ayah dan ayah selalu di luar kendali ketika ayah mabuk jadi ayah harap kau bisa memahaminya ya sayang" balas Doni yang malah dengan beraninya berbicara seperti itu kepada Anindita yang baru saja pulang dari ke rumahnya tersebut.
Anindita yang merasa sangat kesal dia langsung berlari kecil masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamar itu cukup keras sampai membuat Doni terperanjat kaget karenanya.
Anindita langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan dia terus saja tertidur disana dengan lelah karena sudah merasa sangat lah di bawa berkeliling olah tuan Antonio ke tempat-tempat yang cukup jauh hanya untuk mencari tahu apakah taman hiburan disana buka atau tidak.
Di tambah mihat rumah yang benar-benar berantakan bak seperti kapal pecah seperti itu semakin membuat kepala dia pusing ketika melihatnya sehingga Anindita memilih untuk merebahkan tubuhnya dengan cepat saat itu dan dia benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, dia ingin marah namun tidak bisa marah saat itu, dia ingin berteriak tetapi itu juga tidak bisa dia lakukan, sehingga tidur dengan cepat adalah jalan solusi yang dia ambil saat itu.
Dia pikir hanya dengan tidurlah dia bisa melupakan semua masalah yang membebani pikirannya saat itu dan sangat menumpuk sejak lama membuat dia merasa ingin meledak dan berteriak sangat keras.
Padahal seharusnya masalah seperti ini tidak pernah dia alami sebab dia sejak dulunhanya diam di dalam rumah tanpa melakukan apapun dan hidup damai penuh dengan kesepian juga hampa seperti sebelumnya.
Disaat dia berada pada posisi yang sulit seperti ini di saat itulah Anindita sendiri mengerti dan mendapatkan pajaran untuk hidupnya sendiri
.
Di mana dia pikir yang sebelumnya menurut dirinya tinggal terus di dalam rumah sangat buruk, kini dia jauh lebih tahu bahwa dunia luar orang lain yang terlihat sangat bebas memilih justru malah menjadi sangat rumit sekali bahkan lebih rumit dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kenyataannya.
Sekarang ini dia benar-benar merasakan berada di titik itu sehingga dia sadar dengan dirinya sendiri.
Sedangkan disisi lain Doni sudah mulai menghubungi tuan Antonio dan mengatakan bahwa Anindya ada di rumahnya dan tengah tertidur saat itu.
"Hallo tuan....dia ada disini mau tidak perlu mencemaskannya lagi dia aman dan sedang beristirahat sekarang" ucap Doni melaporkannya.
Dia benar-benar ayah yang tidak berpihak kepada putri yang dia miliki sebagai harta paling berharga untuknya saat itu, sebab hanya Anindya yang menemani dia sejak kecil hingga sebesar sekarang dan Doni masih belum bisa memberikan putri tersebut kepada orang yang masih tidak jelas dan tidak memiliki tujuan hidup sama sepertinya.
Namun kini Doni justru memiliki tujuan hidup, namun tujuan hidupnya tersebut terbilang sangat berbeda dengan orang lain padahal tentu saja dia harus terlihat berbeda agar memiliki keunikan masing-masing dan sukses dengan caranya tersendiri tanpa harus mengikuti apa yang sudah orang lain buat.
Tuan Antonio sendiri sudah merasa jauh lebih lega ketika mengetahui bahwa Anindya ternyata pergi ke rumahnya dan sudah berada di sana dengan aman, padahal sebelumnya tuan Antonio sudah hampir mengetahkan seluruh bodyguard di rumahnya untuk mencari keberadaan Anindya saat itu, namun untuk tanya Doni sudah lebih dulu menghubungi tuan Antonio dan mengatakan kabar yang sangat membahagiakan untuknya.
"Aahhhh .. syukurlah jika dia ada disana aku akan menjemput kesana sebentar lagi, tolong jangan bangunkan dia, biarkan saja dia tertidur" ucap Doni menjawab ucapan dari Doni, dan dengan cepat tuan Antonio segera bersiap-siap untuk pergi.
Dia merapihkan setelah jasnya bahkan memakai parfum yang cukup wangi sehingga membuat tuan Antonio memiliki sedikit tampilan yang berbeda daripada yang sebelumnya.
Awalnya dia terlihat cuek dan tidak perduli kepada Anindita di saat Anindita menggertaknya dan dia malah terus saja membiarkan Anindita pergi sampai akhirnya sekarang Anindita benar-benar pergi dan dia langsung merasa sangat cemas, jika bukan karena Doni dia pasti sudah sangat kelimpungan mencari keberadaan Anindita oleh seluruh bodyguard yang dia miliki.
__ADS_1
Untung saja Doni masih sempat memberikan kabar kepada tuan Antonio sehingga dia tidak terlalu menganggap hal seperti itu, kesalahan disaat kita berdebat dengan orang yang tidak kita sukai adalah yang lumrah terjadi namun saat itu mungkin saja mood tuan Arfanka sedang tidak baik sehingga dia langsung marah dan sensitif ketika mendengar ucapan dari Anindita yang mengatai dia bodoh saat itu padahal kalimat bodoh di sana sebenarnya tidak bermaksud ke arahnya secara langsung, lagi pula saat itu Anindita hanya tengah marah besar saja jadi sama sekali tidak pernah berpikir untuk sampai ke arah seperti itu.