
Anindita benar-benar merasa tegang dan terus merasa panik tidak karuan dia tidak tahu harus berbuat apa saat itu karena dia sama sekali tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, namun tuan Antonio seakan sudah mengetahui semuanya saat itu sehingga dia hanya bisa menatap tuan Antonio dengan tatapan yang serius dan begitu cemas tidak menentu, di tambah tuan Antonio yang terus mendesak dia dan kembali membentaknya untuk ke sekian kalinya.
"Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau takut, panik? Katakan yang sejujurnya kepadaku atau aku akan benar-benar melemparkanmu ke dalam kandang macanku!" Ucap tuan Antonio dengan penuh ancaman saat itu.
Anindita hanya menatapnya dengan penuh ke ragunan, dia masih membutuhkan waktu untuk berpikir saat itu dan dia masih belum mau mengetakan yang sebenarnya kepada tuan Antonio karena dia tidak ingin mengkhianati seorang Anindya dimana mereka sudah mengikat janji satu sama lain sebelumnya.
"Tidak....aku sama sekali tidak berbohong kepadamu, aku sudah mengatakan yang sejujurnya, aku ini memang Anindya kau saja yang tidak mengenali aku, lagi pula memangnya ucapan dari orang lain bisa kau percayai di bandingkan dengan kau melihat aku pada nyatanya?" Balas Anindita masih berusaha untuk menutupi semuanya.
"Baiklah jika itu keputusanmu, ayo ikut aku" ucap tuan Antonio yang langsung menarik tangan Anindita dengan kasar dan penuh emosi saat itu.
Tuan Antonio tidak bisa menahan kekesalan di dalam dirinya lagi karena dia sangat kesal dan emosi kepada wanita yang ada di hadapannya saat itu, sebab dia masih saja belum mau berkata dengan jujur kepadanya, padahal dia sendiri juga tidak menginginkan apapun dari wanita itu hanya berharap wanita itu untuk berkata jujur kepadanya dan berhenti menyembunyikan banyak hal darinya.
Anindita yang baru saja selesai memakan obat peredanya, dia sudah langsung di seret dengan kasar dan kuat oleh tuan Antonio hingga keluar dari ruangan itu dan ada sekretaris Seno yang terperangah kaget mihat Anindita di seret dengan kuat dan kasar oleh tuan Antonio seperti itu.
"Ayo cepat, aku akan benar-benar melemparkan mu pada singa yang lapar sebagai akan siangnya, ayo percepat jalanmu!" Ucap tuan Antonio sangat mendominasi,
Anindita semakin .erasa ketakutan saat itu dan dia sangat berharap tuan Antonio tidak akan benar-benar melemparkan dirinya ke dalam kandang singa itu, sebab dia tidak ingin mati dengan cara tragis di santap oleh singanya tersebut.
"Antonio lepaskan aku tidak ingin pergi kemanapun sekarang, lepaskan aku" teriak Anindita terus berusaha berontak sekuat tenaganya saat itu.
Namun sayangnya tuan Antonio yang sudah terlanjur kesal dan emosi kepada Anindita dia sama sekali tidak mendengarkan ucapannya dan terus menyeret Anindita hingga memasukkannya ke dalam mobil secara paksa, bahkan dia tidak menghiraukan ringisan Anindita yang merasa sakit pada pergelangan tangannya saat itu.
Disisi lain sekretaris Seno segera menghampiri tuan Antonio dan menahan tangannya karena dia merasa kaget serta bingung melihat Antonio berlaku sekasar itu kepada seorang Anindya yang pada awalnya tidak pernah dia perlakukan dengan perlakuan sepatah itu, bahkan sebelumnya Antonio sendiri terlihat sangat mencemaskan Anindya.
"Antonio tunggu, ada apa denganmu? Kenapa kau menyeret Anindya seperti itu, apa kau ini gila ya?" Ucap sekretaris Seno yang sama sekali tidak mengetahui apapun.
"Iya..aku gila karena gadis sialan itu, sebaiknya kau kembali ke kantor dan urus urusan kita, batalkan semua meeting aku memiliki urusan penting untuk memberikan pelajaran pada gadis pembangkang ini" ucap tuan Antonio dengan sorot mata yang sangat tajam dan dia langsung masuk ke dalam mobilnya dengan cepat.
Dia bahkan meninggalkan sekretaris Seno di rumah sakit begitu saja padahal sebelumnya mereka pergi bersama-sama namun sekarang sekretaris Seno yang di tinggalkan begitu mudahnya.
"Ehh ..eh... Antonio kau mau kemana hey....Antonio jangan lupa dia masih sakit, kau tidak bisa terlalu kasar dengan perempuan!" Teriak sekretaris Seno yang di abaikan oleh tuan Antonio.
Sekretaris Seno sangat merasa kesal dan dia menggerutu selama beberapa saat di depan rumah sakit, karena dia merasa tuan Antonio sangat berubah banyak setelah bertemu dengan Anindya apalagi ketika mengijinkan Anindya untuk tinggal di mension miliknya dan menjadi calon istrinya secara tiba-tiba.
"Astaga...tidak tahu apa yang terjadi dengan anak itu, tapi di lihat dari wajahnya aaahhh...dia sepertinya sangat marah, semoga saja Anindya bisa selamat dari kekejaman Antonio yang tidak manusiawi itu" batin sekretaris Seno yang penuh harap.
Dia tidak bisa menghentikan seorang tuan Antonio dan dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan Anindya sendiri, sebab dia juga tidak bisa membantunya apapun.
Sedangkan disisi lain nampak Anindita masih merasa kesakitan dan dia terus saja memohon kepada Antonio yang ada di sampingnya untuk melepaskan dia.
"Ssstt.... Antonio kau gila ya? Lihat tanganku sakit seperti ini karena ulahmu, dan kau masih bilang akan menendang aku ke kandang macanmu itu, apa kak sungguh seorang manusia?" Ucap Anindita yang tidak habis pikir pada Antonio saat itu.
__ADS_1
"Dengarkan aku baik-baik Anindya palsu pilihanmu hanya dua, bicara jujur kepadaku tentang siapa kau sebenarnya dan dimana Anindya yang asli atau kau akan mati menjadi santapan makan siang macanku" ucap tuan Antonio dengan tatapan yang sangat tajam kepada Anindita saat itu.
Mendengarnya Anindita bahkan kesulitan untuk menelan salivanya sendiri dan dia tidak tahu harus berbuat apa, dia harus memilih diantara dia pilihan yang sangat sulit dimana memilih hidupnya atau membocorkan rahasia yang begitu besar seperti ini yang melibatkan banyak orang termasuk kedua keluarga kesayangannya yang akan ikut terseret dalam hal ini nantinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, dia tidak akan benar-benar melemparkan aku ke kandang macam bukan?" Batin Anindita terus merasa cemas sendiri.
Hingga tidak lama kemudian ketika sudah sampai di mension kebesaran tuan Antonio dengan cepat Antonio kembali menarik tangan Anindita dengan kasar dan dia benar-benar membawa Anindita ke depan kandang macannya saat itu.
Bahkan Antonio langsung menyuruh penjaga hewan peliharaannya itu untuk menyiapkan sebuah sangkar yang biasa mereka gunakan untuk memberi makan sang macan peliharaannya tersebut yang berukuran cukup besar.
"Penjaga bawa keluar sangkar itu dan masukkan gadis ini ke dalamnya!" Ucap tuan Antonio memberikan perintah dengan lantang sambil mendorong Anindita hingga dia jatuh ke lantai saat itu.
"Aaaahhhh.... Antonio apa kau yakin akan melakukan semua ini, apa aku setidak berharga itu untukmu? Hanya karena aku bukan Anindya yang asli lalu kau merasa bahwa aku sudah membohongi dirimu? Aku sama sekali tidak membohongimu, kau yang dengan paksa tiba-tiba membawa aku dan menantangku untuk mencuri cincin ini, sejak awal yang bertemu denganmu adalah aku bukan Anindya, lalu dimana titik kesalahanku membohongimu, kau yang selalu mengira aku Anindya bukan aku yang sengaja membohongimu!" Teriak Anindita berusaha keras untuk menghentikan tuan Antonio.
Sampai akhirnya Antonio mulai berjongkok di hadapan Anindita yang tersungkur di tanah saat itu, dia mendekatinya dan memegang dagunya hingga membuat Anindita memandang ke arahnya dengan lurus saah itu.
"Siapa kau sebenarnya, aku hanya ingin tahu itu, jika kau tidak mengatakannya maka keputusanku tidak akan pernah berubah!" Ucap tuan Antonio begitu saja,
"Antonio tidak semua hal bisa aku katakan kepadamu, semuanya terlalu rumit Antonio" ucap Anindita kepadanya.
Sayangnya Antonio sama sekali tidak memperdulikan apapun kecuali kepentingan dan rasa marah di dalam dirinya karena dia terus merasa sudah tertipu oleh wanita yang dia kira Anindya pada awalnya tersebut.
"Maafkan aku Antonio jika kau terus meminta aku untuk mengatakannya aku tetap tidak bisa, bukan karena aku tidak ingin tetapi ini bukan saat yang tepat untuk memberitahukan semuanya kepadamu" jawab Anindita mengatakannya sambil melemparkan tatapan ke arah lain karena dia sudah tidak sanggup lagi untuk menatap wajah Antonio yang membuat luka terdalam dalam dirinya saat ini.
"Baiklah jika kau memang memilih untuk mati, pengawal seret dia ke dalam kurungan!" Teriak Antonio memerintahkan mereka.
Bahkan kedua pengawalnya itu merasa gugup dan ragu-ragu disaat mereka hendak menyentuh Anindita karena sebelumnya dia tahu bagaimana Antonio memperlakukan Anindita dengan sedikit berbeda dari wanita lainnya sehingga mereytakut nasib mereka akan sama seperti nasib pengawal yang sebelumnya pernah menyinggung Anindita dan hampir mati di mangsa macan ganas tersebut.
Antonio yang melihat pengawalnya terlihat ragu dia segera membentaknya kembali dengan lebih keras dan wajah yang lebih menakutkan saat itu, hingga membuat semua orang yang ada disana termasuk para penjaganya terlihat panik dan segera menyeret Anindita masuk ke dalam kurungan itu.
"Heh ...apa lagi yang sedang kalian tunggu? Cepat bawa dia masuk ke dalam sana!" Bentak Antonio sangat keras.
Mereka segera membawa Anindita masuk ke dalam kurungan itu dengan cepat dan Anindita melepaskan kedua tangannya yang di pegang oleh dua pengawal tersebut karena dia tidak suka orang asing menyentuh dirinya secara sembarangan seperti itu.
"Lepaskan tanganku, aku akan masuk sendiri ke dalam kurungan itu kalian hanya perlu membiarkan aku untuk berjalan sendiri, tolong jangan seret aku seperti apa yang di lakukan Antonio kepadaku" ucap Anindita menatap tajam kedua pengawal itu.
Dan entah kenapa kedua pengawal itu juga sangat menghormati Anindita karena dia pernah menyelamatkan salah satu temannya dari kekejaman tuan Antonio sebelumnya hingga mereka melakukan apa yang di katakan oleh Anindita barusan, mereka langsung saja melepaskan tangan Anindita dan membungkuk memberi hormat kepadanya sampai Antonio yang melihat kejadian itu, dia semakin kesal dan marah.
"Haha...bagus pengawalku sendiri sudah bisa kau goda, kau memang wanita yang cukup pandai mencuri hati pria, sebelumnya tidak pernah ada siapapun yang bisa memerintah pengawalku kecuali diriku sendiri, dan sekarang kau bisa memerintahkan mereka untuk menuruti ucapanmu sendiri, bagus Anindya palsu" ucap Antonio tepat berjalan mendekatinya saat Anindita sudah masuk ke dalam kurungan tersebut.
Sebelum mereka benar-benar akan memasukkan Anindita ke dalam kandang macam tersebut, Antonio memberikan satu kali kesempatan lagi bagi Anindita untuk dia bisa mengubah keputusannya saat itu.
__ADS_1
"Anindya aku akan memberikanmu satu kali lagi kesempatan, apakah kau mau mengatakan yang sebenarnya atau tetap ingin mati?" Ucap Antonio saat itu dengan sorot mata yang sangat tajam,
"Antonio aku sudah bilang aku akan mengatakannya padamu tapi tidak saat ini, aku...." Ucap Anindita yang belum selesai karena Antonio langsung saja memotong ucapannya saat itu.
"Baiklah, pengawal ayo masukkan dia ke dalam kandang itu, dan lepaskan macannya!" Ucap Antonio mengeluarkan perintah dengan kedua tangan yang dia kepalkan menahan emosi di dalam dirinya yang sangat menggebu dan berusaha untuk dia tahan saat itu.
Anindita langsung menunduk dia sudah sangat pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan dirinya.
"Ohh..tuhan jika ini memang takdir akhir aku di dunia ini, aku .asih berharap ibu dan Oma tidak akan membenciku karena aku sudah membohongi mereka berdua dan aku masih berharap dokter Gavin menyukaiku balik" batin Anindita terus penuh harapan yang besar.
Hingga dia benar-benar mulai di turunkan ke bawah dimana macan itu sudah berada di bawah siap menunggu Anindita yang akan di turunkan dari atas.
Macan itu terlihat sangat lapar dan beberapa kali mengaum sangat keras membuat Anindita merasa sangat merinding ngeri dan kakinya seketika menjadi sangat lemas, dia jatuh terduduk di dalam kurungan itu dan tidak tahu sampai kapan dia bisa sampai ke bawah dan benar-benar akan menjadi santapan bagi macam yang lapar itu.
"Apa aku dia benar-benar tega dan sekejam ini, membiarkan manusia hidup-hidup sepertiku menjadi santapan macannya sendiri, ya tuhan apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya" batin Anindita yang terus saja merasa sangat takut saat itu.
Dia benar-benar sangat takut ketika melihat kakinya semakin dekat dengan macan itu dan langsung saja Anindita melambaikan tangan sambil berteriak kepada Antonio untuk menyerah, dan akan mengatakan semuanya kepada dia.
"Cukup..... Antonio aku mohon tolong keluarkan aku dari sini, aku tidak ingin mati konyol! Antonio aku akan mengatakannya aku berjanji padamu, Antonio aku akan melakukan apapun tolong jangan lakukan ini padaku!" Teriak Anindita sambil terus menutup matanya dengan seluruh badan yang sudah bergetar dengan hebat.
Antonio yang berada di luar dia tersenyum kecil melihat rencananya berhasil dan dia pun segera memberikan isyarat kepada penjaga yang menurunkan Anindita saat itu hingga akhirnya Anindita kembali di naikkan dan macan tersebut di beri makan oleh daging hewan yang segar dan Anindita bisa selamat kembali menginjak lantai.
"Huh...huh...huh....aaahhh aku hampir saja mati konyol" gerutu Anindita sambil terduduk dan tidak bisa berdiri sedikit pun.
Dia masih merasa sangat takut dan panik karena sebelumnya hampir saja dia akan benar-benar menghadapi kematian di depan matanya sendiri di tambah itu oleh seekor macan yang besar juga sangat aktif, tentu saja semua orang akan merasakan hal yang sama, mungkin orang lain bisa saja sampai pingsan jika mengalami berada di posisi Anindita saat itu.
Tuan Antonio segera mendekati Anindita dan menyuruhnya untuk keluar dari kurungan tersebut segera, tidak lupa dengan nada bicaranya yang terdengar sangat sinis juga datar.
"Heh...apa lagi yang sedang kau tunggu, jangan mencoba mengulur waktu atau menguji kesabaranku lagi, aku tidak akan memiliki simpati apapun pada siapapun di dunia ini, termasuk kau, jadi cepat kau keluar dari sana!" Ucap tuan Antonio di depan kurungan itu.
Anindita benar-benar merasa sangat kesal ketika melihat Antonio dengan mudahnya berbicara seperti itu padanya, tanpa dia tahu bahwa dirinya tengah kehilangan seluruh energi dalam tubuhnya, selain dia baru saja keluar dari rumah sakit dia juga mengalami ketakutan yang teramat sangat jadi kakinya masih terasa sangat lemas saat itu.
"Antonio kau memang benar-benar bukan manusia, kau sangat kejam aku baru saja selamat dari kelakuan sadismu itu, kau sudah membentak aku dan mengintimidasi aku seperti ini, kakiku lemas dan aku tidak bisa berdiri, bagaimana bisa aku keluar dari sana, setidaknya kau suruh pengawalmu itu untuk membantuku berdiri, benar-benar tidak manusiawi!" Balas Anindita dengan wajah yang cemberut penuh dengan kekesalan.
Antonio langsung saja masuk ke dalam sana dan menggendong Anindita secara tiba-tiba sehingga membuat Anindita merasa kaget dan dia sempat berontak kepada Antonio.
"Ehh..eh ..ada apa kau malah masuk kemari, eehhh hey..apa yang kau lakukan turunkan aku kenapa kau malah menggendongku Antonio turunkan aku!" Teriak Anindita cukup kencang.
"Diam atau aku akan menjatuhkan mu dan bisa saja tulang ekormu patah hingga kau tidak bisa berjalan selamanya" ucap tua Antonio membuat Anindita menatap ngeri dan seketika tidak memberontak lagi.
"Antonio kau benar-benar manusia iblis" ucap Anindita kepadanya.
__ADS_1
Tuan Antonio sama sekali tidak memberikan reaksi apapun,,meski dia mendengar dengan jelas apa yang baru saja dikatakan oleh Anindita kepadanya, dimana dia di sebut sebagai manusia iblis dengan begitu keras di hadapan beberapa pegawainya sendiri.