Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Prolog


__ADS_3

Langit senja kembali beradu dengan birunya laut yang membuat siapa pun betah untuk sejenak tinggal dan menikmati karya agung sang kuasa di bibir pantai Kuta, deburan ombak yang bersahutan menjadi melodi indah tanpa dawai.


Terpaan angin sejuk pun ikut andil dalam menyapa, tidak jauh dari Gibran duduk dia melihat sosok gadis yang terlihat mencolok dengan menggunakan topi dan kacamata serta jaket kulit hitam untuk menutupi tubuh bagian atas. Celana panjang berwarna senada dan sepatu kets putih menutupi kaki jenjangnya, tampak jelas perbedaan gadis tersebut dari pengunjung lain yang terdapat di pantai itu.


Dia sangat menikmati waktu luangnya, Gibran masih setia memandangi hingga terdengar suara mengalihkan fokusnya.


“Ran kau kesambet ??" tanya Fahar dengan menepuk pundak Gibran kemudian menarik kursi dan mendudukkan diri di sampingnya yang diikuti oleh Darel yang hanya tertawa kecil.


“Kesambet, enak saja” gerutu Gibran tanpa mengalihkan pandangan manik indahnya dari gadis yang menarik perhatian itu.


“Ada yang menarik ?? kau melihat apa sampai segitunya” Darel ikut bertanya dan mengikuti arah pandangan Gibran, Fahar pun melakukan hal yang sama.


“Aku hanya merasa tidak asing dengan gadis itu, bukankah sekilas dia mirip Qiandra ?? aku berharap itu Qia, tapi tidak mungkin bukan aku sudah mencoba mencari dan tidak mungkin sekarang dia berada di sini. Di hadapanku” Gibran menunjukkan gadis yang menarik perhatian pada kedua sahabatnya yang penasaran, walau hanya bisa melihat dari samping keduanya setuju dengan perkataan Gibran.

__ADS_1


“Sudahlah Ran, ini sudah 3 bulan semenjak Qiandra menghilang. Tidak mungkin itu Qiandra kau kan sudah mencari ke seluruh pelosok negeri ini dan kami tahu seberapa sering orang-orang suruhan itu menghubungimu dalam sehari” ucap Fahar yang tidak ingin sahabatnya itu kembali berharap kepada sosok yang mereka lihat saat ini.


“Benar Ran, apakah kau tidak ingin mempertimbangkan perasaan Claretta terhadapmu ??” tanya Darel dan berhasil mengalihkan arah pandang Fahar padanya, ditatap seperti itu membuat Darel bertanya-tanya akan ekspresi Fahar yang tidak terbaca.


“Kalian tahu perasaanku terhadap Claretta seperti apa, aku bahkan ingin membatalkan pertunangan yang disepakati itu” ujar Gibran frustasi, yah dia akan bertunangan dengan Claretta sahabat masa kecilnya. Perjodohan yang sengaja dilakukan oleh kedua orang tua mengingat persahabatan anak mereka dengan Claretta yang terjalin sangat lama sehingga muncullah pemikiran untuk menjodohkan keduanya karena memang belum memiliki pasangan, lain halnya dengan Gibran yang tidak punya perasaan lebih untuk calon tunangannya Claretta justru menyukai dan sedikit agresif menunjukkan ketertarikan walau perasaan Claretta tidak terbalas dengan setia dia menunggu Gibran membuka hatinya.


“Apa yang harus aku perbuat ?? pikiran dan hatiku dipenuhi oleh-“ ucapan Gibran tercekat saat dia kembali menatap kearah gadis tadi, dan betapa kagetnya dia melihat sosok yang benar-benar dirindukan dan berhasil membuat perasaannya kehilangan sangat dalam kini berdiri hanya beberapa meter saja dari tempat duduk mereka. 


“Qiandra” ucapan itu terdengar berat dan bergetar, kedua sahabatnya pun tidak kalah terkejut mendapati gadis itu memanglah Qiandra. Walau dia mencoba menyamarkan diri dengan pakaian yang dikenakan, tapi saat berbalik ke arah mereka tanpa sengaja bisa dipastikan itu memanglah Qiandra. 


Disisi lain Qiandra belum menyadari telah menjadi pusat perhatian oleh ketiga pria itu bahkan kehadiran Gibran yang berada tepat di balik punggungnya belum diketahui, dia hanya fokus memanjakan mata dan melepaskan kerinduan pada laut lepas.


"Suasana dan perasaan ini sangat aku rindukan, apa aku pergi terlalu lama kenapa perasaan rinduku belum tersamarkan padahal sudah berjam-jam di sini. Apakah dia baik-baik saja dan bahagia ?? apakah mereka telah bertunangan atau malah telah menikah ??” Qiandra masih asyik bergumam dengan sesekali menarik nafas berat seakan ada yang mengganjal di sana, tanpa disadari Gibran mendengar hal itu sampai akhirnya terdengar suara yang tidak asing mengundang pendengaran Qiandra.

__ADS_1


“Aku tidak baik-baik saja dan tidak bahagia, aku belum bertunangan apalagi menikah. Dan yah kau pergi terlalu lama dan aku begitu merindukanmu” jawab Gibran dengan mata memerah yang masih fokus memandangi punggung Qiandra, ingin rasanya dia memeluk erat tubuh gadis itu tapi diurungkannya karena takut mengundang kemarahan Qiandra. 


Mendengar suara berat yang dirindukan membuat Qiandra mengepalkan tangan untuk melawan diri sendiri agar tidak berbalik dan menatap wajah si empunya suara, dengan gerakan cepat Qiandra mencoba menghindar dengan melangkahkan kakinya untuk berjalan menyusuri bibir pantai yang langitnya sudah mulai gelap dan membuat pengunjung pantai menyudahi kegiatan mereka begitupun yang dilakukan Fahar dan Darel seakan mereka memberikan waktu untuk sepasang makhluk yang baru bertemu itu.


“Qia aku merindukanmu...aku begitu merindukanmu” Gibran mengikuti langkah kaki Qiandra yang menjauhinya. “Qia apa kau tidak merindukanku ?? apakah hati dan pikiranmu benar-benar tidak ada aku, walau hanya sedikit saja ??". Pertanyaan itu berhasil membuat Qiandra menghentikan langkah dan memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya.


“Tidak ada dan aku sama sekali tidak merindukanmu jadi berhentilah mengganggu kehidupanku dan fokuslah pada tunanganmu” jawaban yang menohok itu berhasil membuat Gibran terdiam dengan mata penuh, tatapannya yang dalam beradu dengan mata indah milik Qiandra. “Aku akan menikah jadi berhentilah bernostalgia, jalani kehidupanmu seperti sedia kala sebelum mengenalku” setelah mengatakan itu Qiandra mengalihkan pandangannya agar tidak lagi bersitatap dengan mata penuh cinta milik Gibran.


“Berhentilah membohongi dirimu sendiri dan jangan lagi menghukumku Qia, aku benar-benar akan marah kali ini. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menikah dengan orang lain karena kesempatanku belum berakhir” ucap Gibran dengan penuh penekanan dan berjalan mendekati Qiandra.


“Kesempatan ?? kesempatan apa maksudmu, aku bahkan tidak mengingat apapun mengenai itu kumohon padamu berhentilah bersikap bodoh atau aku akan menghilang agar kau berhenti seperti ini. Kau mempunyai tunangan dan masih dengan bangganya mengatakan hal seperti ini pada orang lain” ucap Qiandra menekan kalimatnya dan akan berbalik bermaksud meninggalkan Gibran, belum sempat beranjak dari tempatnya suara Gibran kembali menarik perhatiannya.


“Kau bukan orang lain Qia, aku mencintai dan hanya membutuhkanmu itu kenyataannya. Aku akan bertunangan tapi hanya denganmu !! kau masih marah dan kecewa itu adalah kesalahan yang telah kuperbuat dan aku meminta maaf akan hal itu, tapi perasaan ini terhadapmu sangat tulus. Sulit untukku tidak memikirkanmu selama ini, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi karena itu sangat menyakitkan” Gibran meraih pergelangan tangan Qiandra seolah ingin menyalurkan perasaannya.

__ADS_1


“Aku bersalah karena menyembunyikannya, tapi kumohon jangan menjauhiku lagi. Lebih baik kau memukul dan mencaci daripada harus menghilang dari pandanganku, aku hanya meminta kesempatan yang sama seperti orang lain yang pernah bersamamu. Hanya itu, tapi jika nanti setelah masa untuk kesempatannya berakhir dan kau tetap tidak memiliki perasaan yang sama denganku maka pada saat itu aku akan menghilang” semakin erat Gibran memegang tangan Qiandra seolah takut gadis di hadapannya menjauhinya.


__ADS_2