
Kau seperti musim semi yang disambut kuncup bunga Plum. Semerbakmu mengalihkan, warna cantikmu pun disambut riang setiap orang. (yuliashafira14)
“Qiandra, apa dia sedang merasa terbang ke atas awan? Apa dia berpikir Gibran begitu menyukainya? Ck, dasar gadis tidak tahu diri! Selalu saja menjadi penggoda, inilah yang membuatku begitu membencimu!” Indira, gadis yang tengah berbicara buruk tentang Qiandra saat ini adalah dirinya.
“Gibran, apa yang kau lihat dalam diri gadis ini hah? Dia tidak sebaik rupanya itu, kau akan menderita jika terus bergaul dengannya. Tapi tenanglah, dengan senang hati aku akan membuatmu berpaling darinya!” Indira tengah mengelus wajah rupawan Gibran yang muncul di layar ponselnya, seringai iblis gadis itu benar-benar memuakkan.
“Aku bahkan mampu membuat Aksa bertekuk lutut padaku, apa kau berpikir aku tidak bisa melakukan hal yang sama pada Gibran? Jangan panggil aku Indira, jika keinginanku tidak bisa menjadi kenyataan!” wajahnya tiba-tiba menjadi merah padam, saat melihat foto lain. Gambar Gibran yang sedang tersenyum tampan pada Qiandra, ekspresi itu membuat Indira semakin ingin mendapatkan Gibran. Menyebalkan pikirnya!
Kegilaan gadis ini bermula saat insiden tidak terduga mereka di Bali, wajah pria yang menyelamatkan Qiandra membuatnya begitu penasaran pada sosok itu. Diam-diam, Indira membayar seseorang untuk mencari tahu hubungan apa yang dimiliki Gibran bersama Qiandra, dan...kejutan! Indira tidak menyangka jika seorang Gibran, tertarik pada gadis yang begitu dibencinya. Qiandra!
Dia sempat berpikir, jika pertolongan Gibran saat itu hanya didasari karena rasa kasihan. Tapi ternyata dia keliru, kenyataan itu yang membuat Indira semakin muak! Bagaimana bisa gadis sepertinya begitu beruntung? Selalu saja Qiandra!
Sungguh, sifat dengki sudah mendarah daging dalam tubuh Indira. Terlebih, jika melihat nasib baik tampak berpihak pada sahabatnya itu. Ralat! bukan sahabat tapi mantan sahabat, bukankah gambaran itu cocok untuk hubungan mereka saat ini? Yah, dia selalu berpikir sosok itu dikelilingi oleh keberuntungan yang tidak pernah dia miliki sebelumnya, kecantikan dan kepandaian Qiandra benar-benar membuat dia ingin bermain curang.
Sering memanfaatkan kebaikan sahabatnya, bahkan dengan bangga dia merebut Aksa yang notabennya tunangan Qiandra. Dia berhasil mengganti posisinya, kemenangan itu membuat dia semakin angkuh dan menambah kadar obsesinya pada milik orang lain. Ini kebenaran, Aksa adalah bukti nyata dari seberapa busuk perangai gadis itu. Indira! dia adalah gadis ulung dan penuh kelicikan
Qiandra yang malang, dia tidak tahu jika ketulusannya dijadikan ladang ranjau oleh gadis itu. Apa Indira benar-benar berpikir bahwa Qiandra seberuntung itu dalam hidupnya?
Keirian Indira semakin menjamur, dia tidak pernah berpikir jika kebahagiaan singkat yang tengah dirasakan Qiandra saat itu adalah bagian dari pelipur lara setelah nestapa yang tidak kunjung usai sebelumnya.
Hubungan Indira dan Aksa dibumbui oleh kebohongan, gadis itu adalah contoh manusia yang cacat moral. Sorry! Tapi, Indira memang seperti itu. Terbukti dengan sikapnya yang dengan mudah menggadaikan kepercayaan orang lain untuk mencapai kepentingannya. Miris bukan?
__ADS_1
******
Sky Apartemen
“Akhirnya sampai juga, malam ini begitu menyenangkan. Apa kau tahu? Saat memasuki Rumah Hantu banyak sekali pengunjung yang berteriak, padahal mereka tahu jika yang di dalam hanya manusia yang didandani sedikit menyeramkan. Aneh bukan?” Kalya begitu menikmati waktunya bersama Darel, gadis itu bercerita pada Qiandra seakan baru pertama kali mengunjungi Pasar Malam.
“Apa kau tahu? kenapa orang-orang yang memasuki Rumah Hantu tetap berteriak, padahal mereka tahu jika yang di dalam adalah manusia?” lontar Qiandra yang ikut mendaratkan diri di sofa ruang tamu.
“Mana aku tahu!” jawab Kalya mengangkat bahu, dan masih setia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Gadis itu kelelahan! benar, dia kelelahan karena terlalu bahagia menghabiskan waktu bersama seseorang!
“Itu adalah bukti, jika manusia lebih menakutkan dari makhluk astral sekalipun.” Ujar Qiandra. Kalya yang mendengar langsung mengangguk, mendengar jawaban Qiandra benar-benar membuat kepalanya bergerak tanpa izin. Dia menyetujuinya!
“Kau benar! Kadang manusia bersikap lebih buruk daripada mereka.” lirih Kalya, “Apa aku juga menakutkan?” timpanya, raut wajah gadis itu begitu penasaran.
"Kau benar!" timpa Kalya, dia begitu serius membicarakan hal ini. Gadis ini memang tidak terduga!
"Jadi, berhentilah menjadi gadis pemarah. Kontrol emosimu jika tidak ingin bersanding dengan mereka!” Tutur Qiandra dengan nada yang dibuat serius, ada apa dengan mereka? Kenapa tiba-tiba membicarakan hal mengerikan itu?
“Ahh kau benar! Mulai saat ini aku harus menjaga emosiku, aku tidak mau disamakan dengan musuh yang nyata itu.” Qiandra mengulum bibirnya, jawaban polos Kalya begitu menggelitik perutnya.
Drrrttt
__ADS_1
Getar dari ponsel Kalya membuat keduanya sedikit terkejut dan sejenak beradu pandang, gaya rebahan Kalya tiba-tiba ambyar begitu saja setelah melihat nama yang muncul di layar ponsel. Dengan gerakan cepat dia menekan ikon berwarna hijau dan segera menggesernya.
“Iya ma?” sambutan gadis itu begitu lembut, terdengar berbeda dari biasanya. Apa ini efek dari pembicaraan mereka tadi?
“Kami baik-baik saja, Mama dan Papa bagaimana?” tanya Kalya yang masih konsisten dengan perubahannya.
“Qia? Iya nanti Kal sampaikan. Tenanglah Ma, Kalya dan Qia bisa menjaga diri. Mama juga jaga kesehatan oke? Daaa!” panggilan telepon yang mereka lakukan memang selalu sesingkat itu, bertukar kabar dan memastikan keadaan. Walau singkat tapi mereka begitu konsisten melakukannya!
“Apa ponselmu mati?” tanya Kalya tiba-tiba, setelah mengakhiri panggilannya bersama Dyra.
“Iya, dayaku habis. Ada apa?” lontar Qiandra, setelah kembali dari dapur dan membawakan minuman untuk membasahi tenggorokan, gadis itu tidak menyangka saat membicarakan masalah Rumah Hantu akan membuat dahaganya semakin ingin dipuaskan.
“Mama tadi menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif. ” Kalya menyambut gelas berisi minuman yang diberikan Qiandra, kenapa sahabatnya itu begitu pengertian?
“Benarkah?” anggukan kepala Kalya membenarkan ucapan itu, orang tua Kalya telah kembali sehari setelah pertunangannya bersama Darel. Menjadi orang berpengaruh seperti Papa Agam, membuat masa untuk anaknya tersita begitu banyak.
“Apa ada hal penting?” pikir Qiandra, dia luput akan sesuatu yang penting! Fokusnya teralih, dia tidak menyadari alasan penting dari panggilan Dyra.
“Tanyakan saja besok, naiklah. Biar aku yang mencuci gelas kotor ini!” tawaran yang menggiurkan dari Kalya, dia benar-benar bersikap sesuai dengan niatnya. Tidak hanya ingin mengatur sikap pemarahnya yang mudah meledak, tapi kini sifat pengertian gadis itu terlihat semakin jelas.
“Tumben sekali!” ejek Qiandra, dan Kalya? Gadis itu hanya mengangkat kedua alis secara bergantian. Qiandra paham akan keinginannya untuk bersikap lebih baik, tapi apa dampak yang timbul harus secepat ini? Dasar!
__ADS_1
Tanpa jemu dia berdansa dengan cinta yang sama setiap detik, Nada kerinduannya berdenting dengan indah. Ragam riuh terdengar saling menyaut. Irama ini berbeda, sahutku tanpa sadar!