
Rekam jejak dirinya masih menginang dalam memori, bahkan surai indah itu kian menambah sensasi suka cita kala dikenang. (yuliashafira14)
.
.
.
“Qia aku harus menemani Darel ke suatu tempat, apa kau bisa pulang sendiri?” tanya Kalya saat berada di ruang kerja sahabatnya, gadis manis itu tengah disibukkan dengan pekerjaan yang sempat tertunda setelah acara makan siang mereka.
“Iya, hati-hatilah.” Jawab Qiandra setelah mengalihkan sejenak fokusnya pada Kalya.
“Kau yakin pulang sendirian? apa perlu aku menelpon Gibran untuk menjemputmu?” tanya Kalya memastikan, tapi dengan sedikit godaan tentunya.
“Aku bukan anak kecil Kal, pergilah dan jangan mengganggu Gibran. Setelah ini selesai, aku akan mampir sebentar ke Supermarket. Ada yang kau butuhkan?” pungkas Qiandra yang berhenti sejenak dari kesibukannya dan meladeni Kalya, sepertinya dia akan pulang sedikit terlambat karena menanggapi kejahilan sahabatnya ini.
“Aku rasa dia tidak akan terganggu.” lirihnya, gadis itu masih setia duduk di hadapan Qiandra dengan ponsel di tangan kanan. Menunggu sahabat baiknya itu berubah pikiran, harap Kalya.
“Aku mendengarmu.” Astaga, kenapa indera Qiandra begitu tajam. Kalya hanya mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda damai.
"Sebagai sahabat yang baik, aku hanya mencoba peka. Siapa tahu kau berminat, karena sesibuk apapun Gibran pasti punya waktu untukmu." Sambungnya dengan wajah usil di sana, ayolah Kalya. Qiandra bisa mengurusi hal itu tanpa jasa mak comblang. Mmm, bisa jadi!
"Kal." Sergah Qiandra dengan menopang dagu dengan tangan kirinya.
“Baiklah baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Ah jangan lupa belikan aku buah nanas, sudah lama aku tidak melihat rupanya menghiasi kulkas Apartemen ok? aku duluan Bye.” Pamit Kalya begitu heboh, dan Qiandra hanya mampu menggelengkan kepala menanggapi tingkah konyol itu.
Setelah kepergian gadis itu, ruangan Qiandra kembali sepi dan hanya di hibur oleh suara jam dinding yang memacu di ruangannya.
Rentetan kalimat masih setia dipandangi Qiandra, entah berapa lama waktu yang dia habiskan untuk beradu pandang dengan laptopnya saat ini. Jemari gadis itu bahkan terlihat aktif menari indah di atas sana.
“Hah, akhirnya.” Hembusan nafas Qiandra menutup rangkaian kesibukannya hari ini, meregangkan otot adalah pilihan yang tepat sebelum dia meninggalkan ruang kerjanya.
__ADS_1
“Jam 7, sepertinya aku terlalu fokus sampai lupa waktu.” Tuturnya saat melihat jam dinding, bergelut dengan pekerjaan memang menyita perhatian dan masa setiap orang.
Dengan segera Qiandra merapikan laptop dan berkas-berkas penting yang bertengger di meja, sesekali gadis itu mencuri pandang pada ponsel pintarnya. Berharap ada notifikasi yang menyapa layar persegi itu, ahh pikiran apa tadi itu keluhnya.
Saat keluar dari ruang kerja tidak lupa Qiandra berpamitan pada teman kerjanya, yang masih disibukkan dengan beberapa pesanan pelanggan.
Saat jam pulang tiba Kalya dan Qiandra akan menyerahkan pengawasan pada Manager mereka, dia yang akan mengatur jadwal dan shift karyawan dan hal lainnya.
Butuh waktu 15 menit untuk sampai ke Supermarket yang dituju Qiandra, setelah memarkirkan mobil gadis itu langsung masuk dan disambut oleh hawa sejuk dari pendingin di sana.
Beraneka macam barang yang menggoda nampak di berjejer rapi di rak dan etalase, tanpa menunggu lama Qiandra langsung mengambil troli agar bisa segera memilih barang yang sesuai kebutuhannya dan Kalya.
Mata Qiandra terasa lapar saat melihat banyak makanan ringan melambai ke arahnya, produk-produk itu seakan memberi kode dengan godaan warna warni yang menjadi ciri khas kemasan.
Gadis itu menggeleng dan mulai mengucapkan mantranya “Pilih barang yang sesuai kebutuhan, nanti mubazir.” Berharap ucapan itu mampu meredam hasrat dan keinginannya, apakah itu berdampak bagi Qiandra? tentu saja.
Saat ini Qiandra beralih ke rak susu coklat favoritnya, tapi sayang susu incaran gadis itu berada di paling atas. dia berjinjit untuk meraihnya tapi sayang, tubuh Qiandra seakan di ejek oleh susu itu karena kesulitan menggapainya. Dan kenyataan tersebut, membuat keseimbangan gadis itu hilang kendali.
“Apa kau ingin itu?” suara beratnya kembali terdengar, Qiandra hanya mengangguk tanpa melihat siapa sosok tersebut. Karena saat ini, memang posisi tubuhnya sedikit terhimpit antara rak dan pria tadi.
Sebuah tangan terulur untuk mengambil susu incaran gadis itu, wangi tubuhnya bahkan telah menyapa penciuman Qiandra. Saat dia berbalik, “Kau-” ucapannya tertelan karena sedikit terkejut bertemu pria ini itu lagi.
Tampilannya berbeda, dia mengenakan kemeja berwarna biru langit dengan satu kancing yang sengaja dilepas dan menggulung lengan kemejanya sampai siku. Rambutnya tidak terlalu rapi, sepertinya dia baru pulang kerja.
“Ha-i, kau tidak apa-apa?” lontarnya. Nampak pria itu juga terkejut bertemu kembali setelah insiden di taman bersama Qiandra beberapa hari lalu, dari sekian banyak manusia kenapa harus gadis itu? benarkah ini hanya sekedar kebetulan?
“Ah iya, terima kasih dan maaf karena merepotkanmu.” Jawab Qiandra, tapi saat ini mata gadis itu hanya fokus pada susu coklat incarannya.
“Sama-sama,” balasnya. “Ini untukmu, aku tidak minum susu coklat.” Senyum pria itu merekah, melihat tatapan polos Qiandra yang tertuju pada tangan kanannya.
“Terima kasih.” Matanya berbinar, seakan menegaskan betapa dia menginginkan susu coklat itu. Pria itu hanya mengangguk dan menyentuh tengkuknya, gerakan itu seakan mampu membuat dia lebih baik.
__ADS_1
“Mmm apa kau sendirian?” sambungnya, tatapan itu masih sama saat pertemuan pertama mereka. Qiandra terlihat kurang nyaman karena hal tersebut, itu bukan tatapan jorok tapi seperti tatapan mendamba dan memuja.
“Iya,” segera gadis itu menghilangkan prasangka yang tiba-tiba saja terbesit.
“Sekali lagi terima kasih karena telah membantuku, dan terima kasih juga untuk ini.” Tuturnya sambil mengangkat susu tadi, senyum tulus benar-benar hadir di wajah cantik Qiandra.
Gadis itu ingin segera berlalu dari tatapan pria ini, dia merasa sedikit canggung berhadapan dengannya, dan Qiandra memanglah sosok yang sedikit sulit berbaur dengan orang-orang baru.
Ah sudahlah, yang penting dia telah mengucapkan terima kasih. Berlalu dari sana adalah pilihan terbaik, tapi sepertinya ada yang aneh. Kenapa pria itu terus mengikuti Qiandra?
“Anu, apa kau tahu dimana letak bahan makanan?” pertanyaan itu berhasil membuatnya menghentikan langkah dan berbalik. Kenapa dia tidak bertanya pada karyawan saat memasuki Supermarket, ahh sudahlah anggap ini sebagai balas jasa. Toh dia juga akan ke sana!
“Tentu, kau ingin beli apa?” tanya Qiandra. Sesaat kemudian, dia telah berjalan lebih dulu untuk memandu pria itu.
“Ayam, sayuran, buah dan beberapa bahan lainnya sih.” Ucapannya dengan lantang, dan berhasil membuat Qiandra kembali melihat ke arahnya. Bukankah sangat jarang mendengar pria berbelanja bahan makanan?
“Kenapa kau tidak meminta ARTmu yang belanja? Apa kau yakin bisa memilih bahan yang segar?” tanya Qiandra penasaran.
“Mba yang biasa membantuku di Apartemen sedang cuti karena sakit, jadi aku yang belanja. Lagian aku juga bisa memilih bahan dan memasak makananku sendiri, kasian mbanya kalau diminta ke Pasar atau Supermarket.” Jelasnya dan langsung tergerak mengambil beberapa bahan, seperti mengecek kelayakan dari apa yang dia sentuh. Wah bukankah dia sosok yang cukup menarik?
“Kau bisa masak?” tanya Qiandra mastikan. Bukankah jarang bertemu pria yang punya kebiasaan itu?
“Tentu, kebetulan aku pernah menjadi chef. Tapi karena suatu alasan aku harus meninggalkan duniaku itu, dan berakhir seperti ini.” Lontar pria itu menunjukkan setelan kerjanya dengan nada yang rendah, tapi masih dengan senyum ramah yang menghias.
“Tapi sekarang aku mulai menikmati pekerjaanku saat ini, lagian tidak perlu menjadi chef untuk bisa memasak bukan?” ungkapnya menenangkan Qiandra, yang tampak tidak enak karena telah mengulik sesuatu.
“Kenalkan aku Aarav,” timpanya diiringi dengan senyuman yang begitu ramah. Uluran tangan itu menunggu sambutan dari gadis cantik yang tengah memegang troli tersebut.
“Qiandra,” senyum manis miliknya seakan mengintimidasi senyum ramah pria itu.
__ADS_1
Pertemuan ini adalah angan Aarav, perasaannya telah ditekuk rindu ingin secepatnya jumpa. Apakah ini termasuk kelancangan karena berharap demikian? Dia sudah cukup lama menunggu, berharap agar Qiandra mampu melihat cekungan pelangi cinta dalam netra hitam miliknya.