Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Rival?


__ADS_3

Aku memanjakan diri dengan kehadiranmu, konspirasi? sepertinya pikiran dan perasaanku telah melakukannya. (yuliashafira14)


.


.


.


Pagi yang cerah kembali menyemburkan sinarnya, seorang pria telah bangun dari tidur lelapnya dan tengah mematut diri di depan cermin.


Dia telah menyematkan Single Breasted berwarna soft pada tubuhnya, tapi tunggu! bukankah ini terlalu pagi untuk seorang pemilik perusahaan telah bersiap dan serapi ini. Ah, sudahlah toh dia bosnya.


Saat tengah mengecek kembali penampilan necisnya, tiba-tiba dia tersenyum ketika sekilas wajah seseorang melintas. Qiandra, hanya karena potret gadis itu yang mampu memantik cekungan hangat seorang Gibran. 


“Bisa gila aku!” lirihnya, sejurus kemudian dia telah menuju parkiran di mana Audi A3 berwarna hitam telah menunggu. Yah, dia menggunakan mobilnya yang lain saat ini. Sultan!


Jalanan masih lengang sehingga Gibran bisa sedikit santai dan mengendurkan kecepatan kuda besi miliknya, 35 menit waktu yang dihabiskan agar bisa sampai ke kerajaan bisnisnya.


Seperti biasa, saat menapaki lobby dia telah disambut dengan sikap ramah setiap orang. Dan saat menuju lift pandangannya tertuju sosok Darel yang sendirian.


Seorang diri? tentu, karena memang Fahar sedang diamanahkan Gibran untuk bertugas ke luar daerah. Tapi, sepertinya ada yang aneh dengan pria itu, ada apa?


“Mimpi apa kau bisa datang sepagi ini?” suara Gibran nampak mengagetkan Darel, dia mengamati dan sedikit aneh melihat Darel melamun sepagi ini.


“Apa?” kan! dia memang melamun, tampilannya memang rapi dan rupawan tapi hal itu berbanding terbalik dengan ekspresi yang dia suguhi.


“Tumben kau datang sepagi ini, dan kenapa dengan wajahmu?” mereka memasuki lift. Angkutan besi itu bergerak, membawa keduanya ke lantai 30.


“Aku hanya bosan di rumah, kau sendiri?” dia pun menyelidiki penampilan Gibran.


 


“Aku? mmm apa kau lupa kalau kita ada rapat bersama Aksa pagi ini?” jawabnya.


“Seingatku, rapat kita akan dimulai dua jam lagi.” lontarnya, Darel langsung melihat pergelangan tangan yang dihias oleh jam mahal itu. Skakmat! Gibran sulit mengelak.

__ADS_1


******


Tidak hanya Darel yang menampakan wajah mendung, di tempat lain 2 gadis juga menampilkan ekspresi yang sama. Pikiran Qiandra dan Kalya terbawa arus, mengingat kembali alasan yang membuat mereka seperti ini.


/“Nak, sekarang Kalya sudah punya seseorang yang akan menjaganya sebelum pernikahan. Setelah ini, Mama akan mengenalkanmu pada anak teman Papa.”/


/“Ara sepertinya menyukaimu Nak. Katanya, melihatmu secara langsung memang beda. Apa kau juga menyukainya? Jika iya. Mama akan mengatur perjodohan kalian. Nanti Mama akan menghubungimu lagi!”/


Dia menghela nafas berat saat mengingat kembali ucapan Mama Dyra, ada harapan dan ketulusan untuk Qiandra di sana. Gadis itu harus memberikan pengertian pada orangtua Kalya, menjelaskan melalui ponsel sepertinya kurang sopan.


“Qia bagaimana kalau kita menemui Papa?” sela Kalya tiba-tiba, apa dia bisa membaca pikiran? Kenapa gadis itu mengatakan hal yang baru saja dipikiran Qiandra.


“Haruskah? apa kau akan ikut?” selidiknya, dan langsung mempersempit jarak bersama Kalya.


“Tentu saja, aku juga merindukan Papa dan Mama. Akhir pekan ini kita pergi, bagaimana?” Kalya sudah mengetahui permasalahan Qiandra, dan pasti dia akan membantu membicarakan hal ini bersama orang tuanya.


“Baiklah, tapi tunggu! kau tidak berencana melarikan diri dari Darel kan?” lontar Qiandra curiga.


“Aku hanya memberikannya waktu, sampai hari ini dia masih mengabaikanku. Aku berharap, saat kita kembali dia mau mendengarkan semua penjelasanku.” Qiandra hanya mampu mengangguk, sesaat kemudian keduanya kembali terdiam dengan pikiran masing-masing.


******


Seperti hari-hari biasa, Restoran milik kedua gadis itu telah diramaikan oleh pengunjung yang letih karena pekerjaan pagi mereka. Sebagai bentuk tanggungjawab pada diri sendiri, kini orang-orang itu tengah menghabiskan waktu istirahat siang mereka di sana.


Hal yang sama juga dilakukan Qiandra dan Kalya, mereka telah menempati tempat biasa. Menunggu, keduanya tengah menunggu.


“Hai,” sapa Gibran. Reflek menuntun arah pandangan Qiandra pada pria itu. “Hai,” jawabnya tersenyum. Kalya masih memandangi pintu masuk, berharap seseorang akan menyusul Gibran.


“Darel menitipkan pesan untukmu Kal, katanya jangan menunggunya karena dia tidak akan datang. Dia sedang ada pertemuan dengan klien!” ungkap Gibran tidak enak, dia tahu permasalahan yang tengah mereka hadapi. 


Pria itu diam karena memang saat ini Darel belum mau mendengarkan masukkannya, dia menarik kursi dan segera mendaratkan diri. Karena sepertinya, itu adalah pilihan terbaik saat itu.


“Ouh benarkah?” jelas Kalya, untuk pertama kalinya Darel tidak datang. Dulu sesibuk apapun pria itu, dia tetap akan menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu istirahat mereka. Darel, sepertinya dia menghindari Kalya.


“Tentu saja, dia menyuruhmu menghindari makanan pedas.” Bohong! Darel adalah tipe pria yang akan melarang secara langsung, berpesan pada Gibran? sepertinya itu bukan gaya pria itu. 

__ADS_1


Gibran pasti hanya ingin menenangkannya, senyum miris Kalya terlihat. Yah, dia memang menyukai pedas walau tidak seekstrim Qiandra. 


“Kal,” panggil Qiandra menyadarkan. Kalya melamun! dia ikut sedih melihat ekspresi gadis itu, semoga semuanya akan baik-baik saja.


Makan siang mereka berlangsung tanpa tawa seperti biasanya, Gibran melirik Qiandra. Gadis itu pun tampak berbeda, apa hanya dia yang tampak bahagia di sini?


“Pak Gibran?” sapaan itu membuatnya menoleh, dan diikuti oleh Qiandra dan Kalya. Kedua gadis itu nampak terkejut, melihat seorang pria yang tengah berdiri di sisi meja mereka.


“Aarav,” itu bukan sambutan Gibran. Melainkan lirihan Qiandra, tentu saja kata itu menyambut tanya Gibran dan Kalya.


“Dia pria yang di taman itu kan? kau tahu namanya?” ulik Kalya dengan berbisik samar, tapi begitu jelas ditangkap Gibran. 


“Iya, aku tidak sengaja bertemu dengannya saat belanja kemarin.” Jelasnya pada Kalya, jadi Aarav pria yang bersama Qiandra waktu itu? mereka tidak tahu, jika saat ini Gibran sedang mencuri dengar percakapan rahasia mereka. 


“Kalian saling kenal?” suara Aarav kembali terdengar, pandangannya mengamati kedua gadis itu dan Gibran.


“Iya, tidak disangka kita bertemu di sini.” Sambut Gibran akan pertanyaan itu, dia menjabat uluran tangan pria tersebut.


“Wah benarkah? aku senang bisa bertemu denganmu lagi,” Aarav tersenyum pada Qiandra.


“Aku dan Pak Gibran adalah rekan bisnis, siapa tahu kau penasaran.” Timpanya, ingin rasanya gadis itu berteriak dan berkata. Tidak ada yang bertanya! tapi itu urung dilakukukan, mengingat dia merupakan rekan kerja Gibran. Qiandra harus menjaga kesopanannya!


Kalya hanya bisa tersenyum melihat ekspresi kikuk Qiandra dan hawa tidak suka Gibran, “Boleh aku bergabung? sepertinya Restoran ini tempat favorit banyak orang, lihatlah. Tidak ada tempat kosong selain di sini,” meja ini khusus untuk mereka berlima dan tidak pernah digunakan orang lain. Bagaimana caranya untuk menolak? pikir Qiandra.


“Duduklah!” jawab Kalya, dia sedang menjahili Gibran dan Qiandra. Lihatlah, mereka menatap Kalya tidak percaya.


“Apa boleh?” ulangnya meminta persetujuan Qiandra dan rekan bisnisnya itu.


“Ah iya, silahkan Pak Aarav.” Untuk kali pertama Gibran merasa kikuk menyambut pria itu, Qiandra hanya mengangguk dan kembali menikmati makan siangnya.


“Terima kasih, panggil saja aku Aarav saat kita tidak dilingkungan kerja.” Pintanya pada Gibran, kenapa pria ini banyak sekali permintaan. Pikir Gibran!


Acara makan kembali dilanjutkan dengan tambahan personil. Disela pembicaraan ringan Aarav bersama Gibran, pria itu tampak terang-terangan mencuri pandang pada Qiandra. Menawan, kata yang didefinisikan Aarav untuk gadis yang sedang menunduk itu.


Gibran yang menatap arah pandang rekan bisnisnya itu terlihat tidak suka. Dan Kalya? Jangan ditanya! karena hanya dia yang tersenyum jahil disituasi mereka saat ini, dasar.

__ADS_1


Gibran ingin berproses bersama Qiandra, ikrarnya pada sang pemilik senja. Saat ini, dia bukan sekedar jatuh cinta. Melainkan ingin membangunnya bersama gadis itu, dia tidak akan bergeser. Sekalipun ada yang mengoyak pertahanannya!


__ADS_2