Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Pria Tampan


__ADS_3

Binar mata itu mendamba, cintanya dipandu rindu. Aku terbelit, dan aku tertegun. (yuliashafira14)


“Jangan melihatnya seperti itu, kalau tidak akan aku laporkan kau pada Darel.” Bisik Qiandra dengan sedikit ancaman, dia ingin sahabatnya itu tidak terlena dengan rasa khilaf. Dan Kalya? Tentu saja langsung menatap Qiandra, gadis itu tengah cengengesan.


“Apa kau tidak apa-apa? Maaf tadi aku tidak sengaja!” ulang Qiandra, karena sejak tadi pria itu hanya diam dan terus menatapnya. Bukankah itu tidak sopan?


“Aku baik-baik saja. Kau sendiri?” lontarnya, apa ada sesuatu di wajahku? Kenapa tatapannya seperti itu? Pikir Qiandra.


“Syukurlah, aku juga tidak apa-apa. Sekali lagi maafkan aku, kalau begitu kami permisi. Ayo Kal.” Timpanya, dan berniat menarik lengan Kalya untuk menjauh. Tapi gadis itu malah bertanya, “Apa kau tinggal di sini? aku belum pernah melihatmu sebelumnya.” Selidik Kalya, apa dia ingin menjadi bagian dari tim keamanan? Untuk apa dia bertanya hal itu?


“Apa kau sudah mengenal setiap orang yang tinggal di unit ini? Berhentilah bertanya, kau tidak lihat wajahnya yang tidak nyaman itu?” bisiknya kembali, jika Qiandra begitu ceroboh maka Kalya begitu ingin tahu. Benar-benar serasi dan menyusahkan bukan?


“Maafkan sahabatku karena bersikap tidak sopan, silahkan lanjutkan aktivitasmu. Kami permisi!” dengan segera dia menarik Kalya, sebelum gadis itu kembali bertanya hal-hal aneh pada pria yang baru saja sekali mereka temui.


Ketika mereka berbalik, tatapan pria itu masih mengawasi punggung Qiandra. Dia tersenyum karena alasan tertentu, dia memilih untuk segera kembali ke unitnya daripada melanjutkan akfivitas yang tadi sempat terganggu.


“Qia bukankah pria tadi sangat tampan? Yah, walau dia tidak setampan tunanganku sih.” tanyanya saat hendak menuju lift, Qiandra sempat menduga jika telah mengajak Kalya pergi bisa membuatnya berhenti berbicara mengenai pria tadi. Ternyata dia keliru karena berfikir seperti itu!


“Kenapa jika dia tampan?” tanyanya cuek, seakan hal itu bukanlah sesuatu yang menarik.

__ADS_1


“Aku hanya mengatakan itu saja, apa kau tidak tertarik?” selidiknya, Qiandra tidak mengira jika Kalya akan bertanya hal seperti itu. Tertarik? ayolah, Qiandra bukan gadis mata keranjang!


“Tidak!” kata itu cukup jelas untuk Kalya, mendengar jawaban Qiandra membuat dia tersenyum karena suatu alasan.


Saat tengah menunggu pintu lift terbuka, tiba-tiba suara deheman seseorang membuat mereka menoleh. Itu pria yang tadi, ingin rasanya Kalya kembali bertanya tapi tatapan Qiandra begitu mengintimidasi.


“Lantai berapa?” tanya Kalya saat mereka sudah berada di dalam lift, sifatnya memang seperti itu! dia akan menjadi begitu ramah pada pria-pria tampan. Dan dengan hati yang riang ingin menjadi relawan untuk hal-hal sepele.


“Lantai 15.” Jawab pria itu, dan berhasil membuat Kalya kembali melirik ke arahnya untuk memastikan pendengarannya tidak keliru. Ternyata mereka akan ke lantai yang sama, Kalya menatap Qiandra yang malah bersikap biasa saja dan tersenyum seadanya.


“Lantai 15!” bisik Kalya pada Qiandra, gadis itu malah berucap tanpa suara. “Terus?” sepertinya Qiandra benar-benar tidak peduli, Kalya lupa jika Qiandra memang bukan tipe yang akan histeris saat melihat pria tampan. Apalagi semenjak ada Gibran di hidupnya, bukankah alasan itu cukup untuk membuatnya tidak bergeming pada yang lain? Tentu!


Gedung Anggada Development


Gibran baru tiba di Kantor pada pukul 10 pagi setelah bertemu dan meeting di luar bersama client, saat melewati lobby seperti biasa karyawan yang berpapasan akan menyapanya dengan hangat dan pria itu pun kembali menyapa mereka dengan tidak kalah ramah. Gibran selalu saja terlihat tampan, dan akhir-akhir ini senyumnya bahkan semakin mempesona. Bukankah dia terlalu serakah karena memiliki semuanya?


“Apa kau akan menerima tawaran itu?” saat ini mereka berada di ruangan Gibran untuk membahas rencana kerja sama yang sempat diajukan Aksa. Gibran kembali membaca poin-poin penting yang tertera di sana, cukup menguntungkan. Pikirnya! 


“Iya, tawaran mereka bisa meningkatkan profit Perusahaan kita. Aku ingin kau yang bertanggung jawab pada proyek ini.” Gibran melirik Fahar yang mencoba menghindar dengan berpura-pura terlihat sibuk, ahh kenapa mata Gibran bisa setajam itu?

__ADS_1


“Baiklah,” ucapnya pasrah. Karena dia tidak punya alasan menolak! Darel? Pria itu tidak bisa menahan tawa saat melihat wajah Fahar yang terlihat lusuh, cukup lama mereka berada di ruangan Gibran dengan membahas beberapa proyek yang akan mereka kerjakan ke depannya.


Saat membahas masalah Perusahaan, Gibran tidak jemu melirik jam tangannya. Kenapa jarumnya berputar begitu lambat? Dia tengah berharap, waktu makan siang akan segera tiba. Darel yang menyadari hal itu langsung bertanya, “Apa kau sudah tidak sabar ingin makan siang atau tidak sabar ingin menemui seseorang?” Gibran nampak berpura-pura membaca berkas di hadapannya, Fahar dan Darel hanya tertawa melihat reaksi Gibran. Apa dia merasa tertangkap basah? Ck.


“Berhentilah tertawa. Cepat selesaikan ini dan kita langsung makan siang, aku sungguh lapar.” Timpanya dengan menekankan kata lapar, tapi itu Bohong! dia hanya beralasan. Karena pada kenyataannya, Gibran hanya ingin melihat wajah seseorang lebih cepat hari ini.


Mereka mengangguk dan berusaha meredam tawa, Gibran seolah berburu dengan waktu. Apa dia serindu itu pada seseorang? Hah, bisa jadi!


1 jam berlalu kemudian dia berujar, “Sudah selesai bukan? Ayo kita pergi sekarang!” sebelum mendengar jawaban sahabatnya pria itu malah telah melewati mereka terlebih dulu setelah membereskan meja kerjanya, kenapa dia bertanya jika tidak ingin mendapatkan jawaban mereka? Dasar!


“Lihatlah sahabatmu itu!” ucap Fahar, mereka mengikuti Gibran. “Sahabatmu!” timpa Darel. Apa keduanya tidak ingin mengakui Gibran saat ini? Dasar tidak setia kawan!


Mereka menyusul Gibran yang sudah berada di parkiran, pria itu terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya. Bukankah dia kelaparan? Kenapa orang yang kelaparan bisa terlihat begitu bahagia? Fahar menggeleng kemudian melirik Darel untuk mengadukan Gibran tapi, astaga ternyata pria itu juga sama saat memandangi ponsel yang ada di genggamannya.


Fahar hanya mempu merutuki Gibran dan Darel dalam hati, kenapa dia harus terjebak bersama sahabat yang kasmaran seperti mereka saat ini? Entahlah!


Apa dia harus harus mempertimbangkan saran Darel dan Gibran untuk mencari jodoh? Tapi, hatinya masih untuk seseorang. Ahh sudahlah, pikirkan itu nanti!


Mereka bertiga memutuskan untuk menaiki mobil yang berbeda menuju Restoran Qiandra dan Kalya. Dan kini, kendaraan ketiganya telah melaju dan langsung membelah kota yang terkenal dengan kemacetan ini.

__ADS_1


Dia yang bertitah kini telah bertahta, untaian penuh kasihnya telah menjadi nyanyian indah. Gelora pun kian menyesakkan dada, sungguh. Kalimatnya mengayun indah, dan anganku beranjak ke arahnya.


__ADS_2