
Mungkin ini terlihat sepele tapi aku punya rasa yang ingin kau abaikan, andai angan menjadi nyata. Mimpi pun tak akan pernah hilang. Inikah sebutannya lara pilu ?? (yuliashafira14)
Seperti perkataannya semalam saat jam makan siang Darel datang mengunjungi Restoran untuk mengajak Kalya menghabiskan waktu istirahat bersama, dia memilih meja kosong dekat jendela dan tidak lama dia merogoh kantong jasnya untuk menelpon.
“Halo” jawab seseorang di seberang.
“Aku sudah sampai, apa kau akan membiarkan mempelaimu kembali menunggu ??” kemudian mematikan sambungan panggilan dan itu berhasil memancing rasa kesal lawan bicaranya di telepon, dan yah Kalya memang selalu membuat Darel menunggu bukan hanya sekali tapi setiap saat Darel mengajaknya untuk bertemu. Bahkan pesannya selalu diabaikan oleh Kalya, saat sedang menunggu Darel melihat Qiandra.
“Kau sahabat Kalya bukan, aku Darel tunangannya” tanyanya dengan mengulurkan tangan.
“Ah iya aku Qiandra sahabatnya” jawabnya.
“Aku sedang menunggu Kalya turun tapi sepertinya dia sengaja membuatku kesal, apa aku bisa bicara. Aku ingin meminta bantuan padamu” pinta Darel dengan tangannya mempersilahkan Qiandra duduk.
“Bantuan apa” tanya Qiandra bingung, dengan ragu Darel mulai bercerita “Aku tidak tahu harus memulai darimana, tapi aku minta setelah kau mendengar ini tolong rahasiakan dari Kalya. Mmm sebenarnya aku mengenal Kalya sudah sangat lama tapi sepertinya dia tidak mengingatku saat ini, semenjak pertemuan pertama kami aku sudah menyukainya. Mungkin ini terdengar mengerikan, sudah 5 tahun terakhir aku memantau Kalya dari jauh. Sampai akhirnya aku memberanikan diri meminta bantuan orang tuaku untuk mengatur pertunangan ini, aku tahu di luar sana banyak pria yang mengejarnya” ujarnya.
“Benarkah ?? Aku tidak pernah menyangka hal ini” jawab Qiandra tidak percaya, dan hanya senyuman Darel yang menyambut reaksi sahabat dari gadis pujaannya itu.
“Tentu saja ini kebenaran, karena kau sahabat Kalya aku ingin meminta dukunganmu agar bisa lebih dekat dengan gadis itu. Sepertinya dia tidak menginginkan pertunangan ini tapi aku akan membuat dia jatuh hati padaku dan itu tidak bisa aku lakukan sendiri” jelasnya menatap Qiandra dengan permohonan “Kalau kau tidak percaya dengan ucapanku hubungi saja orang tua Kalya, mereka tahu segalanya” lanjutnya.
“Aku akan membantumu tapi ingat jika kau menyakiti sahabatku maka aku tidak akan tinggal diam, nanti aku akan menghubungi tante Dyra dan om Agam” jawabnya dengan serius, yah mereka tenggelam dengan pembicaraan tentang awal dari ketertarikan Darel pada Kalya karena rasa penasarannya Qiandra mendengar dan sesekali menanggapi cerita itu.
“Kalya akan bersikap menyebalkan saat sulit menutup ketertarikannya pada seseorang, mungkin kau tidak tahu tapi anak itu tertarik padamu. Kau hanya perlu memancingnya supaya mengaku” ujarnya dan berhasil membuat Darel menatapnya.
__ADS_1
“Benarkah ??” tanyanya memastikan, karena sikap Kalya yang selama ini membuatnya berpikiran lain dan hanya diangguki oleh Qiandra.
“Qia” panggil Kalya yang kaget melihat sahabatnya itu berbicara dengan Darel, karena tidak biasanya dia melihat Qiandra akan seserius itu berbicara dengan pria.
“Ya ampun kenapa kau baru datang ?? Darel menunggumu sudah sangat lama, duduklah aku akan ke ruanganku” karena sapaan itu membuat keduanya menoleh, Qiandra yang paham langsung bertindak meninggalkan keduanya.
“Kau sudah makan ??” tanya Kalya dan mulai duduk di kursinya.
“Sudah, temanilah dia” sambil mengangkat dagunya kepada Darel, sebelum pergi Darel berucap dengan lembut “Aku akan menghubungimu nanti dan terima kasih Qia” ada maksud tersembunyi dari ucapannya itu karena tahu maksud Darel, Qiandra hanya tersenyum menanggapinya. Kalya yang melihat itu merasa ada yang aneh tanpa sabar dia bertanya pada Darel.
“Apa yang kalian bicarakan ?? Kenapa Qia bisa makan denganmu ?? Dan kenapa kau akan menghubungi Qia ??” tanyanya tidak sabaran dengan mata penuh tanya, ini berbeda pikirnya.
“Aku melihat Qia dan menanyakanmu mungkin karena kasihan melihatku menunggu seseorang yang sengaja mengabaikanku dia dengan terpaksa duduk di sini, kami bicara banyak hal tentang pekerjaan. Aku meminta nomor ponselnya karena dia orang yang baik dan tentu saja karena dia sahabatmu makanya aku akan menghubunginya kalau kau mengabaikan panggilan dan pesanku lagi” jawab Darel sekenanya.
“Kau tahu darimana ini makanan kesukaanku ??” bukannya memakan Kalya malah sibuk memainkan daging yang ada di hadapannya.
“Kau tidak perlu bertanya, aku tahu semua tentangmu tanpa bertanya pada orang lain” jawabnya dengan sesekali melihat jam tangan di tangan kanannya.
“Kenapa kau melihat jam terus” tanya Kalya, ini pertama kalinya dia peduli dengan apa yang dilakukan Darel.
“Aku sudah cukup lama meninggalkan kantor, cepat habiskanlah makananmu aku harus pergi” yang kini tengah menatap Kalya yang belum memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Pergilah sana, siapa suruh kau berbicara dengan Qia sampai lupa waktu” jawabnya dengan kesal yang terdengar seperti ada kecemburuan di telinga Darel.
__ADS_1
“Aku menunggumu sedari tadi Kalya, seharusnya kau berterima kasih pada sahabatmu itu. Makanlah, aku akan kembali ke kantor setelah makananmu habis” jawabnya dengan senyum yang menawan tentu saja membuat Kalya terpana dan tanpa bantahan mulai memakan apa yang telah tersaji.
******
Di kantornya Gibran kembali tidak fokus dengan pekerjaan bahkan bahkan ketukan pintu tidak membuatnya sadar.
“Gibran” panggil Fahar dengan suara yang terdengar seperti bentakan untuk Gibran, dengan segera dia menoleh dengan tatapan kesal.
“Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu, aku tidak tuli berhentilah memanggil seperti tadi” jawabnya dengan kembali fokus dengan beberapa berkas di mejanya.
“Aku sudah mengetuk pintu bahkan aku memanggilmu berulang kali, apa ada masalah ??” karena setelah pergi untuk makan siang Gibran lebih banyak melamun.
“Tidak ada, kemarikan berkas yang di tanganmu” jawabnya mengalihkan, dengan cepat dia menandatangani berkas yang dibawah Fahar.
“Apa Darel sudah kembali ??” tanya Gibran kembali tanpa menoleh.
“Belum, aku rasa dia masih bersama tunangannya yang tadi kita lihat. Kau kenapa langsung mengajak pergi ke tempat lain saat sudah di sana ?? Padahal kita bisa berkenalan dengan gadis itu” tanya Fahar, saat akan makan siang Gibran mengajaknya ke Restoran Qiandra tapi saat akan masuk dia melihat Darel di sana dan menghabiskan waktu makan siang bersama gadis yang menarik perhatiannya akhir-akhir ini. Satu hal yang terlihat mereka tampak bahagia, Qiandra tersenyum sangat cantik saat itu dan berhasil membuat Gibran menghentikan langkahnya untuk memasuki Restoran. Entahlah, perasaan Gibran sangat terganggu dengan kebenaran yang dilihatnya.
“Aku hanya tidak ingin mengganggu mereka” jawabnya sambil menyerahkan kembali berkas itu setelah dia tanda tangani.
“Benar juga, Baiklah aku kembali ke ruanganku” pamit Farel dan hanya di angguki olehnya.
“Ya seharusnya aku tidak mengganggu bukan ?? Aku bisa mengabaikan Qiandra dan perasaanku. Bagaimanapun caranya aku harus menghilangkannya” gumam Gibran dengan memijat lembut pelipis dengan jari jemarinya.
__ADS_1