
Aku hanya mampu melihat potretmu yang mengawang, bayangmu yang dulu mengembang kini pudar karena remang. (yuliashafira14)
.
.
.
Rasa tidak percaya kini menyambut setiap deru langkah Gibran dan Darel, keduanya telah memasuki ruang tamu dan menjadi objek menarik untuk Qiandra juga Kalya. Kedatangan mereka jelas menjadi tanya bagi keluarganya dan juga Aarav!
Berbeda dengan Qiandra yang begitu terkejut, Gibran malah terbuai dengan perasaan tanya sejak tadi. Rasa penasaran tentang kenapa Aarav juga berada di rumah ini?!
“Nak Darel kenapa tidak mengabari kami jika ada di kota ini? Jika kalian memberitahu, kami bisa meminta sopir untuk menjemput kalian.” Tanya Papa Agam, Darel telah mengambil tempat bersama Gibran di sisi kiri. Pria itu langsung tersenyum kikuk saat mendengar pertanyaan calon mertuanya, ingin sekali dia meluapkan keluh kesah yang disebabkan Gibran. Hah! Dia menahannya dengan begitu baik.
“Saya hanya ingin memberi kejutan om, saya sedikit terkejut saat mengetahui Kalya sudah berada di Bandara kemarin. Saya sebenarnya memang ingin datang untuk bersilaturahmi sekalian dan rehat dari pekerjaan, tapi alasan sesungguhnya karena Kalya. Saya tidak bisa jauh dari calon istri saya om!” Tutur Darel dengan beberapa persen kebohongan, yah. Kebohongan bahwa yang menyeretnya kemari adalah Gibran! Walau dia tidak memungkiri bahwa kerinduan juga turut mengambil peran.
Kalya yang mendengar penuturan Darel, serasa ingin terbang ke awang-awang dengan meminjam paksa sayap bidadari jika bertemu. Gadis itu terhanyut bersama lipatan ombak, hanya untaian kata penuh gombalan kenapa terdengar seperti syair cinta romantis di telinganya?! Pikir Kalya.
“Haha, benarkah? Ma. Sepertinya kita harus segera menikahkan mereka, bukan begitu sayang?” goda Papa Agam pada Kalya. Tawa bahagia kembali mengisi ruangan dan menepis jarak, hanya Aarav yang kebingungan dengan keberadaan pria-pria itu saat ini.
“Om masih ingat Gibran bukan? Sahabat kami,” ulik Darel.
“Tentu saja, kita pernah bertemu saat pertunangan kalian waktu itu.” Jawabnya.
“Ini kenalkan Nak Aarav,” lanjut Papa Agam memperkenalkan pria yang terdiam sejak kedatangan mereka beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
“Nak Aarav, ini Darel tunangan Kalya dan ini sahabat mereka nak Gibran.” Timpa Mama Dyra.
“Senang bertemu dengan kalian lagi, aku tidak menyangka jika kita terlibat satu sama lain sampai sejauh ini.” Senyum hangat Aarav menyebar, Qiandra menatapnya dan itu berhasil memicu tautan alis Gibran. Dia tidak menyukainya!
“Kami rekan bisnis om.” Aarav melanjutkan kalimatnya untuk memenuhi keingintahuan pria paruh baya itu.
“Benarkah? Ternyata takdir begitu baik mempertemukan kita, bukan begitu Ma?” Mama Dyra yang dimintai persetujuan pun langsung tersenyum menyetujui.
“Benar Pa, baiklah bagaimana jika kita makan malam terlebih dulu? Kalian juga pasti belum makan malam kan?” serunya. Anggukan mulai menggiring langkah mereka menuju meja makan, kesempatan itu langsung digunakan Gibran untuk mendekat dan berbisik pada Qiandra.
“Kau marah padaku?” tanyanya penasaran, rajutan gelisah mulai menyemai di pikiran pria itu. Bagaimana tidak, Qiandra pergi tanpa memberitahu setelah sempat beradu mulut sebelum kepulangannya.
“Tidak!” balasnya disertai gelengan kepala, “Jika kau masih ingin bertanya utarakan itu setelah kita makan malam.” Lanjut Qiandra.
Saat di meja makan Mama Dyra mulai melayani Papa Agam dengan mengambilkan beberapa lauk untuk disantap, tanpa perintah Qiandra pun melakukan hal yang sama. Dia memindahkan nasi ke atas piring yang dipegangnya dan berpindah ke arah lain kemudian berujar, “Kau suka udang balado bukan?” Dia menatap Gibran untuk menunggu anggukan kepalanya. Pria yang tanya begitu terkesiap atas pertanyaan yang tiba-tiba, Gibran menatap sekeliling dan. Astaga! Semua orang menatap ke arah Qiandra dan dirinya!
“I-ya,” balas Gibran terbata. Kalya dan Darel hanya mampu beradu menahan senyum dengan perilaku Qiandra yang pastinya tanpa sadar itu, dia terbiasa melakukan hal tersebut saat mereka akan bersama di Restoran. Dan yang membiasakan hal itu bukan Gibran, terus siapa? Tentu saja Darel dan Kalya! pasangan usil sejagat.
“Sepertinya kalian cukup dekat sampai kau tahu makanan kesukaannya nak?” seru Mama Dyra, pertanyaan yang terdengar itu langsung memulihkan kesadarannya. Mata Qiandra berkeliling, ow! Dia lupa jika berada di rumah.
Karena intensnya pertemuan bersama Gibran membuat mereka saling terhubung tanpa melihat situasi, tatapan Aarav juga kini berubah sendu di ujung sana saat memperhatikan betapa perhatiannya gadis itu pada pria lain. Dan lebih parah dia berada di sana melihat adegan mereka, ahh.
Apa dia tidak terlihat? Kenapa Qiandra tidak bisa meredam ketertarikan untuk Gibran?
“Kami sering makan bersama Ma, iyakan Kal?” kikuknya dengan mengiba berharap Kalya bersuara. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya saat di rumah, ish! kenapa dia harus bertingkah saat bersama orang tua mereka.
__ADS_1
“Entahlah!” senyum jahil Kalya membuat harapan Qiandra memudar, anak ini! Awas saja jika meminta bantuannya jika mempunyai masalah.
“Aarav kemarikan piringmu,” pintanya tiba-tiba dan langsung melakukan hal serupa untuk pria itu. “Kau suka apa?” timpa Qiandra.
/”Kau,”/ ingin sekali dia mengatakannya tapi sayang kalimat itu seperti tercekat oleh sesuatu.
“Apapun yang kau ambilkan aku akan senang hati memakannya!” jawaban Aarav membuat kuping Gibran kepanasan, dia sudah menahan banyak pertanyaan tentang situasi ini. Sabar! mantranya.
Denting sendok dan obrolan santai mulai mendominasi makan malam mereka, Kalya dan Darel saling melemparkan senyum seperti remaja yang dimabuk asmara. Dan Gibran? Dia mulai mengembara dengan manik yang mencuri pandang ke arah Qiandra, sedangkan Aarav dan orang tua gadis itu nampak cocok dengan pembahasan mereka. Sampai tiba-tiba!
“Jadi, kau yakin tidak akan melanjutkan perjodohan dengan nak Aarav sayang?” Mama Dyra yang sejak tadi telah berpeluh oleh rasa ingin tahu sudah sulit membendung pertanyaan, dengan segera wanita paruh baya itu meluncurkan kalimat tanya tanpa sabar.
Gadis itu menoleh dan, tidak ada jawaban! Mata Qiandra menatap Gibran yang tampak terkejut saat mengetahui jika Aarav adalah pria yang ingin dijodohkan oleh walinya saat ini.
Riuh debaran memenuhi rongga dada Gibran, dia tidak bisa menghalau rasa was-was. Bahkan taman hati yang dulu dipenuhi bunga kini telah terganggu oleh duri kecil yang tiba-tiba muncul.
“Iya Ma, Pa.” Ucapnya dan disambut oleh senyuman Darel dan Kalya, “Maaf Aarav!” timpa Qiandra penuh sesal.
Keinginan yang bertabur harapan Papa Agam dan Mama Dyra mulai menghilang, mereka tidak bisa memaksakan kehendak pada anak gadisnya. Yah itu hak Qiandra untuk menolak, sebait do’a akan selalu mengiringi keputusan terbaik untuk anak-anak mereka.
“Bukan masalah Qia! Aku berharap bersama siapa pun dirimu di masa depan, semoga kau dipenuhi cinta. Jika nanti pria itu tidak bisa membahagiakanmu, maka jangan salahkan aku jika akan merebutmu darinya!” jawab Aarav dengan senyum penuh arti menatap Gibran.
“Baiklah nak, Papa dan Mama akan mendukung keputusan kalian.” Timpa Papa Agam dengan tersenyum, tepukan yang didaratkan di bahu kiri Aarav diberikan sebagai bentuk kekuatan untuk pria itu.
Salahkan, jika harapan Gibran mulai beranjak naik saat seseorang telah kehilangan asanya? Apakah bahagianya menyayat cinta pria itu? Jika iya dia akan meminta maaf karena hal tersebut. Dia mencintai Qiandra sejak dulu, redup hatinya jika tidak bersama gadis itu. Qiandra!
__ADS_1