
Kau tahu? Aku berusaha tapi berakhir sia-sia, karena pada kenyataannya memang sampanku sulit berkayuh jika tidak bersama dirimu. (yuliashafira14)
.
.
.
Sekelumit rindu memberikan kelegaan, rasa khawatir yang menaburkan ketakutan kini lenyap seiring bayang Qiandra berkenyataan. Risau yang mendekap masih menyisihkan aroma, tapi sungguh hal itu tidak memberikan toleransi untuk Gibran bahkan disaat gadisnya sudah terjangkau oleh pelupuk mata.
Derunya sempat tersendat dan debaran pun ikut terengah, apa jantung pria itu terlalu tua?! Kenapa bisa seperti itu saat Qiandra tidak di sisinya.
“Jadi katakan, ke mana saja kau seharian ini?” ulik Gibran dengan pelukan yang masih merekat.
“Bisakah kau lepaskan pelukanmu terlebih dulu?” tawarnya dengan mengulum bibir, ini sudah lewat beberapa menit. Tapi belum ada tanda jika pelukannya akan berakhir, apa dia memang semanja? Pikir Qiandra.
Teriakan malam mengundang hawa dingin, mengusik tubuh Gibran dengan suhunya. Berharap, rangkulan ini tidak hanya menjadi penawar kerinduan tapi juga mampu mengusir paksa suhu rendah yang menari di permukaan kulitnya itu agar enyah.
“Tidak! Aku ingin bicara seperti ini. Pelukanku adalah hukuman untukmu karena membuat aku dan yang lainnya khawatir,” jawab Gibran.
Tapi sayang, hal itu justru terdengar seperti sebuah alasan. Huft, Qiandra harus melakukan sesuatu untuk membuat dekapan hangat pria ini terlepas. Bukannya dia tidak mau berlama dalam pelukan kasih Gibran yang katanya adalah hukuman, hanya saja kemauan pria itu akan membuat mereka kesulitan ketika berbincang bukan? Pikir Qiandra.
“Aku berjanji tidak akan ke mana-mana, hmm.” Bukannya menurut, Gibran malah semakin kekeh dengan keinginannya. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul dalam benak gadis itu, dia tahu titik tertentu yang akan membuat pria ini tidak nyaman. Dia bisa mengusiknya dengan hal tersebut agar pelukannya terlepas, harap Qiandra.
Tanpa pikir panjang gadis yang dalam pelukan itu berjinjit untuk mencapai sesuatu, Gibran mampu merasakannya dan langsung memberi peringatan.
“Jangan melakukan hal aneh jika kau tidak bisa menanggung dampaknya Qiandra” ancam pria itu.
__ADS_1
Tapi sayang, selain cantik ternyata Qiandra juga begitu lincah. Rasa gemas yang sedari tadi meremas dirinya, sudah membuat gadis itu hanyut dalam ketidakwarasaan.
“Bisakah kau melepaskan pelukanmu?” bisik Qiandra tanpa memedulikan perkataan pria itu, Gibran yang merasakan deru napas pada telinganya langsung mendorong pelan tubuh Qiandra hingga berbenturan dengan meja makan. Sungguh dia meremang!
“A-pa yang kau lakukan?” tanyanya gugup, pelukan mereka memang sudah terlepas. Tapi adegan menghimpit Gibran membuat Qiandra salah tingkah, dia berada diantara tangan kiri dan kanan pria itu. Tatapannya yang dalam membuat gadis ini seperti tengah menyelam saat beradu, sungguh memabukkan.
“Aku sudah bilang, jangan melakukan hal aneh jika tidak bisa menanggung dampaknya bukan? Kau benar-benar keras kepala.” Astaga, apa dia sedang terancam? Qiandra sungguh gugup dan menyesali kebodohannya. Pria itu bahkan tidak memberikan sedikit pun peluang dan celah saat ini!
“Maaf, aku hanya ingin membuat pelukanmu terlepas dengan mengusik hal yang membuatmu tidak nyaman.” Kini Qiandra berani membalas tatapan Gibran, binarnya yang malu-malu malah membuat pria itu sulit mengendalikan diri.
Bukannya iba, Gibran malah semakin menepis jarak diantara mereka. Kibaran buncah begitu beringas menyela dan menyusup perasaannya. Bisakah dia menawarkan perdamaian pada pria itu? Ayolah, Qiandra tidak pernah sedekat ini sebelumnya.
“Kau tahu kenapa aku tidak nyaman dengan bisikanmu?” tanyanya dengan binar yang berbeda, Qiandra yang mendengar segera menggeleng.
“Aku tidak nyaman karena itu kelemahanku Qia.” Gadis itu terbelalak, bodoh! Umpatnya. Dia tentu mengerti maksud dari pernyataan Gibran.
Gibran kian mencondongkan kepalanya ke arah Qiandra, dan gadis itu mencoba mendorong pelan dada bidangnya dengan kedua tangan, berharap gerakan tersebut mampu memberi ruang untuk angin melewati tubuh mereka. Dia benar-benar kepanasan!
Qiandra bingung, haruskah dia menutup mata dan menikmatinya atau menguatkan sendi dalam tubuh untuk menolak? Ahh entahlah.
Cup
Kecupan mendarat, benda lembut dan dingin itu berhasil menyentuh bagian tubuhnya untuk menyalurkan kehangatan. Tapi ada yang aneh, Qiandra segera membuka netra indahnya saat merasa janggal saat benda itu mendarat di tempat yang biasa. Keningnya!
“Apa kau menginginkan kecupan di tempat lain?” Gibran yang sudah menahan senyum sejak tadi kini menatap Qiandra dengan sedikit menggoda, lihatlah wajah gadisnya! Sungguh menggemaskan.
“Tidak!” gadis yang dilanda perasaan campur aduk itu langsung mengalihkan pandangannya. Memalukan, apa yang dia harapkan dengan kecupan tadi? Dasar.
__ADS_1
Kedua tangan Gibran yang bebas langsung menangkup wajah gadisnya yang entah sedang merajuk atau malu itu untuk dilihatnya, pria itu harus membawa tatapan Qiandra untuk berpulang ke arahnya. Dia tidak ingin gadis itu melihat ke tempat lain, apalagi jika bersamanya.
Wajah gadisnya memerah seperti ada jejak senja di sana, dia mengelusnya lembut. Mungkin Gibran mengira, jika warna tersebut hanya menggantung di pipi Qiandra. Setelah melakukan hal yang sia-sia, Gibran beralih untuk menepikan surai yang mengganggu penglihatannya pada gadis itu ke belakang telinga.
“Aku ingin Qia, tapi cukup waras untuk menahannya.” Mata Gibran menatap lembut Qiandra, dan ibu jarinya beralih menyentuh bibir merah gadis itu. Tentu saja gerakan ini membekukan udara di sekeliling mereka, dan diiringi masuknya granat dalam lubuk kedua sejoli itu.
“Aku bukan pria yang baik, Aku bahkan menahan diri untuk tidak mengecup bibir ini dan melakukan hal yang jauh. Tapi, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjagamu. Kau terlalu berharga untuk menyalurkan kesenangan yang berlangsung hanya beberapa menit itu Qiandra,” lontarnya.
Tangan Gibran kembali terulur untuk menyentuh tangan Qiandra yang masih bersarang di dadanya. Dia mengecup, dan melakukan hal yang sama pada kening gadis itu. Cukup lama dan mmm lembut!
“Aku menyayangimu!”
Qiandra menghangat, pria ini benar-benar membuatnya terharu. Tanpa perintah dia langsung berinisiatif memeluk untuk Gibran, hanya pelukan. Pria ini tidak hanya menyajikan cinta tapi juga begitu tanggung jawab, apa dia mencoba meniru lautan? Yah lautan yang tidak bergeming bahkan dengan memikul banyaknya pelayar di atasnya.
“Terima kasih,” jawab Qiandra dengan mata yang terlapisi air nan bening.
“Sebenarnya, seharian ini aku berada di Apartemen. Kami memang merencanakan semua ini untukmu. Bahkan orang-orang suruhanmu juga telah diancam Darel untuk menurut, aku ingin memasakan sesuatu dengan meminta tolong pada Aarav. Tapi, dia tidak bisa membantu karena masih berada di Makassar. Jadi kejutanku ya hanya seperti ini,” tuturnya panjang lebar dengan masih memeluk Gibran.
“Aarav?”
“Lepaskan dulu pelukanmu. Aku ingin mendengarnya dengan melihat wajahmu,” pinta Gibran. Kali ini dia yang ingin pelukan mereka terlepas, dasar aneh.
“Bukannya kau ingin mendengarnya saat memelukku?” tanyanya memastikan.
“Iya, sebelum kau menyebutkan nama pria lain.”
Setiap pasangan memang kerdil untuk membendung rasa cemburu, memamerkan gelombangnya dalam setiap lipatan. Bahkan lajunya sulit mengantre ketika ingin memperoleh kesabaran, mengayun dan teralun seperti tirai penghubung antara cinta dan kesungguhan.
__ADS_1