Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Puisi untuk Gibran


__ADS_3

Syair cinta dalam bait, ini bukan buaian tapi kesungguhan. (yuliashafira14)


.


.


.


Sore menjelang, gesekan angin dan daun di luar sana menimbulkan melodi lirih nan indah. Kain tipis pun polos sebagai sekat yang menutupi silau sang surya kala terbit, kini ikut menari dengan mahir kala terbiasa menjadi pengiring bagi deru lembut nan sepoi ketika fajar akan berpamit. 


Namun ada yang berbeda dari gerakan kain berwarna abu itu, iramanya kali ini terasa berlebihan. Yah berlebihan, lihatlah. Tidak hanya menari, tapi juga seperti tengah meminta perhatian Gibran yang duduk dengan lusuh sambil menggenggam ponsel dengan cemas saat ini.


“Kenapa dia tidak menghubungiku?” keluhannya kembali terdengar, pikiran kalut dan khawatir pun mulai terjun bebas ke hatinya. Pria itu kembali mendial nomor Qiandra. Tapi tetap sama, tidak tersambung.


“Apa aku melakukan kesalahan? Ahh, bahkan Kalya tidak tahu dia dimana?” senandung keluh dan putus asa kini mengusik dan sulit diredakan. Benar! saat akan menjemput Qiandra, pria itu dibuat bingung karena Kalya mengatakan jika gadisnya telah pergi sejak pagi.


Namun saat mampir ke Restoran, dia kembali dibuat panik ketika tidak teman kerjanya mengatakan Qiandra belum datang. Bahkan Kalya dan yang lainnya, tidak tahu dimana gadis itu berada.


Rona senja kian menjingga, pesona lembut cakrawala bahkan kurang mampu meluruhkan perhatian Gibran. Rasa gelisahnya kini terbang dan terdengar seperti simfoni yang tengah melagukan kerinduan, dimana gadisnya? Apa dia baik-baik saja? Pria itu tengah risau.


******


“Halo Kal apa kalian sudah menemukan Qia?” dengan tangan yang mengendalikan kemudi dan mata yang menelisik setiap sudut, tidak membuat pria itu kesulitan untuk melakukan panggilan.


“Belum, aku dan Darel bahkan sudah berkeliling ke tempat yang mungkin saja dia datangi. Tapi nihil,” jawab Kalya. 


“Astaga dimana dia? Baiklah lanjutkan saja pencarian kalian, aku akan kembali berkeliling.” Gibran melambatkan laju mobilnya, karena dia memang tidak sedang beradu dengan kendaraan lain saat ini.


Wajah tampannya kini menebal bersama rasa khawatir, pria itu sudah menunggu sejak sore tadi di Apartemennya. Menunggu kabar baik dari orang-orang kepercayaan!


Namun, jawaban yang sama berulang kali dia dengar. Mereka belum bisa menemukannya! Karena alasan itulah yang membuat Gibran turun langsung untuk mencari gadisnya, dia tidak bisa berharap pada orang lain.


Waktu telah berlalu tapi hasilnya tetap sama, Gibran seperti menyusuri lembah yang sepi. Rasa cemas dan takut, kini sedang bernyanyi dan membuat dadanya kian berdebar. Tunggu, ini bukan nyanyian tapi jeritan.


“Qiandra kau pergi ke mana?” keluhnya, dia sudah putus asa untuk mencari. Ini sudah hampir tengah malam, dan Qiandra? Gibran belum menemukannya!


Tring, ponsel pria itu berdering. Nama Darel muncul di layar, Gibran segera menepikan mobil dan mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.


“Apa kau sudah menemukannya?” tanya Gibran tanpa basa basi.


“Belum, aku dan yang lain sudah berkeliling tapi belum menemukannya.” Astaga Qiandra, hembusan nafas Gibran semakin berat. Seperti dihimpit oleh sesuatu!


“Sebaiknya kau pulang! Biarkan aku dan orang-orangmu yang melanjutkan pencarian,” tutur Darel di ujung sana.


“Apa kau gila? Mana mungkin aku pulang disaat gadisku entah di mana? Bagaimana jika dia tersesat dan sedang ketakutan?!” Hanya itu yang dipikirkan Gibran, bagaimana jika Qiandra ketakutan? Padahal dia sudah berjanji untuk menjaganya.


“Tenanglah, aku yakin Qia baik-baik saja. Sebaiknya kau pulang dan biarkan aku yang mencarinya malam ini, supaya besok kita bisa bergantian. Kita harus berbagi tugas, agar tidak kelelahan,” bujuk Darel. Benar, mereka tidak bisa kelelahan. Dia harus berpikir jernih!

__ADS_1


“Baiklah. Tapi aku akan berkeliling sekali lagi sebelum kembali," pungkas Gibran.


******


Malam kian larut, dengan bermodalkan cahaya indah rembulan pria itu semakin memperdalam pencariannya. Tapi tetap saja, yang ditemuinya hanya bayangan Qiandra dengan senyuman nan cantik.


Waktu pun berlalu, membuat roda mobilnya bisu dari keluhan. Yah, untung saja kendaraannya itu bisa diajak berkompromi untuk berkeliling. Biarkanlah, malam ini adalah saksi atas perjuangan Gibran untuk mencari Qiandra.


Tidak ada senandung merdu yang berisi dawai cinta dalam deru langkah pria itu kali ini, malamnya kini berbeda. Sungguh, dia ingin mendekap Qiandra! tapi sayang harapannya itu terasa sulit saat mengudara.


Ceklek


Gibran sedang memasuki unit Apartemennya, dan lagi. Kegelapan menyambut pria itu, apa dia lupa menyalakan lampu sebelum pergi? Entahlah. Dirinya tidak peduli, tanpa pencahayaan dia terus berjalan dan bergandengan dengan rasa sepi untuk mencapai sofa.


Dirinya terlalu malas dan lelah menuju saklar lampu yang tidak jauh di ujung sana, biarkanlah pria itu sejenak meleburkan perasaan khawatir dan rindunya bersama kegelapan. Hanya dalam gelap dia mampu menghadirkan ilusi gadisnya!


"Qiandra," lirih Gibran dengan mata yang terpejam. Dadanya begitu sesak saat menyebutkan nama indah itu!


"Hai Gibran," jawab seseorang. Membuat matanya yang terpejam langsung terbuka. Ini suara Qiandra!


"Qiandra dari mana saja kau?" tanya Gibran, dengan gerakan cepat dia sudah berdiri dari duduknya dan tengah berjalan pelan untuk mencapai saklar lampu. Pria itu ingin segera menghadirkan cahaya di ruangan ini, agar mampu melihat keadaan gadisnya.


"Aku akan menjawabnya nanti, tapi bisakah kau diam untuk mendengarkan sesuatu yang ingin aku katakan? Aku terlalu malu mengatakannya di bawah cahaya. Setelah selesai kau boleh menyalakan lampunya," pinta Qiandra.


Gibran menggurungkan niat untuk menekan tombol on saat mendengar permintaan Qiandra, jemarinya yang telah menjangkau saklar lampu dibiarkan menggantung di udara.


Hening...


~*Dara itu dimabukkan oleh perih yang menua, terbakar sakit karena kesunyian.


Digandeng dan diseret paksa dalam pijakan. Apa mereka tahu? 


Dirinya, terlunta dan terbuang dari cinta.


Dahaga kian mencekiknya di tanah gersang, semua dengki pun memaki kehadiran si Dara.


Seakan lupa, hanya cinta yang mampu dirinya serukan.


Mereka tidak peduli! 


Sampai di suatu masa, seorang Rajul datang dan menjampikan mantra.


Dirinya, memanggil jiwa di bawa kabut malam yang berbintang dan menyatakan.


Aku mencintaimu!


Malam itu di bawah rintik hujan, si Dara melihat perak keindahan dalam kesungguhan sang Rajul.

__ADS_1


Dara yang merana itu, terpaksa menghentikan jalar bahagia untuk meratap.


Tapi semakin lama, cinta merenggut paksa kesengsaraan. Bawakan madu di cawan yang sama! pinta si Dara. Dirinya akan meneguk cairan itu bersama sang Rajul.


Hai rajulku, selamat ulang tahun.


Apa rembulan menyampaikan kerinduanku padamu*?~


Lampu Apartemen dinyalakan Gibran setelah kalimat tanya itu, mata pria itu berkeliling mencari gadisnya.


Disana! Tepat di dekat meja makan, seorang gadis tengah berdiri dengan senyum manis yang mengembang. Pria itu tidak bisa menahan diri lagi!


Gibran berlari dan langsung menenggelamkan Qiandra dalam pelukannya, gadis ini! Bisa-bisanya dia tersenyum setelah membuat gejolak di dada pria itu.


“Aku mencarimu!” pelukan Gibran kian erat.


“Aku tahu! maaf karena membuatmu khawatir,” tuturnya dengan begitu lembut.


"Tidak! Karena kau membuatku ketakutan." seakan khawatir, pelukan Gibran semakin erat tapi tidak sampai menyakiti gadis itu.


“Hei, kau membuatku sulit bernafas!”


"Maaf." pria itu melonggarkan pelukannya, dan menatap dalam Qiandra.


“Selamat ulang tahun rajulku,” ucap Qiandra sumringah. Astaga gadis ini selalu membuat Gibran terpesona!


“Apa kau terharu dengan puisiku?” ditelisiknya dengan ekspresi Gibran, wah hebat. Manik pria itu sampai terlihat berbeda, Qiandra tidak mengira respon yang muncul akan sejauh ini.


“Aku ingin menciummu, jadi berhentilah bicara.” Pria itu kembali memeluk gadisnya, dan Qiandra hanya bisa tersenyum saat mendengar ancaman Gibran.


“Terima kasih Qiandra!” gadis itu mengganguk.


“Kau tahu? Puisi tadi mewakili aku saat bertemu denganmu,” lontarnya yang masih dalam dekapan Gibran.


“Aku tahu,” imbuh pria itu.


“Qiandra,” 


“Mmm.”


“Aku mencintaimu!”


Suara Qiandra dalam bait lebih indah dari kicauan burung di pagi hari, puisinya seperti pencakar cinta di ujung senja. Indah! Warnanya menggaris, sebagai tanda kenangan. Syairnya bergentayangan, sungguh! iramanya indah nan merdu kala Qiandra yang mendendangkannya.


Note :


*Dara sinonim Perempuan

__ADS_1


*Rajul sinonim Pria


__ADS_2