Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Perlahan


__ADS_3

Cinta seluas hamparan, murni dan suci adalah sifatnya. Tapi sayang, kadang keindahan yang dilihat hanyalah sebuah harapan bukan kebenaran. (yuliashafira14)


Saat dalam perjalanan pulang dari Restoran Qiandra kembali membagikan makanan pada tunawisma, lukanya yang kemarin sudah berangsur pulih tapi masih meninggalkan bekas di beberapa tempat.


“Maaf ya, kakak baru bisa datang hari ini. Kamu bisa bagikan ini ke yang lain ??” tanyanya, bukan karena Qiandra tidak ingin membagikannya secara langsung tapi hari sudah mulai gelap dan dia merasa harus bergegas kembali.


“Iya kak, terima kasih” jawab bocah itu, kemudian berlari menghampiri teman-temannya. Dan Qiandra memutuskan untuk pulang menaiki ojek Online, tidak menunggu lama ojek pesanannya tiba di titik di mana gadis itu menunggu.


Saat berada di atas motor Qiandra selalu lupa diri jika menikmati hembusan angin malam yang membelai wajahnya. Nyaman dan sejuk, sulit diabaikan memang !!


“Penyakit” ujarnya pelan sambil menutup mulutnya yang menguap, gadis itu memang sangat sulit mengabaikan kenyamanan yang diciptakan oleh hembusan angin malam. Ini seperti lagu pengantar tidur untuk anak-anak baginya !! beberapa menit berlalu.


“Mba mba” panggil driver ojek.


“Iya pak” jawabnya linglung, antara betah dan mengantuk. Bisa-bisanya dia tidak fokus !!


“Sudah sampai” ujarnya yang membuat Qiandra kembali fokus “Astaga maaf pak saya tidak sadar” jawabnya tersenyum dengan begitu cantik.


“Ini pak, terima kasih ya” ucapnya dan memberikan beberapa lembar uang, gadis itu tidak habis pikir ?! kenapa dia bisa senyaman itu hanya karena udara malam, lamunannya teralihkan saat dari jauh dia melihat Gibran menunggu lift terbuka.


“Kau sudah pulang ??” tanya pria itu basa-basi, tapi seperti ada yang kurang di wajah tampannya saat ini menurut Qiandra !!


“Iya” jawab gadis itu dan mengikut Gibran untuk memasuki lift, entah mood Gibran sedang tidak baik atau apa ?? pria itu lebih banyak diam ketimbang pagi tadi, dan Qiandra tidak ingin bertanya.


“Qia” panggilnya tiba-tiba setelah membisu beberapa saat, pria itu melihat Qiandra yang berada di sisi kirinya.

__ADS_1


“Ya” gadis itu menyaut dan menatap Gibran, karena memang hanya mereka berdua yang berada dalam lift jadi keduanya leluasa untuk berbicara.


“Apa kau menyukai seseorang ??” tanyanya tiba-tiba, dengan wajah yang serius. Dan Qiandra hanya bingung dengan pertanyaan Gibran, kenapa tiba-tiba dia menanyakan hal itu ?!


“Mmm ??” dia bingung menjawab karena belum bisa memastikan sesuatu “Kau bingung ?? sepertinya aku tidak perlu bertanya lebih jauh saat ini” selanya, ada nada kesedihan di sana. Patah hati lagi ?? Astaga mentalmu itu !!


“Kenapa kau bertanya hal itu tiba-tiba ??” penasaran, hal itu yang dirasakan Qiandra saat ini.


“Aku melihatmu diantar seorang pria tadi, dan yah kau tersenyum cantik bersamanya” jawab Gibran dengan suara sedikit lemah. Pria itu mendahului Qiandra saat keluar dari dalam lift. Astaga dia sangat dengan sikap yang seperti itu !!


“Kau bertanya karena melihat ojek Online tadi mengantarku ??” gadis itu menahan diri untuk tidak tertawa dan membuat pria itu malu tentunya.


“Ojek Online ??” jelasnya, apa dia tengah bersikap bodoh saat menanyakan hal ini ?!


“Mmm” jawab Qiandra mengangguk, bisa dipastikan tawanya tidak akan bertahan lebih lama lagi jika masih bersama Gibran, melihat wajah malu pria itu begitu menghibur !!


“Benarkah ?? sepertinya matamu bermasalah” ujar Qiandra kembali mengulum bibirnya agar tidak tertawa, apa akal sehat pria ini diambil alih oleh perasaannya ?! “Aku masuk dulu, selamat tidur” lanjutnya mengakhiri dan akan menutup pintu kamar tapi gerakan Gibran menahannya.


“Qia, bisakah kau tidak tersenyum seperti tadi pada pria lain ?? itu membuatku tidak nyaman” selanya, dia hanya ingin mengucapkan hal yang mengganggunya. Bukankah jika memendam terlalu lama akan terasa sesak untuk pihak yang menahan gejolak itu ?!


Tidak ada jawaban dari Qiandra, dia diam bukan karena merasa tidak nyaman karena perkataan Gibran. Dia tengah menyadarkan dirinya sendiri karena penawaran itu “Maaf aku tidak akan membahas hal ini lagi jika kau merasa tidak nyaman” sambung Gibran, dia hanya takut Qiandra akan menjauh lagi karena perkataannya.


“Gibran” panggil Qiandra saat melihat pria itu akan pergi ke kamarnya dengan langkah yang lunglai. “Baiklah, alasan aku tersenyum padanya bukan karena menyukai pria itu. Mmm kau tidurlah selamat malam” dengan segera Qiandra menutup pintu kamar, entahlah dia mungkin merasa malu akan sikapnya saat ini.


“Kenapa aku mengiyakan dan menjelaskan semua itu padanya ??” gumam Qiandra tersenyum karena tingkahnya sendiri “Ah entahlah, aku hanya tidak ingin dia merasa sedih. Dia baik padaku, jadi ini sikap yang wajar” gadis ini memang sangat bodoh memahami perasaannya sendiri !!

__ADS_1


Dan Gibran ?? pria malah tersenyum bodoh mendengar jawaban Qiandra, kewarasannya benar-benar bersembunyi entah di mana “Selamat malam” jawabnya menatap pintu kamar Qiandra yang tertutup.


******


“Gibran Angga Wijaya nama yang indah seperti orangnya” seorang gadis tengah menatap foto Gibran di sebuah artikel di ponselnya, dia seperti tenggelam saat membaca seberapa kaya dan populer pria itu.


“Pria sepertimu tidak pantas dengan orang rendahan seperti Qiandra, kau terlalu bagus untuk bersama gadis miskin itu” gumamnya dengan tersenyum memandang gambar Gibran, seakan pria itu tengah menyetujui setiap rentetan kalimat buruknya tadi.


“Apa yang kau baca ??” pandangan gadis itu teralihkan akan sebuah pertanyaan, dengan segera dia menutup ponsel pintarnya dan menatap pria yang di depannya saat ini.


“Aku hanya melihat pesan dari temanku. Ayo kita pulang !!” jawabnya dengan bergelayut manja pada kekasihnya, seakan lupa dengan tindakan yang tadi memuji Gibran saat pasangannya di toilet.


“Indira, kapan kau siap untuk menikah denganku ??” tanya Aksa tiba-tiba saat mereka telah keluar dari Restoran dan berjalan menuju mobil.


“Sayang kau tahu kan, aku akan menikah denganmu saat Papa pulang ke Indonesia” jawaban yang sama selalu dia lontarkan, karena pada dasarnya dia memang tidak punya alasan lain selain itu.


“Kita sudah bertahun-tahun Indira tapi, orang tuamu tidak pernah sekali saja bertemu denganku. Bagaimana kalau kita menyusulnya ??” ajaknya, gadis itu terlihat sedikit panik karena ucapan itu. Dia memutar otak agar Aksa tidak bertindak sesuai perkataannya.


“Sayang, tunggulah sebentar lagi. Aku tidak ingin kita tergesa-gesa, bukankah orang tuaku memintamu untuk bersabar ??” Indira bersilat lidah dengan begitu ahli, seakan apa yang dikatakannya telah menjadi kebiasaan.


“Kita sudah selama ini tapi jawabanmu selalu sama, apa kau tidak ingin menikah ??” pria ini sibuk menyetir tapi sesekali melirik tunangannya untuk melihat tanggapan akan pertanyaan-pertanyaannya.


“Apa kau meragukanku ???” ucapnya dengan sedikit meninggikan suara, dia seakan membenci pertanyaan yang sama dan sering dilontarkan oleh Aksa.


“Aku tidak meragukanmu, baiklah maafkan aku” jawabnya dengan menghembuskan nafas berat, ini bukan pertama kalinya gadis itu selalu sensitif saat membicarakan keinginan Aksa. Pria itu kembali fokus dengan kemudinya, karena diam adalah pilihan yang tepat saat ini !!

__ADS_1


Sempatkah kita berpikir kenapa dia yang kita cintai bisa beralih pada yang lain ?? pernahkan terlintas dalam benak kita, mungkin Tuhan sengaja membuatnya pergi dengan sukarela karena pada dasarnya tidak ada kebaikan untukmu dalam pribadinya, kita tidak bisa mengatur kehendak-Nya berdasarkan keinginan kita bukan ?? kadang yang terbaik selalu berada disekitar kita, percayalah !!


__ADS_2