
Ini tentang sebuah rasa, rasa yang diapit oleh dilema. Dia yang menghujani rasa kini mulai menjarah perhatian yang lain, tak mengapa !! jika kau hanya lupa dan bukan sengaja untuk melupakan. (yuliashafira14)
“Halo, periksa CCTV dari Restoran Qiandra sampai ke ujung jalan dan perhatikan sebuah mobil merah yang ditumpangi seorang pria dan gadis, mereka menyenggol seorang gadis lainnya saat melintas. Lihat apa saja yang mereka perbuat dan cari tahu latar belakang pria dan gadis bar-bar itu. Aku memberikanmu waktu sampai besok !!” tanpa sepengetahuan Qiandra, Gibran meminta orang-orang kepercayaannya menyelidiki Aksa dan Indira. Dia tidak akan hanya akan sedikit menyentil mereka agar memberikan efek jera.
“Baik” jawab orang itu, dan keduanya langsung memutus sambungan telepon.
“Kau sudah bangun ???” tanya Gibran saat melihat Qiandra yang tengah berusaha bangun dari tempat tidurnya.
“Mataku sudah terbuka, tentu saja sudah bangun” ucapnya, apa dia sedang PMS ?? Kenapa jawaban itu terdengar sedikit berbeda di telinga Gibran.
“Benar juga, apa yang ingin kau lakukan ??” tanyanya kembali dan mendekati tempat tidur Qiandra untuk membantu gadis yang terluka itu saat akan turun dari tempat tidur.
“Ke kamar mandi, aku bisa sendiri” jawabnya berdiri dan melewati Gibran begitu saja.
“Kau perlu bantuan ??” kenapa masih bertanya coba ?? Gadis itu hanya berpura-pura bisa melakukan apapun sendiri Gibran.
“Apa kau ingin mengintip ?? Berhenti mengikutiku !!” pria itu mengekori Qiandra dari belakang, seakan khawatir jika tiba-tiba gadis itu akan roboh tanpa pantauannya. Berlebihan bukan ?! Sangat !!
“B-baiklah, maaf” ucapnya dan segera menjauh. “Kenapa dia ?? Wah, tiba-tiba aku merasa kedinginan ?!” kalian pasti bisa menebak ?? Bahwa hawa dingin itu berasal dari sikap Qiandra, bukan dari udara bukan ??
Tidak lama setelahnya gadis itu keluar dengan sedikit kerepotan saat membawa tiang infus, yah lukanya belum kering tapi begitu keras kepala saat ada yang menawarkan bantuan, apa kepalanya itu terbuat dari batu karang ?? Kenapa begitu keras dan kokoh !?
“Sini, biar aku yang membawanya. Jangan membantah kalau tidak ingin aku adukan tentang kondisimu ini pada Kalya” oke ancaman yang sempurna, Qiandra tidak ingin membuat Kalya mengkhawatirkan keadaannya. Tapi, pria itu malah sengaja mengancam Qiandra dengan situasi ini ?! Hebat sekali !!
“Dasar Diktator” gumam Qiandra pelan, tapi suaranya masih bisa dijangkau oleh pendengaran Gibran dan tanpa pikir panjang Qiandra membiarkan pria itu melakukan hal yang dia inginkan. Dan pria itu ?? Tentu saja tersenyum penuh kemenangan saat mendengar ucapan kepasrahan dari mulut Qiandra, dia merasa itu adalah kalimat pujian untuknya.
“Makanlah makananmu” tanpa pikir panjang gadis itu melakukan titah Gibran, cari aman adalah tujuannya saat ini.
Qiandra sesekali melirik ke arah Gibran saat memasukkan sendok ke dalam mulutnya, dia ingin mengutarakan sesuatu tapi urung dia tanyakan.
__ADS_1
“Ada apa ??” seakan tahu bahwa di otak kecil Qiandra punya pertanyaan, gadis itu pun dengan berani mengajukan pertanyaan.
“Aku tidak sengaja mendengar percakapanmu tadi, kenapa kau mencari tahu tentang mereka ??” pertanyaan dengan nada dingin yang merujuk pada Aska dan Indira, apa Qiandra tadi mencuri dengar pembicaraan Gibran ?! Jika benar, dasar tidak sopan !!
“Aku hanya penasaran tentang mereka” oh astaga pria ini berbohong dengan sangat manis, penasaran ?? Bohong !!
“Jadi alasan kau bersikap dingin karena hal ini ??” tanyanya dengan menautkan alis “Kau takut aku berbuat hal aneh pada mereka ?? Kalaupun iya kau tidak perlu takut, karena itu tidak sebanding dengan apa yang telah mereka perbuat selama ini” lanjutnya dan melihat Qiandra untuk memastikan sesuatu.
“Aku kan sudah bilang berhenti dan jangan terlibat lebih jauh, kenapa kau malah melakukannya ??” tanyanya dengan kesal, pria itu kenapa begitu menjengkelkan ?!
“Mereka membuatmu terluka, tentu aku harus menjewer orang yang bersalah” jawabnya acuh dan kembali melanjutkan sarapan.
“Kau tidak perlu melakukan hal itu untukku, bagaimana kalau Aksa mengetahui niatmu ?? Dia bisa berbuat nekat, apa kau tahu ?!” jawabnya dengan nada yang naik satu oktaf, apa Qiandra seorang penyanyi ?! Kenapa nada tingginya begitu nyaring.
“Apa kau sedang mengkhawatir aku saat ini ??” pertanyaan tidak terduga dari Gibran, benarkah gadis itu mengkhawatirkannya ?!
“S-siapa yang mengkhawatirkanmu ?! Aku hanya tidak ingin kau terlalu ikut campur” jawabnya tergagap di awal, dia tengah menutupi dirinya yang mungkin tengah ketahuan.
“Pulanglah sana. Kenapa kau masih di sini ??” yah pria itu menemani Qiandra sepanjang waktu dan mengabaikan dirinya yang terlihat begitu acak-acakan.
“Aku akan menjagamu dan akan pulang saat ada yang bergantian untuk menjagamu, apa kau tidak merindukanku ?? Kita sudah lama tidak bertemu” pertanyaan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa Qiandra serap.
“T-tidak” ayolah, kenapa mengelak saat mata dan gerak tubuhmu berlaku sebaliknya ?!
“Benarkah ?? Tapi kau berbicara lewat matamu bahwa kau tengah berbohong” ucapnya pelan dan mengamati Qiandra dengan tersenyum jail.
“Gibran !!” itu bukan panggilan tapi sedikit teriakan yang menjadi tanda agar pria itu berhenti untuk berasumsi lebih jauh.
“Baik baik, aku hanya bergurau !! Kenapa kau sensitif sekali ?!” ungkapnya dengan mengangkat 2 tangan ke udara, yah dia menyerah untuk menggoda gadis itu.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan di Bali, kenapa kau ada di sana saat itu ??” tanya Qiandra tiba-tiba, pertanyaan yang seharusnya dia utarakan kemarin.
“Mungkin kita berjodoh” ucapnya tersenyum menggoda, apa dia benar-benar akan tersenyum sepanjang waktu ?! “Seriuslah” sela Qiandra.
“Dari awal aku selalu serius Qiandra” jawabnya kembali dengan maksud lain.
“Ada proyek yang harus aku tangani di sini dan tidak sengaja melihatmu saat melewati jalan itu” ungkapnya kembali pada Qiandra yang tengah memikirkan sesuatu ?! Apa itu ?? entahlah !!
Hening…
“Gibran, ehm terima kasih karena telah menolongku” ungkapnya dengan menatap Gibran yang masih saja memandangi gerak gerik gadis itu, kenapa ?? Tanyakan saja pada Gibran !!
“Kau sudah mengucapkan itu dari kemarin, apa ada hal lain yang ingin kau katakan ??” Pria itu melihat Qiandra seakan mengharapkan sesuatu.
“Dan maaf” ucap gadis itu kembali menunduk, dia seperti orang yang tengah memohon ampun atas sebuah kesalahan.
“Maaf untuk apa ??” pria ini selalu saja memancing, lihatlah senyum itu masih di sana. Di wajah tampannya !!
“Ya maaf untuk semuanya” Qiandra kembali menoleh seakan memperjelas tanpa mengatakannya.
“Apa kau menyesal ??” pria itu benar-benar menguji Qiandra dengan pertanyaannya.
“Aku minta maaf karena sikapku yang buruk, hanya itu” ucapnya mengalihkan, dia tidak berani menatap pria itu lebih lama.
“Kalau kau menyesal, bagaimana kalau kita berteman. Aku akan memaafkanmu kalau kau menyetujuinya” penawaran yang begitu diharapkan Gibran, setidaknya dia ingin satu langkah lebih dekat dengan gadis itu.
“Kau tidak punya hak untuk menolak” sambungnya dengan tegas saat melihat gelagat penolakan gadis itu “B-baiklah asal kau mau memaafkanku” jawabnya yang seperti angin surga untuk Gibran.
__ADS_1
Apa yang tengah dirasakan saat ini bukanlah sebuah emosi sesaat, keyakinan ini tumbuh lebih kuat dari sebelumnya, kalau pujaannya tidak percaya ?! bagaimana kalau kita menguji keyakinan itu ?? Caranya dengan ikut berperan dan mengambil bagian dalam emosi itu.