Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Hanya Tentangnya


__ADS_3

Aku memuja pertemuan itu! karena kini, bayangnya kian menjelma. (yuliashafira14)


.


.


.


“Apa tempat tinggalmu terasa nyaman Nak?” tanya seorang wanita diujung telepon sana, Aarav hanya mampu tersenyum saat mendengar suara lembut itu.


“Sangat, apa Mama sengaja memilihkan Apartemen ini?” selidiknya. Pria itu berdiri tidak jauh dari jendela kamar, disuguhi kerlap kerlip cahaya lampu membuat manik hitamnya ikut berkilau. Indah!


“Tentu saja. Mama tau kau sudah tertarik pada gadis itu, jadi Mama sama Papamu merencanakan hal ini. Bukankah itu membantu? setidaknya anak Mama, bisa semakin dekat dengan gadis yang disukainya!” Senyum Aarav terbit, bagaimana mungkin orang tuanya bisa sepeka itu.


“Kapan kau akan menjelaskan padanya tentang  dirimu?” ulik suara diseberang, tampak orang tua itu begitu tidak sabar untuk mendengar kabar baik dari Putranya itu.


“Sebentar lagi Ma, dia tipe gadis yang sulit didekati.” Ingatan Aarav kembali berkelana, mengingat kembali pertemuan tidak sengaja mereka saat di Supermarket.


Sosok tersebut menolak Aarav, dia menggeleng saat pria tampan itu dengan dengan segala kerelaannya menawarkan diri untuk pulang bersama. Karena mereka memang tinggal ditempat yang sama!


Gadis cantik itu seperti membatasi diri, dia berbicara hanya karena memang harus menjaga kesopanan. Atau malah menghargai? ah, sepertinya begitu! 


“Benarkah?” pria itu mengangguk, walau tahu jika Mamanya tidak melihat apa yang dia lakukan.


“Iya Ma, tapi itu memang daya tariknya.” Bela Aarav, berharap restu tetap bersama usahanya.


“Sepertinya kau benar-benar menyukai gadis itu, Mama harap pertemuan kalian memang ditakdirkan. Istirahatlah, selamat malam sayang.” Do'a itu kembali terdengar untuk Aarav.


“Iya, semoga. Malam juga Ma" Harapannya mengakhiri panggilan mereka.


Aarav masih betah dengan posisinya, dia tersenyum mengingat kembali sosok yang mampu menggelitik hatinya, banyak yang lebih cantik dari Qiandra. Tapi gadis itu benar-benar berbeda, setidaknya itu yang diakui Aarav.


******

__ADS_1


“Kau bisa mempercayaiku. Jika aku tidak serius, untuk apa aku masih di sini?"


"Aku tidak peduli dengan gadis lain selain dirimu, dari pertemuan pertama hingga kini. Aku hanya mampu melihatmu!" Qiandra termenung saat terngiang kembali jawaban Gibran, dia menepuk lembut kedua pipinya yang tiba-tiba memanas. Apa pendingin di Apartemennya sudah tidak berfungsi?


Gibran telah kembali sejam yang lalu, dan telah meninggalkan kenangan berkesan untuk Qiandra. 


Kruukk...


Bunyi perut kembali menyadarkan Qiandra, ternyata dia belum makan malam. Pantas saja cacing di perutnya sudah berdemo, segera dia menuju dapur untuk menyantap makan yang telah disiapkan sebelum mandi tadi.


“Kau sudah kembali?” tanya Qiandra, saat melihat Kalya masuk dengan wajah yang seakan menyapa lantai.


“Darel mengabaikanku!” keluh Kalya, Qiandra yang mendengar hal itu hanya mampu menarik nafas.


“Kenapa lagi?” pasangan satu ini memang selalu saja ada dramanya, padahal baru sore tadi dia begitu bahagia. Tapi sekarang, lihatlah.


Setelah mendapat sinyal dari pertanyaan Qiandra, Kalya langsung menghampirinya di meja makan. Gadis itu masih sibuk mengunyah, “Kau tahu, saat aku menemani Darel aku tidak sengaja bertemu Lais saat akan ke Toilet.” Jelasnya menggebu.


“Lais, mantanmu itu?” selidiknya, Qiandra kembali teringat seorang pria eksotis yang pernah menjalin kedekatan bersama sahabat baiknya itu.


“Terus masalahnya di mana?” tanya Qiandra penasaran.


“Itu-,” ucap ragu Kalya. “Aku lupa saat itu bersama Darel, dan aku malah pergi bersama Lais ke salah satu Coffee Shop” kejujuran itu membuat Qiandra tersedak saat sedang minum, lupa? Bagaimana bisa dia melupakan tunangannya!


Kalya kesulitan saat ingin melanjutkan kalimatnya. Tapi dari tatapan Qiandra, sepertinya dia benar-benar menunggu kelanjutan cerita itu. 


“Dia menungguku hampir sejam, saat itu ponselku juga di silent. Aku tidak sengaja mengabaikan panggilan dan pesan darinya, saat teringat Darel aku langsung kembali bersama Lais.” Parah! hanya itu kata yang terlintas di kepalanya, ini akan sulit untuk Kalya.


“Saat sampai, aku melihat Darel berdiri di samping mobilnya. Dia menatapku dan Lais dengan tatapan dingin, aku bahkan kesulitan untuk menjelaskan situasinya. Dia mengabaikanku Qia, Sepertinya dia marah besar kali ini!” Nada penyesalan itu terlontar lirih dari mulut Kalya.


 


Qiandra menarik nafas kembali, ingin sekali dia memarahi Kalya. Tapi dia tidak mungkin melakukannya, saat melihat wajah penyesalan Kalya.

__ADS_1


“Tentu saja dia marah, dia pasti khawatir saat menunggumu kembali selama itu. Apalagi saat kau tidak sadar dengan panggilannya, dan yang lebih parah kau malah datang bersama pria lain.” Ungkap Qiandra, masalah percintaan? selalu saja menjadi kelemahan manusia.


“Hampir sejam Kal dia menunggumu, sebenarnya apa yang membuatmu duduk selama itu bersama Lais? Jangan bilang kau-“ Kalya mengerti arah pembicaraan Qiandra, dia segera menggeleng dan mengatakan.


“Aku hanya meminta penjelasan, kenapa dulu dia pergi dan malah menggantungkan perasaanku. Aku pergi bersamanya, hanya untuk menyelesaikan masa lalu kami Qia. Percayalah!” Gadis itu membisu, Qiandra tahu semua permasalahan Kalya, tidak mungkin dia akan berbohong.


“Berikan dia waktu, setelah semua membaik cobalah menjelaskan situasinya pada Darel.” Sambung Qiandra bijak, yah dia mampu memberikan nasehat tapi sulit melakukannya.


“Apa dia akan membatalkan pernikahan kami?” sepertinya gadis benar-benar khawatir, Qiandra tidak pernah melihat Kalya segalau ini.


“Berhenti berpikiran aneh, istirahatlah. Semua pasti akan baik-baik saja!” titahnya menenangkan, memikirkan percintaan Kalya sudah membuat Qiandra sepusing ini, apa dia juga akan melalui hal yang sama kelak? semoga tidak.


Saat telah memasuki kamar, perhatian Qiandra langsung tertuju pada ponselnya. Dia gembira, saat mendapatkan pesan dari Gibran.


“Apa yang kau lakukan?” Qiandra membacanya, senyum manis telah terbit seketika. Gadis itu langsung mengetik balasan, "Membaca pesanmu!” isengnya. Astaga balasan apa itu? 


“Dasar, menggemaskan.” Balasan Gibran benar-benar membuat Qiandra seperti anak muda, bagaimana tidak? gadis itu dilanda perasaan yang telah lama dia lupakan.


“Aku tahu!” apa dia sudah senyaman itu dengan Gibran? entahlah! yang jelas, dia ingin mengatakan itu. “Apa yang kau pikirkan?” kirimnya lagi, karena belum mendapatkan balasan dari pesan yang tadi padahal statusnya telah terbaca.


Saat menunggu balasan Gibran, Qiandra langsung memposisikan diri di atas tempat tidur. Ponselnya berbunyi, dengan cepat dia membuka pesan yang masuk. Itu bukan dari Gibran, melainkan dari Mama Dyra. Sampai saat ini, dia masih kesulitan memanggil Mama pada Dyra.


Dia menekuri untuk membaca pesan itu, “Ara sepertinya menyukaimu Nak. Katanya, melihatmu secara langsung memang beda. Apa kau juga menyukainya? Jika iya. Mama akan mengatur perjodohan kalian. Nanti Mama akan menghubungimu lagi!”


Tentu saja membaca pesan itu membuat Qiandra panik, dia tahu tentang perjodohan itu sebelumnya. Tapi, siapa Ara yang dimaksud Dyra? dia bahkan tidak mengenal pria itu, bagaimana dia bisa mengatakan hal aneh pada Mama Dyra?


Dia bahkan baru berdamai dengan hatinya, membuka diri pada Gibran. Bukan untuk orang lain!


Qiandra mengetik jawaban, tapi tidak kunjung menjumpai balasan. Menelpon pun sama, hanya terdengar suara operator yang mengatakan jika nomor yang ditujunya berada di luar jangkauan.


 


“Aku hanya menatap setiap kata dari pesanmu, kau tahu? saat aku membacanya rinduku semakin menjadi. Apa yang harus aku lakukan?” balasan Gibran membuat Qiandra terdiam, dia memegang erat ponselnya. Seakan takut jika benda itu akan jatuh, dan membuat kalimat yang tertera di sana ikut tercecer.

__ADS_1


“Apa yang harus aku lakukan Gibran?” lirihnya. Gadis itu menyesal, kenapa dulu dia tidak langsung menolak permintaan Mama Dyra. 


Perasaan Qiandra sempat karam, berharap Gibran tidak merisaukan pertemuan mereka. Dulu, dia berhenti mengais cinta. Tapi kini perasaannya berkhianat, dia mulai merisaukan Gibran. Hanya Dia!


__ADS_2