
Hidup kelabu kala cinta tulusku sirna seperti debu, kau menyulam perasaan baru kala ku tak sanggup melakukannya. (yuliashafira14)
“Ada apa?” tanya Darel saat melihat wajah Fahar yang tampak aneh setelah menelpon Gibran.
“Aku rasa Gibran perlu diperiksa!” Fahar tiba-tiba merasa seperti seseorang yang telah dilecehkan saat ini.
“Apa terjadi sesuatu?” Darel semakin penasaran dan khawatir secara bersamaan mendengar ucapan Fahar yang terdengar serius.
“Aku rasa telah terjadi sesuatu padanya, kau tahu? Dia memanggilku dengan sebutan sayang!” Fahar yang sadar langsung meremang, bagaimana mungkin Gibran menyapanya penuh cinta seperti tadi. Itu menjijikan, pikirnya!
“Hahaha aku rasa kau yang harus mencari pasangan, mana mungkin dia memanggilmu seperti itu? Ada-ada saja.“ tawa Darel benar-benar membuat Fahar ingin memukul kepala pria itu dengan ponsel yang dipegangnya saat ini.
“Berhenti tertawa, kita tinggalkan saja pria tidak normal itu!” Fahar berjalan lebih dulu, tapi tawa Darel masih menjadi latar kepergiannya.
Yah, beberapa saat yang lalu Fahar menelpon Gibran untuk mengatakan bahwa mereka akan keluar untuk beberapa urusan. Dan bermaksud akan makan siang di Restoran Qiandra dan Kalya, tapi hal tidak terduga berasal dari Gibran membuat Fahar tidak bisa berkata-kata.
******
Gedung pencakar langit milik Anggada Development benar-benar menjulang tinggi, gedung yang memiliki puluhan lantai ini membuat banyak orang ikut bersaing agar mampu menjadi bagian dari Perusahaan itu.
Bahkan tidak sedikit para pengusaha dan perusahaan yang ingin menjalin kerjasama dengan mereka, seperti yang tengah dilakukan Aksa saat ini.
“Saya akan menghubungi perusahaan kalian mengenai keputusan dari tawaran ini.” Jawab Gibran setelah membaca proposal yang dibawakan Aksa, pria itu benar-benar tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Gibran.
“Baik Pak, saya tunggu kabar baiknya.” Balas Aksa dengan berangsur berdiri dari duduk dan akan bersalaman. Dia bermaksud untuk meninggalkan ruangan Gibran, karena pria itu pasti sangat sibuk saat ini.
“Apa kau ingin kembali?” tanya Gibran, dan melirik arloji yang melilit pergelangan tangannya. “Ini sudah masuk jam makan siang, apa kau tidak ingin mengisi perut terlebih dulu sebelum pergi?” tanya Gibran yang telah memperbaiki penampilannya.
__ADS_1
“Aku yang traktir.” Lanjutnya dan melewati Aksa yang diam saja, bukankah ini ajakan yang menarik? Pikir Aksa.
“Baik Pak.” Jawab Pria itu tersenyum, seakan kebaikan yang diberikan Gibran menjadi tanda akan persetujuan proposal yang diajukannya.
Saat berada di Lobby banyak karyawan yang memberi hormat pada Gibran, wah pengaruh Pria itu benar-benar terasa dan Aksa mampu melihat hal itu. Kini, Gibran telah masuk dan mengemudi mobilnya dan Aksa hanya mengikuti pria itu dari belakang, sikapnya saat ini sama seperti seorang Bodyguard bukan ?!
Setelah melewati kemacetan akhirnya mereka sampai ke tempat yang menjadi tujuan utama, Gibran masuk setelah memarkirkan mobil mewahnya. Berbeda dengan Aksa, pria itu tengah memperhatikan bangunan Restoran yang menurutnya begitu besar dan mewah.
“Aku tidak tahu ada Restoran sebagus ini di sini.” Gumamnya sebelum ikut masuk menyusul Gibran, pengunjung di sana cukup banyak dan terlihat beberapa meja telah terisi oleh orang-orang yang ingin menghabiskan waktu istirahat di sana.
Aksa sempat kewalahan mencari dan menyusul Gibran yang berjalan begitu cepat, seakan pria itu telah terbiasa dengan kondisi Restoran ini sebelumnya. Dari jauh dia bisa melihat sebuah meja panjang yang telah terisi, dan anehnya tidak hanya pria itu yang berada di sana.
“Pak Gibran.” Panggilnya dan membuat pria yang sedang berbicara dengan seseorang itu menoleh ke arahnya dan Aksa? Pria itu terkejut melihat orang yang menjadi lawan bicara Gibran saat ini.
“Qia, apa yang kau lakukan di sini?” Aksa tengah melihat gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada yang berbeda, Qiandra tampak cantik dengan setelan kerjanya yang berwarna Navy itu.
“Pemilik? Restoran ini?” tanya Aksa tidak percaya.
“Tentu saja, ini bukan satu-satunya. Qiandra bahkan sudah mempunyai beberapa cabang!” sambung Fahar, tiba-tiba saja dia ingin menyombongkan kekayaan orang lain.
“Oh, benarkah? Meski terlambat aku ingin mengucapkan selamat atas keberhasilanmu!” ucapnya kikuk. Gibran tengah menatap Aksa saat ini, seakan tatapan itu memberi kode untuk sikap pria itu selanjutnya.
“Dan m-maafkan aku dan Indira, waktu itu kami tidak sengaja menyerempet dengan mobil dan membuatmu sampai terluka.” Lanjutnya. Kalya dan kedua pria yang mendengar kebenaran itu, sedikit terkejut mendengar pengakuan Aksa. Kenapa Qiandra tidak pernah mengatakan itu sebelumnya?
“Kau? Siapa namamu?” sela Kalya dengan tatapan membunuh, darahnya mendidih untuk suatu alasan.
__ADS_1
“Aksa.” Jawabnya dengan menyodorkan tangan, apa pria itu tengah berpikir bahwa Kalya sedang mengajaknya untuk berkenalan saat ini? Jika iya, maka buang jauh-jauh pikiran itu! Karena Kalya hanya ingin memastikan sesuatu.
“Aksa." gumamnya, gadis itu tampak berpikir akan sesuatu. Seperti pernah mendengar nama tadi di suatu tempat dan tiba-tiba ingatan Kalya kembali untuk menyapanya, sesaat kemudian wajah cantik milik gadis itu berubah begitu murka dan…
"Ternyata kau pria tidak berperasaan itu hah? Sejak dulu, aku begitu penasaran bagaimana rupa pria yang pernah disukai Qiandra. Dan ternyata wajahmu sangat jauh di bawah standar, setelah sekian lama kalian tidak bertemu kau dan gadismu itu kembali dan malah menyerempet Qia, astaga pasangan ini benar-benar.” Kalya tidak bisa menahan diri untuk tidak memaki, ingin sekali dia mencakar wajah Aksa yang terlihat biasa saja itu.
“Sayang tenanglah, apa kau tidak malu dilihat orang banyak?” bujuk Darel yang belum pernah terlibat dengan situasi seperti ini.
“Kenapa kau malu denganku?” Darel yang menengahi malah kena imbasnya, ayolah Kalya kasihan priamu!
“Kal tenanglah,” Qiandra yang pusing mendengar makian Kalya hanya bisa mengatakan itu, dia bingung saat ini. Kenapa Aksa berada disini dan tiba-tiba meminta maaf padanya? Kalya yang mendengar kalimat penenang Qiandra mau tidak mau membuatnya kembali duduk.
“Duduklah.” Pinta Gibran pada Aksa, dan melirik ke arah Qiandra yang juga melihatnya. Tatapan pria itu penuh makna, secara tersirat dia ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Saat ini Gibran duduk berdampingan dengan Qiandra, dan Darel masih setia menggenggam tangan Kalya. Pria itu tiba-tiba saja ingin melakukannya setelah melihat bagaimana amarah Kalya, bagaimana jika tunangannya itu akan bersikap emosional lagi seperti tadi? Berpikir saja dia enggan. Aksa yang terpaksa berada di sana kini duduk di sebelah Fahar, mereka terdiam dengan mata yang saling melirik satu sama lain.
“Aku yang mengajak Aksa untuk makan siang setelah berbicara masalah pekerjaan tadi, aku kemari bersamanya karena aku merasa dia punya hutang pada seseorang.” Jelas Gibran dan melirik ke arah Qiandra, tapi gadis itu malah memandangi mantan tunangannya saat ini.
“Bukan begitu Aksa?” lanjut Gibran, membuat pria yang menunduk itu langsung mengangkat kepalanya. Sejenak pria itu beradu pandang dengan Qiandra, tatapan sesaat yang mereka lakukan terasa lama untuk orang lain. Khususnya Gibran!
“A-ku aku minta maaf untuk semua hal yang telah terjadi Qiandra, aku tidak bisa memutar waktu agar kembali tapi aku bisa meminta maaf bukan? Aku menyesal, sungguh!” pria itu tengah bertarung dengan egonya, kenapa dia harus merendahkan diri saat ini. Terlebih lagi itu dia lakukan pada Qiandra!
“Qia.” Panggil Gibran, dia tidak menyukai gadis itu menatap mantan tunangannya seperti itu.
“Ah iya.” Jawabnya, hanya itu kalimat itu yang keluar dari mulut Qiandra. Jujur gadis itu sedikit terkejut akan kedatangan dan sikap Aksa saat ini!
Permintaan maaf? Entah kalimat itu ditujukan untuk kejadian yang mana? Terlalu banyak kejadian buruk yang dilakukan Aksa pada periode hidupnya, dan dia bingung memaafkan bagian mana dari kejadian itu?!
__ADS_1
Tatapan Kalya pada Aksa benar-benar mematikan, ingin sekali dia menancapkan kuku di wajah dongkolnya itu. Memang benar pria itu telah meminta maaf, tapi menurut Kalya ucapannya tidak pernah cukup apalagi perkataan tadi terdengar tidak tulus ditelinga gadis itu.
Waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali dan kita hanya bisa mengenang kepingan kenangan pada periode itu, bersyukurlah karena kita telah melewati begitu banyak kepahitan dan keputusasaan pada masa silam. Kalian pasti pernah mendengar ini bukan!? Bersyukurlah untuk masa sulitmu karena di masa itulah kamu telah tumbuh.