
Ratapan itu menghilang, kesedihan akibat jangkar tirani yang menindih pun berangsur pulih. Apa kini, saat yang tepat untukku kembali? (yuliashafira14)
“Ada apa denganmu hah? Kenapa tiba-tiba meminta maaf pada Qia?” Aksa yang sudah tidak bisa menahan diri, langsung mencecar Indira saat telah berada di tempat parkir.
“Aku hanya minta maaf, apa yang salah dengan itu?” wajah songong gadis itu benar-benar memuakkan, minta maaf? Dengan ekspresi seperti itu! Bukankah terlalu kentara jika dia tengah mengada-ngada?!
“Kau tidak seperti dirimu Indira, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” Aksa mencengkeram kuat bahu gadisnya, penasaran? Yah, dia begitu penasaran dengan sikap Indira!
“Bukankah kau ingin menjalin kerja sama dengan Gibran? Aku hanya membantumu, bisa saja Gibran tidak berniat melakukannya karena dia belum bisa memaafkanmu saat mengingat kembali kejadian di Bali saat itu!” Indira meringis, merasa apa yang dilakukan Aksa begitu menyakitinya.
“Hanya karena itu? Kau tidak sedang berbohong bukan?” tanya Aksa dan segera diangguki Indira, berpikir cara tersebut ampuh membuat Aksa melepaskan cengkeramannya. Dan, seperti harapan Indira. Hal itu berhasil!
“Baiklah, aku percaya padamu. Tapi, aku tidak akan memaafkanmu jika sampai kau menyembunyikan sesuatu dariku!” timpa Aksa, pria itu meminta Indira untuk memasuki mobilnya. Ada alasan dibalik semua sikap Aksa saat ini, menghormati dan mengikuti kemauan Gibran? Itu hanya alibi untuk mengejar sesuatu yang lebih besar.
Wajah Indira benar-benar berbeda, rautnya melebur bersama kebencian dan amarah. Apa yang membuat dia hingga ke titik itu? Bukankah merebut dan hidup bersama tunangan orang lain selama ini, adalah pilihan dan keserakahannya dahulu? Lalu kini, kenapa dia begitu berbeda? Apa itu menyangkut sesuatu yang telah pudar seiring masa?
******
Malam Hari
“Wah, aku tidak menyangka kita akan kemari. Tempat ini begitu ramai, apa tidak ada pasar malam yang hanya dikunjungi oleh 4 orang? Atau kita bisa mencari pasar malam yang bisa di sewakan, bagaimana?” dengan semangat Darel menunggu persetujuan akan idenya itu, tapi sayang masukan konyol itu membuat Kalya menepuk jidat berkali-kali.
“Kenapa? Apa ada yang salah?” tanyanya, dia hanya memberi ide. Jadi apa yang salah dengan itu?
__ADS_1
“Ckck, apa kau tidak pernah ke pasar malam sebelumnya? Dengar, ini bukan Restoran atau Pusat Perbelanjaan yang bisa kau sewa seenaknya. Tempat ini berbeda, jadi jangan memberi masukkan seperti itu lagi!” sela Kalya, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya dengan menggandeng Qiandra!
Mereka sedang berada di pasar malam, ajakan pertama kali dicetuskan oleh Gibran. Dia hanya ingin mengajak mereka untuk jalan-jalan dan bertujuan memperbaiki mood yang sempat terganggu sebelumnya. Dan tempat tradisional menjadi pilihan Qiandra dan Kalya, keduanya hanya mengikuti kemauan gadis-gadis itu. Mereka tidak tahu jika pasar malam berbeda dari mall yang biasa mereka kunjungi saat malam hari.
“Di usia ini kenapa kita harus kemari? Lihatlah di sana, di sana dan di sana. Tempat ini dipenuhi anak-anak remaja yang kasmaran. Dan kita? Apa kau tidak berpikir kalau kita seperti orang tua yang menjaga anaknya yang memadu kasih?” Darel tidak henti menggerutu, mulutnya terasa dipenuhi kalimat secara tiba-tiba.
“Aku iri pada Fahar, apa yang dilakukannya saat ini?” helaan nafas berat Gibran berhasil membuat Darel menyetujui hal itu, Fahar tidak ingin ikut karena dia merasa akan disisihkan jika bergabung. Ternyata pengalaman membuatnya banyak belajar!
“Apa kalian ingin berdiri di sana sampai berjamur?” teriak Kalya, senyum kedua gadis itu telah mewakili seberapa senangnya mereka saat ini.
Teriakan yang terdengar seperti jeritan itu berhasil membuat Darel mati kutu, dia ingin mencari aman dengan mengikuti kemanapun gadisnya itu melangkah.
Pasar malam saat ini memang didominasi oleh pasangan muda-mudi yang ingin menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, ada pula orang tua yang tengah menemani anak-anak mereka untuk mencoba aneka wahana.
“Tentu saja, kau adalah Ratunya. Aku akan mengikuti apapun kemauanmu!” Pria itu mencubit gemas pipi Kalya, dan berhasil membuat gadisnya mengaduh manja. Kemana Qiandra dan Gibran? Keduanya masih ditempat yang sama, mereka hanya menggelengkan kepala tiba-tiba? Apa mereka sedikit pusing? Tidak, Gibran dan Qiandra hanya tidak habis pikir kenapa sejoli itu bisa melakukan hal itu di sini.
“Tunggu sebentar, aku akan membeli tiket masuk untuk kita berempat.” Tutur Darel dengan semangat.
“Kau hanya perlu membeli tiket untuk kita berdua,” sela Kalya dan melirik Qiandra yang sedang membuang muka ke arah lain, ada apa dengannya?
“Kenapa?” timpa Gibran sebelum Darel menanyakan hal serupa.
“Gadis itu penakut! dia tidak suka berada dalam kegelapan. Apalagi saat di dalam sana terdengar suara-suara aneh, itu cukup membuatnya begadang semalaman. Jadi kau temani Qia, aku dan tunanganku yang tampan ini akan berdua ke sana. Ok? Bye!” Kalya berjalan dan segera menarik Darel agar ke sisinya. Setelah mengatakan hal yang memalukan bagi Qiandra, gadis itu tertawa terbahak. Dasar!
__ADS_1
“Apa kau sepenakut itu?” jelas Gibran, lagi lagi dia menggoda Qiandra. Apa itu sebegitu menariknya untuk Gibran? Sepertinya!
“Bukan takut, aku hanya tidak menyukai berada di tempat gelap bersama suara aneh!” elak Qiandra dan segera berlalu meninggalkan Gibran, gadis itu menuju ke sebuah stan yang menjual aneka aksesoris mungil nan cantik.
Gibran mengekori Qiandra kemanapun dia melangkah, senyumnya semakin lebar saat mengawasi punggung cantik gadis itu. “Kau tidak menyukainya karena kau takut bukan?” sambung Gibran, saat telah mensejajarkan diri di samping Qiandra. Menggoda gadis itu telah menjadi bagian terindah untuknya saat ini.
“Kau benar-benar menyebalkan!” gerutu Qiandra, saat ini dia mencoba beberapa aksesoris untuk rambutnya. Berharap kesibukannya mampu membuat Gibran berhenti berbicara aneh!
“Dan kau begitu menggemaskan!” Teet, harapan Qiandra tidak sesuai ekspetasi. Bahkan kalimat Gibran mampu membuat penjual perempuan yang masih belia itu ikut tersenyum. Apa dia merasa tergoda hingga terbang ke atas sana? Bisa jadi!
“Sepertinya aku harus bersembunyi agar kau berhenti menggodaku?” bisik Qiandra dengan mendekatkan diri, jarak ini? benar-benar membuat Gibran tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat lebih jelas paras cantik Qiandra.
“Aku akan menemukanmu dimanapun, jadi berhenti berpikiran ingin menghilang dari pandanganku!” jelasnya, Qiandra mampu melihat kesungguhan di sana. Pria itu benar-benar serius dengan ucapannya!
“Astaga, aku hanya bercanda. Kenapa kau malah menganggap itu serius?” tawa sumbang Qiandra mengiringinya saat ingin membuat jarak aman untuk mereka, sedekat ini! Bukankah akan berdampak buruk untuk kesehatan jantungnya?
Tangan Qiandra menari di atas meja aksesoris, mencari ikat rambut yang berwarna untuk dia coba. Saat menemukan yang cocok ingin sekali dia melilitkan pada rambutnya yang tergerai, kenapa dia melakukannya tiba-tiba? karena saat ini Qiandra merasakan begitu kepanasan.
“Jangan diikat, kau akan terlihat lebih cantik jika mengikatnya. Aku tidak ingin berbagi hal itu pada orang lain, jadi biarkan rambutmu tergerai!” beku, gadis itu menahan pergerakannya yang ingin mengikat rambut.
“Hah?” dasar! Gibran hanya tersenyum melihat ekspresi dan tingkah Qiandra, semburat senja kembali dan mengambil peran yang dominan di wajah cantiknya saat ini. Gibran? Pria itu selalu saja!
Rasa terselubung ini semakin mengoyak, perasaan itu kian lancang meminta agar disambut. Apa yang harus kulakukan jika namamu kian memperjelas keberadaannya?
__ADS_1