
Sepenggal kisah mulai terbayang antara percaya dan enggan percaya, sulit berujar mengawali kebekuan. Tidak ingin kembali ke masa itu, walau hanya secepat kedipan mata seiring jeda. (yuliashafira14)
Pagi yang cerah kembali menghangatkan penduduk bumi dengan pelukannya tidak terkecuali untuk Gibran Angga Wijaya. Seakan lupa dengan rasa perih di bahu kanannya pria itu tampak gelagapan saat bangun tidur, dan alasannya bukan karena dia terlupa menghadiri suatu rapat penting. Qiandra, ya gadis itu menelepon untuk memberitahukan bahwa akan menjenguk Gibran. Apa Fajar beralih menjadi seorang cenayang dan Darel adalah asistennya ??? Bagaimana mungkin apa yang mereka katakan terjadi hari ini ??? Tentu saja suara Qiandra menjadi alarm dan kedatangannya adalah hal yang tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran Gibran. Miracle !!!
15 menit kemudian pria itu sudah membersihkan diri tapi bukan dalam arti yang sebenarnya, hanya mencuci wajah dan sebagian tubuh dan sekarang Gibran terlihat sangat rapi untuk ukuran seseorang yang akan dijenguk, aromanya begitu menyeruak yang jelas bukan bau obat tapi wangi parfum. Orang mungkin akan mengira saat ini dia akan pergi, bukan menunggu seseorang !!!
Ting tong…
Kreeettt…
“Ha-i” sapanya dengan gugup, gadis itu sangat cantik pagi ini. Salah, bukan hanya pagi ini tapi selalu dan setiap saat kecantikan serta auranya itu begitu memikat.
“Hai, masuklah. Apa kau sendiri ???” tanyanya basa-basi dan meminta Qiandra masuk.
“Iya, Kalya dijemput Darel jadi aku datang sendiri” terima kasih ucapnya setelah mendaratkan tubuh di sofa empuk itu.
“Darel menjemput Kalya, oh astaga mereka berdua benar-benar membuat Qia datang” gumamnya, ya anggapan tentang mereka seorang cenayang profesional raib begitu saja.
“Apa kau akan keluar” tanya Qiandra melihat dan menyelidik tampilan pria itu, sangat tampan dan sayang jika hanya duduk di rumah dengan gaya kerennya.
“Aku menunggumu” ucapnya lugas.
“Menungguku dengan pakaian rapi dan” gadis cantik itu menghirup udara disekitarnya, wangi parfum berkelas kembali menyapu pernafasan sengaja memberi tanda bahwa bau ini nyata dan sengaja menggoda hidung mancung milik Qiandra “Dipenuhi parfum seperti ini???” lanjutnya.
__ADS_1
“Iya, aku selalu seperti ini saat di rumah” jelasnya seakan tidak terganggu dengan hal itu.
Hening...
Diam…
Senyap…
Apa hal diatas adalah kriteria dalam menjenguk seseorang atau saat ini keduanya malah sedang mengikuti lomba diam seribu bahasa. Astaga, pasti Qiandra akan keluar sebagai seorang pemenang saat lomba itu benar-benar ada.
“Kau sudah sarapan ???” Gibran memecah keheningan.
“Sudah” singkatnya dan ragu untuk bertanya “Mmm bagaimana bahumu ???” hal yang tercekat akhirnya keluar. Sebelum menjawab pria itu kembali teringat perkataan Darel tentang skenario percintaan dan dia paham maksud dari hal itu sejauh ini.
“Entahlah masih sedikit perih, tapi aku sudah mencoba membersihkan dan mengobatinya. Tapi aku tidak tahu apa caraku sudah benar atau malah membuat itu semakin parah” untuk Qiandra, pria itu berharap Tuhan memaafkan caranya yang seperti ini agar gadis itu tetap peduli walau hanya karena bahu sebagai alasan.
Tanpa pikir panjang seperti seseorang yang mengisi essay ujian, Gibran melangkah dan duduk di sampingnya. Memandangi, sejenak aktivitas itu yang dilakukan pria tampan di hadapan Qiandra dan jelas sangat tidak sehat untuknya karena harus menekan sesuatu agar tidak membuncah.
“Apa kau bisa berbalik” tanyanya.
“Lakukanlah seperti ini, bukankah di Restoran kau mengobatiku dengan duduk seperti ini” tawarnya, Qiandra tidak habis pikir kenapa kemarin dia bisa melakukan hal itu. Tapi satu yang jelas, saat ini dia begitu canggung. Tapi tidak ada pilihan lain selain mengikuti apa yang menjadi keinginan pria itu !!! Hanya sekali, ya hanya sekali saja dia mengikuti pria itu tentu tidak akan berdampak pada hal lain bukan ??? Harapnya…
“Kau melakukan dengan sangat baik, aku rasa ini akan baik-baik saja setelah kau oleskan obat 3 sampai 4 kali lagi” setelah benar-benar memeriksa dan menyatakan bahwa itu adalah prediksi yang sesuai.
__ADS_1
“Tapi aku merasa sebaliknya, rasa perih semakin hari malah bertambah. Apa yang harus aku lakukan untuk menguranginya ???” pertanyaan yang entah perihal apa “Maksudku bahu kananku kadang semakin perih padahal sudah aku oleskan obat yang dianjurkan. Apa kau punya obat lain, karena ini benar-benar menggangguku” lanjutnya.
“Maaf, karena aku kau-“ ucapan Qiandra terpotong saat Gibran berkata ”Hey, aku tidak pernah menyalahkanmu saat mendapatkan luka ini. Ok ???” ungkapnya dan kembali duduk dengan benar.
“Apa kau ingin minum ???” tanyanya.
“Tidak, duduklah” jawab Qiandra dan mengalihkan pandangan ke tempat yang tidak semestinya.
“Qia apa yang kau lihat ???” tanya Gibran saat melihat kediaman tiba-tiba gadis itu, dan dia mengikuti arah pandangnya.
“Dia sahabatku, dan foto itu diambil saat kelulusan SMA. Gadis yang cantik bukan ??? Aku menyayanginya tapi saat ini karena alasan jarak aku belum bisa bertemu. Qia apa kau pernah mendengar ungkapan bahwa sulit sekali memiliki hati yang tidak ditakdirkan untuk kita ???” tanyanya dan dijawab gelengan oleh gadis itu, fokus mereka bukan lagi pada bahu Gibran tapi malah hal yang lebih rumit.
“Saat ini aku memperjuangkan seseorang. Aku belum bisa memastikan perasaannya dan alhasil, hati itu tidak pernah aku tahu telah dimiliki siapa ???” ungkapnya penuh penekanan menatap Qiandra yang menunjukkan ekspresi tidak terbaca.
“Aku harap dia kembali, saat dia di sini rasa khawatir itu bisa dikendalikan. Dia mampu melakukan hal yang tidak bisa aku lakukan” tunjuk Gibran pada sosok di frame black yang tersenyum cantik dengan seragam putih abu-abunya.
“Aku harus ke Restoran, sepertinya aku pergi terlalu lama sampai lupa waktu” entah apa yang membuatnya begitu terburu-buru saat ini, tapi yang pasti dia lebih memilih beranjak daripada harus tetap di sana untuk membicarakan hal yang entah apa maksud Gibran
“Aku akan mengantarkanmu” Gibran ikut berdiri dan membuka pintu Apartemennya.
“ Tidak perlu, kau istirahatlah besok sore aku akan kembali mampir. Jangan lupa merawat bahumu, aku akan mengontrolnya” sela Qiandra sebelum melewati Gibran.
“Baiklah, hati-hati dan terima kasih” dan hanya dibalas dengan senyuman oleh Qiandra.
__ADS_1
Dalam mobil gadis itu kembali mengingat perkataan Gibran, sosok itu menyukai dan memuji gadis lain di hadapannya. Ada yang salah dengan Qiandra, dia tidak menyukai kejujuran tadi !!!
“Bodoh, jangan pikirkan hal itu. Ingat batasanmu dan jangan melampauinya, jangan terpengaruh dan tersesat lagi” kalimat yang menjadi mantra Qiandra, dia masih manusia biasa dan terbukti saat ini gadis cantik itu kecolongan setelah 5 tahun, mati-matian dia membentuk dirinya yang sekarang dan berjanji tidak akan pernah melukai diri sendiri lagi.