
Tidak sekarang tapi nanti, percayalah kebersamaan yang terjalin akan membuat kau dan aku akan saling terikat. (yuliashafira14)
“Apa yang kau lamunkan ???” tanya Kalya saat mereka berada di ruang kerja Qiandra, keduanya masih betah mengistirahatkan tubuh setelah melewati kesibukan yang panjang. 10 menit yang lalu ketiga pria itu telah kembali ke gedung pencakar langit mereka, dan selama itu pula Qiandra termenung untuk hal yang tidak bisa dijamah Kalya.
“Tidak ada, bagaimana keadaan diluar sana ???” tanyanya kembali, entah apa yang dipikiran Qiandra saat ini. Semenjak insiden tidak terduga itu dia betah berada di ruangan dan hanya keluar saat mengambil makan siang untuk Gibran.
Terdengar hembusan nafas berat Kalya sebelum dia kembali menjawab “Semua baik-baik saja, kau sudah menanyakan hal yang sama dari tadi. Katakan apa yang menari di pikiranmu saat ini ???” tanyanya penasaran, sembari memperbaiki duduknya antara ingin lebih dekat atau tidak sabar memuaskan hasrat kekepoannya. Tapi semua gerakan itu sia-sia karena Qiandra hanya kembali diam, seakan pertanyaan itu terlalu keramat untuk dijawab.
“Astaga” keluh Kalya “Gibran baik-baik saja jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri” apa yang dilontarkan itu membuat Qiandra menoleh “Kau pasti mengkhawatirkannya dan merasa menyesal karena menganggap kehadiran pria itu selama ini sebagai angin lalu bukan ???” nada yang penuh selidik milik Kalya benar-benar tepat sasaran, gadis yang diharapkan menjawab malah mengalihkan pandangan seakan memberi kode tidak ingin membahas hal itu lebih jauh.
“Qia aku ingin bicara serius denganmu, apa kau ingat selama 2 minggu terakhir ini apa yang dilakukan Gibran untuk semakin dekat denganmu ???” Qiandra hanya mengangguk pertanda dia tahu semua hal itu, ya Gibran selalu menyempatkan diri makan siang di Restoran mereka. Semua orang disana tahu tujuannya datang bukan untuk sekedar ingin mengisi perut, tapi juga melepaskan kerinduan pada sosok yang tidak pernah meliriknya.
“Jika dia menanyakan 5 pertanyaan kau hanya akan menjawab salah satu, saat dia ingin mengantarkanmu pulang kau selalu memberi alasan, waktu dia meminta nomor ponselmu kau malah berkilah. Orang yang selalu kau hindari, hari ini malah menggantikanmu menerima kepayahan. Katakan, apa kau mengkhawatir Gibran ???” ok...apa yang ditanyakan Kalya adalah kenyataan yang ingin ditutupi, karena gadis itu terlihat susah payah untuk menjawab.
“Ten-tu saja aku khawatir dan merasa bersalah” Kalya melihat keseriusan di mata Qiandra walau nada bicaranya terdengar putus asa, seperti ada yang lebih dari sekedar rasa khawatir.
“Hanya itu ??? Jadi alasan kau memberinya nomor ponselmu hanya karena rasa tanggung jawab. Apa tidak ada hal lain yang kau rasakan saat bersama Gibran ???” tanyanya memegang bahu Qiandra untuk mencari kejujuran disana. “Tentu saja karena rasa tanggung jawab, aku tidak tertarik pada Gibran. Sungguh !!!” ungkapnya dengan tegas tapi menghindari kontak mata dengan Kalya.
__ADS_1
“Kapan aku bertanya kalau kau tertarik atau tidak pada Gibran ???” skakmat !!!
******
“Darel sudah sejauh mana persiapannya, apa kita memerlukan hal lain ??? Aku tidak ingin ada yang kurang sedikitpun karena ini akan dihadiri oleh orang-orang penting Perusahaan” tanya Gibran dengan menyuarakan seberapa krusial perayaan kali ini, mereka begitu bekerja keras dan lihatlah Gibran sibuk dengan berkas di tangan kiri dan pena di tangan kanannya.
“Persiapan sudah 90% acara kurang dari seminggu, aku pastikan semua berjalan dengan meriah tanpa kendala. Sebaiknya kau pulang biarkan aku dan Fahar yang kerjakan sisanya” ungkap Darel.
“Benar, kau istirahatlah. Jika waktunya telah tiba kau tidak perlu kesusahan seperti sekarang ???” timpa Fahar.
“Sayang sekali, kalau aku jadi kau pasti luka itu sudah jadi skenario percintaanku” gumam Darel yang terdengar, ralat !!! Tapi memang sengaja dia gumamkan untuk menarik perhatian Gibran dan hasilnya well done itu berhasil.
“Apa maksudmu ???” tepat sasaran, Gibran menanggapi hal konyol itu dan Fahar ??? Jangan ditanya dia memang ahlinya mendukung walau hanya dengan seulas senyum.
“Come on, apa kau tidak ingin lebih dekat dengannya ??? Bukankah bahu kananmu itu bisa dijadikan alasan agar dia merawatmu. Setidaknya bisa menggunakan hal itu untuk bertemu Qia” setelah mendengar kalimat yang mengandung hasutan itu, jangan ditanya bagaimana reaksi Gibran. “Aku tahu perasaanmu” lanjutnya.
“Apa kalian membicarakan aku saat tidak bersama kalian ???” tanyanya penuh selidik, tentu saja sorot mata indah itu melirik Fahar.
__ADS_1
Sejauh ini Gibran belum mengatakan pada Darel perihal ketertarikannya pada gadis itu mengingat Kalya dan Qiandra bersahabat, dia ingin mengutarakan sendiri perasaan itu tanpa perlu bantuan Kalya tunangan Darel. Tapi sepertinya Gibran tidak sadar, bahwa Kalya telah mengetahui itu sejak awal pertemuan mereka.
“Semua orang yang melihatmu memandang Qia akan langsung tahu, kalau kau punya perasaan padanya” sela Darel sebelum Fahar menjawab.
“Benarkah, padahal aku belum mengatakan apapun ??? Tapi kenapa hanya dia yang tidak bisa merasakan itu” ungkap Gibran yang telah berdiri dari kursi kebesarannya dengan tersenyum iba pada diri sendiri.
“Dia bisa merasakannya, hanya saja ada perasaan lain yang membuat Qia menutup diri. Apa kau tidak berniat mencari tahu ???” ok fix…ini penawaran terbaik yang dikatakan Darel, buktinya tanpa pikir panjang Gibran bersiap mendekati pintu keluar.
“Kalau begitu aku langsung pulang, besok aku akan datang ke kantor tapi mungkin tidak terikat dengan waktu” ungkapnya.
“Aku dan Darel yang akan menyelesaikan tugasmu, pergilah. Besok pagi Qia pasti akan mampir ke tempatmu” Jelas Fahar melirik Darel seakan meminta persetujuan, tentu saja apa maksud dari kalimat itu hanya mereka berdua yang tahu.
Saat ini hati, pikiran dan mata Gibran hanya terpaut pada satu gadis. Namanya benar-benar merajai dan entah sejak kapan telah membuat tempatnya sendiri pada diri pria itu, Qiandra gadis itu punya sesuatu sehingga Gibran tidak berminat pada yang lain. Ada hal yang menjadi magnetic, perkara fisik ??? Itu bukan jawaban, karena masih banyak gadis diluar sana yang lebih cantik juga rela mengulurkan tangan pada Gibran dan tentu saja dia tidak pernah menyambut mereka.
Dulu…percaya atau tidak, pria itu tidak pandai berkalimah manis bukan pula sosok yang selalu menyembunyikan perasaan dengan kekonyolan. Cinta dan penolakan adalah part disetiap kisah hidupnya yang tentu saja Gibran yang menjadi tokoh utama dalam mematahkan hati para gadis, karena kembali ke poin dimana dia bukan sosok yang suka tebar pesona !!! Kalimat yang selalu mengiringi percintaannya adalah, ini seperti drama yang tak kunjung usai.
Sekarang...dia tidak lagi bisa mempertahankan kewarasan atau biasa mereka menyebut ini dengan kenekatan atas dasar cinta. Pria itu melakukan semua hal yang tidak pernah dilakukannya dahulu, tentu saja kalian tahu alasan dibalik semua itu hanya karena satu sosok. Ya karena dia, Qiandra Almira Nasution !!!
__ADS_1