
Setelah rasa perih aku benar-benar tidak berdaya, maaf !! Bisakah kata itu mewakili dan membuatmu melupakanku ??? (yuliashafira14)
Ting tong…
Bel Apartemen Garden Residence milik Gibran berbunyi, pertanda ada seseorang yang menunggu di balik benda persegi empat itu, Gibran yang telah berganti pakaian menggunakan baju santai berwarna hitam segera turun untuk membuka pintu.
“Masuklah, maaf tadi aku di atas jadi agak lama” jawabnya dan mempersilahkan gadis cantik itu untuk duduk. Tapi tidak dengannya, dia menuju dapur untuk menyiapkan minuman dan segera kembali besertanya.
“Minumlah” pinta Gibran dengan berbinar, Qiandra seperti perumpamaan yang indah. Kilauan tiara misalnya !?
“Terima kasih” dengan segera meneguk perasan jeruk nipis dan air hangat itu hingga tandas, Qiandra begitu menyukai minuman tadi tapi tidak terlalu sering meminumnya.
Itu menjadi pilihan saat dia merasa sedikit lelah dan butuh kekuatan. Tapi kenapa tiba-tiba Gibran memberikan itu, dan darimana pengetahuannya berasal ???
“Aku lihat wajahmu begitu lesu, bukankah kau menyukai minuman itu” jawaban yang seakan tahu pertanyaan yang di benak gadis di depannya saat ini.
“Kau tahu darimana aku menyukai minuman ini” tanyanya kembali.
“Kalya” jawabnya “ Tadi dia ke kantor untuk bertemu Darel jadi aku menanyakan minuman yang kau sukai. Terakhir kali kau tidak mau minum saat aku tawarkan. Jadi aku bertanya padanya tadi” lanjutnya tersenyum manis, seakan apa yang dilakukan adalah perilaku terpuji.
“Apa mereka sudah berbaikan, Darel tadi terlihat mengerikan” ucap Qiandra pelan, untuk menghindari tatapan Gibran. Dan pria itu menyadari betapa bodohnya dia saat bersama Qiandra, lepas kendali adalah kecurangan bukan ?!
“Jangankan Darel, aku dan pria lain diluar sana akan bersikap sama jika melihat orang yang dicintainya tersenyum bersama pria lain. Dan alasan Kalya tersenyum karena pria itu bukan ???” pakar, menjadi keahlian Gibran yang terkubur. Tapi saat ini ucapan itu terdengar seperti dia tengah menggambarkan dirinya sendiri.
__ADS_1
“Darel menyayangi tunangannya, jika masalah telah diluruskan semua akan baik-baik saja. Memang rasa cemburu pria tidak bisa dikontrol disaat tertentu” sambungnya dengan tersenyum menawan, ingin sekali dia memperlihatkan semua pesonanya untuk memikat Qiandra.
“Baguslah, bagaimana bahumu apa sudah baikan ???” Qiandra kembali bersuara.
“Berkat perhatianmu, eeehhmm Qia apa kau akan datang besok di Perayaan Perusahaan ???” tanyanya ragu, entah...saat ini kekhawatirannya seperti siswa yang tengah menunggu pengumuman kelulusan. Berharap Qiandra berada di sana, entah apa yang tengah direncanakannya.
“Kita lihat besok, karena lukamu sudah baik-baik saja sebaiknya aku pulang” sejak kapan kalimat itu telah mengantri dan ingin keluar dari mulutnya.
“Pulang, secepat ini ???” tanya Gibran aneh, setidaknya mereka bisa bicara lebih lama saat ini, tapi itu musnah bahkan saat masih dipikirannya.
“Ehmm, aku punya urusan lain” elak sekenanya, Qiandra berdiri dan segera menuju pintu yang dimasukinya tadi agar bisa keluar.
“Qia tunggu” pria itu memegang pergelangan Qiandra, mencegah gadis itu berlalu dengan cepat. Berat untuknya !!! itu yang ingin dikatakan Gibran pada sosok itu.
“Bisakah kau melepaskannya” seperti mantra, ucapan tadi cepat dituruti Gibran. Pria itu benar-benar tersihir dengan perkataan Qiandra.
“Ada apa ???” tanya Qiandra karena aksi Gibran tadi pasti memiliki alasan. Dan wah, gadis ini begitu sulit terasa. Bahkan hanya dari nada bicaranya.
“Aku akan mengantarkanmu pulang, kau sudah jauh-jauh kemari. Setidaknya aku ingin berterima kasih karena hal itu” katakan ya, harapan Gibran seperti anak kecil dalam meminta.
“Kau tidak perlu berterima kasih, karena kejadian malang itu tidak akan menimpamu jika kau tidak melindungiku. Ini pertanggung jawabanku, jadi kau tidak perlu melakukan hal lain lagi. Aku tidak ingin berhutang budi terlalu banyak, karena aku tidak bisa terus membalasnya” what !? hutang budi, Qiandra !!! pria yang ada di hadapanmu saat ini, bahkan rela melakukan apapun untuk melindungimu dari hal yang mengancam.
“Apa selama ini kau berpikiran seperti itu ??? Astaga Qiandra, aku melakukanya karena ingin. Kau jangan merasa terbebani dengan sikapku sungguh, aku hanya ingin lebih dekat denganmu jadi hilangkan prasangka yang bersarang di sana” kalimat terakhir merujuk pada kepala dan hati gadis itu, Gibran merasa pikiran Qiandra terlalu jauh berkelana.
__ADS_1
“Aku hanya cukup tahu tentangmu, jadi kita tidak perlu alasan agar lebih dekat dari ini” Qiandra berucap dengan lugas, masa kelam memberikan kekuatan lebih besar dari sebelumnya.
“Qia, sesulit itukah menjalin pertemanan denganmu hah ???” Gibran berperan lebih antagonis setelah mendengar ucapan Qiandra.
“Aku hanya ingin lebih dekat denganmu itu saja” nada bicara Gibran begitu menggebu seakan ada lahar panas di rongga dadanya, dan diwakilkan oleh bibir tipis itu
“Kau membangun sekat terhadapku Qia, sekali saja. Cukup sekali biarkan aku untuk melewatinya. Aku tidak akan putus asa jika hatiku bisa diajak kompromi dengan sikap acuhmu itu" keluhnya.
"Kau tahu bukan ?! Aku harus mencari alasan agar bisa mendengarkan suara dan menarik perhatianmu, ini begitu memalukan bagi orang lain tapi aku bertingkah bodoh demi dirimu dan hanya padamu” luapan lava akhirnya memenuhi pertahanan kokoh, akankah hal itu berpengaruh pada keretakan ego milik Qiandra ???
“Baiklah, aku mengaku !?” pria itu menggantungkan kalimat dan Qiandra memandanginya seakan memberitahu berhenti, dan jangan mengatakan apapun lagi.
“Semua yang aku lakukan selama ini karena aku menyukaimu, aku tertarik padamu sejak pertama kali bertemu. Jangan tanya kenapa, karena aku sendiri tidak tahu Qia !!! Dan bisa aku pastikan perasaan itu ada dan bersemayam sejak awal” ucapan jujur dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya membela Gibran, dia hanya menyesal mengatakan sesuatu yang indah disaat situasi seperti ini.
Qiandra terdiam, sesungguhnya dia telah mengetahui hal itu sejak awal. Tapi, dengan sengaja dia tidak menggubrisnya. Gadis itu hanya tidak ingin kedekatan terjadi apalagi sampai itu dianggap pelung oleh Gibran.
“Maaf aku harus pulang” ucapan perpisahan yang bertolak belakang dengan pernyataan Gibran. Apa pengakuannya hanya seperti angin lalu untuk Qiandra, menyapa begitu saja ?!
Pria itu tidak bisa melakukan apa-apa selain mencengkram tangannya dan merelakan gadis pujaan itu untuk melangkah seorang diri, keluar dari Apartemen.
“Maaf Gibran aku hanya tidak ingin gerimis kemarin kembali membasahi dan embunnya menebarkan hawa dingin itu, aku tidak punya tempat berteduh jika itu sampai terjadi” gumam Qiandra menjauhi kediaman pria tampan itu, ada perasaan kesakitan di wajah cantiknya. Penghianatan dan air mata, dia tidak ingin berkawan lagi dengan keduanya !!!
“Aku tidak akan berhenti sebelum memastikan perasaanmu, jangan harap aku akan menjadi relawan lebih lama Qiandra Almira” niat Gibran dengan mengikat kuat kesungguhannya.
__ADS_1
Perkara merindu dan mencintai pernah dirasakan semua orang termasuk gadis itu, tapi itu dulu sebelum banyak duri yang mencabik ruang cinta untuknya. Mati rasa, benar-benar mati dan sulit bergeming dari perihnya dicabik. Tapi hal yang luput dari Qiandra bahwa, cinta yang berbeda akan datang walau kau menutup paksa semua celah.
Apa kalian tidak percaya ??? Kita lihat seberapa tangguh pertahanan Qiandra dan kalian. Ya kalian, Qiandra lain yang berada diluar sana dan pernah atau sering dikorbankan. Kita lihat, cinta seperti apa yang menunggu agar dapat meminangmu !!!