Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Perasaan Qiandra


__ADS_3

Kau punya kerinduan yang sama! Bukankah tebakanku selaras dengan hatimu? Ku mohon berhenti meragu. (yuliashafira14)


Lengkungan bahagia Qiandra masih enggan pergi dari wajah ayunya, senyum yang sudah lama tidak dilihat Kalya kini telah kembali. Dia tiba di Apartemen sekitar 30 menit yang lalu, tapi selama itu pula Kalya memandanginya dengan rasa penasaran, apa yang terjadi dengan gadis itu?


 


“Qia,” panggil Kalya yang masih betah melihat ke arah Qiandra, tapi sayang dia tidak menyadari tatapan sahabatnya itu!


“Mmm.” Sambutan seperti apa itu? Mereka saat ini tengah duduk di ruang tv, bersantai setelah penat dengan aktivitas melelahkan adalah harga yang harus mereka bayar.


“Astaga, apa aku sedang diabaikan?” Gumam Kalya. Wajar dia merasa seperti itu, karena Qiandra menjawab tanpa melihat ke arahnya.


“Apa ada hal baik yang terjadi? Dan dari mana saja kalian tadi?” gadis itu sudah tidak memperdulikan acara yang tengah ditayangkan saat ini, rasa penasaran Kalya sudah diambang batas.


Qiandra yang masih terngiang ucapan manis Gibran, kini telah mengalihkan fokus pada sahabatnya yang begitu penasaran sejak tadi. 


“Hal baik? Tidak ada yang terjadi, aku hanya menemaninya ke pantai.” Tuturnya, “Bukankah kau yang menyarankan pada Gibran untuk pergi ke pantai itu?” timpanya dengan alis yang nampak bertautan.


“Pantai? Ohh, seminggu yang lalu dia sempat menanyakan tempat kesukaanmu padaku. Apa ada hal menarik yang terjadi?” lontar Kalya yang sepertinya haus akan informasi!


“Tentu, aku melihat matahari tenggelam di sana.” Anggukan kecil mewakili ungkapan Qiandra, tapi bukan hal menarik seperti itu yang dimaksud Kalya.


“Hanya itu? Maksudku, kau dan Gibran mmm. Apa tidak ada hal menarik yang terjadi antara kalian berdua?” gadis itu menyatukan kedua jari telunjuknya, seakan memberi isyarat nakal dengan gerakan yang dia lakukan.

__ADS_1


“Hey, berhentilah berfantasi mesum nona!” Jelas Qiandra dengan melepas paksa penyatuan telunjuk Kalya, gadis itu hanya tertawa melihat reaksi sahabatnya kini.


“Kalau begitu katakan! Apa yang dilakukan Gibran sampai wajahmu ini tidak berhenti tersenyum sejak pulang?” Kalya yang memakai piyama bermotif kangguru itu tengah duduk bersila di atas sofa, menatap Qiandra dengan wajah yang begitu penasaran!


“Dia tidak melakukan apapun, hanya-“ gantungnya, Kalya yang semakin penasaran tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekati Qiandra.


 


“Hanya?” mata gadis itu fokus pada bibir Qiandra, rasanya ingin sekali dia menangkap kalimat yang akan terlontar dari sana. Dasar Kalya!


“Yah seperti itulah.” Apa-apaan ini? Ingin rasanya Kalya berteriak tapi sayang, gadis itu tidak punya gambar dibagian tubuh untuk memperkuat keinginannya! Dia ingin terlihat seperti para penjahat yang berteriak dengan tato yang menjadi ciri khas mereka. Agar terkesan menyeramkan, pikirnya!


“Seperti apa Qiandra? Kenapa kau membuatku tersiksa?!” Kalya yang gemas hanya mampu mencubit sofa sebagai pelampiasan.


“Kalya.” Setelah tawanya mereda, kini bergantian Qiandra yang memanggil gadis itu.


“Apa?” tanya Kalya dengan mengerucutkan bibirnya seakan tengah memperjelas betapa kesal dia saat ini.


“Apa yang membuatmu menyukai Darel?” tanya Qiandra yang penasaran!


“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu? Ah sudahlah kau tidak perlu menjawabnya! Darel? Mmm. Dia pria yang sangat baik, manis dan begitu perhatian. Setelah mengenalnya, ternyata dia punya sikap yang jauh lebih baik dari yang aku tahu sebelumnya. Yah, walau sikap cemburunya itu tidak bisa di kondisikan tapi itu bukan masalah yang serius untukku.” Dia menuturkannya dengan sangat baik, seakan sikap Darel adalah sebuah kriteria pria idaman seluruh alam. Dan Kalya? Gadis itu bangga karenanya!


 

__ADS_1


“Kenapa? Apa Gibran melakukan sesuatu yang membuatmu berdebar jika bersamanya?” Senyum jahil berhasil membuyarkan Qiandra yang tengah mengingat seseorang. Apa itu Gibran? Mungkin!


“Yah, akhir-akhir ini dia sering mengatakan sesuatu yang mengandung kadar gula begitu tinggi. Aku rasa dia ingin membuatku diabetes karena sering mendengar gombalannya setiap saat.” Kalya mengamati ekspresi Qiandra, kalimat yang dilontarkan gadis itu terdapat indikasi keluhan. Tapi yang aneh wajahnya selalu tersenyum karena kalimat yang dilontarkan barusan!


“Kau menyukainya?” Hanya itu yang bisa dia tanyakan saat melihat Qiandra, gadis itu membisu. Mungkin dia tidak siap mendengar pertanyaan Kalya!


“Sepertinya benar kau mulai menyukai Gibran, selama mengenalmu aku tidak pernah melihat ekspresimu yang seperti ini. Bahkan untuk menjawab pertanyaanku saja membuatmu kebingungan bukan?” Right, kenapa Kalya bisa sepintar ini sekarang? Mengagumkan!


Benarkah perasaan itu kembali hadir karena Gibran? Tapi kenapa rasanya berbeda dari yang dulu? Apa yang membedakan rasa ini? Qiandra berkecamuk dengan pikirannya!


“Kenapa kau diam? Apa kau berencana ingin menghindari perasaan itu lagi? Dengar Qia, bisa jadi apa yang kau rasakan saat ini bukan lagi perasaan suka atau ketertarikan biasa. Siapa tahu kau malah telah mencintainya saat ini!” Kalya seakan tahu bahwa otak kecil Qiandra akan menghindari apa yang dirasakannya kini, karena itu adalah cara yang biasa dia lakukan untuk mengekang kebenaran selama ini!


“Bagaimana jika aku hanya berangan Kal? Bagaimana jika aku kembali terpuruk sendirian? Dan bagaimana jika aku hanya mencintainya seorang diri? Bukankah itu lebih menyakitkan?!” bibit trauma Qiandra benar-benar telah bertunas, dan hal ini bisa menjadi masalah jika gadis itu hidup dengan pandangan yang keliru selama sisa hidupnya.


“Berhenti berpikiran seperti itu Qia! Katakan bagaimana perasaanmu padanya? Bukankah hal itu lebih penting dari rasa khawatirmu itu?” timpa Kalya dengan wajah dan nada yang begitu serius.


Qiandra diam seribu bahasa, dia memang merasakan sesuatu yang berbeda jika bersama Gibran. Apa itu cukup untuk meyakinkan dirinya bahwa itu nyata? Gadis itu dilema, sungguh dia dilema dan takut secara bersamaan! Apa yang harus dilakukannya saat ini?


“Tidurlah, sepertinya kau butuh istirahat!” Qiandra hanya mengangguk untuk mengiyakan, Kalya memilih memberikan waktu untuk sahabatnya itu. Jika benar cinta turut andil dalam kehidupan Qiandra saat ini, maka Kalya berharap dia mampu keluar dari masa kelam yang menjeratnya. Hanya itu!


 Apa Qiandra tidak lelah hidup bersama luka yang sama setiap harinya? Masa lalu? bukankah dia tidak bisa merubah apa yang telah terjadi? Apa Qiandra ingin hidup bersama bayang-bayangan kelam selamanya, dan mengabaikan ketulusan Gibran?


Kadang kala kita berpikir, kenapa seseorang datang dengan mesra tapi pergi meninggalkan begitu banyak luka? Apa yang harus kita lakukan jika kenangan buruk itu berjinjit berharap agar dikenang? Akankah waktu yang dititipkan ini pantas untuk kita ratapi lebih lama? Interupsi! ketika keresahan mengiba dan membuat letupan di hatimu, maka biarkan dia punah seiring waktu.

__ADS_1


__ADS_2