
Perasaan ini kian berdebu dan menciptakan bekas, semakin berjejak untuk memberitahukan jika rasanya memang bertuan. (yuliashafira14)
.
.
.
Rona penuh sukacita membawa seorang gadis menuruni anak tangga dengan melodi indah, gajak Qiandra seperti mempunyai nada dalam setiap pijakannya. Bahkan Kalya yang dilewati gadis itu mampu merasakan kemerduan dari senandung yang coba dinikmatinya seorang diri itu. Percuma! Semua orang mempunyai radar untuk mengetahui sejauh mana gelombang kebahagiaan yang dipancarkan Qiandra saat ini.
“Apa kau begitu senang karena Gibran di sini?” pertanyaan Kalya berhasil menghentikan Qiandra, dia berpaling dan kembali mensejajarkan diri untuk menghadap saudarinya tersebut untuk menjawab.
“Aku biasa saja! Kenapa memangnya?” elaknya dengan seulas senyuman yang mengandung kadar gula yang begitu tinggi, Kalya meringis saat dihadiahi ekspresi yang bertolak belakang dengan ucapan Qiandra barusan. Biasa saja dengan ekspresi ini? Tidak mungkin!
“Ayo ke ruang tamu, kasihan mereka jika menunggu terlalu lama.” Ajaknya dengan teramat semangat, kan! Tidak mungkin jika dia biasa saja dengan nada yang naik seperti ini? Pikir Kalya.
Sofa ruang tamu yang cukup luas di istana mereka itu telah diisi oleh dua orang pria tampan yang sulit dihindari pesonanya, tapi hanya Gibran! hanya dia yang memiliki cekungan mirip Qiandra sepagi ini.
Kalya dan Darel yang melihat ruat keduanya hanya mampu mengulum bibir mereka agar tidak menganggu kemeriahan hati Qiandra dan Gibran, perasaan mereka itu kian meletup hingga mampu terdengar oleh orang lain saat ini.
“Apa kau ingin berdiri sampai siang? Ayo duduk!” Kalya yang sudah kewalahan melihat dua insan yang kasmaran tersebut langsung bertindak menarik Qiandra untuk mengisi ruang yang kosong di depan kedua pria itu.
“Ada apa kalian sepagi ini sudah di sini?” tanya Kalya penasaran, dia juga terkejut saat mendapat pesan dari tunangannya tentang kedatangan mereka.
Darel melirik Gibran berharap pria itu untuk mengatakan sesuatu, karena dia yang memaksa Darel untuk duduk di sini saat Tawang pagi baru saja menampilkan pesona kebiruannya.
“I-tu, kami ingin jalan-jalan. Tapi tidak tahu harus pergi kemana. Apa kalian bisa menjadi tour guide kami?” ucap Gibran dengan terbata, dia hanya sedang menutupi kebenaran bahwa kedatangannya pagi ini untuk melihat Qiandra. Semoga saja, alasan itu cukup bagus untuk menutupi alibinya.
“Sepagi ini kalian ingin jalan-jalan? Apa kalian tidak ini baru jam 7 pagi, orang-orang baru akan sarapan saat ini. Tapi kalian malah mengajak kami untuk pergi?” ujar Kalya tidak percaya dan langsung menatap Darel, tapi pria itu segera mengalihkan pandangannya ke arah dinding. Tiba-tiba saja dia ingin menghitung jumlah cicak yang sedang melekat di sana.
__ADS_1
“Darel kelaparan, jadi sekalian kami ingin menumpang sarapan. Apa kau tidak melihat wajah tunanganmu yang sudah sepucat ini?” Gibran langsung menangkup wajah Darel penuh iba, “Heh?” pria itu tidak percaya dengan penuturan Gibran barusan.
“Lihatlah!” segera dia memutar kepala sahabatnya itu ke arah Kalya, dalam hati Darel yang dikorbankan Gibran hanya mampu mengumpat atas rencana tanpa persetujuannya ini.
“Dia begitu pucat bukan?” Qiandra langsung mengangguk untuk membenarkan pernyataan Gibran, “Menyedihkan sekali pria ini!” Kalya yang mendengar tanggapan gadis di sampingnya itu hanya mampu melongo.
Menumpang sarapan, menyedihkan? Siapa tadi kata mereka? Darel tunangannya?! Astaga ingin sekali Kalya menjitak kepala seseorang, keluh gadis itu.
“Ada tamu rupanya, ayo ikut sarapan dulu.” Papa Agam yang akan menuju meja makan, segera menghentikan langkahnya dan langsung menuju ruang tamu saat mendengar percakapan.
“Iya om maaf mengganggu sepagi ini.” Tanpa rasa bersalah Gibran terlebih dulu beranjak dari duduknya, dan segera mensejajarkan diri bersama Qiandra untuk menyusul Papa Agam yang telah berlalu.
“Kenapa dia menjadi seperti itu?” Darel yang melihat perubahaan sahabatnya secara mendadak hanya mampu mengelus dada berharap hal itu mampu meredam kekesalannya, “Mereka benar-benar aneh!” tambah Kalya.
******
Mereka ingin ke beberapa tempat dengan view mengesankan di kota Makassar. Tapi sayang, karena ini adalah akhir pekan jadi membuat kemacetan di beberapa titik. Sehingga, di sinilah mereka berada. Pantai Losari!
“Bagaimana, apa kau menyukai pantai ini?” tanya Qiandra. Senyumnya masih sama dan seperti enggan meninggalkan gadis itu, ini terlalu mubazir untuk dilewatkan Gibran bukan? Tentu saja!
“Hmm, sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya. Tapi saat kau bersanding bersama pantai tidak hanya rasa suka yang tumbuh, tapi juga rasa cinta dan takut kehilangan. Pantai dan tempat apapun itu, selama ada dirimu aku tidak punya alasan mengabaikannya.” Mata Gibran ingin beralih ke tempat lain, tapi dia malah kesulitan melakukannya. Qiandra, ahh gadis ini memang sangat mempesona.
“Gibran ini masih terlalu pagi untukku mendengar gombalanmu.” Gerutu Qiandra dengan senyuman yang malah semakin merekah, aneh.
“Haha benarkah? Aku kira kau menikmatinya?” pertanyaan usil itu mampu melukiskan kemerahan Qiandra, tentu saja dia merasa malu karena ketahuan.
“Berhentilah menggodaku!” Jawab Qiandra dan langsung memalingkan wajahnya.
Hilir angin membuat surai gadis itu menari tanpa alunan musik, banyak pasang mata yang juga sedang mengagumi keindahan rakitan sang Kuasa pagi ini. Seperti gelombang laut yang tidak jemu untuk saling mengejar, Gibran pun berlaku demikian ketika bersama Qiandra.
__ADS_1
“Qia, aku akan kembali malam ini bersama Darel. Apa kau ingin pulang bersamaku?” ucap pria itu dipenuhi harapan.
“Malam ini?” jelas Qiandra tidak percaya, jika malam ini kenapa dia malah mengajaknya jalan-jalan daripada bersiap? Pikirnya.
“Aku ingin membuat kenangan bersamamu sebelum kembali ke Jakarta. Hal sekecil apapun itu, aku berharap hanya ada kau.” Tutur Gibran seakan tahu apa yang tengah dipikirkan Qiandra, ucapan pria ini selalu saja begitu manis.
“Jam berapa penerbangan kalian?” Qiandra menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada ucapan Gibran.
“11 Malam.” jawabnya.
“Setelah ini aku akan bicara dengan om Agam dan tante Dyra untuk meminta restu mereka, aku ingin membawamu kembali sebagai pria yang bertanggung jawab. Apa menurutmu aku bisa melakukan itu?” Qiandra yang mendengar ucapan Gibran hanya mampu terdiam, dia bahagia dan sedikit khawatir hanya saja sulit bagaimana cara mengekspresikannya. Bisakah dia memulai ini bersama Gibran?
Kesungguhan pria ini kini mampu merobek rasa khawatir Qiandra yang mulai merangkak naik, tatapan keseriusannya mampu meruntuhkan rasa bimbang gadis itu.
“Qia!” panggil Gibran.
“Ya?”
“Apa aku bisa melakukannya?” pinta Gibran. Qiandra tersenyum dan langsung mengangguk, apakah dia bisa sebahagia ini? Semoga saja, pilihannya untuk bersama Gibran adalah hal yang tepat.
Qiandra tidak mungkin lagi untuk berteduh dari hujan cinta Gibran bukan? Yah, mulai saat ini dia akan menikmati setiap rinainya. Menikmati sentuhan dan irama indah ketika rintik itu membuat pola merdu untuk berbisik, derainya sedang asyik menyebutkan nama Gibran ketika turun.
Note : *Gajak sinonim langkah.
*Radar sesuatu untuk mendeteksi.
*Tawang sinonim dari langit.
*Surai adalah rambut.
__ADS_1