Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Gelombang Cinta


__ADS_3

Pendar kegetiran nan pekat itu kian menyesakkan, mendominasi pun menguliti relung dan kepercayaan dirinya. (yuliashafira14)


.


.


.


 


Deru langkah kembali terdengar dan semakin merajai marmer berkilau yang menjadi pijakan Garden Residence, senyum memukau Gibran kembali mengembang kala menjejak beberapa sudut yang menginang dan menjejak karena sosok berharga sebelumnya.


Benar! Gibran baru saja kembali setelah mengantarkan Qiandra beberapa saat yang lalu, netra hitam legam itu memandang sekeliling dan segera mengirim sinyal pada otaknya untuk memutar kembali perdebatan singkat mereka sebelum kepergian gadis itu. Dan, senyumnya kian mencelos oleh rasa rindu. Gelora yang begitu angkuh ketika datang dan tanpa pikir panjang menghantam pun menyiksanya tanpa ampun, perasaan ini begitu mahir mengusik nadir terpayah Gibran dengan sengaja.


Pria itu beralih dengan segera, mendaratkan tangannya untuk menyentuh meja makan berwarna dark yang terdapat tart coklat di atasnya, lihatlah! Tart ini dengan asyiknya berleha seolah tanpa beban. Gibran menggeleng karena sempat berpikir demikian, huft bisa gila dia jika seperti ini.


Setelah mengamankan tartnya ke dalam lemari pendingin, pikiran Gibran kembali berkelana tanpa izin. Melalang buana pada kejadian ketika dia mengemudikan mobil untuk mengantar pujaannya, He'em. Ketika Qiandra lebih banyak bicara dan berkisah dari biasanya, tentu saja semua itu terdengar seperti senandung cinta dari bidadari bagi Gibran.


Namun celoteh riang gadisnya tiba-tiba terhenti saat mereka tiba tepat di parkiran Sky Apartemen yang ditempati Qiandra, apa jarak kediaman mereka memang sedekat ini? Atau pria itu yang begitu menikmati kebersamaan mereka hingga tidak mengindahkan peringatan waktu? 


Entahlah! tapi yang jelas, Gibran merasa waktu bergulir begitu cepat jika bersama gadis ini. Bahkan torehan kenangan dalam kisah mereka belum terasa cukup untuk dirangkai utuh dalam frame di sudut hati Gibran, Jika terus seperti ini bukan tidak mungkin baginya untuk segera membawa Qiandra duduk di depan penghulu.


Yaya, bahkan Gibran tidak memedulikan kehadiran Kalya saat itu. Mereka terlalu fokus dan tenggelam dalam salam perpisahan, bukankah keduanya masih bisa bertemu setelah malam ini? Tapi kenapa perpisahan tersebut dilakukan seolah mereka tidak akan jumpa dalam kurun waktu yang lama?! Astaga.


Bahkan Kalya yang menyaksikan adegan mereka, harus berusaha menelan keinginannya untuk tertawa dan muntah secara bersamaan. Ah dasar!


“Aku harus segera membawa gadisku itu untuk mengunjungi rumah utama, entah sejak kapan aku merasa kesulitan jika tidak melihatnya, aku tidak pernah menyangka jika dia sangat suka bergentayangan seenaknya dalam pikiranku.” Senyum Gibran semakin merekah kala bergumam, jangan ditanya bagaimana tampannya pria itu kini. Yang jelas, dia sudah siap bersaing dengan kelopak bunga musim semi karena begitu memukau.


Cahaya rembulan di luar sana kian merangkak naik, bahkan jarum jam kian berdenting lebih cepat untuk menyentuh angka dua pagi. Suhu udara malam ini pun semakin bersikap egois dan terkesan antagonis untuk menguasai tubuh maskulin pria itu, jarak yang membentang membuat Gibran kembali melempar rindu pada gadisnya. Senyum indah dan perangai Qiandra yang berbeda dari gadis lainnya, selalu mengantarkan pria itu dalam tepian cinta yang sulit berkesudahan.

__ADS_1


Baru saja dia ingin beristirahat, tapi perasaan rindu malah memperkeruh pikirannya. Ahh gadis itu selalu saja mendominasi setiap jalur dalam tubuh Gibran! Dia perlu mengistirahatkan tubuhnya dari segala hal tentang Qiandra, jika tidak? Gadis itu akan semakin menghujaninya dengan serangan membabi buta karena ketulusannya. Jika sudah seperti ini, maka netra Gibran akan semakin sulit untuk dipejamkan. Mandi mungkin bisa menjadi solusi, dia harus membuat diri senyaman mungkin untuk memperoleh tidur yang berkualitas.


******


“Kau tidak akan kenyang jika hanya menatap makananmu,” ujar Kalya yang mengawasi Qiandra. Sahabatnya itu seperti sedang bersitegang dengan Beef Curry with salad pesanannya, wajah cerah dan senyum manis Qiandra tiba-tiba pamit kala Darel mengatakan Gibran tidak akan datang siang ini.


Pria kesayangannya itu harus menjemput orang penting di Bandara, tapi yang membuat gadis itu semakin uring-uringan adalah Gibran yang tidak memberitahunya. Apa sesulit itu mengirim pesan?


“Tadi dia terlihat begitu terburu-buru saat menerima panggilan, aku rasa Gibran punya hal mendesak. Kau tidak perlu memikirkan hal yang tidak berguna!” timpa Darel ketika melihat guratan kegelisahan gadis itu.


“Benar, kau makanlah!” sambung Fahar.


Fahar? Iya, pria itu baru saja kembali setelah menyelesaikan pekerjaannya. Wajah tampan dan sikap ramah kian menambah nilai untuk seorang Fahar jika ingin menjerat para gadis. Tapi, dia bukanlah pria seperti itu pun Qiandra yang pasti tidak akan terjerat dengan sikap Fahar. Karena jelas untuknya, tidak ada sosok yang mampu menempati sudut hatinya jika berbicara tentang hal itu selain, khmm ... Gibran tentunya. Haha dasar!


Tanpa bantahan, Qiandra kembali melanjutkan atau lebih tepatnya memulai makannya dengan sedikit melankolis. Hingga suara Kalya mencuri atensi yang lainnya, tidak terkecuali Qiandra.


“Drama dimulai,” gumam Fahar dan berhasil memicu senyuman Qiandra.


“Tentu saja itu hal tersulit untukku, tidak melihatmu saat bekerja saja sudah membuatku gelisah. Bagaimana mungkin kau semakin menyiksaku dengan malam yang sepi ketika pulang nanti?” Qiandra dan Fahar yang mendengar tanggapan itu mendadak tersedak secara jama’ah, ayolah! Pasangan yang di depan mereka saat ini benar-benar berlebihan. 


Tunggu, kenapa dia merasa dejavu? Apa dirinya juga seperti Kalya jika bersama Gibran? Pikir Qiandra. Ahh jika iya, itu sungguh memalukan. Aish!


Gadis itu kembali mengawasi sahabatnya yang tengah tersenyum malu-malu dan sesekali mengapit surainya ke belakang telinga, tidak ingin membiarkan Darel melewati pemandangan anggun yang sengaja Kalya ciptakan. Qiandra menggeleng dan menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba mendadak geli, ckck sepertinya taman bunga di hati Kalya tengah bermekaran karena tanggapan Darel. 


Mendadak Qiandra merinding mengingat sikapnya jika bersama Gibran, semoga tidak seperti ini. Batinnya!


“Mereka benar-benar kekanakan,” gumam Fahar tapi cukup menjangkau pendengaran yang lainnya.


“Aku mendengarmu,” jawab Darel tanpa mengalihkan pandangannya dari sang pujaan.

__ADS_1


“Dasar jomblo,” imbuh Kalya. Ahh, tiba-tiba saja hati kecil Fahar seakan tersentil oleh sesuatu yang tidak kasat mata.


"Kapan kau akan mengatakannya?" tanya Darel tiba-tiba, Fahar yang sengaja tidak ingin menanggapi pembicaraan tersebut hanya termangu beberapa saat.


"Apa maksudmu?" jawabnya sok polos.


"Apa rasa kepekaanmu sedang bermain petak umpet? Kenapa kau selalu menghindari pembahasan ini?" Tukas Darel, pria itu menopang dagu dengan ekspresi datar.


"Jika terasa sulit menghujani gadis yang berpayung, maka kau tidak akan bersalah jika ingin menyeretnya untuk ikut dan merasakan betapa indahnya rinai yang kau melodikan untuknya.” Tutur Darel dengan sarkas dan penuh keseriusan, dia berharap agar Fahar mampu mencintai seseorang dengan normal tanpa takut untuk melewati garis aman yang selama ini menjadi tamengnya.


“Apa kau punya seseorang yang kau cintai?” rasa ingin tahu Kalya tiba-tiba menggelitiknya untuk bertanya, Fahar yang tiba-tiba menjadi poros tentu saja kesulitan menjawab.


“Jawablah!” desak Qiandra antusias mengingat Fahar adalah pria tertutup, berbeda dengan kedua sahabatnya yang terang-terangan mengutarakan rasa cinta mereka. Mendengar pengakuan Fahar secara langsung, adalah sesuatu yang langka untuk dirinya dan Kalya.


“Hmm ... tapi dia menyukai orang lain dan aku tidak ingin merusak persahabatan kami karena perasaanku padanya,” lirih Fahar dan disambut dengusan Darel.


“Pria itu bahkan tidak melihatnya sebagai seorang wanita!” sindir Darel yang menyita perhatian Kalya dan Qiandra, tidak urung kebingungan pun bercokol dalam pikiran kedua gadis itu dan tergambar jelas lewat tatapan mereka.


“Apa salahnya mencintai seseorang yang menyukai pria lain? Bahkan kejelasan status keduanya belum final, bukankah itu menjadi hal paling penting? Yang keliru adalah ketika kau bermain curang dalam memperjuangkannya. Jangan mengatakan mencintai seseorang jika kau belum benar-benar berkubang dalam ranah tempur yang sesungguhnya," Timpa Qiandra dengan senyum manisnya.


"Dan untuk rasa sakit serta penolakan, bukankah itu persimpangan yang harus dilalui sebelum kau sampai pada tujuanmu? Aku rasa kau perlu berguru pada Darel dan Gibran!” Lanjutnya dan diangguki Kalya.


Hening ...


"Haruskah?" Fahar bermonolog.


Benar, cinta menjadi lautan yang menampung bahkan digenangi oleh berbagai macam emosi. Bukankah kita tidak bisa mengekang perasaan yang tumbuh? Takut tidak berbalas? Hey, itu hal lumrah. Setidaknya kita berakhir dengan rasa legah, bahkan kita mendulang nilai secara estetik karena berhasil keluar dari pusaran keresahan karena memendam terlalu lama.


Note : *Nadir adalah titik terendah

__ADS_1


__ADS_2