
Terjerat, lakon pria itu membuatku semakin terjerat. Mantranya membuatku semakin goyah, dan kini tanpa sadar aku tertatih menuju dirinya. (yuliashafira14)
“Sial sial sial,” umpat Aksa saat sudah berada dalam mobilnya, beberapa menit berlalu tapi pria itu masih betah dengan kekesalannya saat ini.
“Kalau bukan karena kerja sama itu aku tidak akan merendahkan diri dan menerima makian dari gadis gila tadi.” Kalya adalah gadis yang dimaksud Aksa, andai saja Gibran tidak di sana. Ingin sekali Aksa membalasnya! Tapi, apa dia lupa akan keberadaan Darel di sana? Pria itu tidak akan membiarkan seseorang menyakiti tunangannya.
Setelah puas menenangkan diri pria itu pergi dan meninggalkan halaman Restoran, yah dia masih berada di area kerja Qiandra. Sedangkan di dalam Restoran yang lain masih betah duduk di sana, setelah makan siang Aksa pamit terlebih dulu karena tidak tahan dengan tatapan intimidasi orang-orang dan yang membuatnya semakin jengkel adalah kenyataan bahwa dia tidak bisa membalas perlakuan itu.
“Aku ingin bicara denganmu.” Qiandra meninggalkan meja makan dan menuju ruang kerjanya, Gibran seperti anak ayam yang mengikuti induknya saat ini.
Ruangan yang cukup besar itu dipilihnya untuk meminta penjelasan pada Gibran akan kejadian yang menimpa dirinya.
“Kenapa kau melakukannya?” tanya Qiandra tidak sabar.
“Apa?” pria yang ingin duduk itu tiba-tiba balik bertanya, dia meminta penjelasan agar Qiandra lebih spesifik saat bertanya.
“Kenapa kau meminta Aksa melakukannya, apa kau tidak lihat ekspresi pria itu tadi? Dia meminta maaf karena terpaksa! Dia tidak benar-benar menyesal saat mengatakan itu.” Ujar Qiandra sedikit jengkel, dia menahan diri untuk tidak melampiaskan hal itu pada yang lain.
“Aku akan melakukan apapun agar dia mau meminta maaf, sekalipun harus menekannya. Aku ingin agar dia bersikap lebih hati-hati mulai sekarang apalagi jika itu menyangkut kau!” setuju, sikap sopan santun harus ditanamkan pada Aksa mulai sekarang.
“Karena paksaanmu itu akan membuat Aksa semakin membenciku apa kau tahu?” emosi Qiandra benar-benar berada di ubun-ubun, melihat betapa santainya Gibran saat menanggapi perkataannya.
__ADS_1
Pernyataan Qiandra membuat Gibran bungkam, apa dia masih memiliki perasaan pada mantan tunangannya itu? “Aksa akan membencimu, apa hanya itu yang cemasakan?” wajah dan tatapan pria itu benar-benar mematikan melihat Qiandra.
“Katakan, apa hanya itu yang kau cemaskan?” Gibran tengah memegang kedua bahu Qiandra, cengkramannya sedikit menyakiti permukaan kulit gadis itu.
“Tentu saja!” Qiandra yang tidak terima dengan perubahan sikap Gibran menjawab dengan begitu lantang.
“Oh, apa kau masih menyukainya?” jawaban gadis itu membuatnya melonggarkan cengkraman di bahu Qiandra. Sedih? Ya pria itu merasakannya.
“Itu bukan urusanmu!” ketus Qiandra, dia tidak ingin menyakiti Gibran. Tapi dia terlampau khawatir karena suatu alasan!
“Bagaimana mungkin itu bukan urusanku? Aku menyukaimu dan kau malah seperti ini pada pria itu hah?” ruang kedap suara itu menggema, Qiandra yang tidak siap menerima perlakuan Gibran berangsur mundur.
Pria itu tengah tersulut emosi, dia ingin melindungi Qiandra agar orang lain mampu bersikap lebih baik padanya. Apa cara yang dilakukan Gibran keliru di mata Qiandra? Dan karena kekeliruan tadi malah membuat gadis itu takut akan sisi lain dalam dirinya, bodoh! Kenapa dia tidak bisa menahan diri.
“Pergi!” ucapnya dengan lirih, paras cantik itu tengah menunduk. Tangannya terkepal menahan sesuatu!
Gibran terdiam, mendengar perkataan Qiandra membuatnya menyesal untuk suatu alasan. Dia merasa menjadi pria buruk bagi gadis itu. “Qia.” Panggilnya dengan nada terendah, pria itu nelangsa!
“Apa kau takut padaku?” tangan itu menuntut untuk mengangkat wajah Qiandra yang tidak mau melihatnya. “Maafkan aku.” Ucapnya setelah melihat manik gadis itu yang tengah berkaca-kaca, sungguh dia menyesal karena sulit mengontrol emosinya.
“Aku sadar tidak berhak mengatakan hal ini padamu, tapi aku tidak bisa menahannya lebih lama. Aku benar-benar menyukaimu, mendengar kau mengkhawatirkan bagaimana pria itu memandangmu saja bisa membuatku marah. Maaf aku bersikap seperti ini, tapi sungguh ucapanmu tadi membuatku begitu cemburu!” Dia menyelipkan beberapa helai rambut hitam Qiandra ke belakang telinga.
__ADS_1
Qiandra yang mendapatkan perlakuan itu hanya bisa terdiam, dia menatap pria yang tengah menyesal saat ini. Sesekali Gibran membelai kepalanya, memberitahukan seberapa dalam rasa penyesalannya itu.
“Aku pergi!” ucapnya setelah tidak menerima jawaban dari Qiandra, dia cukup tahu diri untuk memposisikan diri saat ini. Memaksa agar gadis itu mengerti dirinya? Diurungkan pria itu. Memilih pergi telah menjadi kebiasaannya, dan Qiandra? gadis itu sangat berbakat meminta dan membiarkan Gibran pergi.
Pintu yang ditutup Gibran membuat kesadaran gadis itu kembali, apa yang dilakukannya pada pria malang itu? Bodoh, bodoh, bodoh! Bukan ini maksud dari perkataannya tadi, dia hanya ingin melindungi Gibran dari sikap licik Aksa. Pria itu bisa melakukan apapun jika harga dirinya terluka, Qiandra pernah menjadi saksi bagaimana mantan tunangannya begitu arogan.
“Apa yang aku lakukan?” kalimat putus asa terdengar dari mulut Qiandra.
“Qia.” Kalya masuk tanpa mengetuk pintu, gadis itu tampak terburu-buru. “Apa terjadi sesuatu? Gibran pergi begitu saja, dan dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.” Lanjut Kalya.
Qiandra yang sedikit panik langsung mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas meja, dia tengah menelpon Gibran tapi tidak ada jawaban dari pria itu, dia menggigit kuku jarinya.
“Bagaimana?” Kalya tahu siapa yang tengah dihubungi sahabatnya itu.
“Tidak diangkat!” jawab Qiandra, dia mengulangi hal yang sama beberapa kali.
“Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?” Astaga, bukannya menenangkan Qiandra gadis itu malah membuatnya semakin panik. Dasar!
Tanpa pikir panjang Qiandra dengan cepat mengambil kunci mobil yang bertengger di tempatnya, setelah mendapatkan apa yang diincar membuat dia melangkah keluar dari ruang kerja miliknya.
Tujuan gadis itu hanya satu, menemui Gibran dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa pria itu baik-baik saja.
__ADS_1
“Apa yang kau katakan pada Qiandra? Dia terlihat tergesa-gesa saat keluar tadi.” Darel dan Fahar bergabung dengannya saat ini, senyum jahil gadis itu mampu menjawab pertanyaan kedua pria yang datang dengan pertanyaan di kepala mereka. Tapi tunggu, bukankah sikap Qiandra seperti dejavu saat ini?!
Tidak peduli sejauh apa kita berusaha pergi, pada kenyataannya kita akan kembali. Alasannya? karena kita pergi tanpa harus melepas apa yang seharusnya kita lepas. Jangan berusaha terlalu keras untuk melawan arah jika tidak ingin tersesat lebih dalam, hilangkan prasangka curam yang mengawal kekokohan dan ego. Jika tidak ingin menyesalinya, pertimbangkanlah!!