
Sakitku menggelora, perihku menciptakan pawaka. Tidak! sanggahku, aku seorang rajul. Aku pasti bisa berlapang, pasti. (yuliashafira14)
.
.
.
“Kau? apa yang kau lakukan di sini?” jelas Qiandra, tentu saja dia terkejut bertemu pria itu lagi. Tapi tunggu, kenapa tatapannya selalu seperti itu saat melihat Qiandra? membuat orang bisa salah paham.
“A-ku menunggumu, bagaimana perjalananmu?” tanyanya malu. Sepertinya pria ini terpesona pada sosok yang berdiri anggun di depannya kini, lihatlah wajahnya yang memerah itu. Sangat jelas!
“Menungguku?” okelah, sepertinya Qiandra masih belum mengerti situasi ini. Pria tersebut berdiri, dia tampil tampan dengan warna gading yang dipadukan bersama warna biru langit itu.
“Aku Aarav, dan biasa dipanggil Ara. Aku anak dari teman Om Agam yang kau ajak bertemu hari ini,” dia kembali memperkenalkan diri pada gadis itu. Qiandra? dia bengong dan mencoba mencerna ucapan Ara, Ara? ah Aarav pikir Qiandra.
“Duduklah, apa kau terkejut?” timpanya. Dan langsung diikuti gadis itu, dia memandang Aarav dengan tatapan tidak terbaca.
“Kenapa kau tidak pernah mengatakan siapa dirimu, apa kau sengaja melakukannya?” selidik Qiandra, dia hanya penasaran akan hal itu. Kenapa dia tidak jujur sejak awal?
“Karena kau tidak pernah bertanya tentangku, atau lebih tepatnya kau tidak peduli.” Dia menatap sendu gadis cantik itu, apa dia sengaja menyindir Qiandra? mungkin.
“Aku baru mengenalmu, bukankah aku akan terkesan lancang jika menyinggung ranah pribadi seseorang? aku bahkan tidak pernah melakukannya bahkan pada Gibran sekalipun.” O’ow, penjelasan itu membuat membuat Aarav menahan gerakannya untuk mengangkat gelas yang terisi cairan itu.
“Pak Gibran?” jelasnya kembali, dia ingin mengulik alasan kenapa gadis itu tiba-tiba menyebutkan nama pria lain saat ini.
Saat akan menjawab pertanyaan Aarav kegiatan mereka dialihkan oleh kedatangan seorang pelayan, keduanya memesan terlebih dulu sebelum melanjutkan perbincangan.
“I-tu, aku juga baru beberapa bulan mengenal Gibran tapi aku tidak pernah bertanya apapun mengenai persoalan pribadinya. Jadi aku tidak mungkin melakukan hal itu padamu disaat kita baru bertemu beberapa kali, aku tidak berbakat untuk hal itu.” Jelas Qiandra hati-hati, apa dia melakukan kesalahan? kenapa wajah Aarav terlihat datar seperti itu.
“Apa yang membuatmu ingin bertemu denganku malam ini?” Aarav mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin mendengarkan gadisnya berbicara tentang pria lain. Siapa gadisnya? Qiandra? ayolah, jangan bercanda.
Tiba-tiba saja gadis itu merasa gugup, ah sudahlah. Mereka telah bertemu jadi dia harus mengutarakan maksudnya pada pria itu!
“Aku ingin membicarakan masalah perjodohan.” Ucapnya mantap, kali ini Qiandra berani menatap langsung manik Aarav. Mereka beradu pandang, tapi dengan harapan yang berbeda.
“Ada apa dengan perjodohan kita?” kita? rasanya aneh mendengar hal itu dari mulut pria ini, pikir Qiandra. Tapi, Aarav tampak biasa saja saat mengatakannya.
__ADS_1
“Aku tidak menginginkannya, apa kau bisa membantuku untuk membicarakan ini pada Mama Dyra dan Papa Agam?” ada kelegaan saat dia mengatakan hal itu. Aarav terdiam, mata pria itu kehilangan binar bahagia. Sepertinya, dia kecewa dengan permintaan gadis itu.
“Qiandra awalnya aku juga sepertimu tidak menyetujui hal ini, tapi setelah bertemu denganmu semua berubah. Aku menginginkannya, perjodohan dan dirimu. Aku menginginkan keduanya!” ungkap Aarav, ada kesungguhan di sana. Setidaknya itu yang dirasakan Qiandra!
Gadis itu terdiam beberapa saat, dia berpikir Aarav tidak memiliki perasaan untuknya. Qiandra berharap semua ini akan mudah, tapi? “Aarav ak-“ ucapannya tenggelam dengan selaan pria itu. “Qia apa kau tidak bisa mempertimbangkannya?” sambung Aarav, dia berharap.
“Maaf, tapi aku tidak bisa.” Lirih Qiandra, dia tidak menyesal. Hanya sedikit tidak enak hati, bukankah itu wajar? “Apa kau menyukai seseorang?” tanyanya. Qiandra terdiam, “Apa Pak Gibran adalah pria beruntung itu?” selidik Aarav.
Qiandra tidak membantah, dia menyimpan nama itu dalam hatinya. Bukankah dia akan terlihat jahat mengiyakan kebenaran itu?
“Diammu adalah jawaban akan kebenaran, apa kau begitu menyukainya sampai meminta itu padaku? padahal kita belum memulai hubungan ini Qiandra.” Ada nada sedih di sana, gadis itu tidak menyangka jika perasaannya untuk Gibran bisa sejelas ini.
Dia tidak ingin memupuk perasaan tidak nyaman ini lebih lama, dia menarik nafas cukup dalam. Gadis itu ingin menyelesaikan masalah ini, sungguh.
“Aku merindukannya setiap saat, aku risau bila tidak melihat pria itu. Aku bahkan mengakui jika hatiku berdebar karena Gibran. Apa itu tanda bahwa aku menyukainya? jika iya, berarti aku menyukainya.” Ungkap Qiandra, ah Aarav merasa kalah. Dia merasa sesak di dadanya!
Dia belum diberi kesempatan untuk mengetuk pintu hati gadis itu, kesempatannya usai. Walaupun dia menyukai Qiandra, tapi dia tidak bisa memaksakan kehendak. Apalagi sampai menjadi duri untuk orang lain!
Dia mencoba ikhlas, hanya itu cara yang terlintas di benaknya. “Baiklah, tapi dengan satu syarat.” Pinta pria itu, Qiandra diam untuk menunggu kelanjutan kalimat Aarav.
“Baiklah,”setidaknya gadis itu ingin menghibur Aarav. Hanya kali ini saja!
Disisi lain Kalya masih memantau sepasang manusia yang terlihat serius itu, dia cukup terkejut melihat pria yang duduk bersama Qiandra saat ini. Gadis itu pun tidak menyangka, jika Aarav adalah calon yang dimaksudkan oleh orang tuanya selama ini.
Tapi karena rasa bosan mulai mengusik Kalya, dia memutuskan untuk berlalu. Sebentar saja, dia ingin menyapa udara malam. Gadis itu berjalan pelan dan langsung menuju sebuah bangku panjang yang tampak kesepian di sisi kiri, kesepian? ya dia juga merasakannya.
Saat tengah beradu nasib dengan tempat duduk itu, ponsel Kalya tiba-tiba berdering membuat fokusnya teralihkan. Menganggu saja! pikirnya, dia melihat benda pipih itu. Alfabet berjajar rapi membentuk sebuah kata, dia mengeja.
Darel! ah dia merindukan pria ini, Kalya menarik nafasnya mencoba untuk menenangkan diri terlebih dulu.
“Ya?” jawabnya, tapi tidak ada sahutan di seberang. Apa ini? Keluh Kalya!
“Halo?” ulang gadis itu, apa dia berbicara dengan angin? kenapa tidak ada sambutan dari lawan bicaranya. Menyebalkan!
“Maaf,” Kalya membeku.
“Aku merindukanmu Kalya,” sambungnya. Ucapan Darel telah membuat wajah gadis itu langsung dihampiri oleh warna senja, dia menunggu ucapan itu selama beberapa hari ini.
__ADS_1
“Aku salah, aku minta maaf karena begitu bodoh.” Ada yang aneh dengan nada suara prianya, ada yang tidak beres. Pikir Kalya!
“Apa kau baik-baik saja?” nada khawatir Kalya terdengar.
“Aku baik-baik saja,” lontar Darel menenangkan.
“Kau dimana?” terdengar suara bising, Kalya yakin jika tunangannya itu berada diluar.
“Berbaliklah!” gadis itu menurut, dia melihat Darel di sana.
“Kau di sini?” tanyanya, pria itu hanya mengangguk dengan mata yang terus menatap Kalya. Dia khawatir jika berkedip membuat gadisnya menghilang!
Gadis itu hanya diam, dia mengamati wajah tampan prianya yang terlihat sedikit pucat. “Ada apa dengan wajahmu?” Kalya menyentuh pipi Darel, panas! Itu yang dirasakannya.
“Astaga kau demam? kenapa kau di sini bukannya ke dokter! Ikut aku, kita harus ke Rumah sakit.” Tangan Darel mencegah pergelangan tangan Kalya, dia menarik agar gadis itu semakin mendekat. Hangat! hembusan nafasnya membelai wajah Kalya, dia mendongkak untuk mengajukan protes. Ayolah mereka di tempat umum!
“A-pa yang kau lakukan?” gugupnya, bukan jawaban yang diperoleh Kalya. Melainkan sebuah pelukan!
“Maaf,” lirih Darel. Gadis itu dapat merasakan getaran penyesalan yang menghantarkan kalimat itu agar keluar, dia diam dan mendengarkan.
“Aku tahu pria yang bersamamu waktu itu adalah orang yang paling kau sukai di masa lalu, karena kebenaran itu membuatku semakin takut kehilanganmu." Ungkap Darel lirih, dia seperti tidak memiliki tenaga.
"Aku tidak menemui atau memberi kabar karena aku takut Kal, aku khawatir saat kita bertemu kau menginginkan perpisahan dariku.” Timpa pria itu, dia semakin mengeratkan pelukannya. Kalya? dia menyimak dan bersikap menjadi pendengar yang baik!
“Aku tadi bertemu Lais, dan dia sudah menceritakan semuanya. Maafkan aku!” gadis itu melepaskan pelukan dan menatap dalam Darel, kenapa pria ini berpikir hal yang bahkan tidak pernah dipikirkan oleh Kalya?
“Kenapa kau begitu bodoh, aku tidak akan melakukan hal itu hanya karena Lais atau siapapun.” Sangahnya lembut,
"Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi tanpa seizinku, aku minta jika kita terlibat masalah. Kita harus menyelesaikannya, bukan malah menghindar." Kalya menyentuh dada bidang Darel, dia ingin menenangkan debaran khawatir pria itu.
“Maaf!” hanya itu yang bisa diungkapkannya.
“Aku merindukanmu Kal, sangat.” Dia kembali menarik gadis itu ke dalam pelukannya, saling menghantarkan perasaan cinta satu sama lain.
“Aku juga!”
Mereka mencoba mengobati luka, dan berharap cinta bisa membalutnya. Semoga lincah penawar kan datang, membawa serta harapan baru. Semoga!
__ADS_1