Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Kesalahpahaman


__ADS_3

Harapanku berserakan, puingnya hancur tanpa izin. (yuliashafira14)


.


.


.


“Apa kau masih belum merubah keputusanmu?” tanya Aarav basa-basi, mereka telah menyelesaikan makan malam dan menghabiskan waktu untuk perbincangan ringan. Tujuan pria itu hanya satu, dia ingin mengetahui lebih banyak tentang Qiandra. Hanya itu!


Langkah pelan membawa keduanya membelah kesunyian, mereka berjalan dan menuju unit masing-masing. Qiandra, gadis itu berhenti saat telah jumpa dengan pintu unitnya yang berwarna keemasan itu.


“Maaf Aarav,” gadis itu tersenyum kecut. Ahh dia tidak bisa memaksakan diri untuk mengiyakan!


“Haha aku tahu, aku berharap kita masih bisa berteman setelah ini.” Dia bersungguh-sungguh, pria itu masih sama. Tersenyum tampan tapi, ekspresinya tidak mampu melumpuhkan Qiandra.


Qiandra tidak menanggapi keinginan itu, berteman? tidak semua orang mampu menjadi temannya. Bukan karena gadis itu pemilih, hanya saja dia memang bukan sosok yang pandai menjalin pertemanan.


Fahar dan Darel? Gibran dan Kalya adalah alasan dibalik kedekatan mereka sejauh ini!


“Terima kasih,” alih Qiandra. 


“Aku yang seharusnya mengatakan itu,” balas Aarav. 


“Masuklah, nanti aku akan membicarakan hal ini dengan Om Agam.” Timpanya kemudian. 


“Baiklah, sekali lagi terima kasih.” Kalimat perpisahan itu menghantarkan kepergian Qiandra, Aarav masih berdiri di tempatnya. Dia berharap, gadis itu berbalik dan merubah pendiriannya. Tapi, nihil.


Ah, Qiandra bahkan berjalan dengan mantap tanpa menengok kebelakang. Setelah pintu Apartemen tertutup, Aarav langsung memutar tubuhnya. Dia mulai berjalan gontai ke unit paling ujung, sedih! pria itu ingin mengelah kekecewaannya pada kehampaan. Sepi, suasana itu menjadi saksi atas kegalauan Aarav.


Ting tong…


Langkah Qiandra terhenti saat mendengar seseorang menekan bel Apartemen, apa Aarav kembali? karena tidak mungkin Kalya yang memencet bel. Ahh dia hanya ingin membersihkan diri dan segera beristirahat, Keluhannya tertahan. Masa iya, dia melepaskan rasa kesalnya pada tembok? menyemprot dinding putih yang tidak bersalah dengan rasa jengkel? Qiandra tidak segila itu.


Dia melangkah pelan, dan langsung menuju benda persegi itu. “Siapa?” pertanyaan tersebut mengiringi gerakan Qiandra saat membuka pintu, tatapan gadis itu terkunci pada sosok tampan yang dipenuhi peluh dan nafas memburu.


Apa dia sedang berolahraga? tunggu, tapi tidak mungkin dia melakukan itu dengan setelan kerja bukan? pikirnya.

__ADS_1


“Ha-i,” sapa Gibran. Qiandra mengamati dengan perasaan tanya, “Kau kenapa?” selidik gadis itu.


 


“I-tu, aku hanya ingin mampir dan melihatmu. Tadi aku bertemu klien di sekitar sini, apa aku mengganggumu?” dia menetralkan hembusan nafasnya. Dan sesekali, Gibran menyeka butiran peluh yang tanpa permisi merayap di dahi pria tampan itu.


“Sebenarnya aku ingin mengajakmu masuk, tapi ini sudah malam dan aku hanya sendirian.” Dia melirik jam tangan, pukul 9 malam. Yah, untuk Qiandra itu sudah cukup larut.


“Kau akan pergi?” selidik Gibran, dia mengabaikan perkataan Qiandra sebelumnya. Manik hitam itu mulai mengamati penampilan gadis yang berdiri anggun di depannya saat ini. Apa dia berdandan secantik ini untuk Aarav? pikir Gibran, tapi tunggu! dari mana dia tahu? huh.


“Ah tidak, aku baru pulang dari suatu tempat.” Jawabnya kikuk, dia sedikit malu ditatap seperti itu.


“Kau habis bertemu seseorang?” apa Gibran ingin menjadi Detektif? kenapa rentetan pertanyaan itu mengalir sangat lancar, Qiandra mengulum bibir menahan senyum cantik miliknya.


“Iya,” Qiandra mengangguk.


Hening…


“Ah begitukah? kau pasti kelelahan, sebaiknya aku pulang. Istirahatlah!” Lirih Gibran dan segera berbalik, tujuan utama dia ke sana saat ini hanya untuk memastikan. Memastikan kebenaran dari gambar yang dikirim seseorang, dia sedikit kecewa karena hal itu adalah sebuah kebenaran.


Gibran menghentikan langkahnya dan segera berbalik, wajahnya dipenuhi kabut tanya.


“Masuklah, aku akan membuatkanmu minuman sebelum kau pulang.” Tawarnya!


“Tidak perlu, istirahatlah.” Penolakan itu diucapkannya dengan nada rendah, senyum yang dipaksakan pun turut andil memberikan peran.


 


Untuk pertama kalinya, Qiandra merasa tidak suka dengan jawaban Gibran.


“Ini bukan permintaan, tapi perintah. Masuklah!” Ucapnya tegas, tanpa diperintah dua kali Gibran langsung mengangguk.


Qiandra sedikit bergeser dan memberikan ruang saat pria itu hendak masuk, Gibran telah berada di ruangan tamu. Matanya langsung dimanjakan dengan warna-warna menawan, semua barang di sana pun tertata begitu rapi. 


“Kau sudah makan malam?” tanya Qiandra basa-basi, dia hanya ingin memecah keheningan diantara mereka. 


“Belum,” lontarnya santai. Dia masih sibuk berdiri dengan mata yang terus mengamati setiap sudut tempat itu, tapi jawaban asal yang dilontarkan Gibran tadi malah membuat gadis itu langsung berbalik.

__ADS_1


Dia melipat tangannya di dada, menunggu alasan apa yang akan dibuat pria ini sehingga melewatkan makan malamnya. Gibran menelan ludah, dia baru tahu jika Qiandra punya sisi mengintimidasi seperti ini.


“A-ku lupa karena terlalu terburu-buru!” jujur Gibran dengan menyentuh tengkuknya, tiba-tiba saja dia merasa canggung dengan tatapan gadis itu.


Qiandra menatapnya datar, lupa? ck. Mana ada alasan seperti itu!


 


“Duduklah di meja makan,” titah Qiandra dengan penuh penekanan.


Tanpa menunggu lama, Qiandra telah berbalik dan menuju dapur minimalisnya dan langsung mengenakan apron bermotif bunga sakura yang tergantung di sisi kirinya. Dia membuka lemari pendingin, dan mengambil sesuatu dari sana.


“Qia aku belum lapar,” dia hanya tidak ingin gadis itu kerepotan karenanya. Dia bahkan belum mengganti pakaian, dan malah sibuk memanaskan makanan untuk Gibran. Pria itu tidak tega!


“Duduklah!” mendengar kata dengan nada tegas Qiandra, membuat tubuhnya secara otomatis mengikuti kemauan gadis itu.


Dalam diam Gibran memandang punggung indah itu sambil tersenyum, 15 menit waktu yang diperlukan Qiandra untuk menyajikan makanannya.


Qiandra menyendokkan nasi dan beberapa lauk di atas piring yang berwarna putih, “Makanlah!” Gibran sumringah mendapatkan perhatian gadisnya. 


“Makananmu enak,” pujian itu berhasil membuatnya tersenyum.


“Kau tidak ingin makan?” pancing Gibran, dia tahu Qiandra begitu suka makanan.


“Tidak, aku sudah makan cukup banyak tadi saat bersama Aarav.” Pria itu menegang, dia tahu kebenaran perihal makan malam tadi. Tapi mendengarkan langsung dari mulut Qiandra, kenapa rasanya berbeda? Gibran tidak menyukai ini.


“Pak Aarav? apa kau tertarik padanya?” dia meletakan sendok makannya, dia menatap Qiandra dalam. Dia ingin tahu, sepenting apa pria itu untuk gadis yang disukainya ini.


“Apa maksudmu?” terdengar jelas nada tidak suka dari ucapan gadis itu, “Qiandra. Apa aku harus berhenti sekarang? aku melihatmu tersenyum saat bersama pria itu, bahkan saat ini kau berdandan cantik untuknya. Aku yakin sepertinya kau mulai menyukai Pak Aarav!” timpa Gibran, Qiandra menatap pria itu tidak suka.


“Apa kau sudah selesai membual? jika iya, pergilah.” Dada Qiandra bergemuruh, entahlah. Dia tidak ingin berdebat sungguh!


“Qiandra,” Gibran memegang pergelangan tangan gadis itu saat dia ingin berlalu. 


“Aku tidak menyukainya, puas? pergilah.” Qiandra menghempaskan tangan Gibran, dia merasa hanya ingin melakukan sesuatu. Tapi kenapa Gibran malah seperti ini?


Bayangan kebingungan berteriak lantang, gelisahnya seperti lumut yang menghiasi telaga. Apa yang harus dilakukan?

__ADS_1


__ADS_2