Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Kau dan Pantai


__ADS_3

Lembayung itu terlepas, akankah keluh dan kesahku dalam redup kan berakhir berbeda? Aku berharap kau adalah kejora yang bersinar itu. (yuliashafira14)


“Maafkan aku.” lirih Qiandra, dengan segera dia menuruti permintaan Gibran untuk mengambil bagian di sofa empuk itu.


“Aku ingin ke suatu tempat, apa kau mau menemaniku?” bukannya menanggapi, pria itu malah mengalihkan permohonan Qiandra.


“Tapi pekerjaanmu?” lontar Qiandra bingung, dan segera melirik tumpukan berkas yang tengah cemburu karena diabaikan Gibran sejak kedatangannya.


“Aku bisa meninggalkan pekerjaan ini, apa kau mau menaniku?” Yah dia bisa melakukan apapun karena jabatan dan kuasanya yang begitu berpengaruh.


“Baiklah.” Qiandra menuruti Gibran, agar pria itu bisa merasa lebih baik saat ini. Matranya pada diri sendiri!


Senyum Gibran semakin merekah, dengan gerakan cepat dia mengambil kunci mobil tanpa memperdulikan tumpukan berkas yang seakan memanggilnya. Gibran hanya ingin memanfaatkan waktu, khawatir jika Qiandra tiba-tiba berubah pikiran.


“Ayo, tinggalkan saja mobilmu di sini. Aku akan menyuruh seseorang membawanya ke Restoran.” Lontar Gibran, pria itu benar-benar bersemangat saat ini. Qiandra hanya mengangguk sebagai persetujuan.


Keduanya keluar dari ruangan dan menuju lift, saat sudah berada di lobby beberapa karyawan langsung memberi hormat pada Gibran, dan diiringi pertanyaan mengenai sosok yang berjalan di belakang pimpinan mereka. Langkah pria itu terhenti dan membuat Qiandra melakukan hal yang sama.


“Ada apa?” tanya gadis cantik nan menawan itu.


“Jangan membuatku kesulitan karena tidak bisa melihatmu,” jelasnya, kesulitan? Mengenai apa? Pikir Qiandra!


“Apa maksudmu?” dia benar-benar tidak paham maksud Gibran.


“Jangan berjalan di belakangku, kau membuat aku kesulitan jika tidak melihatmu, bisakah kau berjalan di sisi kiriku?” oke pria ini benar-benar membuat Qiandra malu setengah mati, bagaimana mungkin dia berkata seperti itu di depan karyawannya.


“Seperti ini? Apa posisiku kini sudah membuatmu lebih baik?” oh astaga, dia menuruti Gibran. Wajahnya tengah menunduk, malu dan sedikit senang tengah dia rasakan. Yah hanya sedikit senang!


“Haha kau sangat lucu, ayo.” Pria itu ingin menggenggam tangan Qiandra tapi urung dilakukan, dia tidak ingin melakukan sesuatu yang memicu konflik terlebih dahulu.


“Kita akan kemana?” tanya Qiandra. Penasaran? sangat! gadis itu amat penasaran, ini adalah pertama kalinya Qiandra menamani Gibran. Dan hanya berdua!

__ADS_1


“Ke tempat yang kau sukai, istirahatlah selama diperjalanan!” Senyum Gibran benar-benar bisa membuat Qiandra terpanah, ritme jantungnya berdetak tidak sesuai keinginan.


 


“A-ah baiklah. Jika kau lelah katakan, aku akan menggantikanmu untuk menyetir.” tawar Qiandra saat Gibran tengah beradu dengan kemudi dengan begitu gagahnya.


“Bersamamu tidak membuatku kelelahan, rehatlah karena kau tidak perlu menyetir jika bersamaku.” Sergahnya, pria ini benar-benar tahu cara membuat Qiandra salah tingkah.


“Apa kau selalu bersikap manis seperti ini jika bersama seorang gadis?” tiba-tiba saja dia ingin bertanya, ada rasa tidak rela jika benar Gibran mengumbar perkataan yang sama untuk orang lain.


“Tidak, aku hanya seperti ini padamu. Ada apa?” tanya Gibran penasaran.


“Benarkah? Syukurlah.” lirihnya terdengar, gadis itu melirik ke arah kanan dan mendapati Gibran yang meminta penjelasan di sana. “Maksudku, mmm mulutmu itu perlu dididik. Bagaimana mungkin dengan entengnya bisa berkata hal-hal manis padaku.” Sambungnya.


“Kau sedang marah atau malah malu saat ini? Aku hanya mengatakan sesuatu yang mewakili perasaanku, saat bersamamu benar-benar membuatku kehilangan tata krama.” Ungkapnya, dan tidak ada tanggapan lagi dari Qiandra.


Perjalanan mereka menyita cukup banyak waktu, 2 jam lebih berada dalam mobil membuat pinggang Qiandra kelelahan. Ini pantai! Mereka berada di pantai yang sepi pengunjung, sapaan angin lembut seakan menyambut kedatang sejoli itu.


“Apa kau tidak ingin turun? Jangan membuat pantai kecewa dengan hanya duduk diam di sini.” tanya Gibran yang telah membuka pintu mobilnya dari sisi berbeda.


 


“Dari Kalya, katanya kau begitu suka pantai. Kenapa kau mudah menyukai hal-hal seperti ini?” yah, gadis yang membuatnya terpesona itu sangat mudah menyukai hal-hal sederhana. Langkah membawa keduanya berjalan beriringan hingga ke bibir pantai, membiarkan sambutan air laut memberikan ucapan selamat datang.


“Karena aku menyukainya, aku hanya menyukai hal yang kadang tidak disyukuri oleh orang lain. Kita kadang lupa bahwa ada keindahan lain di dunia ini, keindahan yang telah ada sedari dulu dan tidak pernah berubah.” Ohh...manisnya, penjelasan itu mampu membuat kobaran api cinta Gibran semakin membara. Bagaimana mungkin pemikiran sederhana Qiandra membuatnya semakin ingin memiliki gadis itu.


“Ada apa?” dia bertanya saat melihat Gibran tengah berbalik ke arahnya, apa ada yang aneh dengan penjelasannya? Pikir Qiandra!


“Perkataanmu membuatku ingin semakin bekerja keras, yahh berusaha lebih giat agar secepatnya bisa membawamu ke pelaminan. Aku tidak meminta jawaban atau persetujuanmu saat ini. Aku hanya ingin mengatakan hal itu!” jelas Gibran dengan tulus, tatapan matanya begitu menghanyutkan? Bisa-bisa Qiandra tenggelam karena keseriusaannya.


“Khmm,” tiba-tiba saja berdehem mampu membuat gadis itu bisa menetralkan gejolak di dadanya.

__ADS_1


“Apa ada hal lain yang ingin kau lakukan?” Qiandra berusaha duduk di atas pasir, menyatu dan berbagi perasaan dengan butiran putih kecoklatan itu.


“Tentu saja!” jawabnya, Qiandra hanya diam dan menunggu kelanjutan Gibran. Rasa penasaran mencoba mengusik keingintahuannya.


“Menikah denganmu dan-“ tutur Gibran menggantung, dan kembali menatap lekat wajah Qiandra yang sedang memandang wajahnya yang rupawan.


“Dan aku ingin menorehkan namamu di atas sana, bersanding dengan cahaya purnama dan taburan benda langit lainnya. Mungkin hanya aku yang bisa melihat sinarmu, sungguh kau begitu memikat untukku“ pria itu benar-benar! Sepertinya dia perlu menjauhi makanan yang mengandung gula, perkataannya bisa membuat semut mengerubuti keduanya saat ini. Lihatlah Qiandra! dia tidak bisa mengatakan apapun untuk menyanggah ucapan legit Gibran.


“Apa kau sedang malu? lihatlah wajahmu yang merona ini!” Gibran mengelus dengan lembut pipi putihnya.


“Berhenti menggodaku.” Tentu saja semburat kemerahan mendominasi sekarang, itu menjadi bukti bahwa Qiandra adalah gadis yang normal. Siapa yang tidak akan bereaksi sama jika mendengar ucapan Gibran?


“Apa kau mulai tergoda?” tanya pria itu, astaga senyumnya saja sudah begitu ampuh untuk melumpuhkan Qiandra.


“Jangan tersenyum seperti itu!” Nada Qiandra sedikit kesal, yah dia kesal karena sepertinya dia tidak bisa lagi menahan diri. Gibran sudah begitu piawai menggodanya!


“Kenapa?” senyum jahil itu membuat Gibran menjadi jawara saat ini.


“Bagaimana jika aku tergoda? Apa kau akan bertanggungjawab?!” Teet! dia diambang batas, sulit untuk menutupi bandang yang ingin menembus pertahanannya.


Pertanyaan Qiandra membuat senyuman Gibran semakin tidak tahu diri. "Dengan senang hati!” Tuturnya bersemangat, dengan memberikan sedikit sentuhan lembut di kepala gadis cantik itu.


Qiandra adalah bagian dari keelokan yang terbang layaknya dara laut, kepayang bukanlah keinginan Gibran. Paras ayu nan sikap palamarta mampu membuat gemuruh tidak berkesudahan di dada pria itu!


Cahaya temaram kembali menyinari lubuk yang tengah diasingkan, kita terpaku akan gelapnya perasaan. Kita terlena akan aroma basah dalam ingatan, akankah ini berakhir sama? Kalimat itu begitu menggelegar setiap saat, jangan terbuai dengan lilitan silu jika tidak ingin bersanding dengan penyesalan.


Note : *Lembayung adalah tumbuhan melilit.


           *Kejora adalah Bintang Timur.


           *Dara Laut Sejenis Burung Camar.

__ADS_1


          *Palamarta Sinonim dari Baik Hati.


           *Silu Sinonim dari Pilu.


__ADS_2