
Kakiku melangkah tanpa haluan, ada sesak menyentil dadaku. Cemburu? mungkin, yang pasti debaran ini berbeda. (yuliashafira14)
.
.
.
“Halo, Kal?” sapa Gibran saat panggilan mereka telah tersambung.
“Ya,” sambut Kalya.
“Apa kau tahu Qia di mana? dia tidak mengangkat panggilanku,” tanyanya tho the point.
“Sepertinya dia di Supermarket yang tidak jauh dari Restoran, katanya sebelum kembali ke Apartemen dia ingin membeli sesuatu di sana.” Jelas Kalya, karena memang Qiandra sempat mengirim pesan untuk bertanya apa ada hal lain yang dibutuhkannya.
“Mmm, apa dia pergi bersama seseorang?” ulik Gibran hati-hati. Dia tahu batasannya, hanya saja pria itu kesusahan menetralkan gejolak yang muncul.
“Setahuku dia pergi sendirian, ada apa?” Jelas Kalya, dia dapat menangkap keanehan dari nada bicara Gibran.
“Ah tidak apa-apa, terima kasih.” Ada kelegaan saat Gibran mengucapkan hal itu, antara mengucapkan syukur atas kebenaran yang diutarakan Kalya atau malah itu rasa lega karena Qiandra memang tidak pergi bersama orang lain.
Setelah panggilan berakhir, Gibran kembali menekuri ponsel mahalnya yang menampilkan beberapa gambar Qiandra bersama seorang pria.
Dia tidak dapat melihat wajah pria itu karena posisinya memang membelakangi kamera, yang nampak jelas adalah wajah Qiandra. Seakan yang mengambil foto tersebut ingin menegaskan, jika gadis itu memanglah sosok yang dicintainya.
Hal yang menambah kegusaran pria itu adalah senyuman Qiandra, dia tersenyum manis dan cukup akrab dengan lawan bicaranya. Bagaimana jika pria itu terpikat karena hal itu?
Setelah mengetahui keberadaan Qiandra, kini Gibran menghubungi orang kepercayaannya untuk mencari tahu pemilik nomor yang mengirim pesan tadi padanya. Apa orang itu, bertujuan untuk mengadu domba perasaan Gibran?
Kini dia tengah memacu kendaraan berwarna silver itu membelah jalanan, saat menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal tersebut berhasil membuat pria itu bergegas dari pekerjaannya. Dengan perasaan yang berkecamuk!
Saat sampai di sebuah Supermarket yang dimaksud Kalya, Gibran langsung memarkirkan mobilnya. Dengan langkah lebar dia bergegas menuju pintu masuk, entahlah dia ingin segera melihat gadis yang telah membuatnya seperti ini.
“Qia,” panggilnya saat melihat seorang gadis yang mendorong troli dengan pakaian yang sama dengan gambar di ponselnya.
“Gibran, kau di sini?” jawab Qiandra sumringah. Seakan, dia telah menemukan oasis di padang yang tandus.
"Iya, aku senang bisa bertemu denganmu di sini." Tuturnya kikuk, dasar aktor yang tampan!
"Aku juga," lirih Qiandra. "Kau mencari sesuatu?" tambahnya dengan senyum yang kian merekah.
“Ah iya, aku mencari ini.“ Dengan segera dia mengambil random barang yang dapat dijangkaunya dengan mudah. Mencari tumbal untuk alibi? Ck, dasar.
__ADS_1
“Kau yakin?” Qiandra menyipitkan matanya, saat melihat benda yang dipegang Gibran dengan kepercayaan diri itu. Wajah cantiknya kini mulai menahan tawa, karena melihat ekspresi Qiandra memicu Gibran untuk melihat benda apa yang tengah dia pegang, dan.
Astaga, pembalut! wajah pria itu memerah karena menahan perasaan malu yang tiba-tiba menyergap. Rasanya? dia ingin segera menyembunyikan diri di samudra Antartika saat ini!
“J-angan salah paham," timpanya begitu malu. Dia langsung menukar benda itu, dengan sesuatu yang lain.
"Aku ingin mengambil ini, tapi karena terlalu bahagia bertemu denganmu membuatku salah mengenali benda lain.” Kilahnya, dia salah tingkah. Astaga kenapa pria itu bisa bertingkah segila ini?
“Kau yakin? aku kira kau benar-benar datang bulan!” dia terlihat kesulitan membendung tawanya, bahkan cairan tampak menginang di sudut mata cantik Qiandra.
Melihat ekspresi ini membuat Gibran merasa hangat, untuk pertama kalinya dia melihat tawa cantik gadis itu. Ingin rasanya dia melakukan apapun agar tawa ini setia menemani gadisnya, bahkan jika perlu dia akan sukarela terlihat konyol untuk hal itu.
“Apa itu begitu lucu, hmm?” tangan Gibran terangkat. Jemarinya langsung menepis, cairan bahagia yang tampak tidak tahu malu turut andil di sana. Kadang pria itu berpikir, kenapa harus ada air mata di sela kebahagiaan?
Qiandra membeku saat mendapat perlakuan manis dari Gibran, dan yang lebih parah. Jantungnya, kini berdetak di atas rata-rata. Ayolah Gibran, ini tempat umum. Gadis itu mampu menangkap senyum, dari pelanggan lain saat melihat mereka.
“Gibran anu-“ lirih Qiandra dengan salah tingkah, seakan tahu maksud gadis itu Gibran reflek mengabsen sekeliling. Oh ternyata ada orang lain? mungkin pria itu mengira, jika hanya ada dia dan Qiandra yang berbelanja di Supermarket saat ini. Astaga!
“Mmm apa kau sendiri?” inilah yang ingin ditanyakan Gibran sedari tadi, pria itu mengedarkan pandangan. Mencari rupa yang sekiranya cocok dengan perawakan yang sempat hadir di ponselnya.
“Iya, Kalya pergi bersama Darel. Jadi, aku kemari sendirian.” Dengan langkah beriringan, mereka langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Lihatlah mereka! begitu serasi, apalagi jika berdampingan seperti ini.
“Benarkah?” selidik pria itu di tengah kesibukan mengambil alih barang bawaan Qiandra, sepertinya gadis cantik yang dibalut blazer coklat ini mulai menangkap maksud dari pertanyaan Gibran.
“Apa itu cukup menjawab pertanyaanmu?” tambah Qiandra, karena terlihat jelas jika pria yang mampu menarik hatinya itu begitu penasaran akan sesuatu.
Dan yang aneh, Qiandra merasa memang harus menjelaskan situasi yang dia alami. Bukankah, mereka terlihat seperti pasangan sesungguhnya?
Lihatlah wajah Gibran! pria itu terlihat kesulitan membendung cekungan senyuman saat ini. Karena pada dasarnya, memang inilah penjelasan yang dia tunggu sedari tadi.
“Mana kunci mobilmu?” pinta Gibran dengan menadahkan tangannya ke arah Qiandra.
“Untuk apa?” tuturnya bingung, tapi tetap merogoh tas untuk mencari benda itu.
“Aku akan mengantarkanmu pulang, kau pasti lelah jika harus menyetir. Jadi, biarkan aku menjadi supirmu.” Dengan gerakan kilat, dia menyambar kunci mobil yang telah ditemukan Qiandra.
“Tapi mobilmu?” timpanya kemudian, saat melihat mobil Gibran juga terparkir di sana.
“Setelah mengantarmu, aku akan kembali untuk mengambil mobilku. Ayo, masuklah.” Dia telah membukakan pintu di sisi lain, Qiandra duduk di samping kemudi. Barang bawaan gadis itu, juga telah diletakkan di kursi bagian belakang. Menolak? kini sulit Qiandra lakukan, jika Gibran yang meminta.
Rasa letih keduanya meluap setelah bersua, ini benar-benar aneh bukan? bagaimana mungkin hanya karena bertemu seseorang bisa membuat keduanya kembali bersemangat. Apa karena orang yang mereka temui, adalah sosok yang istimewa? mmm sepertinya begitu.
Saat ini jalanan terlihat ramai lancar, kilauan cahaya dan bunyi klason dari kendraaan yang berlalu lalang menambah kesan riuh di luar sana.
__ADS_1
“Aku akan mengantarkanmu sampai ke atas.” Lontar Gibran saat telah berada di rubanah Apartemen, dia telah melepaskan seat belt yang melindunginya selama perjalanan.
“Tidak perlu, sini biarkan aku yang membawa ini. Pulanglah kau pasti juga kelelahan!” dia mencoba meraih kantong belanjaan yang berada di tangan kiri pria tampan itu, bukannya memberikan apa yang diminta Qiandra. Gibran malah menyambut uluran gadis itu, dengan tangannya yang lain dan berkata.
“Aku tidak lelah jika itu bersama dirimu, aku ingin melihat kau lebih lama sebelum aku pulang.” Astaga, kejujurannya benar-benar membuat orang tersipu. Qiandra beku untuk beberapa detik!
"Apa kau tidak keberatan?" timpanya, gadis itu masih terdiam. Kesadaran Qiandra kembali setelah beberapa detik, dia mengangguk sebagai persetujuan. Penolakan yang telah dirangkainya sulit terlontar, tiba-tiba saja kalimatnya tercekat di tenggorokan saat melihat wajah prianya. Prianya? Uhh...
Mereka berjalan beriringan, dengan jemari yang saling terkait. Gibran tidak melepaskan genggamannya, saat Qiandra mencoba berusaha melakukan hal itu. Tampaknya dia malu, tapi hal itu justru berbanding terbalik dengan Gibran.
Terbukti, dengan jemarinya yang kian erat. Seakan hal itu dia lakukan sebagai bentuk kejelasan, jika gadis ini adalah sosok penting dalam hidupnya.
“Berhentilah dengan usahamu Qia, karena itu tidak akan berhasil.” Jelas Gibran dengan tersenyum, kini langkah itu membawa mereka menuju lift. Dan gadis itu masih berupaya, untuk melepaskan penyatuan mereka.
Apa pria ini tipe yang protektif? Mungkin, apalagi jika mengetahui gadisnya itu sampai terlihat menarik bagi orang lain.
Hening…
“Qia.” lirih Gibran dengan mimik yang sulit terbaca, saat ini hanya mereka yang berada dalam kotak persegi itu.
“Mmm?” gumamnya, dan secara otomatis membuat gadis itu menatap Gibran yang juga menatapnya dengan begitu dalam. Bisa pingsan Qiandra jika melihat netra itu!
“Aku mencintaimu, sangat. Kau tahu kan bahwa aku tidak akan memaksakan perasaanmu untuk membalas apa yang aku rasakan? aku hanya ingin menegaskan, bahwa aku akan menunggumu." tuturnya, tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.
"Aku akan menunggu sampai kau sadar bahwa aku masih di sini, dengan perasaan yang sama. Aku tidak akan berjanji untuk menahan gejolak yang muncul, aku akan terus mengatakan hal yang sama setiap hari." Timpanya kemudian, dia tidak ingin menyudahi tatapan cinta untuk Qiandra.
Qiandra hanya mampu menyimak dan mendengarkan. Hatinya berdesir mendengar penuturan Gibran tentang syair cintanya, ingin sekali Qiandra memeluk pria yang menatap teduh ke arahnya itu.
"Aku akan berhenti jika kau telah menyukai seseorang dan memintaku menyudahi perasaan ini, aku tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaanmu. Melihatmu tersenyum cukup untukku!” Sambungnya dengan tekanan yang semakin erat saat menggenggam Qiandra, berharap itu tidak akan pernah terjadi.
"Jangan mengatakan hal itu, aku tidak menyukainya." Sela Qiandra tiba-tiba, wajah cantik itu ditekuk. Ada apa dengannya?
Ting… suara lift mengagetkan keduanya. Menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai 15, di mana unit Qiandra berada.
“Aku menyayangimu.” Seakan tidak jemu, Gibran mengucapkan kalimat itu lagi. Langkah kaki Qiandra terhenti, antara mendengar ungkapan lirih pria yang masih setia dengan genggamannya itu atau karena mereka memang telah sampai di unitnya.
“Aku hanya ingin mengatakannya, kau jangan terbebani ok.” Yah, dia ingin mengutarakan perasaannya selama dia masih bisa melakukan hal itu.
“Gibran, apa aku bisa mempercayaimu? Apa kau mampu untuk menungguku? Bagaimana jika disaat tertentu, malah dirimu yang tertarik pada gadis lain?” tanyanya dengan sedikit was-was, tidak bisa dipungkiri jika dia telah goyah.
Setelah sekian lama, gadis itu ingin membangun kembali kepercayaannya pada pria. Khususnya untuk Gibran!
Setumpuk cemburu kian terbentuk, rasa itu telah dititipkan dan mulai berkeliaran dengan bebasnya di benak Gibran. Dia bergumam, pantaskah ini hadir saat cintanya belum disambut?
__ADS_1