Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Kerinduan


__ADS_3

Mereka terus menggumpat tentang kerinduan, melafalkan bait itu kala mengingat syahdunya. (yuliashafira14)


.


.


.


Akhirnya, acara makan malam yang dipenuhi kejutan pun telah usai. Dan untuk kepulangan Aarav, telah diiringi ucapan permintaan maaf dan terima kasih oleh Papa Agam dan Mama Dyra. Setelah itu, kedua orang tua paruh baya tersebut langsung menuju kamar mereka. Keduanya, seperti sengaja ingin memberi ruang untuk kedua putri cantik mereka saat ini.


Qiandra dan Gibran, sepasang manusia berbeda jenis itu kini tengah bersantai di taman yang dipenuhi bunga. Di sana juga terdapat pula beberapa pohon kecil untuk menambah kesan rindang nan asri, mereka dimanjakan oleh keindahan bunga di bawah sinar rembulan, huu sepertinya romantis bukan? Tapi sayang. 30 menit telah berlalu, dan berakhir percuma tanpa suara Gibran maupun Qiandra.


Mereka ini, kenapa begitu buruk menghargai suasana. Lihatlah, karena kebisuan yang sedang tercipta membuat keduanya menjadi tontonan menarik bagi serangga yang berjejer rapi di ranting pohon. Seakan mereka berbisik tentang kebodohan yang dilakukan oleh manusia di depan mereka itu!


Tapi tunggu! Apa kalian tidak penasaran kemana perginya Kalya dan Darel? Biar aku bocorkan, pasangan konyol tersebut sedang memantau Qiandra dan Gibran dari atas Balkon. Mereka membuat jarak agar kedua orang yang tampak jaim di bawah sana kesulitan mencium aroma pengintaian, wah pasangan yang kompak bukan? Dasar.


“Qia,”


“Gibran.” Panggilan itu terucap disaat bersamaan, mata keduanya beradu dan berharap salah satu dari mereka mengatakan sesuatu. Tapi, lagi-lagi keheningan mendominasi. Astaga! Mereka memang serasi bukan? Terdiam dan bersuara secara kompak.


“Kau duluan!” ujar Gibran, dia tengah berharap agar gadis cantik itu akan mengurai beberapa hal yang memang butuh penjelasan. 


“Aku tahu kau yang mengajak Darel kemari, kenapa kau tidak menungguku dan malah menyusul kemari?” lontarnya. Mata Qiandra dipenuhi sinar kini, tidak bisa dipungkiri jika gadis itu memang bahagia melihat Gibran. Hanya saja, dia ingin mengetahui isi kepala pria itu sampai nekat datang disaat perusahaan miliknya membutuhkan dia dan Darel.

__ADS_1


“Aku ingin menjemput cintaku, apa kau tidak senang melihat aku datang?” jawab Gibran, ini bukan rayuan. Tapi sungguh, kalimat tadi memang telah bersanding dengan perasaannya selama ini.


Qiandra mengintai ekspresi pria itu saat mengatakan hal yang, khmm cukup membuatnya malu setengah mati. Raut keseriusan dan wajah tampan Gibran malah membuat gadis itu semakin salah tingkah, ahh dia harus menyebar pandangannya agar tidak ketahuan.


“Aku serius Gibran, jadi jangan bercanda.”  Lontarnya dengan mata yang sengaja dibuat menjelajah untuk mencari keberadaan jangkrik yang tiba-tiba berteriak merdu entah di mana, jika menatap Gibran bisa-bisa dia tenggelam disaat baru memulai percakapan.


“Siapa yang bercanda? Aku memang datang menjemputmu sekalian meminta maaf untuk kejadian di Apartemen malam itu.” Sanggahan Gibran itu seperti magnet yang mampu menarik minat Qiandra.


“Kenapa kau tidak mengatakan sejak awal, jika pria yang dijodohkan denganmu adalah Aarav?” sambungnya penasaran.


“Aku juga baru mengetahui pria itu adalah dia dimalam kau datang ke Apartemen, aku makan malam dengannya untuk membicarakan masalah perjodohan kami. Aku berencana memberitahumu setelah semua selesai, apa kau kecewa?” wajah cantik Qiandra mulai diambil alih oleh rasa bersalah, seharusnya dia lebih terbuka pada pria yang berperan sebagai pelita dalam gelapnya itu.


Gibran menatap dalam Qiandra, dia harus membunuh perasaan bersalah yang lancang mengganggu gadisnya tanpa izin. Dia kemudian tersenyum dengan tangan kanan yang mengelus lembut kepala Qiandra.


“Kenapa kau menolak Aarav? Dia tampan, mapan, dan sepertinya dia juga menyukaimu.” Qiandra menatap pria itu, benarkah dia tidak tahu kenapa Qiandra menolaknya? Dasar tidak peka!


Gadis itu menarik nafas, apa dia harus mengatakan. /”Bagaimana mungkin aku menerimanya jika kau telah memenuhi hatiku dan tidak memberikan celah bagi siapapun?/” haruskah Qiandra menjawab seperti itu? Ah tidak-tidak! ini memalukan bukan?


“Aku tidak menyukainya,” hanya itu kalimat yang lolos dari bibir mungil gadis itu.


“Lalu siapa yang kau sukai?” Gibran! Apa dia tidak bisa merasakannya? Kenapa malah bertanya? Menyebalkan! 


Gibran Angga Wijaya telah membuat perasaan Qiandra tersesat, bahkan pesonanya pun turut menjerat gadis itu. Dia bahkan bersikap manis dan terus mengusik ketentram Qiandra. Jadi, apa masuk akal jika bertanya siapa yang disukainya?! Ck.

__ADS_1


“Tidak ada!” juteknya, dan begitu dihayati Gibran. Iya, dia hanya bermaksud menggoda Qiandra. Dan? Berhasil! Dia menangkap umpan pria menyebalkan itu.


“Aku akan masuk, kau masih ingin di sini?” sela Qiandra. Dia berdiri dari duduknya, rasa kesal langsung merayap saat berbicara dengan Gibran. Dia ingin menyudahi obrolan mereka!


“Aku merindukanmu!” balas Gibran, hanya dua kata. Tapi berhasil menarik paksa perhatiannya saat akan melangkah, mata indah Qiandra berpulang dan beradu kembali dengan netra penuh kesungguhan milik pria yang berdiri tidak jauh darinya itu.


“Aku merindukanmu Qiandra, jangan pergi tanpa izinku lagi.” Ulangnya, dia mendekat untuk menepis jarak yang menyiksa dirinya saat akan menggapai gadis cantik ini.


Gibran semakin mendekat dan lagi! Dia mengelus kembali kepala yang dilindungi rambut yang menjuntai indah itu, dia kemudian beralih menyentuh wajah halus Qiandra yang telah dijemput rona senja tersebut dengan punggung tangannya. Gadis itu terdiam, astaga. 


Perasaan Qiandra telah direnggut oleh rasa menggelitik dalam dada, ini sudah malam dan dia berada di luar. Tapi kenapa dia seperti berdiri di tengah gurun? Sungguh dia kepanasan! Semoga Papa dan Mamanya sudah terlelap, harap Qiandra.


******


Pagi menyambut Qiandra, senyum cerahnya kini begitu sombong menyayingi mentari yang menjelang. Dia sudah bertemu Gibran semalam, tapi kenapa pertemuan itu tidak mampu menghalau rindunya sepagi ini, ahh.


“Kau sudah bangun?” sebuah pesan masuk, dan kembali membuat senyum Qiandra terbit. Mungkin sebentar lagi rumah ini akan ditutupi oleh warna kebahagiaan gadis itu! 


“Iya,” jawabnya.


“Kalau begitu lekas bersiap, aku menunggumu di bawah.” Qiandra tersentak, menunggu di bawah? Apa Gibran di sini? Qiandra ingin bertanya kembali tapi urung, dia harus segera bersiap karena pria itu sedang menunggunya.


Bagaimana mungkin dia membiarkan rindu yang bertamu menunggu lama, yah. Kedatangan Gibran pagi ini cukup menyangjung Qiandra, rindu ini begitu liar ketika mencari pemiliknya. Perasaan gadis itu merenggut wajah Gibran untuk bertahta, bagaimana mungkin dia mampu mendiamkan gedoran lembut pada hatinya. Rindu memang seperti ini, selalu memberi celah untuk jumpa.

__ADS_1


__ADS_2