Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Awal yang Berakhir


__ADS_3

Jumpa adalah awal segalanya, mengelak dan menghindar akan membuat takdir semakin turut andil menjalankan apa yang seharusnya terjadi. (yuliashafira14)


Pagi kembali menyambut setelah berbagi peran dengan gelapnya malam, kicauan burung menjadi alarm indah di indera pendengaran Qiandra kala itu. Seperti biasa dia kembali bersiap dengan rutinitas seperti Senin yang biasanya.


“Tumben kau sudah bangun sepagi ini ??” ucap Qiandra saat melihat Kalya berperang dengan peralatan dapur padahal saat itu bukan jadwalnya membuat sarapan.


“Aku memang selalu bangun pagi kau saja yang baru menyadarinya” elaknya menyengir, tidak membutuhkan waktu lama sarapan telah siap di atas meja dan setelahnya mereka bersiap berangkat ke Restoran lebih awal mengingat akan sulit menghindari kemacetan. Tidak membutuhkan waktu yang lama 30 menit cukup membuat mereka sampai di tempat tujuan, keduanya kembali bersikap profesional dengan membahas mengenai omset dan peluncuran menu terbaru di Restoran mereka dan itu berlangsung sampai jam makan siang.


“Qia lunch yuk perutku sangat lapar tapi kita makannya jangan di ruangan ini” ajakannya disetujui dan sekarang disinilah mereka berada, di salah satu meja pelanggan di Restoran sendiri. Tapi saat fokus melihat pelanggan tiba-tiba Kalya berdiri menyapa seseorang dan mengajak duduk untuk bergabung bersama mereka.


“Qia mejanya full aku meminta Gibran bergabung bolehkan ??” jelasnya meminta izin saat menangkap wajah bingung Qiandra, saat melihat gadis itu hanya diam Gibran bermaksud ingin berlalu tapi diurungkan saat mendengar permintaan Qiandra. “Duduklah tuan maaf tadi aku tidak fokus, anggap ini bentuk rasa terima kasih karena pertolonganmu kapan hari” mendengar hal itu membuat senyum simpul di wajah Kalya dan Gibran.


“Kalian ingin pesan apa ?? tanya Kalya menawarkan.


“Pasta” jawaban Gibran dan Qiandra bersamaan dan mampu menarik perhatian Kalya sementara keduanya hanya bisa saling menatap, saat bertanya kembali pada Gibran untuk minuman yang diinginkan jawaban segelas jus Alpukat dan air putih berhasil membuat senyum Kalya semakin mengembang karena pesanan yang disebutkan Gibran juga favorit Qiandra, tanpa menunggu lagi Kalya meminta pelayan membawakan pesanan mereka.


“Wah kalian ternyata punya selera yang sama soal makanan, apa kau tau Qiandra juga menyukai dan punya kebiasaan yang sama denganmu. Saat memesan jus dia juga akan memesan air putih segelas” ujarnya yang membuat Gibran melihat Qiandra yang hanya diam, “Qia orangnya sangat mudah menyukai sesuatu dan tentu saja itu karena dia bukan pemilih” ujarnya menceritakan penuh semangat “Tapi sayang hanya 1 hal yang sulit untuk dia sukai selama ini” ucapnya menggantung dan melirik Qiandra yang mulai tidak menyukai arah pembicaraan Kalya.


“Apa itu penting ?? Berhentilah, sejak kapan kalian dekat satu sama lain dan apa maksudmu membicarakan soal itu padanya ??” karena melihat Kalya yang berbicara terlalu banyak membuat Qiandra membisikan hal itu padanya.


“Sejak hari ini dia adalah sahabatku” ucap Kalya spontan dengan cara yang sama, Gibran yang sedari tadi diam dan mengamati terlihat penasaran dengan kalimat Kalya yang dirasa punya kelanjutan tapi setelah melihat respon Qiandra dia hanya bisa tersenyum manis atas sikap mereka.

__ADS_1


“Sebelumnya maaf karena mungkin telah mengganggu kalian saat makan siang, aku benar-benar sangat lapar saat ini dan tidak mungkin aku mencari Restoran lain” ujar Gibran mengalihkan setelah sedari tadi hanya diam, dia memang sengaja mengikuti Kalya karena melihat sosok Qiandra di meja yang sama hal itu malah menambah keinginannya untuk ikut bergabung.


“Kau tidak perlu sungkan tuan” jawab Qiandra merasa tidak enak.


“Bisakah kau menghilangkan kata tuan ?? Itu sangat kaku” ujar Gibran tersenyum “Baiklah” jawab Qiandra tidak berselang lama ketiganya menyantap makanan yang telah disajikan, mereka menikmati makanan diselingi perbincangan ringan yang tentu saja hanya didominasi oleh Kalya dan Gibran.


“Aku ke Toilet sebentar, Qia temanilah dia aku akan segera kembali” pamit Kalya dan bergegas pergi sengaja meninggalkan keduanya.


“Jangan lama” jawab Qiandra tanpa suara. 


Sesaat keduanya melanjutkan makan berlatar suara dari pengunjung lain yang saling berbagi cerita, dalam kebekuan Gibran terlihat menampilkan senyuman walau hanya sekedar melihat sosok di depannya yang sibuk mengunyah.


“Ada yang aneh dengan wajahku ??” Qiandra bertanya karena tidak sengaja melihat Gibran mencuri pandang ke arahnya sambil melempar senyum hangat. Gibran yang tertangkap basah bukannya malu malah semakin intens memandangi Qiandra, gadis itu benar-benar membuat dia sulit menutupi gejolak dalam rongga dadanya.


“Melihatmu, bukannya tadi kau bertanya kalau ada yang aneh dengan wajahmu ?? Jadi aku membantu mencarinya” jawab Gibran dengan entengnya.


“Astaga aku bertanya karena melihatmu sedari tadi melihatku” jawabnya merasa aneh dengan pria berjas hitam itu.


“Haha maaf, aku hanya merasa senang bisa bertemu dan berteman denganmu. Ini seperti pertemuaan yang telah ditakdirkan menurutku” sejenak dia menghentikan makannya dan fokus mendengar tanggapan Qiandra.


“Takdir ?? bukankah terlalu dini untuk kau simpulkan seperti itu, dan ah mungkin kau keliru untuk satu hal” Ucap Qiandra meraih gelas dan meminum isinya “Kita tidak punya hubungan pertemanan, terima kasih untuk pertolonganmu sore itu tapi aku tidak berminat menjadi temanmu” sejenak Gibran terdiam kemudian menjawab.

__ADS_1


“Benarkah ?? Itu bagus” jawabnya usil, Qianda dibuat bingung dengan jawaban berbeda Gibran. Seolah mengerti dengan tatapan penuh tanya Qiandra dia kembali berucap “Jika tidak mau menjadi temanku sepertinya kau tidak keberatan kalau punya hubungan lebih denganku” lanjutnya.


“Sepertinya kalian membahas hal yang menarik, haruskah aku kembali ke Toilet ??” sela Kalya yang menghampiri keduanya dengan senyuman mengejek yang pasti ditujukan untuk Qiandra.


“Saat kau punya niat seperti itu, seharusnya tidak perlu bertanya lagi Kalya” gurau Gibran.


“Hahaha baiklah, kedepannya akan ku perbaiki niatku” tawa keduanya memenuhi pendengaran Qiandra yang dengan malas hanya memutar bola mata, dia memutuskan hanya menjadi pendengar yang baik.


“Apa kau menyukai makanannya ??” tanya Kalya, karena jika Gibran menyukai apa yang disajikan akan mudah untuk Kalya membuatnya menjadi pelanggan tetap dan tentu saja ada rencana dibalik itu semua.


“Sangat, aku begitu menyukainya saat pertama kali melihat dan merasakan sensasi aneh menjalar dalam diriku” jawab Gibran penuh arti melihat gadis di samping Kalya, Qiandra yang merasa aneh dengan jawaban itu mengangkat kepalanya untuk melihat Gibran. Kalya yang mengerti maksud pria tampan di depannya ingin meledakan tawa karena melihat ekspresi aneh Qiandra.


“Makanan ini sangat enak dan aku menyukainya, aku rasa akan menjadi pelanggan tetap di tempat ini” lanjutnya mengalihkan pandangan kepada Kalya.


“Baguslah, kau pasti sangat senang mendengar makanan kita begitu disukai" jawab Kalya yang tersenyum menatap Qiandra dan diangguki oleh sahabatnya itu.


“Restoran kalian ??” tanya Gibran.


“Apa aku dan Qia belum mengatakannya, Restoran ini sumber pendapatan kami” lawak Kalya yang mendapati tendangan lembut di bawah meja dari Qiandra.


“Benarkah ?? Mendengarnya saja membuatku ingin kembali memesan makanan” balas Gibran tidak kalah receh.

__ADS_1


“Apa-apaan mereka, bagian mananya yang lucu ??” gumam Qiandra menggelengkan kepala.


__ADS_2