
Kehadiranmu menggiringku menapaki batas, tiupan asa membuat getaran halus. Tunggulah, aku kan menghampirimu. (yuliashafira14)
.
.
.
Siang hari di kota metropolitan, begitu ramai dan padat akan kendaraan yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Umpatan bagi pengendara jahil pun turut serta memberikan siang yang tidak bersahabat, perasaan seseorang seakan di ayung saat menunggu gerak dari kuda besi di depan sana. Perasaan siapa? Tentu Gibranlah siapa lagi?!
Waktunya molor dan dihabiskan dengan resah yang bertepi, hari ini sepertinya kabung kesekian untuk pria itu setelah mengenal Qiandra. Bagaimana tidak, dia baru saja menyelesaikan pertemuan bersama klien dan berencana menghabiskan istirahat siang seperti biasanya. Bersama sahabat, dan separuh hidupnya. Separuh? Hmm sepertinya Gibran berlebihan!
“Kenapa dia tidak memberitahuku?” gumam Gibran, kalimat tanya itu diharapkan bisa sampai pada Qiandra.
Saat mengetahui jika teman-temannya dan Qiandra tidak berada di Restoran segera membangkitkan rasa penasaran pria itu, ayolah! Qiandra kembali ke Sulawesi tanpa memberitahunya. Hal inilah yang membuatnya segera bergegas, dia ingin bertanya pada Darel karena ponsel gadis itu sulit dijangkau saat ini.
Namun sayang, dia masih di sini. Terjebak dengan sapaan buruk jalanan, tiba-tiba saja Gibran merindukan pohon rindang dan kicauan burung di tempat asri. Saat sedang melamun pria itu melihat ada celah untuknya, dengan gerakan cepat dia menyalip dan. Wah, Dia terlihat seperti pembalap yang handal begitu melakukannya.
“Kau di mana?” setelah menemukan slot yang pas untuk memarkirkan mobil mahalnya, pria itu tampak terburu-buru menyergah seseorang dengan pertanyaan di seberang sana.
“Di ruanganku.” Jawaban itu cukup membuat Gibran mematikan ponselnya, dia harus segera menemui Darel.
Saat menginjak lobby, sapaan yang memupuk rasa hormat kian membanjirinya ketika bertemu dengan beberapa karyawan. Tidak ada balasan yang terlontar, hanya senyum tampan yang bisa diukirnya kini. Semoga itu mampu mewakili dan mengganti suara merdu Gibran!
Denting lift terdengar!
“Kenapa mereka tiba-tiba kembali?” tanpa sapaan, pertanyaan itu membuat Darel sempat terkejut. Pria berjas biru tua tersebut sedang disibukkan dengan berkas penting di atas meja, tapi karena kedatangan Gibran membuatnya langsung meninggalkan pekerjaan begitu saja.
__ADS_1
“Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu? Kau mengagetkanku!” gerutunya, tapi dengan tubuh yang langsung menuju sofa berwarna coklat di seberang sana.
“Maaf aku terburu-buru! Jadi apa yang dikatakan Kalya!?” timpa Gibran, dan langsung mendaratkan diri di sofa yang sama dengan Darel.
“Aku kurang tahu apa maksud Kalya, tapi tunanganku itu hanya mengatakan jika mereka kembali untuk mengurus pertunangan Qia.” Tuturnya, Gibran yang mendengar diam membeku. Dia merasa seperti dijemput luka secara mendadak, jelas bahwa pesonanya tampak kaku seketika.
“A-pa maksudmu?” jelas pria itu dengan kalut, debarannya kian meningkat secara otomatis.
“Aku juga bingung ketika Kalya mengatakan hal itu, saat ingin bertanya lebih lanjut dia langsung mematikan ponselnya karena mereka akan segera berangkat. Aku bahkan ingin marah karena diberitahu saat mereka sudah berada di Bandara! Bukankah itu menjengkelkan?” Astaga Darel, dia bahkan sempat-sempatnya mengadakan sesi curhat disaat Gibran begitu penasaran.
“Apa kau berpikir Qiandra akan bertunangan tanpa mengundang kita?” Apa ini?! Ayolah, jangan membuat Gibran semakin gusar karena celoteh itu Darel.
“Apa dia- uwow! Ada apa?” kalimat pria itu tiba-tiba berbaik hati untuk tidak berlanjut, ups salah! Lebih tepatnya tidak jadi meluncur karena Gibran langsung berdiri dan membuat Darel kembali terkejut sehingga menelan kalimat yang berisi dugaannya itu.
“Kau harus menemaniku sekarang juga!” Darel yang mendengarkan hal itu tampak bingung, bukankah mereka sedang membahas masalah Qiandra? Lagipula pekerjaan sedang menumpuk saat ini. Jadi apa yang diinginkan Gibran saat perusahaan begitu sibuk?!
“Menjemput Qiandra!” Darel terperangah mendengar penuturan itu, haruskah? Apa Gibran berencana ingin menculik Qiandra?! Huuu, horor. Semoga tidak demikian!
/“Astaga Fahar kembalilah, pekerjaanku menumpuk di sini.”/ Gumam Darel dalam hati.
******
Hujan cinta di rumah mewah orang tua Kalya semakin menambah kehangatan mereka di ruang santai saat ini, setelah membersihkan diri dan menyantap makan siang keluarga kecil itu kini duduk di ruang keluarga.
Rindangnya kerinduan mengecup tawa Kalya dan Papa Agam di sofa mahal yang terdapat di sudut kiri, Qiandra yang melihat itu dipenuhi oleh derai sukacita.
“Nak, makanlah ini.” Tawar Mama Dyra dengan mendorong piring berisi buah ke arahnya, piring bercorak bunga sakura tampak indah menyajikan buah di atasnya.
__ADS_1
“Makasih Ma,” ucapnya kikuk. Masalah terbesar Qiandra saat berada di sini adalah memanggil Dyra dan Agam dengan sebutan Mama dan Papa, tapi dia harus terbiasa dengan hal itu.
“Iya sayang!” kelembutan dan perhatian ini, Qiandra mendambakannya sejak dulu.
“Ouh iya Papa hampir saja lupa, Aarav kemarin menelpon dan mengatakan ingin bertemu. Jadi Papa memintanya untuk datang dan makan malam sekalian malam ini, Papa penasaran apa yang ingin dia katakan!?” lontar Agam dan segera memperbaiki letak kaca matanya.
“Sepertinya ada kabar baik Pa, bahkan mereka datang di waktu yang sama.” Senyum Mama Dyra membuat Qiandra menelan ludah dengan susah payah, sebahagia inikah wanita paru baya itu jika Qiandra bersama Aarav? Tiba-tiba saja nyalinya menciut, dan Kalya melihat merasakan hal itu.
“Kal harap Papa sama Mama menghargai keputusan Qia dan Aarav apapun itu, karena ini adalah masalah komitmen yang tidak hanya terjalin sehari atau beberapa bulan ke depan. Ini akan berlangsung seumur hidup, kata Ustadz yang pernah Kal dengar bahwa pernikahan merupakan ibadah terpanjang. Jadi, biarkan mereka yang memutuskan kebaikan seperti apa yang cocok untuk keduanya.” Tutur Kalya penuh keyakinan, entahlah apa yang membuat gadis itu bisa sebijak ini.
“Wah anak Papa sepertinya sudah semakin dewasa,” Qiandra dan orang tua mereka cukup tertegun karena kebijakan Kalya yang datang secara mendadak itu.
“Mungkin karena anak manja ini sudah bertunangan jadi ucapannya terdengar lebih dewasa, tapi Mama setuju dengan ucapanmu itu sayang.” Sambutan lembut itu membuat Qiandra menoleh, dia tengah mencari kebenaran di manik hitam milik Mama Dyra.
“Kau yang menjalin hubungan ini sayang!” elusan dari tangan putih tersebut langsung menerbitkan mentari di bibir indah milik Qiandra. Ah semoga keputusan ini menjadi pilihan terbaik untuk semua pihak!
"Mama ke dapur dulu ya," pamit Mama Dyra dan diikuti oleh suaminya.
“Astaga!” pekik Kalya tiba-tiba dan memancing keterkejutan Qiandra, bersyukur orang tua mereka tidak mendengar suaranya. Mama Dyra tengah mempersiapkan bahan untuk makan malam, sementara Papa Agam kembali ke ruang kerjanya.
“Ada apa?” tanyanya keheranan.
“Aku belum mengabari Darel, ayo temani aku ke atas.” Qiandra hanya memutar bola matanya, baru saja Kalya menerima pujian akan sikap yang dewasa. Tapi saat ini, lihatlah! Tingkah aslinya kembali naik ke permukaan. Dasar!
Kala perasaan Qiandra mulai sepadan untuk pria itu, semoga cinta milik Gibran tidak hanya bertandang dan hinggap tanpa niat untuk menetap. Qiandra, Gadis itu kuyup dan semakin luluh kala mengingat alasannya melakukan hal sejauh ini. Semoga, tidak ada lagi prahara menyesakkan yang menghujaninya dahulu.
__ADS_1