
Pemilik dunia telah menyinari nyawa tidak berarti, sempatku sendu. Hingga akhirnya, aku menjumpai berkat. (yuliashafira14)
.
.
.
“Akhh!” teriakan yang disertai gerakan kasar membuat ruang tamu di rumah bertingkat kini berubah begitu berantakan, “Dia menghinaku, Gibran menghinaku karena Qiandra! Akh.” Racau Indira. Ya gadis yang menyebabkan puing dari beberapa benda di hunian mewah kini adalah dirinya.
Flashback
/“Kau tahu? Dia ular bermuka dua, Aksa berpaling darinya karena dia berselingkuh dengan pria yang lebih kaya dari tunangannya itu. Sungguh! Aku hanya membantumu, bagaimana jika orang tuamu sampai tahu jika kau menyukai gadis sepertinya? Bukankah itu memalukan!?”/ timpanya berapi-api.
Indira mengira dengan mengatakan kebohongan mampu melunturkan kebenaran. Tapi, semua itu hanya sebatas harapan. Tanggapan Gibran tentang hal itu membuatnya sekali lagi tergelincir pada jurang kebencian, dirinya tenggelam pada lembah yang lebih dalam. Dan sepertinya dia menikmati hal itu!
/“Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri? hama, parasit, lintah, ular bermuka dua dan-“/ Gibran menopang dagu. Dia bertingkah seolah mengeja kembali ucapan buruk Indira beberapa saat yang lalu.
/“Dan, yah kau mengatakan jika Qia ingin mengincar hartaku. Haha, aku bahkan tidak tahu kau seniat itu menghancurkan gadis sebaik dirinya. Qiandra bahkan bergelimang saat ini, dia bahkan tidak pernah mau menerima atau meminta apapun dariku. Indira, apa keburukan tadi adalah gambaran dirimu?”/ Gibran menatap Indira meremehkan.
/“Kau pikir aku tidak mengetahui kecuranganmu selama ini? Kau menghancurkan hubungan sahabatmu sendiri karena ketamakanmu, tapi tunggu. Sepertinya sebutan sahabat terlalu berharga dan tidak pantas untuk orang seperti dirimu bukan?”/ Imbuhnya.
/“Indira Calista, anak dari seorang pengusaha handal yang berhasil menipu habis-habisan rekan bisnis mereka dan melarikan diri bersama istrinya ke luar negeri dan meninggalkan putri malang ini. Kau bersama Aksa untuk mendulang fasilitas, bahkan kau mengencani beberapa pria dengan hal yang serupa. Apa Aksa tahu tentang kebenaran itu?”/ Yah. Gibran merasa puas melihat ruat pasi Indira yang sempat angkuh beberapa waktu lalu.
/“Kau menyelidiki latar belakangku? Kau bisa dituntut karena hal ini!”/ apa yang dikatakan Gibran adalah kebenaran, terdengar jelas bagaimana perkataan tadi memicu bentakan keras yang lolos begitu saja dari mulut beracun Indira.
__ADS_1
/“Aku tahu seberapa buruk dirimu, merusak hubungan orang lain dengan menyebar kebohongan! Aku juga tahu kau yang menyusun skenario terburuk untuk Qiandra dan Aksa dulu.”/ Tambah pria itu, tangan gagahnya kini mengambil ruang di saku kiri dan kanan. Yah malam sudah begitu larut, hanya ini yang bisa dilakukan Gibran agar mampu memberikan kehangatan pada telapak tangannya.
/"Mulai saat ini, perhatikan tindakanmu selanjutnya."/
Mengingat perkataan Gibran membuat darah Indira kembali mendidih, bagaimana mungkin rahasia yang telah disimpan rapat-rapat bisa di ulik oleh pria incarannya. Memalukan! Dan yang lebih parah, pria itu mengancam dirinya hanya karena seorang gadis seperti Qiandra? Tidak! Ini salah. Dia harus melakukan sesuatu!
“Aku sudah memintamu untuk berhati-hati, dan membayar mahal untuk hal ini. Tapi kau sama saja dengan orang lain. Dasar, tidak becus!” Bentak gadis itu seakan tidak puas, ingin sekali dia menyemburkan hawa panas yang memenuhi rongga dadanya.
“Aku sudah berhati-hati nona, tapi kali ini lawan anda memang bukan orang biasa.” Bela pria yang tampak sangar dengan pakaian serba hitam, dan sedikit jambang di area dagunya.
“Aku tahu dia bukan orang biasa, makanya aku memintamu untuk berhati-hati.” Hardik Indira, dengan beberapa benda melayang ke arah suruhannya itu.
“Maaf nona!”
“Maaf? Mmm baiklah! Aku akan memaafkanmu jika kau berhasil melakukan sesuatu untukku!” Astaga, apa dia tidak puas? Yah benar. Dia Indira, dia tidak akan pernah puas jika hal yang diinginkannya belum terpenuhi.
Sultan Hasanuddin Airport
Setelah membelah angkasa beberapa jam yang lalu, akhirnya Qiandra dan Kalya bisa mendaratkan diri di Bandara. Pakaian kasual yang membalut mereka tampak begitu pas, bahkan terdapat pasang mata yang tersihir akan kecantikan keduanya kini.
Mereka tengah menggaret koper dan menuju pintu keluar untuk menunggu taksi online, sudah lama Qiandra tidak menghirup udara dan memandangi langit Makassar. Kalian tahu? Ada sejumput rasa senang yang terbendung saat gadis itu kembali menginjakkan kakinya di sini.
Rasa haru menelusup dan sekelebat bayang pun kini berputar secara acak, rasa kesepian dan rekam kenangan kian menyumpahi Qiandra agar kembali mengingat luka yang mengukir begitu dalam sudut hatinya.
“Kau baik-baik saja?” sentuhan lembut Kalya kali ini benar-benar berarti bagi gadis itu, sentuhannya berhasil mengusir beban berat Qiandra.
__ADS_1
“Saat kau mengusulkan untuk kembali, aku pikir tidak akan mengingat kehidupanku yang dulu. Apa menurutmu aku bisa melewatinya kali ini?” tatapan sayu penuh luka itu, ahh Kalya membencinya.
“Tentu, kau sudah bertahan dengan baik sejauh ini. Bukankah itu cukup untuk membuktikan seberapa tegar dirimu?” Kalya mengulas senyum, berharap agar hal itu mampu meredam kegundahan Qiandra.
“Ayo, aku sudah tidak sabar untuk memberikan kejutan untuk Papa dan Mama.” Anggukan sahabat yang telah dianggapnya saudari itu membawa mereka kembali menempuh rintangan.
Perjalanan dari Bandara menuju rumah orang tua Kalya memakan waktu sejam lebih, nanar Qiandra melihat begitu banyak perubahan yang terjadi pada kota ini. Ungkapan ringkih itu tidak terelakkan, ilusi jemari memaksanya menyentuh bayang bangunan tinggi nan menjulang. Gadis itu membuat abstrak, mengikuti pola di luar kaca mobil yang mereka tumpangi.
“Akhirnya, ayo turun.” Qiandra dan Kalya saling melemparkan senyum, mereka tidak sabar untuk memberikan kejutan pada orang tua mereka.
Masih sama, istana ini masih sama. Bangunan berwarna putih dengan pilar terukir, di sana terdapat halaman yang begitu luas. Taman di sudut kiri dihiasi bunga yang membuat rumah ini semakin indah dan asri, apalagi saat ini Mama Dyra sepertinya disibukkan dengan beberapa tangkai melati putih di tangan kirinya. Kalya tahu, bahwa hari ini kedua orang yang mereka cintai berada di rumah.
“Mama,” teriakan kebahagiaan itu membuat yang dipanggil menoleh.
“Qia, Kalya. Astaga kalian di sini?” dengan segera kedua gadis itu berebut untuk mendapatkan pelukan pertama dari Mama Dyra, bukankah ini menyenangkan? Berebut pelukan hangat! Dasar kekanakan.
“Kalian ini sudah berumur tapi masih saja ingin berebut, Qia lebih tua darimu Kal. Biarkan Mama memeluknya terlebih dulu!” lihatlah, senyum kemenangan tergambar jelas di wajah cantik Qiandra. Tanpa menunggu lama dia langsung masuk ke dalam pelukan wanita paruh baya itu.
“Ya ampun Ma, aku dan Qia hanya terpaut beberapa bulan saja.”
“Ada apa ini?” suara berat seorang pria paruh baya membuat mereka menoleh.
“Papa!” tanpa aba-aba, kali ini Kalya yang mendominasi Papa Agam. Dia menjulurkan lidah ke arah Qiandra, memberikan tanda bahwa dia kalah cepat kali ini.
“Anak nakal, kenapa kalian datang tanpa pemberitahuan?” cubitan lembut mendarat ke pipi kanan Kalya, sontak hal tersebut membuat Qiandra dan Mama Dyra terpingkal-pingkal saat melihat mulut manyun Kalya.
__ADS_1
Qiandra tidak pernah menduga, jika pertemuan bersama Kalya rentan akan kehangatan. Awalnya, gadis itu mengira jika menumpang cinta dari keluarga mereka tidak akan sebahagia ini. Ternyata dirinya keliru!