
Kabut sepi itu telah berganti, hujan derita perlahan reda. Pelangi cinta bahkan telah menyapa tanpa alasan, seperti langit senja keemasan dirimu mampu mengalihkan. (yuliashafira14)
Ucapan Gibran benar-benar mempengaruhi Qiandra, terbukti saat ini gadis itu sangat sulit untuk memejamkan mata indahnya. Sesekali dia melirik ponsel yang berada di atas nakas, apa Qiandra menunggu seseorang saat ini?
Saat bingung harus melakukan apa, gadis itu memutuskan untuk bangun dari tidur dan membuka jendela kamarnya. Sejuk, angin malam begitu cocok untuk Qiandra. Cukup lama dia menatap langit malam yang masih sama indahnya dan tiba-tiba.
“Gibran,” gumamnya tanpa sadar “Siapa yang aku sebut tadi? Astaga astaga, sepertinya aku butuh tidur.” Lanjut Qiandra dan memukul mulutnya sendiri seakan telah melakukan kesalahan, dengan segera gadis itu menutup jendela kamarnya dan langsung naik ke atas ranjang dengan menarik selimut berwarna putih hingga menutupi sampai kepala. Berharap itu bisa membuatnya tertidur!
Ketulusan Gibran tanpa sadar selalu mengusik kebekuan hati gadis itu dan hal itu telah berlangsung tanpa jeda, mengelak! bisakah Qiandra berlaku sama setiap hari? Bukankah untuk pergi ke tempat yang tepat harus melalui jalur yang tepat pula!?
Ponsel Qiandra berdering, pertanda seseorang menelpon. Dia merasa baru saja terlelap tapi dering ponsel memaksa gadis itu untuk menyesuaikan pandangannya secara perlahan.
“Halo,” tanpa melihat siapa yang menjadi lawan bicaranya, Qiandra langsung menerima dengan suara khas orang yang baru saja bangun tidur.
“Kau belum bangun?” suara seorang pria yang dikenalnya, sedetik kemudian dia melihat ponsel untuk memastikan si penelepon dan jelas nama Gibran tertera di sana.
“Sudah, kenapa kau menghubungiku sepagi ini?” dengan segera dia duduk dan merapikan penampilan, seakan-akan pria itu tengah melihat wajah bantalnya.
“Aku ingin saja, apa ada masalah?” tanyanya, Qiandra hanya menggelengkan kepala seakan Gibran melihat hal itu. Kenapa dia menjadi linglung saat ini, rutuknya pada diri sendiri.
“Ahh tidak, apa yang kau lakukan?” tanyanya basa-basi.
“Merindukanmu.” Bisa-bisa Qiandra kena diabetes karena perkataan Gibran saat ini!
“Bersiaplah ke Restoran, apa kau ingin bolos?” pria itu membuyarkan lamunan Qiandra.
“Baiklah aku akan bersiap.” Qiandra menuruti Gibran, aneh bukan!? Tapi itu kenyataannya.
Mereka segera mengakhiri panggilan ketika Qiandra menyetujui perintahnya, tidak seperti pagi yang telah lalu wajah gadis itu hari ini sangat cerah padahal tidurnya terganggu. Aneh memang!
******
__ADS_1
Gibran memulai hari dengan menyapa beberapa karyawan yang berpapasan dengannya, dia memang pria yang sopan. Tapi menyapa semua orang dengan senyuman mematikan itu, bukankah berlebihan?
“Tahan liftnya,” teriak Darel dan dengan senang hati Gibran melakukannya.
“Kau kenapa?” tanya Fahar yang telah masuk bersama Darel.
“Aku kenapa?” astaga, wajah pria yang pura-pura bodoh itu sangat menyebalkan di mata kedua sahabatnya saat ini.
“Apa wajahmu tidak capek?” Fahar menunjuk lesung pipi yang timbul di wajah Gibran, saat tersenyum lesung itu membuat para gadis tenggelam karenanya.
“Tidak, ingat senyum itu ibadah.” jawabnya.
“Tapi kau terkesan mubazir saat ini!” Darel ikut berkomentar tapi yang aneh dia juga ikut tersenyum saat sibuk dengan ponselnya.
“Kalian berdua sama saja.” Fahar yang merasa tersisihkan langsung keluar dari lift untuk menuju ruangannya, mereka turun di lantai yang sama.
“Selamat pagi pak,” sapa sekretaris yang berdiri menyambut Gibran.
“Pagi,” jawabannya dengan tersenyum membuat gadis yang bertugas itu malah salah tingkah.
Tok…
Tok…
Tok…
“Masuk,” Gibran saat ini tengah tenggelam dengan pekerjaannya.
“Permisi pak, saya ingin mengingatkan bahwa bapak punya janji temu dengan salah seorang dari perwakilan perusahaan yang mengajukan kerja sama.” Ucapan itu berhasil membuat Gibran mengalihkan fokusnya, ternyata perusahaan itu menangkap umpan yang sengaja dia lemparkan.
“Baiklah, suruh pria yang mewakili itu untuk masuk.” Tidak ada senyuman lagi di wajahnya saat ini!
“Permisi pak,” pria itu masuk dan berdiri tidak jauh dari Gibran saat ini, dia tengah membelakangi pria yang baru masuk itu dan memilih untuk memandangi sesuatu di luar sana. Pemandangan dari pencakar langit itu lebih menarik menurutnya!
__ADS_1
“Oh sepertinya kita bertemu lagi.” sapaan asing dari pemilik perusahaan Anggada itu membuatnya terdiam, bagaimana tidak?! Pria itu adalah orang yang sama saat menolong Qiandra waktu itu.
“Kau, pria itu bukan?” ucap Aksa tanpa sadar yang kehilangan sopan santunnya.
“Benar, aku pria yang kau maksud itu.” Jawabnya dengan tersenyum remeh.
“Apa yang kau lakukan di sini?” karena terkejut membuat pria itu menjadi bodoh seketika.
“Menurutmu?” jawab Gibran, dan langsung berjalan mendekati sofa dan duduk dengan gagahnya.
“Maaf pak, saya tidak bermaksud untuk bersikap lancang. Saya hanya terkejut!” Aksa yang telah memahami situasi langsung bersikap sopan, jika meneruskan hawa nafsunya bisa-bisa dia akan kehilangan pekerjaan.
“Duduklah,” Pinta Gibran dan langsung dituruti pria itu.
“Sebelumnya saya ingin meminta maaf untuk kejadian yang tidak disengaja beberapa waktu lalu pak.” Ujarnya, tidak sengaja katanya? Pria itu benar-benar!
“Aku rasa permintaan maafmu seharusnya diucapkan pada orang yang pantas menerimanya bukan?” sarkas Gibran.
“Iya saya akan melakukan hal yang sama jika bertemu dengannya lagi,” jawab Aksa dengan menahan sedikit rasa jengkel yang terselip di sana.
“Baiklah.” ujar Gibran.
“Saya perwakilan dari perusahaan yang ingin menjalin kerja sama dengan bapak, ini proposal yang ingin kami ajukan.” Pria itu berbicara seakan tidak pernah terjadi hal buruk sebelumnya, dan Gibran hanya melihat pria itu dengan tatapan sulit terbaca.
Gibran dengan teliti membaca proposalnya, tapi tujuan utama pria itu ingin menjalin kerja sama bukan karena hal ini. Tapi, ingin membuat Aksa menyesal karena bersikap buruk pada gadisnya! Di tengah kegiatan itu, tiba-tiba ponsel miliknya berdering dan memecah keheningan.
“Silakan diterima pak, mungkin itu panggilan penting.” Aksa memaklumi hal tersebut dan meminta pria itu untuk mengangkat ponsel miliknya, dan Gibran? Pria itu melihat nama yang tertera di sana, enggan menjawab tapi sejurus kemudian diurungkan entah punya rencana apa dia saat ini.
“Halo sayang,” pria itu menyapa seseorang dengan senyum di wajahnya. Tapi senyuman pria itu berbeda dari pagi tadi, entah apa yang tengah dirasakan Gibran saat ini.
“Iya, aku juga begitu merindukanmu. Berhati-hatilah saat menyetir!!” jawabnya pada seseorang di seberang sana.
“Calon istriku.” Ucapnya, apa Gibran tengah pamer? dasar kekanakan. Entah siapa maksudnya dengan calon Istri saat ini! Aksa hanya tersenyum kecut akan kejujuran dari pemilik perusahaan itu.
__ADS_1
“Apa itu Qiandra?” gumamnya pada diri sendiri.
Kerelaan menjadi jalan terbaik saat kita dipenuhi air mata bersama seseorang yang mengabaikan kehadiran kita, cinta tulus membuat hati kelelahan karena berjuang seorang diri. Kita punya batas dalam menunggu, karena kehadiranmu tidak selamanya seperti gulma yang tidak diharapkan.