
Cemburu bisa menjadi hama pengganggu dapat pula bertindak sebaliknya, tapi satu hal yang pasti. Jangan biarkan kecemburuan bertahta dan menenggelamkan alasan karena adanya rasa itu (yuliashafira14).
Perkataan Kalya terus terngiang, seperti nyanyian nyamuk jail yang diberi tugas untuk mengundur tidur malam Qiandra, dan hasilnya gadis itu baru bisa memejamkan mata pada pukul 3 dini hari. Sebuah rekor baru untuknya tapi bukan pencapaian yang bisa dibanggakan, wajah terganggu itu mencoba menyesuaikan diri dengan sinar sang surya serta panggilan bonus teriakan dari bawah, memaksanya untuk bangun dari tidur singkat itu.
“Qiiiaaa bangunlah” suara itu benar-benar trouble beriringan dengan terbukanya pintu kamar, “Apa kau mendengarku ??? Tumben sekali kau bangun terlambat, cepatlah bersiap kita sarapan di Restoran” gadis itu benar-benar berantakan seperti pakaian yang belum di setrika.
“Baiklah” jawaban malasnya berhasil membuat Kalya berhenti mengganggu, saat di perjalanan ternyata mereka membutuhkan waktu yang lebih lama. Terjebak dengan kemacetan bukanlah pilihan, dan dampaknya mereka tidak bisa memimpin briefing pagi itu.
“Apa kau sakit ???” pertanyaan Kalya saat mereka tengah sarapan di ruangan Qiandra.
“Tidak, aku hanya susah tidur semalam” jawaban dan keluhan menjadi satu saat Qiandra kecoplosan bicara.
“Ada yang mengganggu tidurmu ???” apa gadis ini mencoba berakting dengan pura-pura tidak tahu masalahnya, pelakon terburuk menurut Qiandra.
“Haha aku bercanda, sepertinya ucapanku berpengaruh padamu. Makanlah kau butuh energi dari makanan ini supaya malam nanti kau bisa kembali begadang. Lihatlah lingkaran hitam itu, seperti gambar yang dibuat anak-anak. Tidak beraturan !!!” Kalya benar-benar menjengkelkan di saat seperti ini.
Setelah menghabiskan sarapan keduanya kembali mengontrol kendali Restoran, mulai dari mengunjungi dapur hingga menyapa pelanggan.
Saat makan siang, keramaian menjadi kewajaran sebagai pemandangan, ada perasaan haru yang Qiandra rasakan melihat orang menyukai apa yang mereka sajikan. Kerja keras tidak pernah berkhianat !!!
Dari pintu masuk Qiandra melihat Darel dan Fahar, seperti di hari-hari sebelumnya mereka menempati meja biasa tapi ada yang kurang. Gibran tidak bersama mereka !!!
“Qia dimana Kalya” pertanyaan itu membuatnya teralihkan.
“Tadi dia disini” Qiandra mengedarkan pandangan mencari keberadaan gadis itu, dan kejutan !!! dia melihat Kalya berbicara dengan seorang pria dan parahnya pria itu memegang tangan Kalya, o'ow perang akan pecah.
__ADS_1
“Apa dia sedang merayu pria lain ???” Darel menatap arah yang sama, tatapan tunangannya membara. Kecemburuan mendominasi oh bisakah Qiandra lari dari pertanyaan tadi.
"Sepertinya itu-" bersambung dan digantung seperti drama, pernyataan Qiandra terjeda saat Fahar datang “Kenapa lama sekali aku sudah lapar” pria itu, kenapa masih memikirkan makanan di saat seperti ini, apa dia tidak bisa membaca situasinya, bahkan Darel siap menyantap siapa saja dalam keadan hidup-hidup.
“Bukankah itu Kalya, bersama siapa dia ???” lanjutnya melihat slow respon Darel. Fahar Plis jangan memancing di air yang keruh, kau tidak tahu apa yang akan didapatkan. Batin Qiandra !!!
“Wah mesra sekali mereka” Fahar benar-benar menggoda Darel, dasar jomblo berkarat bisa-biasanya dia memicu bara pada pria yang cemburu. Dasar kompor !!!
“Ayo pergi, nafsu makanku hilang” pergi ke Kutubkah ??? Ajakan itu begitu dingin.
“Kalya apa yang kau lakukan dengan pria ini, dan kau kenapa menyentuhnya ???” situasi yang butuh penjelasan dan kejelasan.
“Jangan menatapnya seperti itu Qia, dia tidak sengaja menyenggolku dan menumpahkan air. Lihatlah ini” Kalya mengangkat sapu tangan yang pria itu sodorkan tadi.
“Sekali lagi maafkan aku nona” ucap pria itu dan berlalu meninggalkan kedua gadis yang tengah terdiam.
“Darel melihatmu dan dia salah sangka dengan kejadian tadi, orang lain akan berpikir kalau kalian saling menggoda. Jadi aku bersikap seperti tadi padanya” tutur Qiandra membawa Kalya agar duduk di depannya.
“Darel, dimana dia sekarang ???” pertanyaan yang membawanya mengedarkan pandangan ke meja biasa yang mereka gunakan.
“Pulang, sebaiknya kau hubungi dia. Tadi calonmu itu benar-benar marah karena kau bersama pria tadi” ucapnya.
Dengan segera Kalya mengambil ponsel dan menghubunginya, tersambung tapi diabaikan. “Tidak diangkat, nanti aku akan menemuinya” apa Kalya tidak mengerti situasi saat ini, kenapa dia masih bisa berkata nanti saat baru sekali mencoba.
“Kalya pergi dan jelaskan padanya, hubungan kalian lebih penting dari kata nanti. Jangan biarkan hal ini menjadi benang kusut kalau kau bisa mengurainya” Ohhh Qiandra, gadis itu benar-benar dewasa dalam menyikapi hidup orang lain ketimbang masalahnya sendiri.
__ADS_1
“Baik baik aku pergi” dengan langkah yang pasti gadis itu menyusul Darel, apa yang akan terjadi padanya mari pikirkan setelah dia bertemu pria itu.
Qiandra sadar jika cinta dengan tidak sengaja telah menyakiti salah seorang dari kedua belah pihak. Dan dengan lancang menyakiti sudut hatinya maka berusahalah meminta maaf, karena hal itu lebih bijak daripada larut dan tenggelam dengan keadaan.
******
“Apa kau bisa langsung ke kantor setelah rapat di Perusahaan itu, aku tiba-tiba merindukanmu” Fahar menelpon Gibran seakan ingin mengadu betapa kekanakannya Darel saat ini, kecemburuan memang bukan hal yang baik jika berlebihan ternyata. Terbukti itu berdampak padanya saat ini.
“Apa yang terjadi ???” tanya Gibran diseberang, ya saat ini dia sedang menepikan mobil saat menerima panggilan Fahar, karena rapat dadakan membuatnya melewati hal menarik. Pikirnya !!!
“Nanti aku ceritakan, tapi aku akan berterima kasih saat kau mengiyakannya” ucapnya berbisik, Darel seperti penculik yang sedang dikejar saat ini.
“Baiklah aku akan langsung ke kantor setelah rapat” seperti bait surgawi, jawaban itu benar-benar disambut Fahar dengan baik. Tidak lama panggilan terputus membuatnya menggelengkan kepala karena terjebak dengan situasi rumit ini.
Seharusnya aku tidak memicunya tadi, nada sesal yang tidak berguna diagungkan dalam diam. Tapi setidaknya dia menyesali daripada tidak sama sekali.
“Pelan-pelan, apa kau berencana beralih profesi untuk menjadi pembalap ???” tanya Fahar, itu hukuman yang diberikan Darel karena ucapannya saat di Restoran. Membuat pria itu cemburu ternyata bukan kejahilan yang menguntungkan.
“Hati-hati, berhenti menyalip. Ow ow” perkataan Fahar tidak menganggunya sedikitpun, hal fatal karena telah mengusik persoalan cinta orang lain. Fahar seorang jomblo strata satu, dia tidak tahu akibatnya akan seperti ini. Informasi, Fahar sudah lama menjomblo jadi dia mendadak lupa bagaimana perasaan pria yang cemburu saat menjahili Darel.
"Diamlah" jawabnya.
“Aku rasa jika dia menyetir seperti ini, kita tidak akan sampai ke kantor tapi malah berpindah haluan ke Rumah Sakit” niat menjahilinya tadi hilang entah bersembunyi dimana, meninggalkan Fahar dengan rasa was-was dan kewaspadaan tingkat tinggi.
Obat dari kecemburuan Darel adalah Kalya, dia tidak lagi peduli pada apapun. Bahkan kekeliruan dilihatnya sebagai kebenaran, terkadang kita sibuk memperdebatkan apa yang salah dan benar.
__ADS_1
Tapi yang luput dari hal itu yakni, terkait sudut pandang !!! Teriakanmu tentang kebenaran dan keluhanmu tentang kesalahan tidak mempengaruhi orang lain. Jalani saja apa yang menurutmu memang benar tanpa menyakiti mereka, terutama dia yang kau sayangi.