
Kelamnya pengkhianatan kembali bersuka cita di balik kabut, mencari celah untuk memicu senyum lusuh di bibirnya. (yuliashafira14)
.
.
.
Kenangan yang diperoleh Gibran setelah mengenal seorang gadis bernama Qiandra, telah membentuk suguhan indah dalam memori pria itu. Tanpa perintah pun paksaan, setiap moment mereka kembali berputar dalam benaknya. Ini berbeda! Bersama Qiandra, tanpa sadar telah menciptakan riuh berbeda dalam dada Gibran. Gaduh yang mampu menelan setumpuk kenangan buruk pria itu bersama gadis-gadis di masa lalunya, yah. Dia juga punya pengalaman yang tidak menyenangkan dengan beberapa mantannya!
Dia yang sempat terjebak dalam rekayasa percintaan sebelumnya, kini mampu mendulang skenario terbaik bersama gadisnya. Sudah seminggu berlalu sejak kepulangan Gibran dengan membawa restu Papa Agam dan Mama Dyra selaku wali dari Qiandra, rintihan kebahagiaan pria itu begitu indah terdengar kala detik berdenting setiap saat.
Perjuangan yang tidak mudah untuknya melumpuhkan trauma gadis itu. Sungguh tidak berakhir sia-sia, mungkin ini terkesan berlebihan bagi orang lain. Tapi tidak bagi Gibran, pria itu hanya bersyukur karena pijak kesungguhannya kini bersambut. Qiandra berharga! Itulah yang membuatnya sebahagia ini.
/”Tolong jaga Qiandra, dia berbeda dengan Kalya yang dipenuhi cinta hingga tumbuh menjadi gadis yang ceria. Anakku yang satu ini terlalu banyak melalui kepahitan di masa mudanya, dan membuatnya sedikit acuh pada pria. Tapi saat denganmu, dia begitu bahagia. Kami tidak bisa membendung rasa itu!”/ wejangan dan harapan dari wali Qiandra itu kembali melintas dalam benaknya.
Fantasi cinta tanpa kemalangan, Gibran akan menciptakan itu untuk gadisnya. Dia sedikit merasa bersalah pada Aarav, pria yang juga menyukai Qiandra. Saat bertemu nanti, dia akan meminta maaf secara langsung.
“Apa yang kau pikirkan?” Suara indah yang ingin didengar Gibran setiap saat itu kembali terdengar, dia berpaling dengan senyuman yang menggantung di bibirnya.
“Kau!” jawab Gibran, dengan menautkan jemarinya dengan milik gadis itu. “Aku kembali teringat dengan pertemuan awal kita, caramu menghindar dan menolak perasaanku. Hingga saat aku meminta izin pada Papa dan Mamamu, aku bersyukur karena kini kau begitu dekat denganku.” Timpanya, senyuman pria itu kini semakin merekah.
__ADS_1
“Apa kau sungguh bahagia?” sela Qiandra, mereka berada di mobil yang sama. Selama seminggu ini, pria itu selalu mengantar dan menjemput gadisnya. Iya, kini Qiandra telah menjadi gadisnya! Sungguh? Tentu saja.
Saat mendengar pertanyaan gadis itu membuat Gibran segera menepikan mobil yang dikemudikannya, membuka seat belt dan memutar tubuh untuk menghadap Qiandra. Dia menatap dalam pujaannya, ah bisa-bisa gadis di depannya itu akan tenggelam karena tatapan ini!
“Tentu saja! Apa kau tidak bahagia bersamaku?” raut kekecewaan datang, apa Qiandra tidak bahagia bersamanya? Apa hanya dia yang begitu menginginkan gadis ini? Hmm.
“Bukan-bukan, aku sangat bahagia bersamamu sungguh! Saking bahagianya aku sulit menahan diri untuk tidak merindukanmu. A-ku,” lontarnya. Mata Gibran masih menelisik dan menunggu kelanjutan kalimat Qiandra dengan jemari yang masih setia saling terkait.
“A-ku hanya takut jika kebahagiaan yang aku rasakan ini hanya sekedar mampir, dan akan memberi luka setelah kepergiannya. Membayangkan hal itu saja sungguh begitu mengerikan, a-ku ... “ ucapannya terhenti ketika Gibran menyela dirinya, “Sssttt. Jangan pernah membayangkan hal yang sia-sia, aku akan melimpahimu dengan kebahagiaan. Jadi aku mohon berhenti berpikir yang aneh-aneh.” Tutur Gibran, dan kembali. Membelai lembut kepala Qiandra! Pria itu terbiasa, menenangkan gadisnya dengan cara seperti ini.
“Apa kau mencintaiku?”
“Sangat!” Gibran menangkup wajah cantik Qiandra, mengamati setiap inci yang mampu membuatnya ketakutan jika tidak lagi melihat paras ini.
“Apa?” pekik gadis itu, ekspresi keterkejutannya membuat senyum Gibran semakin memesona. Kenapa Qiandra bisa selucu ini? bisakah pria itu membawa gadisnya untuk pulang? Ah tidak-tidak, dia sudah berjanji untuk menjaga Qiandra.
“Aku akan membawamu bertemu orang tuaku, apa kau tahu kenapa aku melakukan ini?” Qiandra menggeleng polos dan menatap manik Gibran. Wah selalu saja dia terkesan melihat binar keseriusan ini!
“Karena aku mencintaimu, aku ingin membagi perasaan ini bersama Papa dan Mama.” Lontar Gibran, “Jadi berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak. Ok?” Qiandra mengangguk, oh astaga kenapa jantungnya semakin tidak tahu malu saat berdebar. Bahkan wajahnya yang tadi sempat mendung, kini malah telah dihiasi indah oleh warna pelangi. Cantik!
******
__ADS_1
Bintang berselendangkan langit hitam yang menjulang, sungguh elok. Ingin rasanya raga ini melayang saat terkesan, menyelip paksa untuk berkelip di atas sana. Bisakah? Asa yang tidak mungkin tercapai serta degup harapan kian berlomba dalam debaran.
“Kau menungguku?” pertanyaan itu membuat pikiran tidak masuk akal Qiandra kembali melayang, huh. Dia patah hati saat khayalnya menguap, dan berpindah entah pada siapa.
“Mmm,” jawab Qiandra. Dengan mata yang masih melekat pada pesona kejora, bukan. Lebih tepatnya dia tengah mencari angan yang tadi sempat diciptakannya diantara hamparan indah itu.
“Aku punya kabar untukmu, tadi Darel mengatakan jika lusa adalah ulang tahun Gibran.” Ujar Kalya bersemangat, Qiandra yang mendengar hal itu langsung menarik diri dari angan yang sulit untuk berkenyataan tadi.
“Benarkah?” anggukan Kalya membuat jelas pertanyaannya.
“Kau ingin memberikan hadiah apa untuk Gibran?” tanya Kalya dengan mencomot snack yang tidak dihiraukan Qiandra sedari tadi, memang. Keberadaan camilan memang dipaksa untuk menemani secangkir susu tanpa diperhatikan. Miris!
“Aku tidak tahu apa yang harus aku beli untuk Gibran, dia sudah mempunyai segalanya. Apa dia butuh hadiah dariku?”
“Apapun yang kau berikan pasti dia akan menerimanya, apapun itu. Kalau saranku berikan dia sesuatu yang tidak bisa dibeli dimana pun, berikan dia sesuatu yang istimewa dan menurutku hanya kau yang bisa melakukan itu.” Imbuhnya. Sesuatu yang tidak bisa dibeli?
Qiandra memikirkan sesuatu, “Kau bisa memasakan sesuatu yang dia sukai.” Ucap Kalya tiba-tiba, “Bukankah dia selalu memuji menu di Restoran kita? Jika kau yang membuatkannya pasti itu akan membuat Gibran bahagia,” timpanya. Benar!
“Kau akan ke mana?” tanya Kalya saat melihat Qiandra berdiri dari duduknya, “Aku harus menghubungi seseorang. Lanjutkan saja makanmu,” jawab gadis itu dan langsung berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
Apa yang dirasakan Qiandra saat ini tidak akan pernah dibiarkan lenyap dinikmati sang waktu, membunuh rasa takut dengan tawa bahagia adalah cara terbaik. Gadis itu akan membuat masa terkesima, melunturkan rasa yang selalu terbelit dalam kenangan buruk.