Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Masih Di Sini


__ADS_3

Juwita, apa rantai ini begitu menyakitimu? Kau terbelenggu begitu lama, sudikah dikau jika lara itu ku buat tenggelam bersama suka cita? (yuliashafira14)


“Permisi, apa boleh kami minta foto?” tanya seorang gadis yang berambut pendek, dan di angguki oleh temannya yang lain.


Qiandra dan Gibran yang tengah duduk santai di sebuah bangku panjang, nampak terkejut saat mendengar permintaan salah seorang dari gadis yang berdiri di hadapan mereka saat ini. Apa mereka tengah keliru?


“Ah mungkin maksud nona, meminta tolong agar difoto kan?” jelas Qiandra, tapi kedua gadis itu malah menggeleng. Aneh sekali!


“Kami ingin mengambil foto bersama pria ini.” Timpa gadis lainnya, Gibran yang dimaksud malah mengangkat bahu saat Qiandra melihat ke arahnya dengan tatapan penuh selidik. Kenapa harus Gibran? apa ini karena wajahnya yang terlihat begitu dominan?


“Tuan apa bisa kami minta foto?” senyum mereka yang malu-malu itu membuat Qiandra menautkan alis, apa yang mereka lakukan dengan wajah mereka saat ini?


 


“Tentu.” Sambut Gibran dengan senyum ramah, apa dia sedang merasa seperti seorang aktor kini? Membuat Qiandra memutar bola matanya tidak percaya. Yah dia memang tampan, mungkin alasan itulah yang membuat banyak pasang mata yang sedari tadi melihat mereka.


“Maaf, apa nona bisa mengambil gambar kami?” yang dimaksud dari kata kami itu adalah mereka bersama Gibran, Qiandra hanya mengangguk tanpa ekspresi. Apa yang bisa dia lakukan selain mengiyakan permintaan itu! Ck.


Pose yang diperagakan benar-benar membuat Qiandra jengah, apa mereka sedang keasyikan saat ini? Dan Gibran? Mengapa pria itu tampak kesenangan saat diapit gadis-gadis cantik itu? Yah mereka cantik, Qiandra mengakui kebenaran yang dilihatnya.

__ADS_1


“Terima kasih,” tutur salah seorang dari mereka. “Apa kau bisa memberiku nomor ponselmu?” pertanyaan gadis lainnya. Yang membuat Gibran melihat ke arah Qiandra, gadis itu nampak tidak percaya mendengar penuturan barusan.


Gibran menggiring keduanya untuk sedikit menjauhi Qiandra dan berkata, “Maaf nona, tunanganku itu sangat pencemburu. Jadi aku tidak akan membiarkan dia lebih salah paham nantinya!” sangkal Gibran dengan sedikit berbisik, dia berharap pernyataan itu bisa menjadi kenyataan. Kapan? Entahlah!


“Ah, maaf tuan karena telah bersikap lancang. Aku tidak tahu jika nano itu tunangan anda.” Ucap gadis yang meminta nomor ponselnya tadi, mereka berlalu dengan perasaan kecewa saat mendengar penjelasan Gibran. 


“Apa yang kalian bicarakan, sampai menjauhiku seperti itu? Apa kehadiranku membuatmu tidak nyaman?” cerca Qiandra, Gibran yang telah duduk kembali hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan itu.


“Berhentilah menduga Qia. Aku hanya membuat mereka mengerti, agar tidak berharap lebih untuk mendapatkan nomor ponselku. Hanya itu!” tutur Gibran.


“Benarkah? Apa yang kau katakan pada mereka?" kepo Qiandra, apa dia bersikap berlebihan? Gadis itu tengah menunduk memandangi sesuatu di bawah sana, seakan ada hal menarik yang menyita perhatiannya saat ini.


“Hm’m, aku mengatakan saja jika tunangan begitu pencemburu. Yah mereka terlihat kecewa saat aku mengatakan itu, tapi mau bagaimana lagi? Aku hanya berusaha untuk menjaga.” apa dia merasa frustasi sampai harus berbohong? Tapi, kenapa ada senyum yang menyelip di wajahnya?


“Siapa lagi? Ya tentu saja dirimu Qiandra! Apa aku bersama orang lain?” gemas Gibran, apa Qiandra biasa bersikap sepolos ini? atau malah dia sengaja bersikap seperti itu karena tengah memastikan sesuatu?


“Aku?” jelasnya menunjuk diri sendiri, Gibran hanya mengangguk untuk menyetujui maksud Qiandra. Hening! Setelah mendapatkan jawaban, gadis itu kembali bungkam.


Qiandra masih asyik menyelam dalam pikirannya, sedangkan Gibran? Pria itu memandang ke arah wahana Bianglala yang tengah menjadi primadona malam ini. Dia tengah berpikir, apa yang membuat orang-orang di sana bisa sesenang itu saat menaiki wahana yang terlihat biasa saja itu? Kenapa wajah mereka begitu sumringah saat menaikinya?

__ADS_1


Qiandra tersadar akan kediaman Gibran, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. “Apa kau ingin menaiki Bianglala?” pertanyaan itu membuat Gibran kembali fokus ke arahnya, pria itu hanya menggeleng. Tapi rasa ingin tahu masih sibuk mengganggunya!


“Kalau kau penasaran kenapa tidak mencobanya?” tawar Qiandra, Gibran berpikir sejenak. Apa dia harus mencoba wahana itu? Melihat banyak orang yang mengantri saja sudah membuat ciut semangat juangnya. Dasar, mental apa itu!?


“Tidak, kita di sini saja!” Jelas Gibran, “Bagaimana perasaanmu sekarang?” timpanya, tiba-tiba. 


“Perasaanku soal apa?” jawab Qiandra.


“Perkara masa lalu. Setelah bertemu kembali dengan mereka, aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu? Apa rasa sakitnya masih terasa?” Jelas Gibran, dia ingin mengukur sedalam apa dia mampu menyelami hati Qiandra.


“Yang jelas aku merasa lebih baik saat ini, hidup bersama Kalya dan dipenuhi cinta oleh kedua orang tuanya membuatku lebih dihargai. Dan itu bertambah dua kali lipat sejak kehadiran kalian, bukankah hidupku terdengar begitu menyenangkan?” senyumnya merekah, orang-orang yang kini dikenalnya sungguh berharga untuk hidup Qiandra. Tapi tunggu, siapa yang dimaksud dengan kalian di sini? Apa ketiga pria itu, atau hanya Gibran seorang? Mencurigakan!


“Apa kau benar-benar bisa memaafkan kecurangan yang mereka lakukan dulu?” pancing Gibran yang amat penasaran.


“Kata orang, memaafkan bukanlah hal yang mudah. Tapi untuk membenci mereka, membuatku membutuhkan energi yang lebih besar! Kau pasti tahu, seberapa melelahkan membenci seseorang.” jelas Qiandra, gadis itu mendongkak memandangi langit malam sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Aku marah saat mengetahui pengkhianatan yang mereka lakukan. Kejadian itu, membuatku kesulitan untuk membangun hubungan baru bersama orang lain.” Tambah Qiandra, untuk pertama kalinya gadis itu berbicara begitu terbuka mengenai masalah ini. Dan itu dia lakukan hanya pada Gibran!


“Kau bertahan dengan sangat baik selama ini, dan aku bersyukur karena hal itu.” Gibran mengelus lembut kepala Qiandra, tatapan hangatnya dapat gadis itu rasakan. Gibran hanya ingin menyampaikan sesuatu, berharap gerakan yang dilakukannya dapat mewakili hal itu. Dan Qiandra? Gadis manis nan ayu itu tidak menolak apa yang dilakukan Gibran.

__ADS_1


“Aku tahu kejadian itu begitu membekas di hatimu, aku tidak akan memaksa kau untuk berada di sisiku. Yang bisa aku lakukan kini hanya menunggu, menunggumu melihat dan berjalan ke arahku.” Astaga manisnya, Qiandra termenung. Bagaimana mungkin pria ini begitu sabar padanya? Menunggu? bukankah itu perkara yang membosankan?


Aku di sini, membantumu agar dapat menyibak kegundahan yang mengaduh. Merepih haru itu hingga luruh, gemulai cintaku mulai melepuh. Aku melara jika pelipurku bukanlah dirimu, kita begitu sepuh jika terlalu lama merintih. Rasaku begitu sering menguntitmu, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa jika ketertarikan ini merambat seiring waktu.


__ADS_2