Tentang Qiandra

Tentang Qiandra
Patah Hati


__ADS_3

Seperti dahaga yang ingin mendapatkan kesegaran, perasaan rinduku akan berkurang kala jumpa denganmu. (yuliashafira14)


Setelah kembali dari Bali akhir-akhir ini Qiandra disibukkan dengan pekerjaannya hal yang sama terjadi pada Kalya, setelah menyelesaikan rutinitas yang melelahkan itu mereka kembali ke Apartemen mewah di kawasan elit yang terletak di Jakarta Barat. Mereka seperti perangko kemana-mana hanya berdua bahkan berbagi rumah dan mobil, karena kepribadian Qiandra yang membuat Kalya merasa harus dekat dengannya.


“Emmm, Qia” panggil Kalya sesaat setelah membersihkan dapur, karena hari ini jadwal dirinya untuk urusan Apartemen.


“Ada apa” tanyanya dengan tangan yang masih sibuk membuka kulkas dan bergegas menuju balkon tempat mereka biasa bersantai.


“Besok aku bakalan ketemuan sama dia, Mama sama Papa udah atur kapan dan dimana pertemuannya. Gimana dong ??” jelas Kalya, tergambar jelas ketidaksukaannya atas perjodohan yang diatur orang tuanya.


“Ketemu siapa ??” tanya Qiandra yang masih sibuk dengan minuman dan makanan kecilnya di atas meja yang membuat fokusnya terbagi mengenai pembicaraan mereka, tapi sesaat kemudian dia menoleh untuk memastikan sesuatu dan diangguki oleh Kalya seakan mengetahui maksud Qiandra.


“Aku ngga suka dijodohin Qia” adunya dengan wajah tidak bersemangat tapi dengan mulut yang terus mengunyah, makanan memang prioritas untuk mereka tapi anehnya badan mereka tetap tetap ideal.


“Ketemuan dululah untuk rasa suka dan lainnya dipikir belakangan aja, emang kamu mau bikin malu keluarga ?? Toh belum ditentuin juga tanggal untuk kalian” seperti biasa Qiandra sangat mahir membuat Kalya mengiyakan sesuatu.


“Kalau gitu besok kamu temenin aku ya di Restoran kita” pinta Kalya yang membuat Qiandra menoleh tapi tetap dengan mulut yang mengunyah seakan meminta penjelasan. “Buat ketemuan sama dia” lanjutnya yang berhasil membuat Qiandra berhenti dengan aktivitasnya.


“Ngapain aku ikut coba ??” tanyanya.


“Ya ditemenin, aku udah bilang sama Papa kalau kamu bakalan ikut. Masa iya aku sendiri ?? Sebelum Papa sama Mama datang aku diminta ketemuan duluan, supaya akrab katanya. Temenin ya ya ya ?? Pintanya dengan harapan penuh.


“Boleh nolak ??” jawabnya yang malah membuat Kalya menahan senyum, sahabat yang satu ini memang kadang polos kalau situasi tersebut tidak menguntungkan bagi dirinya.


“No” jawab Kalya dengan menggelengkan kepalanya, yah pertemuan ini dikhususkan untuk Kalya dan calonnya. Orang tua kedua belah pihak akan datang sebulan setelahnya dikarenakan masih harus mengurus pekerjaan, karena merasa akan bosan maka dia ingin mengajak Qiandra.


******

__ADS_1


Malam indah kembali menyapa Qiandra, gadis cantik dengan dress panjang dan rambut yang digerai sedang menengadah memandangi betapa gemerlapnya penduduk langit di atas sana.


Disisi lain seorang pria tampan dengan setelan jas telah memasuki ruangan VVIP yang telah di Booking sebelumnya, dengan hati-hati dia mendekati Qiandra yang belum menyadari kedatangannya.


“Permisi a- deg…“ sapaan pria itu tidak berlanjut saat gadis yang membelakanginya berbalik dan saling beradu manik, dan hal itu tidak luput dari intervensi jantungnya yang berpacu lebih cepat.


“Kau…apa yang kau lakukan di sini ?? Bukankah tempat ini sudah di pesan ?? Atau kau tersesat ??” tergambar jelas keingintahuannya pada Qiandra, gadis cantik itu pun tidak kalah terkejutnya tapi dia mencoba menyembunyikannya saat bertemu dengan pria tampan itu. Tidak ada jawaban yang didengarnya mendorong pria itu melangkah mendekati Qiandra yang hanya diam dan mematung, seakan pikirannya tidak di tempat itu.


“Kau mengingatku ?? Kita pernah bertemu sebelumnya dan ini pertemuan ketiga kita, kenalkan aku Gibran” yah pria tampan itu mengulurkan tangannya tapi malah membuat Qiandra mengerutkan kening dengan perasaan tidak nyaman akan sosok itu, bertarung dengan diri sendiri akhirnya membuat Qiandra menyambut uluran Gibran karena mengingat tujuan awal dia datang menemani Kalya.


“Qiandra dan aku rasa ini pertemuan keduaku denganmu” jawabnya singkat.


“Tapi ini pertemuan ketiga untukku" jawabnya tidak mau kalah padahal saat di Bandara hanya dia yang melihat Qiandra tapi itu memang kebenarannya, tapi Qiandra memang tidak mengetahuinya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku ?? Apa yang kau lakukan di sini ??” tanya Gibran tidak sabar dan masih memandangi wajah gadis cantik itu dengan senyuman hangat.


“Kenapa harus di ruangan ini ?? Bukannya tempat ini sudah di- deg…” perkataannya kembali tercekat saat mengingat tujuannya datang ke tempat itu, tapi segera menampik sesuatu yang mulai mengusik pikirannya dia kembali berujar “Kau kemari karena pertunangan itu ??” dengan tatapan yang masih intens memandangi Qiandra.


“Iya” jawaban singkat itu seakan membuat Gibran lemas, dan kembali memandangi Qiandra untuk mencari celah kebohongan tapi hasilnya nihil. 


Dddrrrttt…


Bunyi dering ponsel berhasil memecah keheningan diantara keduanya meminta untuk segera diangkat, setelah melihat nama yang tertera Gibran meminta izin untuk menerimanya pada Qiandra.


“Darel sepertinya aku tidak bisa terlalu lama di sini” ujar Gibran sesaat setelah bertukar sapaan dengan temannya.


“Kenapa ?? Apa terjadi sesuatu ??” tanyanya mendengar suara Gibran seolah tidak bergairah dan sesekali menarik nafas berat dan menghembuskannya kasar.

__ADS_1


“Tiba-tiba aku merasa tidak enak badan” sangkalnya berharap Darel tidak lagi mengulik apapun.


“Tiba-tiba ?? Baiklah aku sebentar lagi akan sampai, apa kau sudah bertemu dengannya ??” pertanyaan yang membuat Gibran kelu, entalah mengingat Qiandra berhasil membuat sebagian dirinya nelangsa.


“Sudah” jawabnya dengan berat dan beralih melihat Qiandra dari jauh dengan posisi membelakanginya.


“Bagaimana rupanya sekarang ??” tanyanya Darel kembali dengan sedikit penasaran.


“Gadis yang sangat cantik, kau tidak akan menyesal karena dijodohkan dengannya. Sebaliknya, jantungmu akan berdetak begitu melihatnya sendiri” seakan mengatakan apa yang dirasakannya saat bertemu Qiandra sejak awal, tidak lama panggilan itu berakhir.


“Sepertinya aku tidak perlu pamit padanya” gumamnya dengan melangkah pergi dan langsung mengendarai mobil pribadinya menjauh dari tempat itu dengan perasaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnnya.


"Menyebalakan...ini sudah terlambat 10 menit dari janji temu" gerutu Kalya sesaat memasuki ruangan.


"Terlambat apa maksudmu bukankah dia sudah datang, tadi ada seorang pria yang menyapaku" jelasnya tidak mengerti, dan membuat Kalya mendekat untuk menunjukkan sesuatu.


"Apa dia pria yang kau maksud ??" tanyanya memastikan dengan menunjukkan sebuah foto pada Qiandra.


"Bukan" jawabnya polos dan disambut tawa menggoda dari Kalya "Sepertinya kau punya janji selain denganku, bagaimana rupanya ??" goda Kalya dan berhasil membuat Qiandra menatapnya.


"Maaf aku terlambat tadi jalannya macet, aku Darel" ucap seorang pria yang berhasil membuat fokus keduanya teralihkan.


"Cih alasan klise, asal kau tau kami juga tinggal di Jakarta" ketusnya dan berhasil membuat senyum Darel terbit.


"Apa kau sudah tidak sabar bertemu denganku nona Kalya ??" godanya.


"Kau" belum sempat membalas Qiandra memadamkan kilatan di mata sahabatnya "Sabar Kal, duduklah aku ke Toilet sebentar" mendorongnya menempati meja mereka.

__ADS_1


"Apa dia calonnya ?? terus pria tadi siapa ??" pikir Qiandra saat berlalu ke Toilet.


__ADS_2