
Aku melihat cahaya rembulan kesepian di matanya, tersesat serta tenggelam adalah keinginan diri. Dan tanpa disadari telah terjadi sesuatu pada diriku. (yuliashafira14)
Gibran Angga Wijaya merupakan sosok pemuda rupawan keturunan Dubai Indonesia yang mapan berusia 27 tahun, seakan bentuk keindahan pria idaman ada dalam dirinya. Pendiri Anggada Development di bidang Real Estate, tumbuh dan didik dalam keluarga harmonis membuatnya dilimpahi kasih sayang mengingat dia adalah anak tunggal orang tuanya dan penerus kerajaan bisnis sang Ayah dibidang Elektronik dan perusahaan suku cadang mobil Manental Internasional. Keluarga Wijaya mempunyai status sosial yang tinggi tapi hal itu tidak membuat mereka tinggi hati, sebaliknya memperlakukan orang lain dengan baik adalah keharusan bagi keluarga itu.
Untuk persoalan asmara Gibran bukanlah pemuda yang suka tebar pesona maupun memanfaatkan status dalam menjerat gadis-gadis diluar sana dengan apa yang di miliknya, menjalin hubungan pernah dilakukan tapi yang aneh hal itu tidak pernah bertahan lama. Sejauh ini belum ada yang benar-benar mampu menarik perhatian dan hatinya, sampai dengan tidak sengaja Gibran melihat Qiandra di Bandara saat menolong anak kecil. Awalnya dia hanya melirik sekilas untuk mengetahui apa yang sedang terjadi tapi tanpa disadari kakinya melangkah lebih dekat untuk duduk tidak jauh dari tempat Qiandra dan-.
Deg…
Gibran memegang jantungnya yang berpacu di atas normal, mengamati sikap Qiandra untuk menenangkan anak kecil itu membuatnya masih fokus dan tidak bergeming. Tidak lama datang orang tua si anak dan Qiandra pamit, apakah kita pergi ke tempat yang sama ?? bertanya pada diri sendiri melihat gadis tersebut menaiki maskapai yang sama dengannya. Saat di dalam pesawat Gibran kehilangan jejak Qiandra, ingin rasanya mencari tapi karena pesawat akan lepas landas membuat dia mengurungkan niatnya.
Saat pesawat mengudara Gibran masih mencari keberadaan Qiandra yang menarik hatinya itu dan menemukan dia duduk di sebelah kiri barisan keempat dekat jendela di kelas ekonomi sementara dia berada di kelas bisnis, Gibran mencoba mencari orang yang mau menukar tempat dengannya agar bisa melihat Qiandra lebih dekat. Seorang pemuda seumuran Gibran mau mengikuti keinginannya setelah diajak kompromi, saat ini posisi Gibran di arah berlawanan tapi masih di barisan yang sama dengan Qiandra.
Saat akan keluar dari Bandara Gibran masih setia mengikuti Qiandra dari belakang dengan jarak yang telah diperhitungkan, apa yang dilakukan saat ini diluar kendalinya. Dia melihat Qiandra memasuki taksi dan ingin mengikuti Qiandra diam-diam tetapi ada hal yang menyadarkan pikiran konyol itu dan mulai memasuki mobil yang telah menunggu kedatangannya dan langsung menuju Apartemen.
“Astaga apa yang terjadi, kenapa tubuh ini tidak patuh padaku dan malah mengikutinya dan ini kenapa jantungku berdetak sangat cepat. Arrrggghhh apa dia sudah memiliki pasangan ?? tidak mungkin belum bukan ??” gumamnya dengan meraba bagian tubuh yang berdetak dan sesekali berdecak karena melakukan hal diluar kendali, merasa seperti bukan diri sendiri dan supir hanya bisa melirik aneh tanpa bertanya hal pribadi karena itu bukan bagian dari tugasnya.
Saat sampai di Lobby Apartemen Gibran langsung membersihkan diri dan bersiap bertemu sahabatnya untuk sekedar berkumpul dan membahas masalah perusahaan di salah satu Restoran dekat pantai, dengan setelan semi formal sesuai keinginan sahabat yang tidak ingin Gibran terlalu kaku saat bertemu.
“Gibran, sebelah sini” pemuda sepantaran melambaikan tangan ke arahnya.
“Maaf aku terlambat” ucap Gibran dengan merasa bersalah.
__ADS_1
“Hey ayolah kau seperti pada siapa saja, bagaimana penerbanganmu ??” tanya Fahar menyambut uluran tangan Gibran dan memeluknya, kemudian mendudukan diri di kursi Restoran.
“Seperti biasa, lancar ngga macet” ucap Gibran dan berhasil membuat Fahar tertawa melihat Gibran yang tersenyum.
“Aku rasa kau mulai tertular Darel, apa ada hal menarik yang aku lewatkan ??” tanya Fahar dengan mulai menyeruput minuman di hadapannya dan sesekali melirik Gibran untuk menunggu jawaban dari sahabatnya itu, mengingat Gibran adalah pemuda yang sedikit serius dalam hal apapun dan jarang melemparkan lelucon.
“Kemana Darel apa dia tidak ikut denganmu ??” bukannya menjawab dia malah balik bertanya dan mencari keberadaan sahabatnya yang lain.
“Tidak, dia punya hal mendesak jadi hanya aku yang datang” Darel dan Fahar punya saham di perusahaan Gibran, hal yang dilakukan menarik minat kedua sahabat karibnya untuk bergabung jadilah mereka mengisi posisi masing-masing yang berpengaruh saat ini.
“Kau belum menjawab pertanyaanku” karena penasaran Fahar kembali bertanya dengan sesekali menautkan kedua alisnya.
“Dengannya ?? siapa maksudmu” ujar Fahar dengan rasa penasaran, karena melihat sikap Gibran yang aneh saat ini. Tiba-tiba membicarakan seorang gadis saat baru pertama kali melihatnya.
“Aku belum sempat berkenalan dan hanya memandangi dari jauh jadi aku belum mengetahui namanya” dan itu berhasil membuat Fahar tersenyum mendengar kejujuran Gibran.
“Aku belum pernah merasakan sebelumnya, tapi setelah melihatmu sepertinya ini cinta pada pandangan pertama. Right ??” tebak Fahar, mereka terbuka untuk apapun jadi bukan hal yang tabu membahas masalah ini.
“Aku belum bisa memastikan itu dan tapi aku rasa sepertinya ini akan segera berakhir, tidak mungkin aku bertemu kembali dengannya. Bisa saja ini hanya ketertarikan biasa” jawab Gibran dengan rasa gelisah karena ucapannya sendiri.
“Benarkah ?? tapi aku rasa dia istimewa untukmu” sindir Fahar dengan senyum usilnya, kemudian kembali mengalihkan pembicaraan mengenai pekerjaan dan saat sore hari mereka berpisah untuk menuju tempat istirahat masing-masing. Tapi sebelum kembali mata Gibran melihat hamparan pantai di seberang Restoran dan tanpa diperintah langkah itu menuntun hingga ke bibir pantai dengan pemandangan indah, saat sedang asyik memandangi laut lepas seseorang menabraknya.
__ADS_1
Bruuukkk…
Aaawww...ucap mereka bersamaan sambil memegang bagian tubuh masing-masing yang berbenturan.
“Astaga maaf maaf aku tidak sengaja” ucapan penyesalan itu belum membuat Gibran menyadari siapa gadis di depannya saat ini.
“Berhati-hatilah apa kau begitu menyukai pantai, sampai harus menabrakku karena tidak ingin berbagi tempat ini dengan orang lain ??” Gibran menyindir karena merasa itu kesengajaan, mengingat banyak gadis yang melakukan itu padanya.
“Maaf karena menabrakmu itu murni ketidaksengajaan, aku akan berhati-hati. Sekali lagi maaf ” tapi betapa kagetnya dia saat bersitatap dengan Qiandra, dan itu membuat jantungnya kembali berdegup tidak sesuai ritme.
“Apa kau gadis itu ??” dengan polos dia bertanya sambil memegang dadanya memastikan masih berada di rongga itu.
“Apa maksudmu” karena bingung Qiandra bertanya.
“Kita pernah bertemu sebelumnya, kenalkan aku-” dengan gerakan cepat Gibran memanfaatkan pertemuan itu untuk mengetahui namanya.
“Maaf sepertinya kau salah orang kita belum pernah bertemu jadi tidak perlu berkenalan karena aku tidak berminat" karena Qiandra merasa aneh dia langsung berlalu dari tempat itu.
“Apa aku membuatnya tidak nyaman, dari jarak sedekat tadi dia semakin terlihat mempesona” Gibran bergumam masih dengan posisi meraba dadanya itu.
“Jantungku...” ucap Gibran.
__ADS_1