
Dia simbol ketegaran, bahkan ketika angin berhembus. Dirinya tetap jelita dan kokoh! (yuliashafira14)
.
.
.
”Kenapa gelap sekali di sini?" Kalya baru saja kembali setelah mengantarkan Darel untuk menemui dokter, dan saat memasuki Apartemen dia disajikan dengan kegelapan oleh ruangan itu. Bahkan denting jam, menambah kesan horor di hunian mewah mereka.
Ah dasar, bahkan ponsel mahal Kalya tidak bisa membantunya memberikan cahaya saat ini. Terpaksa dia berjalan pelan, dan mulai meraba dinding yang tengah kedinginan untuk menuntunnya menuju saklar lampu yang tidak jauh dari ruang santai.
Tunggu! Kalya melihat cahaya di sana, apa Qiandra sedang menonton? Tapi kenapa tidak ada suara sama sekali dari layar itu. Apa dia sedang merajuk karena Kalya pergi bersama Darel, ah tiba-tiba gadis itu merasa tidak enak.
Kalya berjalan pelan, ralat! lebih tepatnya berjinjit untuk meminimalisir suara agar tidak mengganggu Qiandra.
“Qia,” Sapanya pelan. Tidak ada sahutan! Apa dia tengah melamun dan mengajak keheningan pun cahaya televisi turut serta malam ini?
“Tumben belum tidur, apa kau sedang menungguku?” terdengar ucapan Kalya kembali menyambut pendengaran Qiandra. Jangankan melirik, menanggapi celoteh itu saja rasanya begitu berat.
Dia telah membersihkan diri dan mengganti pakaian, dan kini gadis itu tengah duduk berselonjor di depan benda persegi dengan tangan kanan yang memegang remote.
Jangan kalian pikir dia sedang menonton, mmm. Karena pada dasarnya, Qiandra hanya sedang memaksa siaran itu ikut merasakan bagaimana kemelut dari praduga Gibran yang mengusik perasaan dan pikirannya.
Lihatlah! Jika benda yang menghiasi ruang tamu itu bisa berteriak, mungkin kalian akan mendengarkan jeritan keluar dari sana. Bagaimana tidak? Qiandra begitu usil dengan mengganti channel setiap detiknya!
“Hah,” apa menghembuskan nafas bisa seberat itu? Kalya penasaran! Tanpa sadar dia mulai mendekat atas tuntutan kaki dan rasa ingin tahunya.
“Ada apa?” selidik Kalya karena dia tahu tingkah aneh ini tidak ada sangkut paut dengannya, terbukti kini! Untuk pertama kali bagi gadis itu melihat Qiandra dengan mimik seperti ini. Antara sedih, kesal, dan menyesal. Ah melihatnya saja sudah membuat orang bingung, dan semakin penasaran tentunya.
__ADS_1
“Aku ingin kita pergi besok Kal, bagaimana?” ungkapnya dan dihadiahi tatapan tanya oleh Kalya.
“Besok, kenapa tiba-tiba?” tanya gadis itu memastikan. Mereka belum menyiapkan keperluan untuk pulang, harusnya Qiandra punya penjelasan untuk permintaan ini.
“Mmm, aku ingin segera menyelesaikan masalah perjodohan itu. Aku tidak menyukai kesalahpahaman ini terus berlanjut, aku berharap Gibran tidak merasa terusik lebih jauh.” Jelasnya.
“Apa yang terjadi?” ulik Kalya kembali, entahlah dia tidak sabar untuk mendengarkan. Dia menatap sahabatnya itu intens dengan alis yang beradu, Kalya benar-benar ingin mengetahui suasana hati Qiandra melalui keluhannya.
“Gibran tadi datang, dan kami terlibat cekcok. Masa iya dia menuduhku memiliki perasaan untuk Aarav, padahal kan aku hanya ingin membicarakan perjodohan dengannya.” Celetuk Qiandra dengan wajah ditekuk, bahkan tekanan pada remote semakin mendominasi dan membuat Kalya bergidik. Remote yang malang! Ah skip!
“Kenapa kau tidak menjelaskan itu padanya?” timpa Kalya, dan berhasil membuat Qiandra menoleh.
“Ini masalahku Kal, aku hanya ingin menyelesaikan ini sebelum mengatakan kebenaran tentang Aarav padanya. Kau tahu kan aku masih sulit membagi apapun dengan orang lain?!” desahan frustasi kembali memenuhi ruangan tamu mereka, dan Kalya? Dia hanya mendengarkan tanpa menyela.
“Apa kau masih menganggap Gibran sebagai orang lain untukmu?” skakmat! Qiandra menggeleng, dia melupakan kebenaran bahwa pria itu bukan lagi orang lain untuknya.
“Baiklah, setelah masalah ini selesai aku harap kau bisa lebih memahami dirimu sendiri khususnya perasaan Gibran. Bersiaplah kita berangkat besok!”
Di tempat lain, seorang pria telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk di sebuah cafe. Dia memilih rooftop untuk melepas desahan putus asa saat ini.
Sudah begitu larut, bahkan angin malam kian kasar dan begitu tamak mendominasi untuk menyentuh kulit Gibran. Saat matanya kehilangan cahaya, jemari pria itu masih tetap berdansa dengan gelas kosong.
Ini sudah minuman yang kesekian, akan tetapi cairan yang begitu riang meluncur bebas ke tenggorokannya bahkan tidak memberi efek apapun. Astaga, kenapa dahaganya tidak berkurang sedikitpun?! Aneh.
Dia memegang ponsel untuk menimbang sesuatu, “Temui aku di cafe waktu itu!” setelah sempat bingung akhirnya dia memutuskan untuk mengetik pesan tersebut dan langsung merapikan penampilannya. Yah! Gibran harus mematut diri untuk menyambut seorang gadis bukan? Mematut bukan untuk membuatnya tersanjung, tapi ingin menarik gadis itu agar sadar bahwa dia bukanlah pilihan.
Desauan angin semakin angkuh dan terasa kejam merajam Gibran, matanya lapuk memandangi gambaran seseorang dari pantulan rembulan. Ingin rasanya dia meringkas kisah dan menemui kejelasan bersama Qiandra, ahh.
Anggaplah ini adalah cawan yang berisi syahdu cinta dan dihujani intrik. Bukankah itu bisa membuat perasaan dan hubungan semakin kuat nan berkelas?
__ADS_1
“Kau menungguku?” suara lembut yang dibuat-buat seorang gadis begitu buruk saat masuk ke pendengaran Gibran.
“Hmm duduklah!” memuakkan. Itu yang menggambarkan penampilannya saat ini! Dandanan menor, pakaian serba minim. Gibran berharap, agar udara malam kini tidak tercemar akan kehadiran gadis itu.
“Ada apa sampai kau memintaku untuk datang? Jangan bilang kau merindukanku setelah pertemuan tidak sengaja waktu itu?” timpanya begitu riang, mata milik gadis itu bersinar seperti laser yang langsung memindai setiap inci wajah Gibran. Kenapa semua yang ada pada pria ini begitu berharga? Dia ingin memilikinya, harus.
“Ck, kenapa kau begitu percaya diri. Aku bukan memintamu datang tapi aku menyuruhmu untuk datang kemari!” decakan dan kalimat pria itu, membuat binar lawan bicaranya lenyap ditelan pekat oleh kekecewaan.
“Indira, aku ingin bertanya padamu. Apa alasanmu mengirimkan aku foto-foto ini?" dia mengeluarkan beberapa lembar foto dan bukti dari dalam amplop berwarna coklat, dan menyodorkan itu pada gadis yang tiba-tiba tegang seketika.
"Kau menyuruh seseorang untuk mengintai Qiandra dan mencari tahu tentangku? Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain?! Selagi aku bicara sopan, berhentilah mengganggu dengan mengirimkanku gambar-gambar provokasi ini.” sambungnya.
Jika kalimat Gibran seperti pecahan kaca yang mampu melukai, maka tatapannya pun mampu bertindak sebagai sebilah pedang. Sanggup menembus dan merobek apapun, termasuk gadis ini.
“A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti!” Nada suaranya begitu khawatir, kenapa pria suruhan itu begitu ceroboh. Memalukan!
“Kau masih mengelak? Bahkan jika kau menyewa orang dengan skill sehebat apapun, hal itu tetap akan tercium olehku. Yang namanya bangkai, tetap bisa tercium. Kau tahu kenapa? Karena bangkai begitu busuk dan menganggu! Jadi katakan, kenapa kau begitu penasaran pada hubunganku dan gadisku."
"Kenapa kau sangat suka membuat Qiandra tampak buruk di mata orang lain?” mengingat setiap gambar yang dikirim oleh nomor yang sulit dilacak beberapa pekan lalu membuat Gibran naik darah, butuh waktu berminggu-minggu agar bisa mendapatkan titik terang untuk hal ini.
Apa yang dikatakan Gibran mampu membungkam Indira, dia sudah menghabiskan banyak uang untuk ini. Tapi kenapa masih bisa tercium? Ah, dia menautkan kedua tangannya di bawah meja. Dia Indira! Dia bukan gadis yang bisa dipermalukan. Dan apa tadi, gadisnya? Qiandra?! Jangan mimpi.
“Aku hanya membantumu untuk melihat sisi buruk seseorang, Qiandra tidak pantas untukmu. Dia bukan gadis baik-baik, kau tahu? Dia hama, dia parasit, dia lintah. Gadis itu hanya mengincar hartamu, bahkan sanak saudaranya saja tidak menginginkan kehadiran gadis itu .” Lantang Indira, dia harus tetap meracuni Gibran.
“Oh benarkah?” pancing Gibran dengan rahang mengeras, dia harus menjadi pendengar yang baik saat ini. Mendengar sejauh mana rasa iri gadis ini menjulang!
“Kau tahu? Dia ular bermuka dua, Aksa berpaling darinya karena dia berselingkuh dengan pria yang lebih kaya dari tunangannya kala itu. Sungguh! Aku hanya membantumu, bagaimana jika orang tuamu sampai tahu jika kau menyukai gadis sepertinya? Bukankah itu memalukan!?” timpanya berapi-api.
Melihat Gibran terdiam membuat Indira jumawa, sepertinya dia berhasil mengisi racun dan membuang madu tentang Qiandra dalam diri pria itu. Qiandra Almira? Dia tidak bisa memiliki Gibran, tidak akan! Ikrarnya.
__ADS_1
Semilir berbisik buruk tentang Qiandra, bahkan celaan itu mampu membuat orang terlena. Tapi Gibran, apakah dia mampu membuat resdung hatinya? Ahh semoga tidak.